
°BDJ 57 : RARA’S CAFFE
Abang & Adik bikin oleng 😘
“Ini alamatnya nggak salah, kan?”
Laki-laki di balik kemudi mengeluarkan suara seraya melirik layar handphone yang tengah menampilkan grafik maps. Padahal lokasi yang hendak dituju masih ada di sekitaran SCBD—Sudirman, Citayam, Bojong, Depok—yang dulu sempat jadi tempat tongkrongannya and the geng. Dari alamat yang ia dapat, RaRa’s Caffe ada di sekitar jalan ini, tetapi ia belum juga menemukannya.
Masih ingat RaRa’s Caffe? Tempat makan kekinian itu milik seorang anggota KOPASSUS bernama lengkap Keevan’ar Radityan Az-zzioi. Owner sekaligus founder RaRa’s Caffe adalah Van’ar, namun pengelolanya adalah Lunar. Van’ar sudah merintis bisnis semenjak duduk di bangku sekolah menengah atas, berbeda dengan kakak sulungnya yang tinggal melanjutkan tonggak kepemimpinan Radityan Corp’s. Van’ar lebih memilih memulai dari nol. Ia awalnya membeli sebuah ruko kecil dari hasil tabungannya, kemudian memulai bisnis di dunia kuliner dengan merangkul para teman serta kenalannya untuk ikut serta berpartisipasi.
Saat menikahi sang istri, Van'ar sudah berhasil memiliki 8 cabang di sekitar Jabodetabek. Sekarang sudah lebih dari 50 cabang RaRa's Caffe yang tersebar di berbagai kota.
“Sepertinya benar, ini alamatnya.”
Laki-laki yang duduk di sampingnya ikut buka suara. Ia menunjuk sebuah plang dengan ikon ikan Koi berukuran sedang dengan nama RaRa’s Caffe.
“Oh, iya. Ning kapanggih oge,” ujar Gean girang. Saking girangnya, ia sampai berucap dalam bahasa Sunda.
Gean kemudian mengarahkan kendaraan roda empat yang ia bawa guna memasuki pelataran parkiran tempat yang tampak ramai pengunjung. Terlihat dari banyaknya kendaraan roda dua hingga roda empat di tempat tersebut.
“Rame, bang.”
“Hm.”
“Terus gimana? Abang fine-fine aja?” tanya Gean setelah mematikan mesin mobil.
Kakak beradik itu datang ke RaRa’s Caffe untuk memenuhi undangan kehormatan dari Keevan’ar Radityan Az-zzioi. Sesuai jam yang telah ditentukan, yaitu sore hari. Namun, Gean agak ragu untuk masuk, karena tahu jika sang kakak tidak terlalu suka berada di keramaian.
“Hm. Tidak apa-apa.”
Nathan merespon dengan singkat. Ia memang merasa kurang betah jika berada di keramaian, namun ini adalah undangan kehormatan loh. Ibaratnya kesempatan sekali seumur hidup.
“Ya udah. Yuk, masuk.”
Nathan mengangguk singkat sambil melepaskan seat belt. Mereka berdua pun berjalan beriringan memasuki RaRa’s Caffe. Dari luar, bangunan RaRa’s Caffe terlihat sangat menarik dengan patung ikan Koi yang menjadi ikonik.
Saat memasuki bangunan yang dibuat dengan tema tahun 90-an itu, mereka langsung disambung dengan nuansa yang kalem dan adem. Interior di dalam caffe memadukan nuansa tradisional dengan gaya biophilic. Gaya biophilic adalah gaya yang menggabungkan unsur alam ke dalam lingkungan tempat tinggal. Gaya ini selalu berhasil menimbulkan kesan homey ala hunian tropis.
Ditambah lagi ada jejeran rak buku yang menjadi pembatas ruangan satu dengan ruangan lain. Dalam sekali lihat, mereka bisa tahu jika si pemilik caffe sangat suka membaca. Dari koleksi buku fiksi hingga non fiksi, hampir sebagian besar adalah buku-buku yang sudah sulit dijumpai. Itu berarti, koleksi buku-buku di sini kebanyakan hasil cetakan pertama yang sudah sangat langka dan tentu saja bernilai ekonomis tinggi pada saat ini. ada berbagai jenis buku yang tersedia di sana, mulai dari buku-buku psikologi, militer, ensiklopedia, biografi, sejarah, hingga romansa-religi.
“Baru tahu ada tempat kayak gini di Jakarta,” lirih Gean yang terkesima. Ia bisa betah lama-lama jika nongkrong di sini.
“Hm. Kamu saja baru tahu, apalagi aku,” balas Nathan, setengah bergumam.
Mereka masih terkesima saat seorang waiters man datang menyapa. “Ada yang bisa saya bantu, tuan-tuan?”
“Ah, tunjukkan tempat duduk yang sudah di-reservasi atas nama Keevan’ar Radityan.”
Waiters man itu tersenyum ramah seraya mengangguk. “Mari ikuti saya.”
Gean menoleh pada sang abang. “Bang, ayo.”
“Hm.”
__ADS_1
Mereka pun mengikuti langkah si waiters man. Lama kelamaan kehadiran Nathan dan Gean jadi magnet yang memiliki data Tarik yang luar biasa di lantai dasar. Terbukti dari banyaknya pasang mata yang tertarik melirik mereka secara terang-terangan, bahkan secara diam-diam. Bagaiman tidak menarik perhatian, kakak-beradik yang hari ini tampil dengan outfit semi formal itu sudah seperti super model yang meloncat keluar dari sampul majalah. Bisik-bisik juga mulai terdengar saat mereka berdua lewat. Kemungkinan ada yang mengetahui jika Nathan dan Gean adalah para pewaris dari kerajaan bisnis keluarga Dwiarga.
“Tuan Van’ar sudah menunggu di dalam,” kata si waiters man saat mereka tiba di depan sebuah ruangan.
Gean mengangguk. Ia kemudian merogoh saku celana guna mengeluarkan dompet kulit miliknya. Dari dompet kulit yang tampak tipis, tidak tebal seperti dompet pada umumnya itu, ia mengeluarkan selembar uang pecahan dollar.
“Ini, untuk beli air,” ujar Gean seraya memberikan uang tersebut untuk tips.
Si waiters man yang terlihat masih cukup muda itu tampak terpaku untuk sejenak. Bukannya menerima, ia malah menolak tips dari Gean. Namun, Gean yang pada dasarnya ikhlas memberi tetap kekeuh. Pada akhirnya, waiters man itu tetap menerima tips yang diberikan Gean dengan setengah hati. Alih-alih senang, si waiters man itu lebih condong ke arah terkejut karena tiba-tiba diberi tips yang cukup fantastis.
Gean dan Nathan pun masuk setelah si waiters man pergi. Ketika melangkahkan kaki ke dalam salah satu ruangan yang ada di lantai dua RaRa’s Caffe, mereka langsung disambut dengan kehadiran Keevan’ar yang tengah duduk manis ditemani sang istri.
“Kalian baru sampai? Saya pikir kalian tersesat.”
Gean tertawa kecil seraya menghampiri Van’ar untuk menyalami. “Alhamdulillah ketemu juga setelah tersesat, yah.”
Selesai menyalami Van’ar, Gean menghadap Aurra. Namun, ia tidak menyalami perempuan yang berprofesi sebagai dokter itu, hanya menangkupkan kedua tangan di depan dada. Tindakan itu kemudian ditiru oleh Nathan.
“Bunda juga ada di sini rupanya. Gean pikir bunda ada piket di rumah sakit.”
“Bunda memang baru pulang dari rumah sakit, nak. Barusan ayahnya Arra yang jemput,” tutur Aurra, memberitahu.
“Maaf jika telah membuat ayah dan bunda menunggu lama.” Gean menggaruk tengkuk kikuk. “Gean kira nggak bakal nyasar kalau cuma nyari alamat di SCBD mah. Eh, taunya nyasar beneran.”
“Jadi benar tersesat?” tanya Van’ar meyakinkan.
Gean mengangguk dengan cepat. “Kalau ayah sama bunda nggak percaya, silahkan tanya sama bang Nathan.”
Van’ar menatap laki-laki yang berdiri di samping Gean dengan tatapan lurus.
“Kita memang sempat tersesat,” ujar Nathan. Ikut buka suara. “Saya yang jarang sekali pulang ke Jakarta, tidak dapat membantu apa-apa. Jadi kami hanya mengandalkan panduan google maps.”
“Eh, nggak usah repot-repot, bund. Lagipula kita juga udah sampai sini, kok. Tadi hitung-hitung jalan-jalan keliling SCBD.” Gean tersenyum tipis seraya melirik sang kakak.
Lumayan, mereka nyasar cukup sebentar. Kira-kira satu jam setengah lah, mutar-mutar SCBD. Kenapa bisa demikian? Karena mereka sempat datang ke alamat yang salah, masuk jalan buntu, terjebak macet, baru sampai ke tempat tujuan. Ternyata, RaRa’s Caffe terletak di daerah yang cukup menjorok ke dalam.
“Duduk dulu, nak. Kalian pasti haus setelah tersesat di luar sana.” Aurra dengan ramah menyuruh Nathan dan Gean untuk duduk.
Ibu tiga anak itu kemudian pamit keluar pada sang suami. Van’ar yang sore ini tidak menggunakan seragam kebanggaannya, tetap tampak tampan dan gagah dengan pakaian santai yang warnanya senada dengan gamis sang istri.
“Kalian pasti kebingungan mencari tempat ini. Padahal dulu sebelum ada pembangunan toko-toko dan bangunan perkantoran di depan, tempat ini mudah sekali ditemukan.”
Van’ar membuka topik pembicaraan. Aura pak tentara satu ini tetap saja sama walaupun berada di luar ranah pekerjaan. Pekat, juga kuat. Mengingatkan Gean pada masa awal-awal saat ia memperjuangkan sang kekasih hati. Rasanya ingin menangis darah jika saja Tuhan tidak berpihak kepadanya. Gean tidak tahu apa ia akan bisa se-ikhlas Arsen? Sepertinya tidak bisa deh. Gean bisa saja melepaskan, namun akan sukar untuk melupakan.
“Jangan tegang begitu, Captain-Captain muda. Saya tidak akan menembak kalian.”
Gean tertawa creepy menanggapi candaan sang calon mertua. “Ayah bisa aja.”
Gean yang duduk bersebrangan langsung dengan Van’ar, kemudian melirik sang abang.
Bagaimana jadinya jika Van’ar bertemu dengan Nathan tanpa dirinya? Ibarat kata, batu ketemu batu. Sama-sama keras, dingin, datar. Siapa yang akan mencairkan suasana? Dan, kira-kira siapa yang pertama membuka pembicaraan? Apa mereka berdua akan bicara dengan bahasa isyarat?
“Ehm, kalau boleh tahu, kenapa tiba-tiba ayah ingin bicara secara terpisah dengan kami?”
Gean memberanikan diri untuk berbicara. Ia juga penasaran kenapa tiba-tiba diundang oleh Van’ar.
“Saya ingin mengenal kalian lebih dekat lagi, terutama Captain Nathan. Kurang lebih satu bulan menjelang pernikahan, saya ingin mengenal calon suami Alea lebih banyak.”
__ADS_1
Van’ar menatap si sulung dari keluarga Dwiarga dengan tatapan yang sulit diartikan. “Saya juga dengar bahwa bukan cuma kamu yang tengah mengejar-ngejar Alea belakangan ini.”
Nathan tampan terkejut mendengarnya. Maksudnya?
“Saya ingin mengetahui tentang kamu, Alea, dan laki-laki itu.”
“Maksud Anda?”
“Kamu pasti tahu maksud dari ucapan saya, Captain Nathan. Siapa laki-laki yang belakangan kerap muncul di sekitar Alea? Bisa saya dengar sesuatu tentang laki-laki itu?”
“Jika yang Anda maksud adalah CEO Anderson, saya tidak tahu banyak. Kami dipertemukan lewat sebuah kerjasama. Kebetulan perusahan kami—perusahaan milik orang tua saya, perusahaan milik keluarga Radityan yang dikelola oleh Alea, dan perusahaan milik laki-laki itu terlibat kerjasama.” Nathan mencoba mengulik ingatan soal Louis di kepalanya. Namun, hanya secuil informasi yang ia dapatkan. “Sebelum itu kita juga pernah bertemu di sebuah kelab malam.”
“Kelab malam?” Van’ar tampak memicingkan mata. Gean juga tampak terkejut.
Nathan mengangguk dengan gerakan kaku. “Saat itu, untuk pertama kalinya saya datang ke kelab malam karena ajakan rekan kerja saya. Saya tidak tahu jika dia membawa saya ke tempat seperti itu. Di sana saya sempat terlibat perselisihan dengan CEO Anderson.”
“Sampai terjadi perkelahian?”
Nathan menggelengkan kepala. “Saya memilih pulang untuk menghindari perkelahian. Setelah hari itu, saya bertemu dengan CEO Anderson sebagai relasi bisnis. Saya rasa tidak ada yang aneh darinya, kecuali tatapan memuja pada Alea yang tidak dapat disembunyikan.”
Nathan mengepalkan tangannya yang berada di bawah meja jika mengingat bagaimana cara Louis menatap sang calon istri. Laki-laki itu seperti terobsesi.
“Belakangan saya juga baru tahu jika dia menjalin hubungan gelap dengan teman dekat sekaligus sekretaris Alea.”
‘Wah, njirr. Drama staff with benefit di real life,’ gumam Gean.
“Laki-laki itu berbahaya.” Van’ar buka suara. Netra gelapnya tampak mengunci kedua lawan bicara. “Dia masih memiliki ikatan dengan orang-orang dari masa lalu orang tua Alea.”
“Maksud Anda?” Nathan tampak semakin penasaran.
“Kamu bisa bertanya lebih lanjut kepada kakak saya,” pungkas Van’ar. Bersamaan dengan itu, datang Aurra bersama seorang waiters. Membawa tiga gelas minuman dan beberapa jenis kudapan di tas nampan.
“Minum dulu, nak.”
Aurra menyimpan satu per satu gelas di hadapan Gean dan Nathan. Kedua anak papa Al itu jadi sungkan. Mereka benar-benar diperlakukan dengan sangat baik.
“Sudah, Ra. Biar pegawai yang menyiapkan, kamu pasti letih.” Van’ar melerai sang istri yang hendak pergi lagi. “Sini, duduk si samping mas.”
“Aku harus membantu,” Aurra menjeda kalimatnya kala melihat isyarat dari tatapan sang suami. Ia kemudian mengangguk, lalu berjalan mendekat ke arah sang suami. Dengan telaten Van’ar berdiri, kemudian memundurkan kursi saat sang istri hendak duduk. Memajukannya lagi, saat kursi hendak diduduki.
“Kamu pasti capek. Lebih baik tinggal di sini, duduk bersama kami.”
Van’ar berucap sambil menyentuh pucuk kepala sang istri. Kegiatan yang selalu ia sukai untuk dilakukan berulang kali.
Diam-diam Gean membatin di dalam hati, ‘wisata masa depan.’ Gean harap kelak ia bersama Arra akan tetapi harmonis seperti itu sampai menua bersama.
Sedangkan Nathan, mencoba merekam berbagai perilaku Van’ar yang digadang-gadang sebagai laki-laki dengan kriteria husband material yang paling dicari. Sang BigLear yang pernah menjadi pembicaraan hangat pada masanya, karena sempat mengukir sejarah manis di atas gunung Gede Pangrango.
Nathan sepertinya harus belajar dari Van'ar.
✈️✈️
TBC
YUHUUU, DUA SAUDARA MAU BELAJAR SAMA AYAH VAN'AR 💙
ADA YANG MAU IKUTAN BELAJAR?
__ADS_1
ATAU MAU LANJUT KONDANG AJA? CUS, KOMENTAR DI SINI 👇
Sukabumi 15-08-22