Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 51 : TANGGAL CANTIK


__ADS_3

BDJ 51 : TANGGAL CANTIK



“Sudah datang rupanya. Mari masuk.”


Airra menyapa para tamunya dengan ramah. Pelukan hangat juga ia berikan bagi perempuan yang akan menjadi besannya. Kedatangan tamu yang terdiri dari dua laki-laki dan satu perempuan itu memang sudah ia tunggu-tunggu. Begitu pun oleh sang suami yang juga antusias menunggu kedatangan mereka.


“Maaf ya, kalau kedatangan kami sekeluarga sangat mendadak.”


Airra menggelengkan kepala seraya tersenyum. “Mari masuk, kami sekeluarga sudah menunggu kedatangan Anda dan suami.”


Gea membalas senyuman itu dengan senyuman pula. Ia kemudian boyong dengan hangat oleh Airra. Diikuti oleh Al dan Nathan yang berjalan di belakang mereka. Kedatangan keluarga Dwiarga itu memang sudah ditunggu-tunggu. Termasuk oleh si kepala keluarga yang bersikeras ingin ikut menunggu di ruang tamu.


“Selamat datang Pilot Al dan istri,” sambut Anzar ramah. Ia kemudian menjulurkan tangan guna menyambut sang calon besan.


“Terima kasih atas sambutannya,” balas Al seraya menerima uluran tangan Anzar. “Saya dengar anda baru saja mengalami musibah. Apa sekarang kondisi anda sudah lebih baik?”


“Alhamdulillah, kondisi saya sekarang sudah jauh lebih baik,” jawab Anzar. “Mari duduk,” ujarnya mempersilahkan.


Al mengangguk. Ia kemudian mengambil posisi duduk di samping sang putra yang diapit oleh dirinya dan sang istri. Anzar juga sudah menyambut Nathan tidak kalah hangat. Laki-laki muda itu malam ini tampak gagah dalam balutan kemeja batik motif parang barong. Motif batik yang pada dahulu kala hanya boleh digunakan oleh raja pada acara tertentu. Barong sendiri memiliki arti singa yang mencerminkan sesuatu yang agung, seperti raja.


Batik motif parang adalah batik tertua asal Jawa yang memiliki arti pantang menyerah. Motif batik parang yang seperti ombak laut yang tidak akan berhenti bergerak, seperti semangat yang pantang menyerah. Batik motif parang memiliki enam motif parang, yaitu parang rusak, parang barong, parang kusumo, parang kecil, parang slobong dan parang klitik.


“Bagaimana perjalanan pilot Al dan istri? Saya dengar dari Nathan, Gean juga ikut datang ke New York. Tapi, kenapa saya tidak melihat anak itu di mana pun?”


Al tersenyum mendengar kalimat Anzar. Walaupun selengehan dan absurd, si bungsu itu selalu dicari-cari keberadaannya.


“Gean sedang berkunjung ke Manhattan dalam rangka bersilaturahmi. Jadi dia tidak ikut ke sini.”


“Begitu rupanya.” Anzar tersenyum mahfum.


“Hm, ngomong-ngomong Alea di mana, ya?” tanya Gean yang sejak tadi diam-diam mencari keberadaan sang calon menantu.


“Alea?” Anzar menoleh pada sang istri.


“Alea pasti sebentar lagi datang,” sahut Airra yang telah mendudukkan diri di samping sang suami. “Ah, itu dia.”


Semua orang di ruangan tersebut kemudian mengalihkan pandangan ke arah datangnya derap langkah yang terdengar begitu samar. Seorang perempuan yang datang dengan abaya berwarna dusty pink yang dipadukan dengan hijab syar’I berwarna senada. Abaya dengan dengan polar rok A line lebar yang dilapisi tule untuk mempercantik bagian rok tampak cocok digunakan olehnya.

__ADS_1


“As’ssalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab mereka serempak.


Alea tidak datang seorang diri, melainkan bersama seorang maid yang membantu membawakan air minum serta kudapan kecil untuk menjamu para tamu. Mulai dari kudapan manis hingga asin, kini dihidangkan satu per satu di atas meja.


“Silahkan dinikmati minuman dan makanannya,” kata Alea saat sudah menata semua barang bawaan si maid dengan apik.


“Aduh, kenapa kamu harus repot-repot, sayang?” kata Gea seraya mendekati Alea.


Alea yang melihat itu segera berjalan mendekat, kemudian mengambil punggung tangan Gea dengan hati-hati untuk ia salami. Gea yang mendapatkan perlakuan seperti itu tentu sangat tersentuh. Ia bersyukur karena kedua putranya mendapatkan jodoh berupa permata terbaik dari sebuah keluarga yang baik pula.


“Masya Allah, kamu semakin cantik saja Alea,” puji Gea setelah Alea mau menatap dirinya. “Tante rindu sekali sama kamu,” ungkap Gea. “Kalau kamu sudah resmi menjadi istri Nathan, tante pasti akan lebih mudah untuk bertemu kamu.”


“Insya Allah, tante.”


“Ah, iya. Tante juga punya sesuatu untuk kamu,” kata Gea sebelum ia kembali pada sang suami. Tadi ia membawa beberapa paper bag yang berisi buah tangan dari Indonesia untuk Alea. “Tante bawa beberapa gamis, abaya, serta kerudung buatan tangan tante sendiri untuk Alea.”


“Masya Allah, terima kasih banyak tante.” Alea menerima paper bag berisi buah tangan dari Gea dengan perasaan senang. Gea memang tidak pernah berhenti memberinya barang-barang berharga, terkadang limited edition karena hanya dibuat dalam jumlah terbatas.


Sebenarnya Alea sudah pernah menolak barang-barang pemberian Gea, namun Gea mengatakan jika ia akan sedih bilamana Alea menolak barang pemberiannya. Oleh karena itu, Alea jadi tidak pernah menolak barang pemberian Gea karena tidak mau membuat Gea bersedih hati. Ditambah lagi Gea juga orang yang sangat baik dan care terhadap calon menantunya. Terkadang Gea bertanya terlebih dahulu, apakah ada barang yang ingin Alea beli atau baju yang ingin Alea miliki. Supaya barang yang diberikan pada Alea sesuai keinginan.


Alea mengangguk. Ia kemudian berjalan ke arah sang ayah. Semua gerak-gerik Alea tentu tak lepas dari pengamatan Nathan. Malam ini Alea tampil luar biasa seperti sebelum-sebelumnya. Tertutup dengan sempurna, namun aura nya juara.


Alea itu vibes-nya seperti perempuan surga. Nathan jadi semakin tak sabar ingin menjadikan hubungan di antara mereka halal. Supaya ia bisa memiliki perempuan calon penghuni surga seperti Alea.


“Seperti yang sudah Anda sekeluarga ketahui, kedatangan keluarga kami ke sini untuk bersilaturahmi,” ujar Al, membuka pembicaraan. “Sehubungan dengan terjalinnya hubungan serius di antara putra kami dan putri Anda, kami datang ke sini untuk memenuhi janji. Bermusyawarah soal tanggal baik untuk melangsungkan pernikahan.”


“Baik, saya beserta keluarga sudah mengetahui maksud dan tujuan dari kedatangan pilot Al beserta keluarga. Seharusnya pertemuan ini memang dilakukan jauh-jauh hari, namun terhalang oleh beberapa kendala. Saya beserta keluarga tentu menerima kehadiran pilot Al beserta keluarga dengan baik. Sebelum itu alangkah lebih baik jika kita bertanya pada nak Nathan maupun Alea mengenai kesiapan keduanya untuk melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.”


“Iya, tentu saja.” Al menoleh pada sang putra yang duduk di samping ibunya. “Than, papa tanya sekali lagi, apa kamu benar-benar sudah siap untuk menikahi Alea dalam waktu dekat?”


Nathan menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab ucapan sang ayah. “Bismillahirrahmanirrahim, Nathan sudah sangat siap.”


“Siap untuk menerima, membimbing, mengayomi, dan menyayangi Alea sepenuh hati?”


“Isya Allah, Nathan siap,” jawab Nathan lagi dengan mantap.


Al tersenyum tipis, lalu kembali menatap ke arah Anzar. “Anda sudah mengetahui serta mendengarnya sendiri.”

__ADS_1


Anzar mengangguk. Ia kemudian menoleh ke samping dengan tangan membawa telapak tangan sang putri ke dalam genggaman. “Alea Ananta Rumi Al-Faruq, putri tercinta papa. Untuk yang terakhir kali, papa ingin bertanya pada Alea. Apa Alea sudah siap menjadi istri Captain Nathan? Siap menerima Captain Nathan apa adanya serta konsekuensinya?”


“Bismillahirrahmanirrahim. Alea siap menerima kak Nathan menjadi suami Alea apa adanya. Apa pun konsekuensi yang harus Alea tanggung kedepannya, Alea siap.”


Perempuan muda dengan abaya itu menjawab pertanyaan sang ayah dengan tak kalah mantap. Semalam ia sudah bercerita juga berkeluh kesah pada san pencipta yang Maha Cinta. Lewat proses tersebut, Alea mendapatkan jawaban yang menurutnya memberikan petunjuk yang kian meyakinkan bahwa sang Maha Cinta telah memilih Nathan untuknya.


Senyum kembali muncul di wajah-wajah para orang tua, tidak terkecuali pula di wajah Nathan. Ia merasa sangat lega karena akhirnya satu langkah menuju pelaminan semakin dekat. Semoga saja untuk kedepannya, tidak akan ada lagi halangan dan rintangan yang begitu berarti.


“Sebagaimana sabda Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam, barang siapa di antara kalian sudah memiliki kemampuan, segeralah menikah, karena menikah dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemal*an. Dan barang siapa belum sanggup menikah, berpuasalah, karena puasa akan menjadi benteng baginya. Hadist riwayat Muttafaq ‘alaih.” Anzar kembali menatap ke depan. Ke arah keluarga pilot Al. “Alhamdulillah. Karena Nathan dan Alea sudah sama-sama siap dan mampu untuk menikah, untuk apa lagi kita menunda-nunda.”


“Betul sekali. Oleh karena itu, kami datang ke sini untuk bermusyawarah soal tanggal baik bagi pernikahan putra dan putri kita.”


“Jadi bagaimana menurut Anda dan keluarga? Kami selaku pihak mempelai wanita akan mengikuti keputusan pihak mempelai pria menyangkut masalah ini.”


“Terima kasih atas kesempatan serta kepercayaannya.” Al tersenyum, lalu melirik sang putri. “Secara khusus putra kami sebenarnya sudah menyiapkan tanggal untuk meresmikan hubungannya dengan putri anda.”


“Apa benar begitu, Nathan?”


“Iya, om,” jawab si pemilik nama. “Jika Allah beserta om sekeluarga menghendaki, empat Sayyidul Ayyam dari minggu ini adalah tanggal yang saya pilih untuk mempersunting Alea.”


Anzar mengangguk, lalu menatap sang istri, kemudian sang putri. “Bagaimana Alea? Apa kamu siap diperistri empat Sayyidul Ayyam dari sekarang?”


“Alea ….insya Allah siapa, pa.”


“Alhamdulillah jika begitu,” kata Anzar. Ia kemudian menatap ke arah calon besan dan calon menantunya. “Jika memang tanggal tersebut sudah dipikirkan secara matang-matang oleh nak Nathan dan Alea juga menyetujui, maka empat Sayyidul Ayyam dari sekarang akan diadakan pernikahan antara Nathan dan Alea.”


Anzar menatap Nathan lekat, sembari berkata. “Apa saya boleh tahu kenapa kamu ingin menikahi Alea pada hari itu?”


Nathan mengangguk. “Empat Sayyidul Ayyam dari sekarang sudah memasuki bulan Syawal. Saya ingin mempersunting Alea pada bulan Syawal, karena ingin mengikuti anjuran dari hadits sayyidah ‘Aisyah radiallahu anhu. Dalam kitab Qurratul ‘uyun juga disebutkan bahwasannya menikah yang baik adalah di bulan syawal dan disunnahkan di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, saya ingin menikahi perempuan yang saya cintai karena Allah sesuai anjuran istri Rasulullah.”


✈️✈️


TBC


TERUS DIBUAT MELTING SAMA CAPTAIN NATHAN 😘


SIAP KONDANGAN? OTW IJAB QOBUL NIHHH. JADI YUK, RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR 👇


LIKE, VOTE, FOLLOW AUTHOR, SHARE & TABUR BUNGA SEKEBON 💐💐💐💐

__ADS_1


Sukabumi 30-07-22


__ADS_2