Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
BDJ 113 : MARI KITA SELESAIKAN SAMPAI DI SINI


__ADS_3

Di dalam agama islam, hukum melakukan perbuatan zina adalah dosa besar. Oleh karena itu, Allah Azza Wajalla telah memperingatkan umat-Nya agar jangan sekalipun mendekati zina, sebagaimana tertuang dalam firma-Nya dalam surat Al-isra ayat 32 yang berbunyi, Wa laa taqrobuz-zinaaa innahuu kaana faahisyah, wa saaa-a sabiilaa. Arti dari ayat tersebut adalah, “dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan jalan yang buru.”


Rasulullah Sallalahu Alaihi Wasallam juga menyebutkan ancaman yang pedih bagi para pelaku zina. “Ambillah dari diriku, ambillah dari diriku, sesungguhnya Allah telah memberi jalan keluar (hukuman) untuk mereka (pezina). Jejaka dan perawan yang berzina hukumnya dera seratus kali dan pengasingan selama satu tahun. Sedangkan duda dan janda hukumnya dera seratus kali dan rajam,” hadist riwayat Muslim.


Dan ketika seseorang sudah terlanjur melakukan zina, kemudian si perempuan hamil, maka Allah Azza Wajalla akan mencabut nikmatnya sebagai seorang sorang perempuan. Wanita yang berzina, akan mudah sekali hamil. Bahkan dalam banyak kasus, dalam satu kali berhubungan badan, bisa langsung hamil. Hal itu berbanding terbalik dengan pasangan yang sudah resmi menikah di mata agama dan Negara. Kemudian terbesit pertanyaan kenapa perempuan yang hamil di luar nikah bisa dengan mudah menyembunyikan kehamilannya? bisa dengan mudah beraktivitas seperti tidak bukan ibu hamil? Bisa dengan mudah melahirkan secara normal? Semua itu jawabannya hanya satu, yaitu telah dicabut nikmat serta kodratnya sebagai perempuan.


Kodrat perempuan itu ada tiga, yaitu mengandung, melahirkan, serta menyusui. Dalam poses ketiganya, ada perjuangan yang tidak dapat diremehkan. Perjuangan itu pula yang membuat seorang perempuan istimewa.


“Haha, perasaan dari tadi nggak selesai-selesai ya, ceramahnya.” Merasa tidak nyaman dengan topik yang sejak tadi dibahas, Leon memilih mematikan siaran radio yang sejak tadi membuat suasana di dalam mobil menjadi canggung.


Perjalanan dari Jakarta ke Bandung terasa begitu lambat, padahal jalan tol Cipularang cukup lenggang. Kendaraan yang membawa mereka juga melaju dengan cukup kencang.


“Tidak apa-apa, lagipula itu topik yang cukup bagus untuk dibahas,” sahut perempuan cantik di sampingnya yang sejak tadi memilih mengalihkan pandangan ke luar jendela. “Dalam agama yang kamu anut, rupanya hukum menyangkut kehormatan perempuan sangat diperhatikan.”


Lagi-lagi Leon hanya bisa tertawa garing seraya menggaruk tengkuk. Ia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba siaran radio yang tadinya sedang menayangkan tanya jawab antara penyiar radio dan pemirsa di rumah, tiba-tiba berganti menjadi obrolan berbau agama, seperti topik yang dimuat juga topik yang biasa dibahas para Ustadz dan ustadzah di majelis taklim.


Alhasil perjalanan mereka sekarang jadi diwarnai oleh kecanggungan. Padahal awalnya kegembiraan mewarnai perjalanan pulang mereka ke Bandung. Setelah menginap beberapa hari di kediaman Radityan, akhirnya mereka bisa pulang. Davian berkata situasi dan kondisi sudah aman dan cukup meyakinkan. Jadi, Lea boleh keluar dari lindungan Radityan. Lagipula Davian juga memberikan jaminan bahwa tidak akan terjadi apa-apa, selagi ia berkata aman.


“Leon,” panggil Lea.


“Iya, kenapa? kamu butuh sesuatu?”


“Kamu laki-laki yang baik.”


Dari balik kemudi, Leon tampak menautkan kening dalam-dalam. Apa maksud dari perkataan Lea? Tidak ada angin, tidak ada hujan, dia berkata jika Leon baik.


“Kamu adalah laki-laki yang baik, walaupun dari luar orang bisa salah dalam menilai kamu. Tapi, sejatinya kamu punya hati yang lembut dan tulus.”


“Kenapa tiba-tiba bahas topik ini?” tanya Leon. Seolah-olah punya insting yang jitu, Leon adar jika pembicaraan ini akan berujung tidak sedap, jadi ia memilih untuk masuk ke rest area. Sepertinya meraka butuh waktu untuk bicara.


“Kamu terlalu baik untuk aku, wanita yang selama ini hidup di dunia yang terlalu bebas dan menjijikan.”


Leon mengeraskan rahang saat berhasil membawa kendaraan yang ia kemudikan masuk rest area. “Sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan?”


Lea menoleh, menatap langsung ke arah Leon. “Aku mau minta maaf.”


“Maaf buat apaan?”


“Untuk segalanya,” pungkas Lea. “Untuk waktu kamu yang terbuang sia-sia selama ini, juga untuk tenaga yang kamu habiskan demi melindungi ku.”

__ADS_1


Leon terpaku mendengarnya. Kebisingan yang hadir dari luar mobil, sama sekali tidak terdengar di telinganya. Hanya suara Lea yang begitu terdengar jelas di sana.


“Gue nggak ngerti. Gue lakuin semua itu karena ….gue mau.”


“Setiap keinginan pasti punya alasan,” sahut Lea. Ia masih bisa bicara dengan tenang, padahal lawan bicaranya sudah mulai ketar-ketir. “Dan aku terlalu takut tidak dapat memenuhi harapan yang menjadi alasan kamu melakukan semua itu.”


“….”


“Jadi….” Lea menatap Leon lekat dengan senyum kecil yang tersungging. “Mari kita selesaikan sampai di sini.”


“Maksudnya?” Leon menghadap Lea sepenuhnya. Sabuk pengaman juga sudah ia lepas agar lebih leluasa bergerak.


Selesaikan apanya? hubungan mereka saja belum dimulai. Ingin sekali Leon berkata demikian. Tapi, ia masih belum punya cukup nyali.


“Aku memutuskan untuk kembali.”


“Kembali apa? bukannya kita memang akan kembali?”


Lea menggeleng. “Aku yang akan kembali, bukan kita.”


“….”


Seraya mengusap permukaan perutnya yang mulai membuncit, Lea kembali berkata. “Aku mau kita sudahi semua sampai di sini, Leon. Aku tidak mau menjadi sumber dari rasa sakit yang kamu rasakan di kemudian hari.”


“Gue yang bakal rasain sakitnya, kamu nggak perlu cemas,” tukas Leon.


Lea menggelengkan kepala. “Lambat laun kehadiran bayi ini akan diketahui oleh ayahnya, atau bahkan mungkin sudah diketahui oleh ayahnya. Aku tidak mau kamu ikut campur lebih jauh. Ayah bayi ini orang yang merepotkan.”


Lea tahu betul tabiat ayah dari bayi yang ia kandung. Laki-laki itu punya kesabaran yang tipis, sehingga bisa pecah kapan saja. Belum lagi fakta jika laki-laki itu sangat tidak suka jika apa yang memang miliknya disentuh, atau diperhatikan oleh orang lain.


Lea terlalu takut membawa Leon yang baik hati masuk ke kehidupannya yang toxic. Leon pantas berjuang untuk perempuan baik-baik yang pasti banyak di luar sana. Bukan seperti Lea yang masih sulit menemukan jalan untuk keluar dari jerat iblis dari masa lalu.


“Terima kasih sudah hadir dan membantu kami melewati masa-masa sulit belakangan ini. Berkat kamu, aku tidak merasakan kesepian lagi di Negara ini.”


Leon seharusnya bisa memiliki kesempatan untuk memaksa Lea. Namun, ia tidak mau jadi laki-laki egois dengan memaksakan kehendak. Toh, banyak orang pula yang telah memperingatinya. Akan sulit mengharapkan jalinan asmara bersama seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya.


“Oke kalau itu yang kamu mau,” sahut Leon pada akhirnya. Kemudian ia kembali menegakkan tubuh, menghadap depan, lantas memasang kembali sabuk pengaman. Wajahnya tampak tidak menampilkan ekspresi apapun. “Tapi gue punya satu permintaan.”


Lea tetap pada posisinya saat menjawab perkataan Leon. “Apakah permintaan itu?”

__ADS_1


“Biarin gue selalu ada di sisi kalian selama kalian masih ada di negara ini.”


“Leon,” lirih Lea. “Nanti kamu akan semakin sakit….”


“Nggak akan,” cetus Leon. “Ini jalan yang gue pilih. Apapun resikonya, itu tanggung jawab gue. Kamu cukup mengiyakan. Anggap ini permintaan terakhir dari laki-laki kekanakan yang jatuh cinta pada milik orang lain.”


Jatuh cinta sendiri itu memang berat. Sulit, rumit, pun pelik. Namun, ia bisa memilih kapan harus berhenti mencintai, ketika seseorang yang ditunggu tidak lagi dapat diharapkan. Tetapi, semua kembali pada kenyataan, bahwa tidak selamanya cinta harus memiliki. Apalagi cinta yang didasari oleh ketidakseimbangan. Jatuh cinta sendiri itu ….memang ibarat menyakiti diri sendiri. Harus siap sakit dan jatuh sendiri, serta mencari obatnya sendiri.


Leon jadi ingat penggalan lagu Can I be him milik James Arthur. Lagu yang sangat cocok untuk posisinya saat ini.


Could I be the on you talk about in all your stories.


Can I be him?


I heard there was someone but I know he don’t deserve you.


If you were mine I’d never let anyone hurt you, no, no.


(Bisakah aku menjadi orang yang kamu bicarakan di setiap ceritamu?


Bisakah aku menjadi dia?


Kudengar ada seseorang, tapi aku tahu dia tidak pantas untukmu.


Jika kamu milikku, aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu, tidak, tidak.)


“I love you, even though u're not mine (Aku mencintaimu, meskipun kamu bukan milikku),” gumam Leon setelah puluhan menit dilewati dengan keheningan. Perempuan hamil di sampingnya juga sepertinya sudah tertidur karena kelelahan.


Namun, siapa yang menyangka jika gumaman itu masih dapat ditangkap oleh telinga perempuan hamil di sampingnya.


✈️✈️


TBC


LEON SADBOY 😥 SABAR YA, LE 👌


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘


Tanggerang 09-11-22

__ADS_1


__ADS_2