
“As’salamualaikum.”
“Wa'alaikum salam, Mas.”
“Zaujati (istriku) sedang apa hm?”
Pertanyaan itu datang dari seorang suami yang baru saja pulang setelah melaksanakan salat jum’at. Berhubung musola terdekat sangat jauh dari tempat tinggal mereka, jadilah suaminya harus menggunakan kendaraan agar lebih hemat waktu.
“Angel food cake,” sahut sang istri yang bau saja menyimpan dua buah stoberi utuh serta daun mint di atas whipcream kocok. Ia kemudian menghadap sang suami untuk mengambil punggung tangan suaminya. Dikecup, sebagaimana kebiasaan seorang istri menyambut suami yang baru pulang.
“Angel food cake?”
“Iya, Mas. Cake original recipe, very simple, and delicious.”
Pria rupawan yang menggunakan koko putih itu tersenyum saat saat istri bicara menggunakan bahasa Inggris. Bukan maksudnya melebihkan, akan tetapi setiap bicara menggunakan bahasa yang berbeda, vibes nya bicara dengan sang istri itu berbeda. Sudah bukan rahasia umum lagi jika keluarga Radityan rata-rata orang jenius serta terpelajar.
Tanpa orang luar ketahui, biasanya anak cucu di keluarga Radityan diajarkan berbagai bahasa oleh orang tua mereka. Namun, bahasa pertama yang diperkenalkan tetap bahasa Arab dan Indonesia. Ketika sudah berhasil menguasai bahasa tersebut, maka mereka akan menempelkan bendera Negara dari bahasa itu berasal di dinding ruangan khusus yang berada di dalam ruang baca atau perpustakaan keluarga Radityan. (Read on novel Bukan Cinta Terencana)
“Tadi kepikiran aja pengen buat resep cake putih telur yang cantik dan tertua di dunia.”
Walaupun sedang mengandung tiga bayi kembar, tak lantas menghalangi aktifitas bumil tersebut dalam menyalurkan hobby baking. Siang ini bumil membuat angel food cake yang very simple, karena hanya membutuhkan 140 gram tepung terigu protein rendah, 425 gram putih telur—tanpa setetes pun kuning telur supaya bisa mengembang sempurna. Kemudian 250 gram gula pasir, 2 sendok teh pasta vanilla atau 2 batang vanilla bean, ¼ sendok teh garam, dan 2 sendok makan air jeruk nipis atau cream of tartar untuk membantu menstabilkan kocokan putih telur supaya mudah mengembang. Jika suka, bisa ditambahkan juga esens almond.
“Resep kue cantik ini pertama kali muncul abad ke-19, Mas. Di US lebih tepatnya. Karena cantik dan putih bersih, kue ini kemudian diberi nama angel food atau makanan malaikat. Rasanya juga bersahaja dan sedikit manis. Untuk mengimbangi rasa, digunakan whipcrem kocok dan buah-buahan yang asam seperti stroberi,” tutur perempuan dengan hijab instan yang menjulur, menutupi dada hingga permukaan perut. Minus kain penutup wajah, karena saat ini mereka tengah berdua di rumah.
“Masya Allah, luas sekali wawasan, Zaujati (istriku).”
“Itu hanya wawasan dasar, Mas,” kilah sang istri. “Mas ganti baju dulu, terus makan siang. Nanti baru coba angel food cake buatan aku.”
Nathan, calon baba itu mengangguk patuh. Namun, sebelum pergi ke kamar untuk berganti pakaian, ia menyempatkan diri untuk merendahkan tubuh. Membawa wajah serta telapak tangan kanannya untuk membelai permukaan perut sang istri yang sudah tampak buncit.
“Hari ini Baba pergi salat jum’at sendiri lagi. Nanti, salah satu dari kalian harus ada yang menemani Baba salat jum’at. Sedangkan yang lain, boleh menemani Umma menunggu di rumah.”
Menanggapi ucapan sang suami, Alea menerbitkan senyum seraya mengelus perutnya sendiri. Walaupun baru menginjak usia kehamilan ke-11 minggu, perut Alea sudah seperti perempuan yang hamil empat atau lima bulan. Hal itu dapat dikatakan wajar, karena memang ada tiga nyawa yang tengah tumbuh dan berdesak di kantong rahim milik Alea.
Saat ini mereka berdua sedang tinggal di rumah milik keluarga Dwiarga. Hanya mereka berdua yang ada di sana, karena mereka tidak menggunakan jasa housekeeping harian. Melainkan mingguan. Toh, rumah tersebut juga jarang dihuni. Setelah pulang salat jum’at dan dijamu oleh makan siang dengan menu masakan Indonesia buatan tangan istri tercinta, Nathan meminta istrinya untuk menemani bekerja di balkon kamar yang disulap jadi mini garden. ada beberapa soft copy file yang harus ia cek sebelum dikirim ke sekretaris nya.
“Siapa?” tanya Nathan kala mendengar getaran dari handphone sang istri.
“Gean telepon,” sahut sang istri.
“Angkat saja. Tumben dia telpon kamu,” ujar Nathan yang masih sibuk mengetik. Biasanya adiknya itu akan menelpon ke nomernya, bukan nomer sang istri.
Alea pun menerima panggilan telepon tersebut. Namun, sebelum diangkat, panggilan itu terputus begitu saja. Tak sampai berselang dua detik, panggilan video menggantikan panggilan awal.
“Kenapa lagi?” tanya Nathan yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
“Terputus. Sekarang Gean menghubungi via video.”
Nathan berdeham, lalu meminta izin untuk mengambil alih telepon sang istri. Dengan segera ia menggeser icon hijau. Ketika panggilan sudah terhubung, Nathan bisa melihat wajah rupawan sang adik yang terlihat sangat sumringah.
“Bang!” sapa Gean heboh. Terkadang Nathan heran dengan adiknya yang suka lupa umur. Atau mungkin sudah bawaan lahir jika sikapnya kadang kelewatan heboh, sampai-sampai tidak cocok antara image dan usia. Tapi, itu lah ciri khas dan kelebihan yang menjadikan Gean berbeda.
__ADS_1
“As’salamualaikum,” ucap Nathan, datar. Mengoreksi sang adik yang seharusnya mengucapkan salam.
“Eh, sorry, khilaf. Waalaikumsalam, Bang.”
“Ada apa? tumben menghubungi istriku?” tanya Nathan to the point.
“Mbak Alea mana, Bang?” tanya Gean. Mengalihkan topik.
Nathan pun mengarahkan kamera ke arah sang istri yang baru saja kembali setelah menggunakan kain penutup wajah.
“Mbak bumil, apa kabar?”
“Alhamdulillah, kabar baik. Kamu sendiri bagaimana kabarnya?” tanya Alea, balik.
“Not good, but not bad,” sahut Gean lesu. “Gara-gara Abang off untuk sementara waktu, jadwal aku jadi diubah juga.”
Alea tersenyum tipis mendengar celotehan sang adik ipar. Senang rasanya punya seseorang yang mau mengadu begini kepadanya. Bertambah satu lagi adik Alea.
“Bulan depan aku sudah masuk kerja,” ucap Nathan, memberikan informasi.
“Bagus, Bang,” respon Gean. Laki-laki di seberang itu tampak baru kembali dari luar. “Oh iya, ponakan-ponakan aku gimana kabarnya? Om ganteng kangen nih.”
“Baik,” sahut Nathan, masih datar. Sedangkan Alea yang duduk di sampingnya sudah tersenyum sendiri saat melihat interaksi meraka.
“Bang, Mbak, aku punya satu permintaan nih. Anggap aja sebagai kado pra-nikah buat aku.”
Kening Nathan bertaut mendengar permintaan tiba-tiba sang adik. “Apa?”
Nathan memejamkan mata untuk beberapa saat. Terkadang ia heran sendiri dengan hubungan Gean dan Davian. Walaupun sudah jelas akan terikat hubungan kekeluargaan, bahkan sudah terikat lewat pernikahan Nathan dan Alea, ada saja topik yang kerap jadi ajang perdebatan.
“Memangnya kamu mau kasih mereka nama siapa?” tanya Alea dengan suara lembutnya. Salah satu telapak tangannya yang digenggam sang suami, tampak memberikan kode jika mereka harus mendengarkan keinginan Gean dulu.
“Ehm ….belum kepikiran sih,” lirih Gean, namun masih bisa didengar oleh Nathan. Olah karena itu, calon baba dari 3 anak itu tampak tidak berminat menanggapi.
“Ah, gimana kalau Proton, Neutron, sama Elektron. Jadi, manggilnya gampang, tinggal atom!” seru Gean, girang.
“Tidak lucu,” respon Nathan. Masa anak-anak pertamanya akan diberi nama unsur penyusun atom? Seperti tidak ada nama yang lain saja. Nathan sendiri yang akan mencari dan me4ahyi
“Kalau enggak, Sin, Cos, sama Tan. Biar manggil ketiganya gampang, Trigonometri!”
Nathan lagi-lagi hanya menatap sang adik bosan. Sedangkan Alea malah terhibur dengan topik pembicaraan sang adik ipar.
“Ada lagi?”
“Ada!”
“Apa?”
“X, y, sama z. Manggilnya gampang, tinggal—“
“Variabel,” potong Nathan. “Kamu pikir keponakan-keponakan kamu bilangan?”
__ADS_1
Gean tertawa renyah di seberang sana. “Oke, deh. Nanti aku pikirin lagi nama yang lebih recommended. Berbau Arabic gitu, ya?”
Alea menggelengkan kepala seraya menoleh pada sang suami. “Jangan begitu sama Adik sendiri, Mas.”
“Lagian dia aneh. Ini pasti karena dia bosan,” cetus Nathan yang sudah kembali beralih fokus pada macbook miliknya.
Lagi-lagi Gean tertawa di seberang sana. “Abang tau aja. Aku memang lagi gabut. Padahal sibuk. Nanti sore juga ada jadwal flight. Tapi, my chéri udah dua hari nggak bisa dihubungi.”
Gean itu lucu menurut Alea. Diantara adik-adiknya, seperti Arsyad, Arra, si kembar, Arion dan lainnya, Gean ini mirip sekali dengan Davian. Random banget anaknya. Apalagi jika sedang gabut.
“Lebih baik kamu istirahat, G. Sudah salat, ‘kan?”
“Sudah, Mbak. Tadi salat jum’at di dekat sini.”
“Kalau begitu lebih baik kamu istirahat. Tidur siang, tiga puluh menit saja tidak apa-apa. Supaya tubuh kamu nanti lebih bugar ketika hendak terbang.”
“Tips dari Mbak bisa dicoba buat aku yang udah lama nggak tidur siang.”
Alea tersenyum di balik kain penutup wajahnya. Hampir semua anggota keluarga sang suami menerima kehadirannya dengan baik. Gean bahkan sudah menganggap Alea seperti kakak sendiri.
Setelah sambungan video call dengan Gean berakhir, Alea kembali menemani sang suami. Sesekali mereka mengobrol seputar kehamilan juga pengetahuan dasar parenting atau pola asuh anak. Tidak berselang lama, suara notifikasi beruntung kembali terdengar dari handphone Alea. Setelah di-cek, ternyata ada pesan baru dari Lea. Sekarang mereka bisa dikatakan menjalin hubungan pertemanan. Mereka juga cukup sering bertukar kabar.
“Masya Allah, usia kandungan Lea sudah 17 minggu. Semoga ibu dan bayinya sehat selalu,” do’a Alea saat melihat pesan Lea kirim, berupa foto USG terbaru.
Sebagai sama-sama ibu hamil, mereka jadi punya topik yang bisa dibahas kapan saja. mulai dari seputar kehamilan, kekhawatiran, sampai persiapan persalinan.
Untuk
“Dia masih di Indonesia?” tanya Nathan yang masih fokus mengetik. Ia sempat menoleh sebentar pada sang istri.
“Masih. Katanya sebentar lagi Lea akan pulang ke kampung halamannya.”
“LA?”
“Bukan.”
“Bukannya dia berasal dari LA?”
Alea mengangguk seraya menyimpan teleponnya di meja. “Iya. Tapi, Lea bilang kampung halamannya ada di Daegu, Korea Selatan.”
Nathan manggut-manggut mendnegarnya. “Lagipula ia tidak bisa berlama-lama di sana.”
Alea setuju dengan ucapan sang suami. Lea tidak bisa berlama-lama di Indonesia dengan kondisi hamil tanpa suami. Masalah yang ia tinggalkan juga jadi berlarut-larut jika Lea terus-menerus memilih untuk abai. Mungkin Lea masih butuh waktu. Alea hanya bisa mendoakan yang terbaik bagi Lea dan bayinya.
✈️✈️
TBC
Terima kasih juga yang selalu setia menunggu ❤️
Jangan lupa rate 5 bintang 🌟 like, vote, komentar, follow Author, share tabur bunga sekebon 💐
__ADS_1
Tanggerang 23-12-22