Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 58 : RENCANA LICIK


__ADS_3

BDJ 58 : RENCANA LICIK


“Jangan bilang kalau permintaanku ditolak lagi?”


Perempuan bersurai pirang yang berdiri beberapa meter dari laki-laki yang baru saja bicara itu tampak menunduk takut.


“Nona Alea tidak dapat diganggu untuk saat ini, sir. Beliau sedang sibuk.”


“Sibuk? Bullshit!”


Laki-laki yang menggunakan jas maroon itu mengumpat dengan suara cukup keras, sehingga menarik perhatian beberapa orang yang beralu-lalang di lobby. Saat ini mereka memang berada di lobby yang cukup berpenghuni.


“Katakan kalau CEO Anderson ingin betemu dengannya saat ini juga!”


“M-aaf, sir. Tapi nona Alea sudah pulang beberapa menit yang lalu lewat pintu belakang.”


Perempuan yang berprofesi sebagai sekretaris CEO Anderson itu tampak kian ketakutan saat menyampaikan informasi tersebut. Wajah sang atasan sudah tidak dapat dikondisikan. Ia tahu jika laki-laki itu pasti sebentar lagi akan murka.


“Sial*n. Kenapa kau baru bicara sekarang?”


Dengan emosi laki-laki itu beranjak dari sofa yang disediakan di lobby—sofa untuk orang-orang yang diminta menunggu. Louis meninggalkan lobby Radityan Corp’s dengan perasaan kesal luar biasa. Ia sudah membuang-buang waktu, LAGI. Namun, tetap kegagalan yang ia dapatkan. Sungguh sulit ingin bertemu dengan perempuan berhijab syar’I satu itu. dua kali lipat lebih sulit dari sebelumnya.


“Louis, what are you doing here?”


Si pemilik nama menoleh. Dari sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir di parkiran Radityan Corp’s Lea muncul dengan gaun mewah berwarna merah muda, diikuti oleh asisten dan bodyguard pribadinya. Gaun pesta dari kolesi Armani Prive itu dibuat secara khusus dengan detail korset strapless, potongan yang memeluk lekuk tubuh dengan sempurna, serta garis leher berbentuk love yang dihiasi manik-manik Kristal. Gaun itu juga memiliki model rok panjang yang menjuntai di lantai yang lapang, seperti yang dipakai para ratu.


Lea mempercantik tampilannya dengan menggunakan jepit rambut mini-crystal bow barrette untuk membuat rambutnya yang tergerai tetap terlihat rapih. Rambut brunette miliknya memang dibiarkan tergerai bebas, dibuat agar curly di ujung-ujung.


“Seharusnya aku yang bertanya. Sedang apa kamu di sini?” tanya Louis datar.


“Aku ke sini untuk menjemput kamu. Kamu telah membuat kehebohan karena mengemis-ngemis ingin bertemu dengan CEO Radityan.”


“Bicara sekali lagi?”


Lea menatap Louis lekat. Ia kemudian menadahkan tangan kanannya—memberi isyarat pada sang asisten. Asistennya yang berdarah Korea asli langsung mengerti, kemudian mengeluarkan smartphone keluaran terbaru milik Lea dari Android. Hadiah salah satu fans berat Lea yang berdomisili di Korea. Lea memang memiliki lebih dari satu smartphone untuk penunjang urusan pekerjaan dan urusan komunikasi pribadi.


“Lihat.”


Lea memperlihatkan tangkapan layar dari sebuah akun fake yang menyebarkan foto dan video Louis yang menunggu berjam-jam lamanya di lobby Radityan Corp’s. Postingan itu tentu menarik banyak perhatian dari warga net, terutama para fans berat Louis. Jari-jemari netizen pun tidak dapat dihentikan untuk menyebar-luaskan berbagai komentar negatif.


“Kamu ini sebenarnya kenapa? Apa aku kurang menjelaskan posisi kamu? mau sampai kapan kamu berbuat seperti ini?” hardik Lea. Ia mulai out of control melihat Louis yang jadi buah bibir.


Ditambah lagi hubungan mereka memang sedang renggang semenjak insiden di rumah sakit beberapa waktu yang lalu. Sekarang Lea juga sudah keluar dari penthouse Louis dan memilih untuk kembali ke apartemen lama miliknya. Lea tidak merasa bersalah sedikitpun hingga saat ini, karena telah membongkar hubungan gelap antara Louis dan Annante. Lea rasa tindakannya sudah benar, jadi untuk apa ia merasa bersalah.

__ADS_1


“Setidaknya jangan jadi bodoh hanya karena kamu sangat tertarik padanya,” ujar Lea seraya melipat tangan di depan dada. “Kamu benar-benar bukan lagi Louis yang aku kenal.”


Setelah berkata demikian, Lea berbalik badan dan langsung beranjak pergi. Diikuti oleh bodyguard serta asisten pribadinya.


Louis yang melihat kepergian Lea begitu saja hanya bisa mengeram marah. Lea telah berubah. Mainnya itu sudah terang-terangan menantang dan memberontak. Sekarang bahkan Lea berani melawannya secara langsung dengan kepala mendongkrak tegak. Apa Louis marah? Bukan. Bukan ke arah ‘marah’, namun lebih condong ke arah sebal, karena tidak percaya Lea akan berakhir meninggalkan dirinya begitu saja.


“Sir.”


“Kembalilah ke kantor,” titah Louis. Dengan langkah lebar ia berjalan ke tempat di mana super car miliknya diparkir. “Gunakan transportasi umum untuk kembali ke kantor.”


Setelah berkata demikian, Louis masuk ke dalam super car miliknya tanpa mempedulikan sekretaris sekaligus mantan partner ranjangnya yang masih terbengong di tempatnya berdiri. Katakanlah Louis tidak punya hati, karena ia tidak peduli. Louis memilih melajukan super car miliknya dengan kecepatan di atas rata-rata sepeninggalan area Radityan Corp’s. Mood-nya kembali memburuk karena gagal berjumpa dengan Alea.


Kendati demikian, Louis tidak akan menyerah dengan mudah. Ia akan melakukan pendekatan lagi dengan berbagai cara. Louis kemudian mengaktifkan mode telepon di software super car miliknya untuk menghubungi seseorang.


“Halo, tuan muda. Ada yang bisa saya bantu?”


Sambungan telepon yang sudah terhubung, menghadirkan suara seorang perempuan dari seberang.


“Persiapkan castil pribadi milikku. Lusa aku akan datang dengan seseorang ke sana.”


“Baik, tuan. Saya akan mempersiapkan castil dengan baik.”


“Satu lagi, bersihkan kamar terbesar di castil. Hias dengan berbagai jenis bunga atau semacamnya.”


“Satu lagi. Pastikan bunga-bunga liar yang ada di sekitar castil tengah mekar saat aku datang.”


“B-aik, tuan.” Itu adalah jawaban yang terdengar ragu dari suara perempuan di seberang.


Namun, Louis tidak peduli. Ia langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Sudah jelas barusan ia memberikan perintah. Lusa ia akan datang ke Castil miliknya yang berada di sebuah desa yang masih asri. Lokasinya cukup tersembunyi, jauh dari keramaian kota. Tempat itu terletak di Hill Country, Texas. Castil yang Louis maksud adalah tempat singgah yang jarang ia kunjungi, kecuali jika benar-benar ingin menyendiri.


Castil-nya dibangun di desa yang masih asri. Dekat danau Highland yang tampak cantik dihiasi oleh beragam bunga liar yang bermekaran di bulan-bulan tertentu. Namun, biasanya bunga-bunga liar di sana mulai mekar sekitar bulan Maret. Puncaknya pada bulan Maret dan Apri. Tidak hanya di sekitar danau, bunga-bunga liar juga tumbuh dan mekar di perbukitan, sekitar perumahan warga, rel kereta api, dan tempat-tempat umum. Maka tak heran jika tempat tersebut menjadi salah satu tempat yang direkomendasikan untuk melihat keindahan bunga liar. Di sana dapat ditemukan berbagai variets bunga liar, seperti bunga bluebonnet, laurel, wildflower, primroses, beebalm, verbena, phlox, dan banyak lagi.



Louis menyeringai tipis setelah sambungan telepon terputus. Kala mengingat castil-nya yang akan sangat indah saat dikunjungi, karena ditumbuhi bunga-bunga liar, ia membayangkan raut wajah seseorang yang akan ia bawa ke sana.


“Alea pasti akan suka jika datang ke sana.”


Ya, Louis akan membawa Alea ke Hill Country di Texas. Tempat yang indah untuk melihat bunga-bunga liar. Louis sudah mendapatkan bocoran jika Alea sangat suka bunga. Membawa Alea ke Hill Country langsung sepertinya ide yang brilian.


✈️✈️


“Loh, kamu pulang lebih cepat hari ini?”

__ADS_1


Airra yang tengah memasak chicken katsu curry bertanya setelah menjawab salam yang diucapkan sang putri. Alea memang baru saja masuk ke dapur, menyapa sang ibu yang tengah menyiapkan makan malam.


“Iya, Mah. Hari ini Alea kebetulan ingin pulang cepat, karena pekerjaan juga sudah selesai.”


“Ya sudah. Kalau begitu Alea istirahat dulu di atas. Nanti Mamah panggil kalau makan malam sudah siap.”


Alea menggelengkan kepala seraya mendekati sang ibu. “Alea mau bantu Mamah aja,” katanya. Ia tak lupa menyimpan terrarium mini pemberian Nathan yang dibawa dari kantor di atas meja.


“Mamah masak apa?


“Chicken katsu curry.” Airra menjawab. Ia kemudian menatap sang putri yang baru saja bergerak untuk mengambil gelas untuk diisi air di water dispenser.


Alea kemudian berjalan lagi ke kursi makan, duduk di salah satu kursi, kemudian mengucapkan basmalah dan sepenggal kalimat yang berati. “Segala puji bagi Allah yang dengan rahmat-Nya telah menjadikan air ini segar dan menyegarkan. Dan tidak menjadikan air ini asin dan pahit karena dosa-dosa kami.”


Setelah itu Alea kemudian menyingkap sedikit kain yang menutupi wajahnya untuk minum air putih yang ia ambil dari water dispenser.


“Ada yang bisa Alea bantu, Mah?” tanya Alea setelah selesai minum. Ia paling suka jika berkutat di dapur bersama sang ibu.


“Mamah sudah hampir selesai masak Chicken katsu curry. Gimana kalau kamu coba masak menu kesukaan calon suami kamu.”


“Menu kesukaan kak Nathan?”


“Iya. Memangnya calon suami kamu siapa lagi selain Nathan?” goda Airra dengan senyum tipis di akhir kalimat. “Kemarin pas telponan sama mamanya Nathan, Alea sudah diberitahu, ‘kan?”


“Sudah, Mah.” Alea menjawab dengan rona merah yang samar-samar tersebar di pipi. “Kak Nathan katanya suka makan sama sayur asem dan empal goreng. Kak Nathan sih nggak muluk-muluk apalagi pilih-pilih soal makanan. Asal ada sayur, dia pasti suka. Apalagi kalau makanan nusantara, suka pakai banget.”


Airra yang baru saja memindahkan Chicken katsu tersenyum semakin lebar. “Aura calon istri Captain Nathan sudah nampak di mata bunda. Lihat, kamu saja sudah hapal sampai segitunya.”


Alea menunduk malu. Apa benar yang ia barusan katakan berlebihan?


“Nggak apa-apa, sayang. Tidak perlu malu, itu malah bagus. Itu berarti kamu sudah belajar jadi istri yang potensial untuk Nathan. Ingat, memasak adalah kemampuan dasar manusia untuk bertahan hidup. Untuk kedepannya, kamu akan memiliki seorang suami yang harus dilayani dengan sepenuh hati. Sebelum suami kamu pergi bekerja atau bertugas, berilah pelayanan yang terbaik serta makanan bergizi yang dapat membuat perut kenyang, supaya hatinya ikut senang. Beri dia bekal, supaya tidak kebiasaan beli makan diluar. Makanan rumahan lebih terjamin kebersihan dan kandungan gizi di dalamnya. Hal-hal kecil seperti itu jangan sampai kamu sepelekan.”


Alea menjawab dengan anggukan kecil. Sungguh, membayangkan bagaimana membangun rumah tangga bersama laki-laki itu membuat hati Alea berdesir. Ada perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata yang melingkupi rongga dada.


Alea baru membayangkan saja, rasanya sudah tidak dapat digambarkan dengan kata-kata. Apalagi nanti saat menjalaninya.


“Wallahi, aku mencintai ketetapan yang telah engkau tetapkan. Termasuk jika ketetapan yang engkau tetapkan adalah menjodohkan hamba dengannya, maka aku akan mencintainya segenap hati,” batin Alea di dalam hati.


✈️✈️


TBC


Semoga suka. Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon 💐💐💐💐

__ADS_1


Sukabumi 17-08-22


__ADS_2