Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 71 : MALAM PERTAMA


__ADS_3

BDJ 71 : MALAM PERTAMA


“Tidak perlu lirik-lirik kembaran ku, ngeri aku lihatnya.”


Laki-laki tampan yang sedang berdiri di dekat dinding pembatas itu terlonjak kaget. Ia kemudian menoleh dengan was-was ke arah kiri. Saat mengetahui siapa yang baru saja berkata dengan nada tidak bersahabat, ia langsung memasang cengiran.


“Eh, calon ipar. What do you want?”


Davian yang baru saja kedapatan menatap Senja Pradipta tanpa berkedip langsung berhadapan dengan kembaran Senja, yaitu Fajar Pradipta. Ia tentu saja terkejut.


“Kamu ‘kan punya kembaran nih. Percaya sama intuisi ‘kan?”


“Ya jelas percaya lah. Orang kita bertiga punya intuisi yang kuat kok. Contohnya, pas gue sakit, pasti salah satu dari mereka ikutan sakit.”


“Nah, justru karena kamu tau gimana rasanya punya intuisi sama kembaran kamu, berhenti lihatin Senja begitu. Dia enggak nyaman. Aku bisa merasakannya juga.”


“M-asa?”


“Iya!” seru Fajar seraya bersidakep dada. Melihat wajah sedih tergambar di wajah lawan bicaranya, putra semata wayang Gemintang Reynando Pradipta itu tertawa jahat di dalam hati. “Kena kamu.”


“Ya udah deh. Aku puasa lihatin ayang dulu, padahal kangen,” sedih Davian.


“Nah begitu. Good choice.”


“Good choice sirah maneh (pilihan bagus kepalamu),” sebal Davian seraya berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar. Padahal ia belum puas memandangi sang pujaan hati. Bersamaan dengan itu, seorang laki-laki rupawan muncul dari pintu kamar mandi. Laki-laki dengan koko putih yang dipadukan dengan bawahan celana kain. Outfit sederhana, namun memancarkan kadar ketampanan yang luar biasa.


Senyum yang sempat sirna kini kembali terbit di bibirnya. “Aduh, Abang ipar makin beda aja auranya setelah SAH,” goda Davian. Memang benar sih, faktanya laki-laki di hadapannya memiliki aura yang berbeda setelah berganti status menjadi seorang suami. “Siap banget buat MP dong.”


“MP?” ulang Nathan dengan satu alis terangkat.


“Malam pertama, Bang,” ujar Davian meluruskan seraya menaik-turunkan alisnya jenaka. “Teh Alea pasti udah menunggu dengan jantung dag-dig-dug serr.”


Jika saja bukan Nathan yang sedang digoda demikian oleh Davian, pasti akan ngakak habis-habisan atau malah marah sekalian. Namun, ini Nathan loh. Ia tentu saja menyikapi godaan tersebut dengan kalem.


“Kami memang harus beribadah bersama malam ini.”


“Njir, ibadah bersama nggak tuh,” ulang Davian heboh. Maklum, ia sejak akad merasa jadi satu-satunya mahluk paling ngenes karena tidak punya gandengan. Sekalipun ada sang pujaan hati, tetapi tembok di antara mereka terlalu tinggi.


Nathan tersenyum kalem. Ia kemudian menepuk bahu Davian sebelum berjalan ke arah pintu. “Terima kasih untuk tawarannya, Dav. Kami jadi bisa menghemat lebih banyak waktu untuk ibadah bersama.”


Setelah berkata demikian, Nathan meraih daun pintu dan keluar. Meninggalkan ruangan tersebut dengan Davian yang masih melongo di tempat.


“Njirr, gue di-ulti sama Abang ipar sendiri,” celetuk Davian kemudian. “Ternyata selera humor Abang ipar boleh juga.”


✈️✈️


“Bismilla wassalamu’ala Rasulillah assalamualaikum.”


Setelah mengucapkan salam, Nathan menarik daun pintu, kemudian melangkahkan kaki kanan terlebih dahulu untuk memasuki ruangan tersebut. Ruangan dengan nuansa putih dan pastel, beraroma manis dan segar campuran aroma bunga-bungaan dan buah-buahan yang akan menjadi saksi bisu malam pertama di antara ia dan sang istri.


Tiba di dalam ruangan, istri cantiknya yang tadi mengenakan pakaian pengantin dengan nuansa satu warna, yaitu putih, kini telah menggunakan gamis longgar berwarna coklat susu yang begitu kontras dengan kulit putih miliknya. Tidak lupa istrinya juga menggunakan hijab instan yang panjangnya menjuntai hingga menutupi dada, ditambah dengan cadar berwarna senada.


“Sudah siap untuk ibadah bersama?” tanya Nathan dengan nada lembut yang tidak ada duanya.


Nathan berjalan mendekat ke arah sang istri yang sedang duduk di bibir tempat tidur. Alea tampak menjawab pertanyaan barusan dengan anggukan kepala.

__ADS_1


“Sudah ambil air wudhu?” Nathan kembali bertanya ketika sang istri sudah berada dalam jangkauan. Bahkan sekarang telapak tangan kanannya bermukim di pucuk hijab yang digunakan sang istri. Membacakan do’a di sana.


“Sudah, Kak.”


“Kalau begitu, ayo kita ibadah bersama,” ajak Nathan kemudian. “Kiblatnya menghadap ke arah sana bukan?” ia menunjuk arah balkon. Arah kiblat yang dimaksud.


Alea mengangguk. Ia kemudian mengambil alat salat yang telah dipersiapkan semenjak Nathan mandi. “Ini Kak alat salatnya.”


Nathan menerima alat salat pemberian sang istri. Setiap perhatian kecil yang dilakukan oleh Alea untuk pertama kalinya semenjak mereka resmi menjadi suami istri, selalu Nathan apresiasi dengan senyum hangat.


“Terima kasih, Zaujati (istriku).”


Sepasang suami istri yang baru resmi menikah beberapa jam lalu itu kemudian sama-sama menunaikan Ibadah bersama. Diawali oleh salat Isya, kemudian dilanjut dengan salat zifaf. Salat sunnah zifaf sendiri adalah salat sunnah mutlak dua rakaat yang dilakukan bersama istri.


Ketika laki-laki dan perempuan sudah sah menjadi suami dan istri, pada malam pertama mereka berdua disunnahkan untuk melaksanakan salat sunnah pengantin terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan badan. Salat sunnah pengantin pada malam pertama itulah yang disebut salat sunnah zifaf. Dalam kitab Nihayatuz Zain, Imam Nawawi menegaskan bahwa salat sunah zifaf ini sunah dilakukan oleh suami istri pada malam pertama pengantin. “Bagian dari salat sunah adalah dua rakaat zifaf. Salat ini disunnahkan bagi suami dan istri dengan niat melakukan salat sunah zifaf.”


Adapun niat salat sunah zifaf adalah, “Usholli sunnata lailatiz zifzf rok’ataini lillahi ta’ala.” Setelah melaksanakan salat sunah zifaf dua rakaat, dilanjutkan dengan membaca dzikir, Al-fatihah 3 kali, surat Al-ikhlas 3 kali, dan shalawat 3 kali. Ditambah membaca do’a berikut, “Allahumma barikli fi ahli wabarik li ahli fiyya. Allahummarzuqhum minnie warzuqni minhum, warzuqni fahma wa mawaddatahum warzuqhum ulfi mawaddati wahabbib ba’dhana ilaa ba’dhin (Ya Allah, berkahilah keluargaku untukku dan berkahilah aku untuk keluargaku. Ya, Allah, berilah mereka rezeki melalui ku dan berilah aku rezeki melalui mereka. Berilah aku memahami mereka dan menyayangi mereka, serta berilah mereka untuk menyayangiku dan buatlah kami saling mencintai).”


Nathan kemudian berbalik, menghadap sang istri yang untuk pertama kalinya menjadi makmum. Alea dengan sigap meraih punggung tangan Nathan untuk disalami, walaupun sempat ada keraguan pada gerakannya. Nathan membalas keberanian sang istri dengan kecupan hangat di pucuk kepala sang istri. Plus bonus berupa do’a yang senantiasa ia panjatkan.


“Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi, wa a’udzu bika min syarriha wasayarri majabaltaha ‘alaihi (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dari kebaikannya dan kebaikan tabiatnya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan tabiatnya).”


“Zaujati (istriku),” panggil Nathan setelah ia memberi jarak di antara mereka.


“I-ya, Kak.”


“Apa kamu sudah siap untuk ibadah bersama yang selanjutnya?”


“I-tu, Kak. Alea….”


Alea terdiam dengan kepala kian tertunduk. Maksud dari Ibadah bersama selanjutnya yang dikatakan oleh Nathan itu merujuk ke mana? Apa kepada hubungan suami istri yang sudah seharusnya mereka lakukan? Atau ….ibadah bersama yang merajuk pada topik lain? namun, dilihat dari posisi mereka yang sudah selesai menunaikan salat sunnah zifaf, Alea tentu harap-harap cemas. Jujur saja ia belum siap untuk melakukan hubungan suami istri yang “itu” bersama Nathan. Ia masih butuh waktu untuk beradaptasi dengan status mereka saat ini.


“Kamu tidak mau membaca Al-Qur'an bersamaku, Zaujati (istriku)?”


“Maksud Kak Nathan?” bingung Alea.


Nathan tersenyum lagi. Ia bisa menebak jika sang istri pasti istri kepalanya sempat travelling kemana-mana. “Kita membaca kitab suci Al-Qur’an bersama. Aku mau mendengar suara indah kamu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an.”


Jadi, yang dimaksud Ibadah bersama oleh Nathan itu murni Ibadah yang dilakukan bersama-sama setelah mereka resmi menjadi suami istri. Mulai dari salat berjamaah, melaksanakan salat sunah pengantin atau salat sunnah zifaf, sampai mengaji Al-Qur’an bersama. Alea kira Nathan akan langsung meminta haknya sebagai suami Alea. Padahal Alea sudah siaga satu. Siapa tahu malam ini ia benar-benar harus melayani sang suami secara lahir dan batin.


“Zaujati (istriku), jika kamu merasa kurang nyaman tidur bersama, aku akan tidur di sana.” Nathan menunjuk sofa panjang berwarna abu-abu yang ada di pojok ruangan.


Demi membuat sang istri nyaman, Nathan rela jika harus menghabiskan malam pertamanya tidur di sana. Tak apa, sepertinya tidur di sofa panjang itu bukan ide yang terlalu buruk.


Alea kontan menggelengkan kepala kuat-kuat. “Kalau Kakak tidur di sana, aku juga tidak akan tidur di tempat tidur.”


“Kenapa?”


“Karena Kakak sekarang adalah suami aku. Laki-laki ketiga yang harus aku hormati, setelah Papah dan Ayah. Menjamin kenyamanan Kakak sudah menjadi bagian dari tugas aku sebagai seorang istri.”


Nathan yang baru saja menyimpan alat salat bekas digunakan, kembali buka suara. “Lalu apa kamu rela berbagi tempat tidur denganku?”


“T-entu saja,” jawab Alea agak kikuk. “Kak Nathan suami aku. Tentu saja aku rela berbagi tempat tidur dengan Kakak.”


“Kamu yakin? Pasalnya aku juga ingin malam ini tidur seraya memeluk kamu. Itu pun jika kamu mengizinkan.”

__ADS_1


Halus. Benar, halus sekali godaan malaikat tampan berwujud manusia satu ini. Ia yang biasa irit bicara, kali ini dengan mudah menjebak sang istri pada perangkap dengan tipu muslihat.


“Aku ….tidak punya alasan untuk menolak sentuhan Kakak. Kita sekarang sudah resmi menjadi suami istri. Tapi, aku ….masih membutuhkan waktu untuk beradaptasi.”


Nathan mengangguk seraya mendekat ke arah sang istri. “Aku tadi sudah bilang, kita mulai perlahan-lahan saja.” Nathan melirik ke arah jarum jam yang menempel di dinding. “Sekarang sudah larut malam. Lebih baik kita tidur, besok masih ada serangkaian acara yang harus kita lewati bersama.”


“Iya, Kak.”


“Kalau begitu ayo kita tidur, Zaujati (istriku),” ujar Nathan seraya mengulurkan tangan.


“Ini untuk apa, Kak?” tanya Alea hati-hati.


Nathan tersenyum kian lebar saat sang istri tidak mengerti kode yang ia beri. “Tangan kamu, Zaujati (istriku).”


“Tangan?” bingung Alea seraya menunjukkan tangannya.


Nathan kemudian meraih tangan sang istri untuk digenggam. “Begini terasa lebih baik, Zaujati (istriku),” ucapnya.


Memilih terdiam, Alea membiarkan tangan besar milik sang suami melingkupi jemarinya yang kecil. Dengan perlahan, Nathan kemudian membawa sang istri melalui tautan tangan mereka. Ada tempat tidur dengan bedcover pastel yang menunggu untuk segera mereka tiduri.


“Apa kamu akan tidur menggunakan kain nikab, Zaujati (istriku)?” tanya Nathan ketika mereka sudah berada di atas tempat tidur. “Jika kamu tidak terbiasa menggunakannya saat tidur, lepaskan saja. Lagi pula….”


Nathan memotong kalimatnya secara tiba-tiba. Sang istri pasti punya alasan, sehingga belum berani memperlihatkan wajahnya. Seharusnya ia mengerti akan keputusan sang istri.


“Gunakan saja jika itu membuat kamu merasa lebih nyaman,” ralat Nathan kemudian. “Aku akan sabar menunggu sampai kamu bisa menerima keberadaan ku.”


“Maaf, Kak,” ucap Alea lirih.


“Kenapa kamu minta maaf Zaujati (istriku)? Kamu tidak bersalah.” Nathan mengelus punggung tangan sang istri dengan lembut. Ia merasa tidak enak hati karena sang istri tiba-tiba minta maaf.


“Sebenarnya Alea merasa kurang percaya diri.”


“Kenapa kamu harus kurang percaya diri, Zaujati (istriku)? Dengar, semenjak aku mengucapkan ijab Kabul pagi tadi, itu tandanya aku akan menerima kamu apa-adanya. Dan aku akan menggantikan tanggung jawab kedua orang tua kamu.” Salah satu tangan Nathan terangkat, menyentuh lembut pelipis sang istri. “Apapun yang ada pada diri kamu, aku akan menerimanya dengan penuh cinta. Jadi jangan pernah merasa tidak percaya diri, karena bagiku kecantikan kamu itu ibarat Ka’amsalil-lu’lu’il maknun. Laksana mutiara yang tersimpan baik.”


Alea tersentuh. Sungguh, kalimat Nathan telah menggetarkan hati kecilnya di dalam sana. Membuat Alea sadar bahwa ia saat ini sangat dicintai oleh seorang laki-laki yang gagah pemberani seperti Nathan.


“Jadi apa boleh aku melihat wajah cantik Zaujati (istriku) ini?”


Alea menunduk, tetapi tak berselang lama anggukan lirih ia berikan sebagai jawaban. Membuat sang suami menarik sudut-sudut bibirnya, membentuk senyuman yang cukup lebar. Alea kemudian memberanikan diri membuka simpul tali kain penutup wajah yang ia gunakan. Setiap gerakan yang ditimbulkan oleh Alea, tentu saja tidak luput dari pandangan netra tajam milik Nathan. Sampai ketika kain penutup itu diturunkan dari wajah sang istri, Nathan sampai lupa cara berkedip untuk beberapa saat.


Ketika ia kembali menemukan kesadaran, Nathan langsung mengucapkan salah satu kalimat tayyibah—kalimat yang diucapkan ketika seseorang melihat sesuatu yang indah, sebagai ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala.


“Masya Alla, Zaujati (istriku). Kamu benar-benar cantik, laksana mutiara yang tersimpan baik.”



✈️✈️


TBC


GIMANA NGGAK BUCIN, PAKAI NIQAB AJA ALEA SECANTIK ITU 🥰🥰


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 🙏🏻☺️


Tanggerang 14-09-22

__ADS_1


__ADS_2