
BDJ 77 : MENGEJAR KEBAHAGIAAN
“Larangan berpergian ke luar negeri atas nama Anda sudah dicabut, Tuan.”
Laki-laki yang dipanggil ‘tuan’ itu langsung mendongkrak. Mengalihkan tatapan dari layar MacBook ke tangan kanannya, yaitu Jack yang sudah berdiri tegap di depan meja kerjanya.
“Lalu tunggu apa lagi, segera siapkan pesawat untuk pergi ke Myanmar, Thailand, China, Singapura, Malaysia, termasuk Indonesia. Wanitaku pasti ada di salah satu Negara tersebut.”
Jack menganggukkan kepala patuh. “Saya sudah menyiapkan pesawat dengan pilot dan kru pesawat terbaik untuk penerbangan Anda ke Negara-negara tersebut, Tuan.”
“Bagus,” puji sang tuan. “Lalu, bagaimana dengan perkembangan pencarian wanitaku?”
Jack menggelengkan kepala. “Maaf, Tuan. Sejauh ini masih belum ada kemajuan.”
“Aku tidak butuh maaf mu, Jack. Aku butuh lokasi paling akurat di mana keberadaan wanitaku. Jika perlu, minta para petinggi provider jaringan untuk melacak keberadaan wanitaku. Kalau mereka tidak bersedia, segera putuskan kerja sama di antara kita.”
Jack sebenarnya takjub dengan cara bicara sang tuan yang tiba-tiba meningkat pesat. Sekarang tuannya itu jadi bisa bicara panjang kali lebar, tidak sepatah atau dua patah kata lagi. Namun, masalahnya sekarang situasi dan kondisi yang tengah tidak menguntungkan bagi Jack. Pasalnya hingga saat ini Jack belum dapat menemukan lokasi target.
“Sebenarnya ada informasi yang baru masuk, Tuan. Namun, informasi tersebut belum dipastikan benar atau tidak.”
“Informasi tentang apa?”
Jack bergerak, mengeluarkan sebuah amplop coklat dari balik black jas yang ia gunakan. Amplop itu kemudian diberikan pada Louis.
“Saat Tuan Nicho pergi untuk melakukan penerbangan pertama menggunakan jet pribadinya, seorang fans anonim berhasil mengabadikan potret seorang wanita yang dikawal menuju jet pribadi milik tuan Nicho. Dari ciri-ciri wanita dalam potret yang diambil, wanita tersebut kemungkinan besar adalah manager Nona Lea, Miss Liliane.”
“Lalu informasi apa lagi yang kau dapatkan, Jack?”
“Hari ini akun media sosial Nona Lea yang sempat non aktif, kembali aktif dan baru saja mengunggah postingan baru. Ketika dilacak lebih jauh, ternyata akun media sosial Nona Lea sudah tidak dipegang oleh Nona Lea sendiri, melainkan dipegang oleh asisten pribadinya, Miss Lina Liem yang sekarang berada di Tiongkok.”
“Kesimpulannya?”
“Kesimpulannya Nona Lea sepertinya sudah merencanakan kepergian ini dengan matang. Terbukti dari tidak adanya pemberitaan soal hilangnya Nona Lea yang tiba-tiba, karena Nona Lea ternyata sudah menyelesaikan hampir semua kontrak kerjasamanya untuk tahun ini.”
Louis mengeram lirih. Ternyata Lea benar-benar sudah memiliki planning untuk pergi dari kehidupannya.
“Itu berarti….” Kalimat Louis terputus begitu saja, karena tiba-tiba ia merasakan gejolak asam lambung yang naik. Membuat rasa mual muncul ke permukaan.
“Tuan, Anda baik-baik saja?” tanya Jack risau.
Beberapa hari ke belakang ia sempat menyadari jika kesehatan sang tuan menurun. Jack mengira hal tersebut terjadi karena Louis ditinggalkan secara tiba-tiba oleh wanitanya. Bagaimana pun juga sikap Louis kepada wanitanya, Lea tetaplah wanita yang selama ini paling mengenal Louis. Lea pula lah yang selalu memperhatikan dan mengurus Louis dengan baik. Hanya saja Louis selama ini kurang peka, sadar, juga kurang berterima kasih atas kehadiran Lea di sisinya. Sekarang wanita itu memilih pergi begitu saja, mungkin sudah lelah dengan sikap Louis yang tidak berubah.
“Long time no see, everybody.”
Sapaan hangat yang sebenarnya tidak diharapkan sama sekali itu terdengar begitu saja, bersamaan dengan pintu yang terbuka dari luar.
“Untuk apa kau datang ke sini?” tanya Louis to the point pada tamu tak diundang tersebut.
“Begini kah caramu menyapa teman yang sudah lama tidak kau jumpai?”
“Jangan bertele-tele, apa yang membawamu ke sini?”
Laki-laki dengan wajah European itu tertawa maskulin. “Aku mendapatkan informasi jika CEO Anderson sedang ketar-ketir mencari seorang wanita.”
“….”
“Boleh aku tebak, kamu kehilangan calon istriku bukan?”
__ADS_1
“Jaga mulut sial*n mu itu,” sarkas Louis. “She is mine.”
“Mine?” senyum mengejek tercipta di bibir Nicho yang sedang bersandar pada kusen pintu, sembari melipat kedua tangan di dada. “Apa kau tahu apa alasan terbesar seorang wanita yang sudah jatuh cinta setengah mati memilih pergi?”
“….”
Louis terdiam. Tidak berminat untuk menjawab, karena memang ia tidak memiliki banyak wawasan untuk memahami wanita.
“Alasan paling kuat yang membuat mereka pergi adalah karena dia sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan. Dengan kata lain dia sudah menyerah, setelah berjuang dengan susah payah.” Nicho menatap Louis tanpa rasa takut. “Walaupun wanita diakui sebagai ras paling kuat di bumi, mereka tetap saja memiliki kelemahan. Jadi, mereka akan memilih untuk pergi jika sudah tidak merasa perlu untuk berjuang lagi.”
“Jangan berbelit-belit, sial*n. Langsung ke intinya saja, apa yang sebenarnya kau inginkan.” Louis geram, karena Nicho dengan seenak hati mempermainkan emosinya.
Sedangkan Nicho malah senang bukan kepalang melihat lawan bicaranya terpancing. “Tujuanku ke sini cuma satu, yaitu Lea. Lepaskan dia. Jangan pernah mencarinya lagi. Musim semi tahu depan, aku akan menikahinya.”
“Kau pikir aku akan membiarkan rencana sial*n mu terwujud?!”
“Kenapa tidak? bukankah sela ini kau terlalu sibuk mengejar wanita Asia itu? sampai-sampai mengabaikan Lea? Sebenarnya, aku masih bingung dengan cara kerja otakmu. Siapa yang sebenarnya kamu mau, Lea atau wanita Asia yang seperti kaum terror—“
“Jaga mulutmu, sial*n.”
Louis mengebrak meja saking emosinya. Jack yang melihat itu tentu tak tinggal diam.
“Tuan, Anda harus tenang.”
“Usir pria sial*n itu dari ruangan ku, Jack.”
“Baik, Tuan,” sahut Jack patuh.
Nicho yang melihat itu tertawa kecil. Memang ini tujuannya datang ke sini. “Setelah membuat seorang wanita merusak hubungan persahabatannya dan berakhir menjadi pengangguran karena dipecat tidak hormat dari tempatnya bekerja, sekarang kau membuat wanita lain yang jatuh cinta setengah mati kepadamu menghilang. Kurang apalagi efek dari kebrengs*kan mu itu?”
“Nicho?!”
“Diam, sial*n. Atau aku akan….” Kalimat Louis tidak sampai rampung diucapkan, karena tiba-tiba saja Nicho mengeluarkan kalimat kunci yang membuat sistem di seluruh tubuh Louis berhenti beroperasi.”
“Lea hamil.”
“Apa?!”
Nicho tersenyum miring melihat ekspresi tidak bersahabat lawan bicaranya, ditambah keterkejutan luar biasa di matanya.
“Lea hamil bayi pertama kami. Bukan kah seharusnya kamu memberikan selamat pada teman mu ini?” tambahnya lagi. Memancing emosi yang lebih besar dari lawan bicaranya. "I'm going to be a father soon."
✈️✈️
Diratukan adalah posisi yang bukan baru lagi bagi Alea. Sebelum menjadi istri dari Nathaniel Allugard Hazka Dwiarga, serta menantu Algafriel Hazka Dwiarga dan Geasya Genandra Putri, Alea sudah diratukan oleh keluarga Radityan. Ia bersama Arabelle menjadi Srikandi dengan kehormatan yang sangat dijunjung tinggi oleh saudara laki-lakinya.
Segala bentuk kemewahan duniawi sebagian besar telah Alea rasakan semenjak lahir ke dunia. Mengingat ia sudah ditakdirkan lahir dari garis keturunan Radityan. Sekarang, ada satu lagi kubu yang meratukan Alea. Kubu tersebut terdiri dari suaminya, orang tua suaminya, serta anggota keluarga serta kerabat suaminya yang lain.
Kehadiran Alea pada hari ketiga pernikahan di kota kembang, disambut dengan begitu hangat oleh keluarga besar Dwiarga yang sebenarnya hanya memiliki dua keturunan, yaitu Al dan El. Al memiliki dua anak—sesuai sekali dengan program keluarga berencana yang digaungkan oleh pemerintah—dari hasil pernikahannya dengan Gea, yaitu Nathan dan Gean. Sedangkan El baru saja hendak melangsungkan pernikahan setelah bertahun-tahun lamanya bertunangan. El malah didahului oleh keponakan sendiri.
Keluarga Dwiarga itu bisa dibilang keluarga yang sangat elit, tetapi jodoh sulit.
“Capek, ya? Mau istirahat dulu?”
Alea menggelengkan kepala sebagai jawaban. Saat ini ada acara pre-resepsi di kediaman keluarga besar suaminya. Ia dan Nathan wajib hadir, karena banyak sanak-saudara yang ingin mengucapkan selamat.
“Istirahat dulu di kamar, ya?” tawan sang suami untuk kesekian kalinya. Bahkan telapak tangan dan punggung tangan Alea tidak pernah lepas dari genggaman laki-laki rupawan tersebut.
__ADS_1
“Tidak usah, Mas. Aku tidak apa-apa kok.”
“Jangan berbohong, Zaujati (istriku). Aku takut kamu malah kecapean.”
Alea menggelengkan kepala. Ia terkadang dibuat gemas oleh sikap sang suami yang sebelas dua belas dengan sang papa, yaitu over protective. “Aku baik-baik saja, Mas.”
“Hm. Aku yang tidak baik-baik saja.”
“Mas sakit?” tanya Alea polos.
Nathan tersenyum, tak langsung menjawab. “Aku yang tidak baik-baik saja jika kamu sakit, Zaujati (istriku).”
Alea terpaku. Tidak menyangka jika tiba-tiba Nathan akan berkata demikian.
“Kamu harus selalu sehat, Zaujati (istriku). Setelah acara di sini selesai, aku ingin membawa kamu ke rumah kita.”
“Rumah kita?”
“Hm. Lokasinya ada di daerah Dago,” tutur Nathan seraya mengelus punggung tangan sang istri menggunakan ibu jari. “Rumah yang aku persiapkan untuk kamu, dan….” Nathan sengaja menggantungkan kalimat.
“Dan?”
“….calon buah hati kita,” lanjut Nathan dengan senyum sehangat sinar mentari pagi. Senyum yang tidak pernah bosan Alea lihat semenjak mereka resmi menikah.
“Jadi, rumah itu dipersiapkan untuk aku dan calon anak-anak kita?” ulang Alea, bertanya dengan rona merah yang menghiasi wajah. Untung saja tertutup oleh selembar kain.
“Tentu saja. Aku sendiri yang mendesain interior, eksterior, pekarangan, sampai arena bermain untuk anak-anak.”
“Masya Allah. Mas terlibat secara langsung untuk mempersiapkan rumah itu?” tanya Alea dengan raut wajah takjub.
“Hm.” Nathan menjawab dengan senyum saribu volt. “Aku menginginkan yang terbaik untuk kamu dan calon buah hati kita. Jadi, aku tidak ingin sembarangan mengerjakan orang.”
Sungguh, Alea sangat bersyukur mendapatkan suami seperti Nathan. Selain dewasa dari segi usia, Nathan juga dewasa dari segi pikiran serta sudut pandang. Ditambah lagi Nathan juga paham agama, membuat Alea merasa begitu tenang setiap kali berada di sisinya.
“Setelah semua rangkaian acara selesai dilaksanakan, aku ingin kita menatap terlebih dahulu di Bandung. Tidak apa?”
“Alea ikut bagaimana kata suami Alea.”
Nathan tersenyum senang mendengarnya. “Kita menikmati waktu senggang dulu di sini, kemudian pertengahan atau akhir bulan, kita bertolak ke tanah suci. Bagaimana?”
“Aku ikut saja bagaimana baiknya, Mas.”
“Berarti setuju. Anggap saja kita honeymoon dulu di Bandung.”
Alea mengangguk seraya tersenyum malu. “Seperti Ayah dan Bunda,” lirihnya.
“Maksud kamu apa, Zaujati (istriku)?”
“Ayah Van’ar dan Bunda Aurra dulu menghabiskan waktu libur setelah menikah di sini, Mas. Tetapi tidak lama, karena Ayah dan Bunda sama-sama mengabdi untuk Negara. Jadi, Ayah dan Bunda memiliki waktu kebersamaan yang terbilang sangat singkat. Namun, Bunda pernah bercerita, bahwa waktu singkat yang Ayah dan Bunda habiskan di sini sangatlah berharga.”
Salah satu ekspresi yang Nathan sukai dari sang istri adalah ketika bercerita, seperti saat ini. Kedua bola matanya yang bening akan terlihat sangat elok, mencerminkan keantusiasan setiap kali bercerita. Membuat lawan bicaranya terpesona. Apalagi ketika ia tengah bercerita tentang kisah cinta kedua orang tuanya, terutama pasangan Van’ar dan Aurra yang Alea ibaratkan sebagai pasangan edelweis alias pasangan abadi.
“Kalau begitu ayo habiskan lebih banyak waktu di sini, kemudian kita ciptakan banyak kenangan yang berharga.”
✈️✈️
TBC
__ADS_1
KODE KERAS UNTUK NENG ALEA 😉
Tanggerang 21-09-22