Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 73 : WANITAKU


__ADS_3

BDJ 73 : WANITAKU


“Kenapa bisa sampai begini, Jack!”


Bentakan dengan suara menggelegar itu terdengar di sebuah ruangan luas yang sudah seperti kapal pecah. Ada pecahan kaca di mana-mana, ditambah dengan gumpalan kertas yang berserakan di meja hingga ubin.


“Maaf, Tuan. Untuk saat ini Anda masih dilarang meninggalkan Negara ini.”


“Aku butuh alasan untuk itu,” sahut sang tuan, murka. Ia ibarat sudah menjadi tahanan rumah selama hampir satu bulan, karena dilarang berpergian oleh Negara. Padahal ia tidak merasa telah melakukan suatu tindakan yang ilegal.


“Lalu sekarang bagaimana caraku untuk mencari wanitaku, sial*n?!”


Laki-laki dengan pakaian serba hitam dengan nama panggilan Jack itu hanya bisa menunduk. Suasana hati tuannya memang sedang buruk belakangan ini. Jadi, ia tidak merasa heran lagi jika kinerjanya selalu serba salah di mata sang tuan.


“Katakan kepadaku, apa kau sudah menemukan lokasi di mana Lea tinggal?”


Jack menggelengkan kepala. “Sampai saat ini kami belum dapat menemukan lokasi Nona Lea, Tuan. Dari hasil penyelidikan, nama Nona Lea tidak ada dalam daftar penumpang di bandara manapun. Kemungkinan besar Nona Lea pergi menggunakan pesawat pribadi.”


“Pesawat pribadi?” laki-laki dengan tampang sangar itu kembali buka suara. “Kau tahu sendiri semua pesawat pribadi yang aku miliki masih ada di hangar pesawat. Lalu Lea pergi menggunakan pesawat pribadi milik siapa?”


“Maaf, Tuan.” Jack mengucapkan kata maaf seraya menyodorkan sebuah map. “Sebelum Nona Lea dinyatakan menghilang, Tuan Nicho baru saja kedatangan jet pribadi miliknya yang dikirim dari Jerman.”


“Nicho?” Sodoran map itu diterima dengan segera oleh Louis. Dari dalam benda tersebut, ada sebuah berkas yang mencakup informasi pembelian jet pribadi milik Nicho. Lengkap dengan copy surat-surat nya.


Nicho diketahui membeli jet pribadi berukuran sangat besar, yaitu 2,5 meter dan panjang 181 meter. Warnanya hitam dengan dengan garis emas yang melintang di beberapa sisi, plus dengan inisial nama Nicho yang dicetak dengan warna emas pula. Dari informasi yang telah dirangkum, Nicho bahkan merogoh kocek sekitar 70 juta dollar atau sekitar 1,046 M untuk mendesain interior jet pribadi miliknya sesuai selera. Itu belum termasuk dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk mempekerjakan pilot pribadi serta awak kabin yang lain.


“Iya, Tuan. Jet pribadi milik Tuan Nicho baru saja kembali dari penerbangan pertamanya dua minggu yang lalu.”


“Ke Negara mana tujuannya?”


“Beberapa Negara di Asia Tenggara. Tuan Nicho sempat singgah di Myanmar, Thailand, China, Singapura, Malaysia, termasuk Indonesia.”


“Apa dia pergi sendiri?”


“Untuk itu belum dapat saya pastikan, karena mengorek informasi Tuan Nicho cukup sulit. Orang-orang yang bekerja padanya memiliki tingkat kesetiaan yang tidak mudah digoyahkan.”


Louis terdiam. Pantas saja belakangan ini temannya itu jarang terlihat. Lebih tepatnya semenjak insiden penembakan di markas persembunyian Ayah Louis. Omong-omong soal ayahnya, pria tua itu sekarang sudah kembali mendekam ke penjara. Ulah siapa? Jawabannya tentu saja ulah sang King alias Fubuking. Senior dari dunia gelap Mafia itu telah mengerahkan langsung putra kandungnya untuk membawa Logan untuk dijebloskan lagi ke penjara.


Sekarang Logan dipindahkan ke penjara kelas berat yang terletak di sebua pulau terpencil. Penjara tersebut terkenal sebagai salah satu penjara paling mematikan di dunia. Karena selain kejam, kemungkinan untuk keluar dari penjara tersebut sangat kecil. Sekalipun jika bisa keluar, para tahanan akan menjadi santapan empuk para hewan buas.

__ADS_1


“Selidiki lagi. Aku ingin informasi yang lebih detail,” titah Louis. Masih teringat dalam ingatan, bagaimana sikap Nicho terhadap Lea. Temannya yang satu itu memang terang-terangan memperlihatkan ketertarikan pada Lea. Dulu Louis selalu abai, karena ia tak terlalu sadar. Sekarang semua tampak begitu kentara.


“Baik, Tuan.”


Louis mengangguk singkat seraya menggerakkan jarinya, menunjuk pintu. Memberi isyarat agar Jack segera pergi darai hadapannya.


“Ada satu hal lagi yang harus saya sampaikan, Tuan.”


Louis mengangkat pandangan. “Apa lagi?”


“Dari informasi yang baru saja dapatkan—tepatnya lima menit sebelum saya menghadap Anda, saya mendapatkan informasi bahwa CEO Radityan Corp’s telah resmi dinikahi oleh CEO Arga’s Air hari ini.”


“Are you *****ng kidding, me?!” umpat Louis murka seraya menggebrak meja.


“Maaf, Tuan. Informasi ini cukup valid. Di Negara tersebut informasi ini bahkan sedang menjadi pembicaraan hangat.”


“Damn?!”


Louis tidak tahu harus merespon bagaimana, selain mengumpat. Beberapa hari kebelakang ia memang sedang mendapati kesialan demi kesialan. Belum juag usai menyelesaikan satu masalah, kini datang masalah yang lain. Parahnya lagi, sekarang ia mendapatkan informasi jika perempuan yang telah membuat ia tertarik setengah mati, telah dinikahi oleh pria lain. Sial*n bukan?


Di sisi lain, posisi wanitanya juga belum dapat dilacak. Ya, siapa lagi jika bukan Lea. Model cantik itu sudah menghilang hampir satu bulan ini. Kepergian Lea yang tanpa pamit itu, diiringi oleh tertutupnya semua akses komunikasi di antara meraka. Louis juga tidak mendapatkan sedikit pun informasi dari orang tua Lea, karena meraka memilih bungkam dan ikut serta menghilang.


“Baik, Tuan.”


✈️✈️


“Halo, Capt Nathan. Kita datang untuk memenuhi undangan spesial dari Captain.”


Nathan mengenali dua undangan yang sebenarnya tidak diharapkan kedatangannya itu. Adinda Roudrigo Wicaksono dan Nathania Irisa Wicaksono. Saudara sepupu yang dua-duanya sudah pernah mengutarakan ketertarikan pada Nathan. Yang pertama kali melakukan hal tersebut adalah Adinda Roudrigo Wicaksono atau akrab disapa Adin atau Dinda. Adin mengutarakan perasaannya saat Nathan baru ditugaskan di maskapai Arga’s Air yang ada di Jakarta. Adin juga lebih tua beberapa tahun dari Nathan. Saat itu posisinya Adin sudah menjadi cabin one atau pimpinan pramugari dalam suatu penerbangan.


Sedangkan Nathania Wicaksono atau akrab disapa Nia, mengutarakan perasaannya saat meraka bekerja di maskapai yang sama di New York. Namun, harapannya pupus begitu saja saat Nathan berkata sudah memiliki calon istri, sepulang dari penerbangan ke Bangkok.


“Mereka kenalan Mas Nathan?” tanya Alea dengan suara sangat kecil. Mungkin hanya Nathan yang dapat mendengarnya.


Nathan menoleh agar dapat menatap sang istri lebih seksama. “Rekan kerja di maskapai.” Nathan berkata seraya mengusap jemari sang istri dengan ibu jarinya. “Mau menyapa mereka? Jika kamu keberatan, kamu tidak perlu menyapa mereka,” tambah Nathan dengan suara yang lebih pelan.


Alea menggelengkan kepala. “Tidak baik mengabaikan tamu yang sudah datang jauh-jauh.”


Nathan tersenyum ke arah sang istri. “Tapi, mereka pernah mengutarakan perasaan pada Mas-mu ini, Zaujati (istriku).”

__ADS_1


Alea terdiam. Bibirnya terkatup di balik kain penutup. Namun, Nathan tidak bodoh untuk tidak dapat membaca raut wajah sang istri. Lewat sorot matanya saja, jelas sekali jika perubahan ekspresi sang istri karena terganggu oleh informasi yang baru saja ia ketahui.


“Tenang saja, Zaujati (istriku). Dari dulu aku sudah menolak mereka dengan tegas, karena aku sudah memiliki kamu. Bahkan jauh sebelum aku mengenal mereka.”


Alea menatap Nathan dengan kedua bola mata bening miliknya. “Kenapa Mas tiba-tiba memberi klarifikasi?”


“Karena aku tidak mau kamu salah paham, Zaujati (istriku). Terkadang, seorang suami memang harus lebih mengerti, jika seorang istri pada waktu-waktu tertentu hanya ingin dimengerti.”


Deep sekali. Sungguh, Alea masih tidak menyangka jika Nathan, suaminya bisa sangat peka seperti ini. Benar-benar mirip sekali dengan ayahnya Alea, Van’ar. Tidak banyak bicara, tetapi sangat pengertian.


“Jadi, ayo aku perkenalkan Zaujati (istriku) yang cantik jelita ini kepada mereka. Bukan bermaksud sombong, tetapi aku hanya ingin mereka tahu jika sekarang ada yang sudah memiliki aku secara paten. Yaitu, anta habiibii anta (engkaulah cintaku).”


Alea tersenyum di balik kain penutup wajahnya. Dan Nathan bisa melihat itu, walaupun tertutup oleh selembar kain.


“Baiklah, Zaujii (suamiku). Ayo, kita menyapa dua tamu istimewa itu.”


Demi apa, sekarang rasanya ingin sekali Nathan memeluk sang istri saking bahagianya, karena baru saja istrinya memanggil ia dengan embel-embel Zaujii (suamiku).


“Mas?” panggil Alea, berhasil membuyarkan lamunan Nathan.


Nathan mengangguk. Tersenyum, kemudian ia menggenggam tangan sang istri kian erat, sebelum sama-sama beranjak dari posisi duduk. Menghadap dua tamu yang sempat terlupakan kehadirannya, karena pasangan pengantin baru itu terlalu sibuk dengan dunia meraka. Sedangkan yang lain ibarat ngontrak ke planet Mars, tidak dianggap sama sekali.


“Terima kasih sudah jauh-jauh datang ke pernikahan kami. Saya dan istri merasa sangat terhormat,” ucap Nathan dengan raut wajah flat. Berbeda seratus delapan puluh derajat jika bersama sang istri.


Adin dan Nathania tampak saling berpandangan untuk beberapa saat, sebelum kembali memusatkan perhatian pada Nathan dan Alea.


“Selamat atas pernikahan Anda dan istri, Captain Nathan.” Adinda kembali buka suara. Ia berkata seraya menyodorkan tangan, menunggu balas dari Nathan untuk berjabat tangan.


“Maaf,” ucap Nathan seraya mengangkat genggaman tangannya dan sang istri. “Lagipula kita bukan muhrim, haram hukumnya jika bersentuhan. Lebih baik kamu bersalaman dengan istri saya, tidak akan menimbulkan dosa.”


Deep banget perkataan Nathan, sampai-sampai berhasil membungkam dua lawan bicaranya dengan rasa malu.


Toh, apa yang Nathan katakan sesuai sabda Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Sungguh jika kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik baginya dari pada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya.” Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani.


✈️✈️


TBC


BUCIN TERUS, YANG LAIN NGONTRAK KE MARS 😅😅

__ADS_1


Tanggerang 16-09-22


__ADS_2