
“Bagaimana kondisinya, Mbak?”
Perempuan bernetra bening nan teduh dengan kain penutup wajah yang baru saja menyimpan stetoskop itu menolehkan kepala ke samping. Di sana ada adik ipar, kakak ipar, keponakan bersama suaminya, serta seorang laki-laki asing yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur.
“Besar kemungkinan dia jatuh pingsan karena perubahan hormon,” tuturnya. “Perubahan hormon pada ibu hamil dapat menyebabkan tekanan darah menjadi lebih rendah dari biasanya. Contohnya jika ibu hamil mengubah posisi secara tiba-tiba, tekanan darah ibu hamil akan akan menurun dengan cepat. dalam waktu yang bersamaan, aliran darah ke otak pun akan mendadak berkurang dan pada akhirnya jatuh pingsan.”
Walaupun bukan dokter kandungan, Aurra Putri Haidan cukup mengetahui hal-hal mendasar soal kehamilan. Apalagi putrinya mengambil spesialis dokter kandungan, sedikit banyaknya ia kerap kali bertukar wawasan dengan sang putri. Kebetulan ia baru pulang dari rumah sakit saat mengetahui ada seseorang yang jatuh pingsan. Dari keterangan tambahan yang Aurra dapatkan, ternyata perempuan muda yang pasti memiliki darah Korea itu tengah berbadan dua.
Sekarang Lea sudah dipindahkan ke salah satu kamar tamu yang tersedia di mansion Radityan. Leon sendiri yang membawa Lea ke sana ala bridal style. Jangan ditanya apa Leon cemas atau tidak, karena jawabannya masih dapat terlihat hingga detik ini.
“Lalu bagaimana dengan pengobatan yang harus dilakukan, Bu dokter?” tanya Leon kelewat cemas.
Aurra yang kebetulan baru saja membenahi peralatannya tampak tersenyum kecil di balik kain penutupnya. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Setahu saya ada beberapa tips yang dapat mengurangi resiko terjadinya peristiwa seperti ini pada ibu hamil. Di antaranya hindari berdiri dalam durasi yang lama, usahakan agar tidak langsung berdiri setelah duduk atau berbaring, gunakan pakaian yang longgar dan nyaman supaya sirkulasi darah tidak terhambat, cukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih setidaknya delapan sampai dua belas gelas atau setara dengan 1,9 sampai 2,8 liter perhari, cukupi kebutuhan konsumsi makanan bergizi, serta melakukan olah raga ringan seperti jalan kaki di pagi hari, yoga, bisa juga berenang.”
Leon mengangguk tanpa suara. Di dalam isi kepala, ia mencoba mencatat serta mengingat tips-tips tersebut.
“Kalau begitu saya pamit undur diri,” ucap Aurra dengan sopan. Pasalnya di sana bukan hanya ada Leon saja, melainkan hadir pula pasutri baru yaitu, Nathan dan Alea, Anzar beserta istrinya, Lunar, serta Davian yang menjadi orang terakhir datang.
“Mamah juga mau pamit dulu,” sambung Lunar seraya menepuk bahu kanan sang putra. “Sebentar lagi Papah kamu pulang,” imbuhnya.
Davian mengangguk. Ia berdiri beberapa meter dari posisi Leon yang standby di dekat Lea.
“Tante ke luar dulu ya, Le. Kamu bisa tinggal di sini dengan tenang. Kamar kamu di sebelah, sedang disiapkan oleh Bibi.”
“Terima kasih banyak, Tante. Leon jadi merasa tidak enak karena sudah banyak merepotkan.” Leon menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba terasa gatal.
“Enggak enak gimana sih, Le. Kayak rumah siapa saja. Kamu ‘kan temannya Davian, santai saja.”
Leon hanya mengulas senyum canggung saat merespon ucapan Lunar. Berbeda dari keluarga terhormat di luar sana, Radityan memang perkumpulan orang-orang dengan keramahan serta kebaikan yang patut diacungi jempol. Namun, jika ada satu orang saja yang berani mengganggu seorang Radityan, maka siap-siap menerima amukan dari para pandawa Radityan yang sudah paket lengkap.
Semenjak mengenal triple D, khususnya dekat dengan Davian, Leon memang sedikit demi sedikit tahu circle keluarga Radityan yang tidak boleh diragukan. Walaupun begitu, di dalam keluarga Radityan juga sebagian besar anggota keluarganya sangat rendah hati.
“Apa kah ada seseorang yang berniat untuk menjelaskan?” celetuk suara berat milik sulung Radityan generasi kedua tersebut. “Kenapa tiba-tiba wanita ini ada di kediaman Radityan?”
Mendengar suara itu kembali mengalun, Leon bergegas berdiri. Dilihat dari segi manapun dapat dilihat bahwa, salah satu Radityan yang masih gagah walaupun sudah tidak muda lagi itu tidak menyukai keberadaan Lea.
“Dia datang bersama saya, Om.”
“Kamu?” telunjuk Anzar terangkat ke arah Leon. “Siapanya?”
__ADS_1
“Hanya teman,” jawab Leon sekenanya. “Saya membawa dia ke sini tanpa sepengetahuan dia, karena saat ini kami—lebih tepatnya dia sedang dikejar-kejar oleh segerombolan penjahat. Saya datang ke sini untuk bertemu senior saya, Bang Davian.”
Anzar menautkan kening mendengar penuturan laki-laki muda di hadapannya. Penuturan Leon tampak belum berhasil membuat Anzar merasa puas.
“Pah,” panggil sang putri.
“Iya, sayang?” sahutan dengan nada lembut yang berbeda 180° dengan nada bicaranya beberapa saat lalu. Hal itu tentu berhasil membuat Leon melongo.
“Biar nanti Alea yang menjelaskan ke Papah. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk berdebat.”
“Oke,” sahut Anzar santai. Jika sang putri sudah berkata demikian, ya sudah. Lagipula ia selalu percaya akan ucapan sang putri.
“Kalau begitu Papah dan Mamah tunggu di halaman belakang,” tambah Anzar kemudian. Ia lantas mengajak sang istri untuk segera meninggalkan ruangan.
Anzar dan Airra memang sedang menuruni tangga saat melihat kehebohan di lantai dasar. Atas dasar rasa penasaran yang manusiawi, mereka kemudian ikut melihat apa yang sebenarnya terjadi. Alangkah terkejutnya Anzar dan Airra saat melihat Lea—yang mereka pikir kekasih Louis—jatuh tidak sadarkan diri. Mereka juga bingung, karena tiba-tiba Lea ada di kediaman Radityan? bukannya di New York.
Padahal dari hasil pengamatan Anzar dulu, Lea itu salah satu wanita Louis. Mungkin bisa dibilang wanita yang paling dekat dan paling sering terlihat bersama Louis.
“Lea membutuhkan ruang untuk istirahat. Sebaiknya kita bicara di luar,” ujar Alea.
Leon menatap Lea barang sejenak. Ia tampak enggan meninggalkan bumil cantik yang tengah terlelap itu.
“Lo belum tuli ‘kan, Lele?” celetuk Davian sambil merangkul bahu juniornya itu.
“Kalau gitu ayo keluar, ada yang mau gue bicarain,” ajak Davian. “Nggak usah cemas. Kata Bunda Aurra dia sama bayinya baik-baik aja. Lo bisa pegang ucapan Bunda Aurra. Dia bundanya Arion loh.”
Leon tampak menoleh, bukti jika ia tertarik pada topik yang Davian utarakan. “Jadi itu ibunya Arion.”
“Yoi,” jawab Davian. “Telat sadar lo.”
“Gue mana tahu itu Bundanya Arion. Gue bahkan ….belum sempat ngucapin terima kasih, Bang.”
Davian tersenyum kecil seraya menepuk-nepuk bahu Leon. “Nanti ucapin langsung ke Bunda. gue bakal panggilin.”
“Yang bener lo, Bang?”
“Hmm. Sekarang keluar dulu, gue mau bicara sama lo. Ini masalah serius.”
Leon mengangguk. Ia kemudian memastikan kondisi Lea terlebih dahulu sebelum meninggalkan ruangan. Davian kemudian membawa Leon ke taman samping untuk bicara. Sedangkan Alea dan Nathan kembali melanjutkan tujuan mereka yang sempat tertunda. Pasutri itu juga berjanji akan bicara lagi dengan Leon dan Lea.
__ADS_1
“Sejak kapan lo deket sama itu cewek?” tanya Davian to the point.
“Belum lama. Kenapa memangnya, Bang?”
“Lo suka sama dia?” lagi-lagi pertanyaan to the point Davian lontarkan tanpa pandang bulu.
“Memangnya kenapa kalau gue suka sama dia, Bang?”
“Mending jangan, Le.”
“Kalau ada larangan, pasti ada sebab dan akibat yang akan terjadi jika dilanggar. Coba jelasin lebih rinci, Bang?”
Davian menghela napas kecil. Ia kemudian menghempaskan tubuhnya untuk duduk di atas bangku kayu yang diletakkan di bawan pohon mangga berbuah lebat. Sebelum menjawab, Davian terlebih dahulu mengambil telepon pintar miliknya di saku celana. Mengaktifkan google voice, supaya ia gampang searching. Kala permintaanya berhasil diproses, Davian langsung memberikan telepon pintar itu pada Leon.
“Siapa, Bang? artis luar negeri?” tanya Leon saat tampilan dari pencarian paling popular itu memperlihatkan output berupa informasi tentang Louis.
“Itu yang nyumbang sperm*.”
“Maksudnya, Bang?”
“Cewek yang sekarang lo lindungi setengah mati pergi dari New York, karena hamil bayinya Louis Gallion Anderson Kim, CEO Anderson Cooperation. Anak mantan ketua Mafia kelas dunia.”
Pegangan Leon pada telepon pintar milik Davian tiba-tiba meremang. Dari hasil pencarian google saja dapat menjelaskan bahwa laki-laki yang katanya “ayah” dari jabang bayi yang Lea kandung, sudah menjelaskan sebesar apa power laki-laki itu di dunia bisnis sehingga sangat nyaman sangat terkenal di mancanegara. Walaupun Leon tidak tahu siapa Louis, tetapi ia pernah melihat perusahaan cabang milik Anderson Cooperation di Jakarta. Perusahaan cabang yang tidak dapat dideskripsikan dengan kata “kecil” seperti perusahaan cabang pada umumnya.
“Sudah bisa mencerna maksudnya?” Davian menyeringai kecil seraya mengeluarkan dua permen karet rasa mint dari dalam saku celana. “Kunyah, nih. Biar enggak sepet.”
Satu permen karet ia buka dan lahap sendiri, sedangkan satunya lagi ditawarkan pada Leon. Namun, alih-alih menerima, Leon malah balik menatap Davian dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Ditambah lontaran sebuah pertanyaan yang menggelitik perut Davian.
“Maksud lo sebenarnya apa, Bang? gue masih enggak ngerti.”
“Aduh, child. Makanya dengerin gue, karena gue cuma ngomong sekali.” Davian mengunyah permen karetnya dengan hidmat. Baru beberapa kunyahan, ia lantas membuang permen yang masih terasa manis tersebut. “Jangan terusin perasaan lo, supaya lo nggak terlibat lebih jauh sama mereka. Masih banyak cewek di luaran sana, selain dia.”
“Kenapa enggak bisa dia, Bang?”
“Soalnya udah ada pawangnya,” balas Davian. “Pawangnya crazy. Lo bisa-bisa modar kalau berurusan sama orang crazy kayak dia.”
✈️✈️
TBC
__ADS_1
PERINTAH ADA UNTUK DIIKUTI, BUKAN UNTUK DILANGGAR YA, LE 👌
Tanggerang 23-10-22