Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 56 : MENGENAL LEBIH DEKAT KELUARGA AYAH VAN’AR


__ADS_3

°BDJ 56 : MENGENAL LEBIH DEKAT KELUARGA AYAH VAN’AR


Terrarium mini berisi beberapa jenis kaktus dalam satu tempat tidak luput dari pandangan sepasang bola mata bening milik putri Radityan. Terrarium mini yang sudah menghiasi meja kerjanya beberapa hari ke belakang itu adalah pemberian calon suaminya.


Katanya, merawat kaktus seperti menjalin sebuah hubungan. Gampang-gampang susah, susah-susah gampang. Kaktus akan mati tanpa perhatian. Kaktus memang bisa hidup dengan sedikit air, tetapi bukan berarti kaktus bisa hidup tanpa air. Sama halnya seperti sebuah hubungan. Hubungan bisa saja terjalin dengan sedikit perhatian, tetapi bukan berarti sebuah hubungan bisa bertahan tanpa adanya perhatian. Kaktus juga akan mati jika kelebihan cadangan air, begitu pula dengan hubungan yang terlalu banyak perhatian juga terkadang tidak baik.


Selama ini terrarium mini pemberian Nathan sudah menjadi teman bekerja bagi Alea. Teman melepas relaks saat kepala Alea dihantam oleh berbagai tuntutan pekerjaan, ditambah lagi masalah pribadi yang melibatkan teman dekatnya sendiri. Setidaknya dengan hadirnya terrarium mini pemberian Nathan, Alea punya sesuatu untuk mengalihkan perhatian saat bekerja. Begitu pula saat Alea merindukan si pemberi terrarium mini.


Selain terrarium mini ini, Alea tentu punya bunga dan tumbuhan hias lain yang selalu diberikan Nathan pada kesempatan tertentu. Semua itu Alea simpan di depot pribadi milik ibunya. Kemungkinan besar terrarium mini ini akan Alea bawa pulang, karena minggu depan ia akan pulang ke tanah air untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Nathan. Bahkan laki-laki itu sekarang sudah ada di tanah air guna meminta izin pada ayah serta bundanya.


“Kira-kira bagaimana reaksi kak Nathan saat bertemu dengan Ayah dan Bunda?” monolog Alea setelah mematikan MacBook miliknya. “Apa Ayah Van’ar akan setuju dengan niat baik kak Nathan?”


Alea tahu betul jika laki-laki yang ia panggil dengan embel-embel ‘ayah’ itu bukan orang biasa yang mudah untuk dibujuk. Alea pernah mendengar bahwa calon suami Arra—kembaran Arsyad—yang juga adik dari calon suaminya, dulu harus menghadapi Van’ar kala hendak mengutarakan niat baiknya untuk menjalin hubungan serius dengan Arra. Sebagai seorang ayah, Van’ar tentu mempertimbangkan berbagai aspek guna menguji laki-laki yang hendak mempersunting putrinya.


“Nona.”


Alea mendongkrak, menatap ke arah pintu masuk. “Masuk, Is.”


“Maaf jika saya menganggu nona. Saya sudah mengetuk pintu beberapa kali, tetapi nona sepertinya tidak mendengar ketukan saya.”


“Astagfirullah. Maaf, Is. Barusan saya sepertinya melamun.”


“Tidak apa-apa, nona,” sahut sekretaris pengganti Annante tersebut.


“Ada apa?” tanya Alea. Ismi tidak mungkin datang tanpa dipanggil, kecuali ada yang ingin disampaikan.


“Di lobby ada sir Louis. CEO Anderson Cooperation, mencari nona. Beliau meminta izin untuk bicara dengan nona.”


Alea mendesah kecil seraya melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kirinya. “Tolong sampaikan pada beliau jika saya tidak memiliki waktu untuk hari ini.”


Penolakan kembali Alea berikan. Itu bukan pertama kalinya laki-laki itu ingin bertemu dengan Alea, namun Alea mantap menolak. Untuk saat ini ada tiga orang yang harus ia jauhi, yaitu Annante, Louis juga Lea.


“Tolong sampaikan penolakan saya secara jelas dan baik. Bisa?”


“Bisa, nona.”


“Kalau begitu kamu bisa kembali. Saya juga akan pulang lebih awal hari ini, jadi kamu juga bisa pulang lebih cepat.”


Ismi mengangguk dari tempatnya berdiri. “Baik, nona.”


Alea sudah berjanji pada ayah dan calon suaminya, jika untuk kedepannya ia harus menjauhi mereka. Terutama Louis dan Annante. Sebisa mungkin Alea membatasi pertemuan dengan mereka berdua, apalagi menjelang hari pernikahan. Supaya tidak ada lagi insiden tidak menyenangkan yang terjadi karena kesalahpahaman di antara mereka.


✈️✈️


“Besok datang ke alamat ini menjelang sore hari.”


Laki-laki rupawan berbaret jingga dengan kulit agak kecoklatan saat tertimpa cahaya itu menyodorkan sebuah kertas pada Dwiarga bersaudara.

__ADS_1


“Besok banget?”


“Hm. Ayah yang minta, itupun jika abang punya waktu.”


“Ok,” sahut si bungsu dari keluarga Dwiarga itu. Menyanggupi. “Ah, iya. Sini, dulu, Yon. Jangan pergi.”


“Kenapa?” tanya putra bungsu Keevan’ar itu to the point.


“Sebentar. Abang, kan, jarang lihat kamu. We need to talk,” ungkap Gean seraya memeluk bahu tegap sang calon adik ipar.


“Kalau main ke sini yang dicari mbak Arra. Bagaimana mau ada waktu untuk bicara?”


Gean tertawa congkak mendengar sindiran calon adik iparnya itu. Memang benar ya, ngelawak sama anggota TNI itu beda selera. “Ini ada yang mau kenalan,” tutur Gean.


Pertemuan resmi antara keluarganya dengan keluarga Radityan memang baru saja selesai. Sekarang Gean dan keluarga sudah mau pulang, setelah pamit pada keluarga besar Radityan. Titik temu juga sudah didapatkan. Semua anggota inti Radityan menerima dengan baik niat baik keluarga Dwiarga yang akan mempersunting salah satu putri mereka. Pernikahan akan dilangsungkan pada bulan empat Sayyidul Ayyam nanti yang sudah memasuki bulan Swayal. Sesuai anjuran Sayyidah Aisyah radiallahu anhu. Sebagaimana pula yang telah Nathan pelajari dalam kitab Qurratul ’uyun.


“Kenalin, abangnya abang. Eh, gimana sih maksudnya?” Gean kebingungan dengan kalimatnya sendiri. “Intinya, ini calon suami mbak Alea. Kakaknya abang,” tambah Gean, memperkenalkan sang kakak dengan calon adik iparnya.


“Arion,” ujar si bungsu seraya menjulurkan tangan. Sebagai laki-laki yang paling muda, ia cukup peka.


“Nathan,” sahut Nathan seraya membalas uluran tangan Arion. “Senang bertemu denganmu. Aku dengar kamu sangat aktif di kesatuan,” lanjut Nathan saat jabatan tangan mereka sudah terlepas.


“Hm.”


Gean tertawa canggung melihat respon Arion yang mencerminkan sikap double D alias datar dan dingin, ciri khas calon ayah mertuanya yang diadopsi sepenuhnya oleh sang putra. “Bang Arsyad ada di rumah juga, ‘kan? kok tadi abang nggak lihat?”


“Mungkin di atas, menemani istrinya. Jika mau bicara dengan abang, biar saya panggilkan.”


“Nggak usah, Yon. Nanti nganggu waktu istirahat abang sama istrinya. Lain kali aja.”


Arion mengangguk sebagai jawaban.


“Lain kali kalau kamu sedang ada waktu luang, abang ajak main ke Bandung mau?” tawar Gean kemudian.


“Lihat nanti saja. Soalnya cuti tahunan rencananya akan diambil saat pernikahan abang dan mbak Arra. Kemungkinan besar saat pernikahan teh Alea juga tidak bisa ambil cuti.”


“Gitu ya?”


“Hm.”


Gean tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuk. Ia kemudian menoleh pada sang kakak dengan raut wajah tak sedap. Susah memang mendekati keluarga Radityan, tidak semuanya mudah didekati.


“Kalau begitu saya harap lain kali kamu punya waktu untuk main ke Bandung. Saya ingin mengadu skill menembak dengan kamu,” ujar Nathan tiba-tiba.


Gean hampir menjatuhkan rahang mendengar ucapan sang kakak. Namun, siapa sangka jika hal itu ditanggapi serius oleh calon adik iparnya yang pelit bicara.


“Baik. Nanti saya agendakan main ke kota Kembang jika mendapat jatah cuti.”

__ADS_1


Nathan tersenyum tipis seraya mengangguk. “Kita akan segera menjadi keluarga. Saya harap kita bisa menjadi semakin dekat.”


“Hm. Saya juga harap begitu,” ujar Arion menanggapi. “Tolong jaga teh Alea, karena pada akhirnya Anda yang berhasil mendapatkan tiket emas untuk menjadi imam nya. Seperti bang Gean mendapatkan mbak Arra. Saya percaya kalian akan menjaga kakak-kakak perempuan saya dengan semestinya.”


Nathan mengangguk dengan senyum tipis tersungging di bibir. “Kamu bisa pegang ucapan para penerbang ini.”


Arion merespon dengan anggukan singkat. “Kalau begitu, apa saya juga boleh meminta sesuatu?”


“Tentu saja.”


“Di pertemuan berikutnya, ayo mengudara bersama saya. Saya ingin menjadi partner terbang salah satu pilot muda kebanggan Indonesia.”


Senyum Nathan kian lebar mendengarnya. “Ide yang bagus. Saya juga tidak keberatan memiliki partner seorang anggota Tentara Angkatan Udara yang memiliki segudang pretasi.” Ia menatap laki-laki muda di hadapannya dengan hangat. “Saya harap kesempatan itu akan segara datang.”


“Saya juga berharap demikian.”


‘Lah, lah, ini kok bisa tiba-tiba jadi akrab? Gimana ceritanya?’ batin Gean yang sejak tadi menjadi penonton di antara Nathan dan Arion yang dipersatukan oleh kesamaan lewat hobby dan profesi.


Tanpa mereka sadari, interaksi mereka dengan si bungsu sejak tadi tidak luput dari sepasang mata jelaga milik Big Lear yang mengamati dari balkon kamar tidurnya dengan sang istri.


“Mas sedang melihat apa?”


Suara lembut milik sang istri yang datang dengan sentuhan lembut di bisepnya, membuat laki-laki paruh baya yang masih menyimpan gurat-gurat tampan itu menoleh. Menatap langsung wajah cantik sang istri yang masih sama di matanya, seperti saat pertama kali ia melihatnya dulu—saat mereka masih pengantin baru.


“Arion sepertinya sudah dekat dengan mereka.”


“Arion?”


Ibu tiga anak itu mendekat ke arah pembatas balkon, hendak melihat ke bawah. Namun, tangannya yang tertutup oleh lengan gamis sudah terlebih dahulu ditarik pelan oleh sang suami. Ia lantas menatap sang suami dengan kening bertaut.


“Nanti ada yang lihat wajah kamu,” tutur sang suami.


Perempuan yang berprofesi sebagai dokter itu tersenyum seraya mengambil langkah mundur. Kalau sang suami sudah berkata demikian, ia sebagai seorang istri wajah mematuhi. Apalagi saat ini ia sudah melepaskan penutup wajah yang tadi ia gunakan.


“Arion tidak mudah dekat dengan orang baru, mas. Mungkin calon suami Alea memiliki kesamaan dengan Arion, jadi punya topik pembahasan yang cocok dengan Arion.”


“Hm. Anak itu memang terlalu pelit bicara. Sulit beradaptasi. Jual mahal pula.”


Aurra menatap sang suami tidak percaya. “Mas nggak salah ngatain Arion seperti itu? Arion itu mirip sekali sama kamu, mas. Kayak bang Arsyad.”


Ayah tiga anak itu tersenyum seraya meraih telapak tangan sang istri untuk ia genggam. “Iya. Mirip aku, karena aku ayahnya.”


“Nah, itu mas tahu,” sahut Aurra seraya menatap wajah sang suami. “Kamu dulu juga begitu di mata orang lain, mas.”


“Tapi tidak jika di depan kamu,” elak Van’ar seraya membawa sang istri masuk ke dalam kamar mereka. Ia kemudian menjatuhkan satu kecupan manis di kening sang istri. “Mungkin kelak Arion juga akan mengikuti jejak ayahnya. Pelit bicara di depan orang lain, tetapi cerewet di depan pasangan halalnya.”


✈️✈️

__ADS_1


VanRa selalu bikin melting 🥰🥰


Sukabumi 10-08-22


__ADS_2