Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 34 : TERLUKA


__ADS_3

BDJ 34 : TERLUKA


Bandara Bangkok Suvarnabhumi yang megah tampak ramai walaupun hari sudah semakin ramai. Bandara yang resmi dibuka pada tahun 2006 menggantikan bandara internasional Don Mueang itu memang memiliki arsitektur yang mewah, megah, lagi unik. Keindahan bandara Bangkok Suvarnabhumi memang tidak diragukan lagi.


Seorang laki-laki rupawan berseragam pilot tampak tengah duduk menunggu di kursi panjang. Ia tidak seorang diri, tetapi bersama rekan-rekan sejawatnya. Bekerja sebagai pilot atau kru di sebuah maskapai penerbangan pasti tidak akan asing lagi dengan tempat yang bernama bandara. Saat waiting, boarding, take off, transit, hingga landing, semua akan di lakukan di tempat bernama bandara.


Malam ini adalah malam terakhir bagi mereka untuk menikmati keindahan kota Bangkok dan bandara Bangkok Suvarnabhumi. Mungkin besok mereka sudah berada di Negara lain, tidak lagi di Negara ini karena penerbangan mereka telah usai.


“Kenapa tidak diangkat? Apa dia sedang sibuk?”


Nathan, laki-laki tampan nan rupawan itu berguman untuk ke sekian kalinya. Ia kembali melirik riwayat panggilan masuk, tetapi memang tidak ada telepon masuk guna membalas puluhan sambungan telepon yang tidak diterima oleh seseorang di seberang sana. Sudah dari pagi nomer sang pujaan hati tidak dapat dihubungi. Nathan jadi risau sendiri. Tidak biasanya begini.


“Coffe.”


Nathan yang tadinya masih sibuk menatap layar gaway, langsung mengangkat pandangan. Matanya bertemu dengan sepasang bola mata yang tampak berbinar saat menyodorkan satu cup coffe ke arahnya.


“Ini Frappuccino. Tadi saya beli coffe di coffe shop dekat bandara, Capt Nathan mau?” tanya pramugari cantik bernama Nathania itu.


“Jangan salah paham. Saya tadi beli lima cup coffe, bukan cuma dua. Yang tiga sudah diminum teman-teman saya, tersisa satu karena kebetulan satu teman saya perutnya sedang tidak enak. Tadinya mau saya buang, tapi sayang.”


Nathan mengangguk seraya menerima cup berisi Frappuccino itu. Ia sepertinya memang butuh segelas coffe. “Terima kasih.”


“Saya juga beli dua doughnut caramel. Capt Nathan mau?”


“Saya tidak terlalu suka makanan manis,” kecuali buatan calon istri—lanjut Nathan di dalam hati.


“Ok. Tapi, apa saya boleh duduk di sini?”


“Hm.”


Perempuan cantik yang menggunakan seragam pramugari itu tersenyum tipis seraya mengambil posisi di samping Nathan. Namun, masih memberi jarak karena ia tahu Nathan tidak terlalu suka berdekatan dengan lawan jenis.


“Capt Nathan kelihatan sedang banyak pikiran, apa ada yang menganggu capt Nathan?”


“….”


“Kalau mau, Capt Nathan bisa membaginya sama saya. By the way, saya bisa menjadi pendengar yang baik. Itu pun jika Capt Nathan tidak keberatan.”


“Tidak ada yang perlu saya bagi dengan kamu,” ujar Nathan dingin.


Nathania tersenyum tipis mendengar jawaban Nathan yang berkesan sangat dingin itu. “Apa Capt Nathan sedang menunggu seseorang? Saya lihat dari tadi Capt Nathan mengecek telepon terus.”


Bukannya memilih diam supaya tetap berada di zona aman, Nathania malah terus mengajak Nathan berbicara. Padahal wajah Nathan sudah masam sekali, seperti belimbing wuluh.


“Calon istri saya sulit dihubungi.”


“C-alon istri?” Nathania tergagap mendengarnya. “Capt Nathan sudah punya calon istri?”


“Hm.”


“Semenjak kapan?”


“Semenjak masih duduk di bangku sekolah menengah atas.”


“Selama itu?” keterkejutan Nathania semakin bertambah saat mendengar klarifikasi langsung dari Nathan.


Nathania tentu terkejut mendengarnya, karena selama ini Nathan tidak pernah dekat dengan perempuan manapun. Kecuali dekat dengan El. Hampir semua kaum hawa yang bekerja di maskapai yang sama juga tidak tahu jika Nathan sudah memiliki calon istri. Oleh karena itu, mereka masih berani cari-cari perhatian agar bisa dekat dengan Nathan. Tidak terkecuali Nathania yang juga ingin mendapatkan kesempatan untuk mendekati Nathan.


“Kenapa kabar bahagia ini tidak capt Nathan beritahu pada rekan-rekan yang lain?”


“Ini adalah kesepakatan yang sudah saya setujui dengan calon istri saya. Lagipula waktunya juga belum tepat untuk mempublikasikan kabar bahagia ini ke semua orang.”


“Oh, begitu, ya.” Nathania mengangguk seraya menyeruput Frappuccino miliknya.


“Dalam waktu dekat kami akan melangsungkan pernikahan jika Allah menghendaki niat baik kami.”


Done. Nathania sudah tidak kuat lagi mendengarkan informasi menyayat hati itu. Namun, ia juga tidak bisa beranjak kemana-mana, karena sebagian hatinya memilih untuk menetap. Menetap di sana untuk mendulang luka yang sudah mulai menganga.


“Saya harus pergi ke kamar kecil. Kamu tidak apa sendirian di sini?” tanya Nathan saat beranjak dari duduknya.


Nathania mengangguk seraya tersenyum kecil.


“Kalau begitu saya pergi dulu. Terima kasih untuk kopinya.”

__ADS_1


Nathania tidak dapat menjawab perkataan laki-laki itu dengan ekspresi biasanya. Sekali pun barusan Nathania bisa melihat senyum tipis tersungging secara tulus di bibir laki-laki itu. Namun, rasa sakit yang merebak di hati sudah membuat Nathania sadar bahwa laki-laki itu bukan lagi sesuatu yang dapat ia gapai. Laki-laki itu sudah memiliki calon istri yang kelihatannya sangat dicintai. Jadi, tak ada kesempatan lagi untuk Nathania mempertahankan perasaannya.


“C’mon Nia, Tuhan mungkin punya rencana lebih baik untuk kamu. Ayo kamu harus mulai move on dari sekarang,” kata Nathania, menyemangati diri sendiri. Sekalipun hatinya telah tergores luka yang cukup dalam.


✈️✈️


Sayup-sayup terdengar suara lembut yang tengah melantunkan ayat-ayat suci memenuhi indra pendengaran. Kelopak mata yang ditumbuhi bulu mata lentik itu mulai terbuka, diikuti gerakan lemah di jari-jemarinya. Saat berhasil membuka mata, pemilik iris abu-abu itu tampak memusatkan pandangan yang kabur pada satu arah. Saat sudah berhasil menjernihkan pandangan, ia kemudian menatap sekeliling dengan kening bertaut. Pening juga tiba-tiba menyerang saat kepalanya dipaksa bekerja dua kali lipat.


“Kamu sudah bangun?”


Pemilik manik abu-abu itu menoleh, lantas memusatkan pandangan di antara rasa pening yang kian kuat menyerang.


“Di mana ini?”


“Di rumah sakit. Anda dirawat di rumah sakit setelah menerima penangangan akibat luka tusuk cukup dalam di bagian perut. Anda mengalami pendarahan yang cukup hebat tadi.”


Louis, si empunya manik abu-abu itu masih belum bisa memberikan respon. Ia hanya terpaku pada sosok yang berdiri beberapa meter di samping kanan bed yang ia tiduri. Banyak pertanyaan yang langsung muncul dan berseliweran di kepala. Saking banyaknya, ia sampai bingung harus menjawab yang mana dulu?


“Apa Anda membutuhkan sesuatu? Atau mau saya panggilkan dokter dan suster?”


“Minum. Aku ingin minum,” pintanya. Tenggorokan nya benar-benar terasa kering kerontang.


Dengan cekatan, perempuan itu menyodorkan segelas air putih yang standby di nakas tanpa terjadinya kontak kulit secara langsung.


“Ada yang Anda butuhkan lagi?”


“Tidak perlu.”


“Kalau begitu apa yang sekarang Anda rasakan?”


“Pusing,” jawab laki-laki itu dengan pandangan yang di alihkan ke sembarangan arah. Yang penting bukan ke arah lawan bicara nya.


“Itu mungkin efek dari kehilangan banyak darah. Anda sempat kehilangan banyak darah akibat luka tusuk itu.”


“Hm. Lalu bagaimana kondisi ayahmu?” tanya si lawan bicara hati-hati.


“Papa saya juga sempat mengalami pendarahan hebat. Tapi, Alhamdulillah, Allah masih memberikan keselamatan dan kesehatan untuk papa.”


Sebenarnya Louis merasa kikuk karena tidak menyangka jika ia diselamatkan oleh keluarga Radityan. Apalagi melihat ada Alea saat pertama kali membuka mata. Namun, Louis masih penasaran apa yang sebenarnya terjadi setelah ia kehilangan kesadaran. Apa ayahnya berhasil dilumpuhkan? Lantas atas inisiatif siapa Louis yang notabene anak laki-laki bajing*n itu diselamatkan? Padahal bisa saja Louis ditinggalkan di sana dan dibiarkan mati sekalian.


Memilih mengesampingkan semua opini itu, Louis lalu menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku agar dapat berganti posisi menjadi menyandar pada headbed.


“Anda mau bersandar?”


“Hm.”


“Sebentar, biar saya membantu Anda.”


Louis langsung terdiam mendengarnya. Ia tidak salah dengarkan? Alea akan membantunya untuk bersandar? Itu berarti perempuan itu akan menyentuhnya? Tidak boleh.


“Tidak perlu, aku bisa sendiri,” tolak Louis cepat.


“Anda yakin? Tapi tuas untuk menaik turunkan tempat tidur pasien ada di bagian bawah?”


“Hm?”


“Saya akan membantu menaikkan tempat tidur Anda menggunakan tuas itu, sir.”


Oh, Louis paham maksud Alea sekarang. Jadi gadis itu ingin ‘membantu’ dengan makna sebenarnya. Membantu menaikkan tempat tidur Louis agar Louis lebih nyaman.


“Bagaimana? Sekarang sudah terasa lebih nyaman?”


“Hm.”


“Kalau Anda membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk memanggil saya. Saya akan menolong Anda.”


Perempuan berhijab syar’I itu pasti tengah tersenyum, karena kedua matanya sekarang membentuk garis lengkung seperti bulan sabit. Cukup lama mengagumi sosoknya, membuat Louis sedikit demi sedikit paham karakteristik dan kebiasaanya.


“Ibu Anda akan segera datang setelah menjemput papanya Lucas dan Lucas. Tadi saya sudah menghubungi beliau.”


“Hm.” Louis berdeham dengan suara kikuk. “Kenapa kamu ada di sini?” tanyanya kemudian. Ia sempat penasaran dengan alasan kenapa Alea ada di ruangan ini. Louis tidak mau berekspektasi tinggi dengan menerka-nerka jika Alea ada di sini sengaja untuk menjaganya.


“Ah, itu. Kebetulan papa saya juga di rawat di ruangan ini,” ujar Alea gamblang.

__ADS_1


“Apa?!” kaget Louis dengan mata terbelalak.


“Di sebelah kanan Anda, papa saya juga sedang mendapatkan perawatan.”


Louis menoleh dengan was-was. Mencoba mencari kebenaran. Ternyata benar saja, kain yang tadinya menjadi penyekat tiba-tiba disibak dan menampilkan wajah sepasang manusia yang langsung menatap ke arah Louis.


“Kenapa kaget begitu? Kamu pikir kami akan membiarkan Alea menemani kamu yang tengah tidak berdaya seorang diri? seorang predator tetap lah predator, sekali pun ia hampir sekarat,” sewot laki-laki paruh baya yang wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya.


Laki-laki itu juga terlihat tengah berbaring dengan posisi tempat tidur dinaikkan.


“Saya….” Louis tiba-tiba kehilangan kata. Ia tidak tahu mau berbicara apa.


“Mas, kamu apa-apaan sih?” lerai perempuan yang duduk di samping tempat tidur papa Alea itu. “Jaga sikap kamu sebentar bisa gak sih? Kalian sama-sama sedang di rawat di sini.”


“Hm.”


“Tunggu sebentar, aku mau menyapa—“


“Menyapa siapa?” potong Anzar cepat seraya menahan lengan istri tercinta.


“Menyapa pasien yang berbagi ruangan dengan kamu,” ujar Airra. “Kamu gak usah berlebihan deh. Lagipula dia tida akan berbuat apa-apa.”


Anzar mau tidak mau mengangguk saat mendengar kalimat sang istri. Ia kemudian membiarkan sang istri untuk beranjak, guna menyapa pasien yang berbagi ruangan dengan suaminya.


“Kamu sudah merasa lebih baik?” tanya Airra ramah.


Sekarang Louis tahu betul siapa yang menurunkan sifat lembut dan ramah pada sang pujaan hati. Ternyata perempuan ini.


“Hm. Hanya sedikit merasa pening,” jawab Louis.


“Ruang hawa darurat dan ruang rawat inap VIP di rumah sakit ini penuh karena semalam ada kecelakaan beruntun. Jadi kamu dan suami saya terpaksa dirawat di ruangan yang sama. Saya harap kamu tidak merasa keberatan untuk itu.”


“Hm.”


Airra tersenyum lembut seraya mengambil kursi agar bisa duduk di samping bed yang ditempati oleh Louis.


“Kamu tidak pernah bersalah atas dosa apa yang telah dilakukan orang tua kamu di masa lalu. Jadi, jangan berkecil hati. Saya yakin suami saya juga tidak sepenuhnya membenci kamu.”


“Heh, kata siapa itu, sayang!” seru Anzar, memperingati sang istri. Namun, diindahkan oleh istrinya.


“Suami saya hanya ingin memberikan perlindungan yang terbaik untuk putri kami. Percayalah, kami tidak pernah sengaja membenci kamu, karena kamu tidak bersalah. Dan tentang cara kamu mencintai, itu memang tidak dapat dibenarkan. Mencintai seseorang boleh-boleh saja, namun seharusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan jika memang mencintainya dengan tulus.”


“….”


“Saya sebagai ibu tidak merasa keberatan jika putri saya dicintai. Namun, jika cinta itu ditunjukan dengan cara yang salah, tetap saja hasilnya tidak akan baik.”


✈️✈️


**TBC


GIMANA YA REAKSI NATHAN PAS PULANG NANTI? MASIH KURANG MELEPAS RINDU DENGAN GG BERSAUDARA?


YUK, KOMENTAR 👇


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


Sukabumi 05-07-22**


REKOMENDASI NOVEL!



Blurb :


Seperti biasanya, Bang Alan pulang kerja ketika Azan Subuh mulai menggema. Saat itu pula aku mulai bekerja mengais rezeki sebagai buruh cuci, pakaian para tetangga.


Sebelum mencuci pakaian orang lain, aku memprioritaskan mencuci pakaian keluargaku sendiri. Namun, aku sungguh dikejutkan oleh benda keramat dari kantong celana yang digunakan suamiku tadi malam.


Benda itu merupakan sebuah bekas bungkus ****** yang dulu sering aku lihat di televisi. Ini milik siapa? Kenapa ada di kantong celana milik suamiku?


-


Mampir yok ✌️

__ADS_1


__ADS_2