
...BDJ 24 : BLACK ROSE...
...“Jika presentasi ketampanan, keindahan, dan keelokan yang diberikan Allah SWT ke alam adalah ; 50% nabi Muhammad, 25% nabi Yusuf, dan 25% kepada alam seluruh alam semesta beserta isinya. Dia yang cuma sebatas serpihan saja, kenapa bisa sampai membuat hambamu jatuh hati sedalam ini, ya Rabb.”—Bukan Dijodohkan...
...****...
Sekuntum mawar hitam pagi itu membuat Alea mengerutkan keningnya kebingungan. Belum terjawab kepenasarannya soal sang sekretaris yang tidak ada di mejanya saat dia tiba tadi. Kini, kehadiran sekuntum mawar hitam tanpa pengirim itu kembali menambah kepenasarannya.
Siapakah gerangan yang telah mengirimkan bunga yang sering kali dikaitkan dengan kematian dan kedukaan itu?
Apakah calon suaminya?
Ah, opsi itu tidak mungkin rasanya. Mengingat kiriman Bunga dari pria tersebut selalu datang bersama dengan sepucuk surat yang ditulis tangan langsung oleh pengirimnya.
Lantas, siapakah pengirim bunga itu?
Ingin bertanya juga dia bingung harus bertanya kepada siapa. Office boy atau office grils yang biasa mengantarkan kiriman bunga ke mejanya, tidak pernah tahu-menahu siapa gerangan pengirim mawar hitam pagi ini.
Bunga itu datang tanpa pengirim yang jelas. Namun, memiliki tujuan yang jelas. Kurir yang mengantar bunga itu juga bilang jika si pemesan meminta satu kuntum mawar hitam untuk diantar ke Radityan Corp’s. tepatnya untuk Alea Ananta Rumi Radityan.
Tidak mau membuang banyak waktu hanya untuk memikirkan bunga tersebut, Alea memilih untuk menyimpannya. Lantas melanjutkan rutinitasnya di pagi hari itu. Dia datang untuk bekerja bukan? Dan, lihatlah meja kerjanya saat ini. Tumpukan dokumen-dokumen yang siap dia periksa dan bubuhi tanda tangan sudah menggunung di sana. Menunggu untuk segera dikerjakan.
“Bismillah,” dengan mengucapkan basmalah, dia memulai pekerjaanya.
Mulai membaca satu per satu dokumen-dokumen penting tersebut. Mengabaikan rasa kepenasarannya soal sang sahabat sekaligus sekretarisnya yang tidak datang untuk sejenak. Biarlah nanti dia bertanya kepada pihak HRD. Mungkin saja Annante menitipkan pesan atau izin pada bagian tersebut. Karena wanita itu tidak pernah absen tanpa alsan seperti ini sebelumnya.
“Permisi, Nona,” intruksi seorang wanita muda dari arah pintu masuk. Membuat Alea menghentikan aktivitanya untuk sejenak.
“Silahkan masuk, Glorya.”
Staf bernama Glorya itu mengangguk seraya menebar senyum. Dalam pelukan kedua lengannya ada beberapa dokumen-dokumen keuangan yang perlu bubuhi tanda tangan sang atasan.
“Ada apa, Glorya?”
“Ini, nona. Ada beberapa berkas yang harus nona periksa.”
“Baik. Simpan saja di atas meja,” ujar Alea memberi tahu. Nada suara lembutnya berhasil membuat siapapun merasa tersanjung bisa berbicara dengannya.
“Baik, Nona. Kalau begitu saya pamit undur diri.”
__ADS_1
Alea mengangguk seraya menyungingkan senyum tipis dibalik kain niqab yang dia gunakan. Kendati lawan bicaranya tidak bisa melihat senyum tersebut, aura berbeda selalu terpancar saat dia tersenyum. Membuat siapapun yang menjadi lawan bicaranya selalu bisa menagkap makna dari ekspresinya.
“Ah, iya, Glorya. Apa kamu tahu kemana perginya Annante? Bukannya kalian bertetangga?”
“Annante?” Tanya Glorya memastikan.
“Iya.”
“Bukannya Annante dipindah tugaskan nona?”
“Dipindah tugaskan?” bingung Alea. “Atas persetujuan siapa dia dipindah tugaskan?”
“Itu yang saya dengar dari Annante saat bertemu terakhir kali kemarin. Dia dipanggil oleh bagian Human Resources Development pagi-pagi sekali. Setelah itu dia buru-buru membenahi barang-barangnya dan pergi.”
Alea mengangguk mendengarnya. Tetapi kenapa dia tidak diberitahu?
Temannya dipanggil oleh bagian HRD dan dipindah tugaskan, tetapi tidak ada yang memberitahunya?
Alea merasa ada yang janggal di sini.
“Kamu bisa pergi sekarang, Glorya.”
“Baik, nona.”
Namun, pagi ini spekulasi itu terpatahkan saat sang nona muda datang dan bertanya-tanya kemana perginya sang sekretaris. Dia tentu tidak tahu-menahu soal Annte karena sehari sebelumnya dia work from home sesuai permintaan sang Ayah.
Selepas bergelut dengan dokumen-dokumen yang tidak akan ada habisnya, ketika kumandang adzan terdengar dari smartphone miliknya, dia menuntaskan pekerjaanya. Lantas mengambil air wudhu untuk menunaikan salat dzuhur. Semua staf yang bekerja di bawahnya sudah hapal betul dengan jadwalnya. Dia memiliki waktu pribadi untuk salat dan mengaji sekitar 10-15 menit setelah menunaikan salat. Setelahnya dia akan makan siang dari bekal yang dibawanya dari rumah, kemudian lanjut bekerja lagi.
Rencananya sebelum lanjut bekerja, Alea akan bertanya kepada pihak HRD soal Annante. Dia harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, semua itu tidak berjalan sesuai dengan rencana karena ada satu telepon masuk yang membuatnya mau tidak mau harus mengangkatnya terlebih dahulu. Meluangkan waktu guna menyapa si pengirim panggilan.
“Assalamualaikam, Hallo,” sapanya pada suara di seberang sana.
Nomer tanpa kontak tersebut ternyata sudah meneleponnya semenjak tadi. Terbukti dari adanya beberapa miss call yang tidak tidak dia ketahui.
“Waalaikumussalam,” jawab suara di seberang sana yang langsung membuat hati Alea berdesir.
Ini adalah suara yang familiar di telinganya. Suara yang sempat dia rindukan. Suara yang mangkir dari indra pendengarannya beberapa hari ini. Suara sang capten yang sangat dipuja-puja banyak wanita karena ketampanannya.
“Ini, kak Nathan?” Tanya Alea hati-hati.
“Iya,” jawab suara di seberang sana yang berhasil membuat senyum Alea tersungging di balik kain niqab yang dia gunakan.
__ADS_1
“Apa kabar, kamu yang jauh di sana?”
“Alhamdulillah, baik, kak,” jawab Alea dengan suara lembut miliknya. “Kakak sendiri bagaimana kabarnya? Apa suplemen yang tante Gea kirimkan sudah diminum teratur? Istirahatnya cukup, kan?”
Alea berhenti berucap untuk sejenak. Sadar akan kelakuannya yang tiba-tiba saja banyak bicara seperti seorang istri yang tengah mewanti-wanti sang suami. Dia salting sendiri hanya karena terlalu banyak bicara. Menyuarakan kekhawatiran yang selama ini menumpuk di hati dan pikirannya.
Terdengar suara tawa pelan dari seberang. Membuat rona merah muncul di sekitar wajah Alea. “Maaf, ya, kak.”
“Kenapa harus minta maaf? Aku senang kamu mengkhawatirkan aku,” ungkap suara di seberang. “Kita seperti pasangan pada umumnya yang saling merindukan di saat jarak memisahkan.”
Kejujuran pria tersebut tentu membuat Alea lagi-lagi mengulum senyum. Selalu ada saja perasaan yang tidak bisa dijelaskan saat berbicara dengan pria rupawan satu ini. Mahluk tuhan yang mampu membuat putri seorang Radityan merindu, hanya karena ditinggalkan menjelajahi langit.
“Pokoknya kakak harus tetap menjaga stamina, iman dan imun. Jangan lupa yang lima waktu, jangan sampai ketinggalan.” pesan Alea tanpa ragu. Karena adanya ikatan yang sudah menjerat dirinya dan capten muda tersebut, ragu itu tidak lagi membelenggu. Mengingat dia juga memiliki hak untuk merindu, mengkhawatirkan dan memperhatikan tanpa ragu.
“Iya, Alea. Jaga diri kamu juga baik-baik di sana. Aku masih belum bisa memastikan sendiri keadaan kamu untuk saat ini,” pria itu menjeda sejenak. “Aku sayang kamu, lebih dari yang kamu ketahui. Aku akan segera pulang jika mendengar kabar kamu tidak baik-baik saja.”
Alea kehabisan kata-kata. Selama ini dia awam sekali soal urusan cinta ataupun mencintai terhadap lawan jenis. Cintanya hanya sebatas kepada Ayah, Ibu, dan keluarganya. Tidak pernah terbagi kepada lawan jenisnya sedikitpun. Namun, kali ini tuhan telah membiarkan ketertarikannya bekerja. Menjerat seorang pria yang betul-betul memiliki perasaan besar untuknya. Sekarang pertanyaanya, mampukah Alea membalas cinta sang capten sebesar cinta yang pria itu berikan?
“Kenapa diam? Kalau kamu masih ragu dengan perasaan kamu, tidak apa-apa. Aku bisa menunggu, Alea.”
Kurang apa coba capten muda satu ini?
Pilot muda, rupawan, mapan, beriman, memiliki cinta yang besar yang siap diberikan. Alea kekurangan apa lagi? Semua yang wanita di muka bumi ini cari untuk mencari calon pendamping hidup ada semua pada dirinya.
Nathan itu husband material sekali. Idaman para ibu-ibu yang mencari menantu untuk putri-putrinya.
“Alea sayang kepada Allah, karena Allah adalah tempat Alea kembali. Sisanya, Alea sayang kepada orang-orang yang dekat dengan hati Alea,” jawab gadis cantik tersebut pada akhirnya.
“Dan aku?” Nathan menuntun jawaban dari pertanyaanya. Menuntakan rasa penasaran yang pasti menghampiri.
“Kakak termasuk di dalamnya,” jeda Alea sejenak. Membuat pria di seberang mewanti-wanti jawaban gadis tersebut berikutnya.
“Termasuk kedalam golongan orang-orang yang dekat dengan hati Alea.”
Karena pada dasarnya, Alea mulai membuka hatinya. Dan, Nathan adalah pria beruntung dan pertama yang memiliki golden ticket untuk memasuki hati gadis cantik tersebut.
...****...
...TBC...
...Jangan lupa VOTE, KOMENTAR, LIKE, SHARE & FOLLOW AUTHOR....
__ADS_1
...Sukabumi 14 AGUSTUS 2021...