Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
BDJ 105 : BERDAMAI DENGAN TAKDIR


__ADS_3

Perihal yang paling sederhana, namun dapat membawa berkah dalam kehidupan adalah berdamai dengan apa yang telah digariskan Tuhan. Semua itu tentu memerlukan rasa ikhlas yang terkadang tidak dapat dengan mudah didapatkan. Ada yang bisa dengan mudah mengikhlaskan apa yang telah terjadi, ada pula yang merasa kesulitan untuk ikhlas.


Sebagaimana artinya dari kata ikhlas itu sendiri, ikhlas dapat berarti ketulusan hati, kejujuran, atau kerelaan. Ikhlas sendiri dapat didefinisikan sebagai sebuah perbuatan yang sengaja dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mengharapkan ridho-Nya serta menghapus segala bentuk keburukan yang ada.


“Apa aku boleh tahu berapa usianya?”


Dua perempuan yang usianya tidak terpaut begitu jauh itu saling tatap. Satu sedang duduk bersandar pada headboard, sedangkan yang satunya lagi sedang duduk di atas kursi yang terletak di samping tempat tidur.


“Menurut prediksi dokter, jika menghitung dari hari pertama menstruasi terakhir yang aku dapatkan, sekarang usianya memasuki ke minggu sebelas.”


Perempuan dengan niqob itu mengangguk seraya mengulas senyum di balik kain penutup. “Kamu harus menjaganya dengan baik. Sebentar lagi saudaraku yang kebetulan dokter spesialis kandungan akan datang. Apa kamu mau diperiksa sama dia?”


“Dokter kandungan?”


“Iya. Tadi memeriksa kamu adalah Bunda Aurra, ibunya.”


Lea yang tampak masih merasa canggung berada satu ruangan dengan Alea tampak menganggukkan kepala.


“Kamu tenang saja, di rumah ini ada beberapa peralatan kesehatan yang cukup memadai. Salah satunya adalah alat ultrasonografi.”


Lea tampak terkejut untuk beberapa saat. Informasi yang baru saja dipaparkan oleh salah satu Radityan itu ibarat benar-benar mencerminkan kemudahan keluarga tersebut membeli barang-barang yang tidak murah. Buktinya, alat bantu diagnostik yang umum digunakan dalam bidang kebidanan untuk melihat kondisi janin di dalam rahim, dan organ-organ lain di dalam perut itu ada di sini.


“Kamu bisa tinggal di sini untuk sementara waktu. Kami akan memberikan perlindungan bagi tamu yang sudah datang ke kediaman ini.”


Saat Alea menggunakan kata “kami” itu berarti jika bukan hanya satu Radityan yang bersedia untuk membantu melindungi Lea dan bayinya. Namun, ada Radityan lain yang siap membantu.


“Kita tidak punya masalah apapun, jadi jangan merasa sungkan. Apapun yang terjadi akibat rasa suka Sir Louis tidak ada kaitannya dengan kamu. Orang yang membohongi aku, memperlakukan aku layaknya orang bodoh yang tidak tahu apa-apa adalah mereka, bukan kamu.”


“….”


“Kita bisa berteman jika kamu mau,” ungkap Lea dengan nada bicara yang ramah. Ia sama sekali tidak mengintimidasi.


Namun, justru karena hal itu Lea merasa bersalah atas apa yang telah dilakukan oleh ayah dari bayinya. Cinta memang tidak pernah salah. Akan tetapi, cinta terkadang singgah pada tempat yang salah.


“Aku memang tidak bisa mewakili Ayah dari bayi ini untuk minta maaf,” ucap Lea. Salah satu tangannya tampak mengusap permukaan luar kain yang menutupi perut rampingnya. “Akan tetapi, ada satu hal yang perlu kamu ketahui.”


“Apakah itu?”


“Kamu adalah wanita pertama yang berhasil membuat Louis jatuh cinta.”


Alea terdiam mendengarnya.

__ADS_1


“Walaupun kami sudah bersama sejak lama, hal itu tidak menjadi jaminan bagi Louis untuk jatuh cinta kepadaku. Malah sebaliknya, aku terlalu mudah jatuh cinta pada dia yang begitu tidak peka terhadap rasa cinta.” Ada getir yang terasa dari kalimat Lea. Sedangkan Alea juga tidak dapat berkomentar apa-apa.


“Alasan kenapa aku pergi dari dia adalah karena bayi ini. Aku ….belum siap untuk mengungkapkan kehadirannya pada dia dan dunia. Aku hanya takut dia tidak akan menerima kehadiran bayi ini.”


Sebagai seorang ibu yang tidak pernah dicintai, atau dianggap spesial oleh laki-laki yang telah menitipkan benih di rahimnya, Lea rasa telah melakukan hal yang benar. Ia ingin menjauh demi keselamatan bayinya. Jika suatu saat nanti ia terpaksa harus bertemu dengan laki-laki itu lagi, setidaknya ia sudah mempersiapkan diri dengan baik.


“Mungkin karena kepergianku yang terkesan tiba-tiba, sekarang dia gencar mencari keberadaan ku.”


“Atau mungkin saja sir Louis memang mencari kamu karena merasa risau.”


“Kemungkinan itu bisa saja terjadi karena aku adalah partner ranjang yang paling setia menemani dia,” ujar Lea blak-blakan. Kepahitan begitu terasa dari kata-katanya. “Tapi, tenang saja. Dia bisa mendapatkan ratusan wanita seperti aku di luar sana.”


“Jangan berburuk sangka terlebih dahulu. Bagaimana pun juga ada bayinya di rahim kamu.”


“Dia ….tidak tahu,” sahut Lea ragu. “Entahlah. Mungkin saja sekarang dia sudah tahu. Tapi, dia pasti tidak akan mudah percaya.”


“Berilah kesempatan pada seseorang untuk berubah. Sebab, seseorang yang pernah menyakiti kamu di masa lalu, bisa saja menjadi orang yang paling membuat kamu bahagia dimasa depan,” timpal Alea.


Alea sebenarnya belajar kata-kata tersebut dari kisah Sayyidina Umar bin Khattab. Kata-kata yang berkaitan demikian bunyinya, “berilah kesempatan untuk seseorang berubah. Sebab, orang yang hampir membunuh Rasulullah kini terbaring di sebelah makam beliau.”


Sayyidina Umar bin Khattab adalah sahabat yang pernah berniat membunuh Rasulullah. Namun, beliau mendapatkan hidayah dan akhirnya masuk ke dalam islam. Semenjak masuk islam, Sayyidina Umar bin Khattab selalu mendampingi serta membela Rasulullah. beliau juga tak segan mempertaruhkan nyawa demi membela agama Allah. Sayyidina Umar bin Khattab kemudian wafat karena dibunuh oleh Abu Lu’luah, dan jasadnya dimakamkan di samping tempat peristirahatan terakhir Rasulullah.


“Setidaknya kamu harus memberi kesempatan kedua jika sir Louis mengetahui keberadaan bayinya. Bagaimana pun juga baik sir Louis maupun bayi kalian sama-sama memiliki hak.”


“Aku ….akan melihat kedepannya. Apa dia pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua itu, atau tidak.”


Alea mengangguk. Semua keputusan kembali pada Lea. Ia hanya memberi masukan. Lea pasti tahu mana yang terbaik bagi ia dan bayinya.


“Untuk makan malam, aku masak menu yang baik untuk ibu hamil. Apa kamu mau mencobanya?”


Lea tampak terdiam. “Tidak perlu repot-repot,” tolak Lea, sungkan. Alea dan para Radityan memang benar kata orang, begitu baik hati.


“Jangan seperti itu. Di rumah ini tamu sangat kami hormati. Sebuah kehormatan bagi kami jika tamu yang menginap mau menyicipi makanan yang kami buat.”


“Tapi….”


Alea menggelengkan kepala dengan cepat. “Aku masak Kacang-kacangan yang mengandung asam folat, serat, protein, zat besi, dan kalsium yang diperlukan selama kehamilan. Nutrisi-nutrisi itu sangat penting bagi kesehatan ibu serta janin, terutama pada trimester pertama.”


“….”


“Ada juga daging tanpa lemak, salah satu jenis makanan yang kaya akan kandungan protein. Terdapat pula kandungan zat besi sebagai mineral penting yang berguna dalam pembentukan sel darah merah. Sel darah merah sendiri berperan penting untuk mengantarkan oksigen ke semua sel dalam tubuh,” papar Alea. “Jadi, kamu mau mencobanya?”

__ADS_1


Lea akhirnya mengalah. Ia mengangguk dengan senyum yang tampak canggung. “Kamu punya banyak wawasan tentang kehamilan.”


Alea mengangguk. “Aku banyak belajar soal kehamilan semenjak menikah, karena aku dan suamiku tidak memiliki rencana untuk menunda memiliki momongan.”


“Semoga Tuhan segera menitipkan malaikat kecil di antara kalian,” do’a Lea tulus.


“Amin ya Rabb,” jawab Alea sungguh-sungguh. “Terima kasih atas doanya.”


“Sama-sama.”


Kedua wanita itu kemudian sama-sama tersenyum, walaupun senyum Alea terlindungi oleh niqob yang ia gunakan, Lea tetap bisa membedakannya. Mata bening itu akan membentuk cekungan seperti bulan sabit jika sedang tersenyum. Cantik. Indah. Serta menyejukkan mata yang melihatnya. Itulah definisi pesona Alea di mata Lea yang sama-sama wanita.


“Zaujati (istriku),” panggil suara familiar di telinga Alea, beberapa saat setelah ketukan dan salam diari balik pintu terdengar.


“Iya, Mas,” jawab Alea setelah salam, ia kemudian beranjak dari tempatnya duduk. “Sebentar, ya. Sepertinya suamiku membutuhkan sesuatu.”


Lea tersenyum sembari mengangguk.


Alea beranjak untuk membuka pintu. Ketika berhasil membuka pintu tersebut, wajah rupawan sang suami langsung menyambutnya. “Ada apa, Mas?”


“Tidak ada apa-apa,” sahut Nathan. Menarik kernyitan di kening sang istri.


“Lalu?”


“Jemput Zaujati (istriku),” tambah Nathan. “Kata Mamah kamu belum makan. Jadi, aku datang untuk menjemput kamu.”


Alea terkesiap untuk beberapa detik.


“Ayo makan bersama, Zaujati (istriku). Aku ingin memberi nafkah kepada kamu seperti biasa, langsung dari tanganku,” ucap Nathan dengan senyum manis yang terpatri di bibir.


MasyaAllah, suami. Batin, Alea.


✈️✈️


TBC


Semoga suka 😘😘


Jangan lupa koreksi Typo 🙏🏻


BDJ Ending awal bulan November ya 😚🙃🤫☺️

__ADS_1


Tanggerang 26-10-22


__ADS_2