
°BDJ 84 : BANDUNG DAN CERITA DIDALAMNYA
“Gimana, suka?”
Perempuan yang sedang mengunyah itu mengangguk. Setelah apa yang ia kunyah berhasil ditelan, ia baru bicara dengan suara kecil. Meminimalisir pusat perhatian.
“Enak. Tapi, ini bukan rasa sate yang pernah aku makan.”
Laki-laki berkulit kecoklatan yang duduk di samping perempuan yang tengah hamil muda itu menggeser kan satu botol air mineral, lalu menjawab. “Ini sate padang, beda sama ayam yang biasa kamu makan. Salah satu variasi sate yang berasal dari Sumatra Barat.”
“Sate padang?”
“Hm.”
“Pantas saja bumbu satenya beda. Sate yang pernah aku makan diberi saus kacang dan kecap, sedangkan ini saus apa, ya? Creamy di mulut dan rasanya pedas. Aku juga merasa ada campuran rempah-rempah.”
Laki-laki bernama Leo itu tersenyum tipis. “Cewek kalau udah ketemu sama yang namanya makanan, pasti langsung jadi kritikus makanan.”
Perempuan hamil itu—Lea—langsung menatap lawan bicaranya dengan bingung. Namun, ia memilih tidak menjawab dan mengambil satu botol air mineral yang tadi sudah disodorkan oleh Leon.
Keinginannya untuk makan di jalan Braga akhirnya terpenuhi setelah berjibaku dengan panas dan pengapnya jalanan kota kembang. Saat ini Leon mengajak Lea makan di sekitar jalan Braga yang menyediakan berbagai pilihan olahan makanan, mulai dari street food sampai tempat makan ternama.
“Itu saus kacang kok,” sahut Leon seraya menunjuk saus kental berwarna kuning menggunakan dagu. “Saus kacang itu lebih kental dan rasanya lebih pedas karena ditambah banyak cabai.”
“Iya, rasanya pedas bagiku,” sahut Lea. Ia sesekali tampak membenarkan posisi masker yang ia gunakan. Benda itu tidak diturunkan sama sekali dari wajahnya, hanya dibiarkan tertahan di bawah dagu. Untuk melengkapi penyamaran, Lea juga menggunakan bisbol hat warna hitam.
“Sate itu ada banyak jenisnya. Ada sate yang otentik dengan ciri khas bumbu kacang berwarna kecoklatan, ada juga sate taichan, sate maranggi, sate Madura, dan sate-sate lainnya.”
“Aku pikir makanan yang bernama sate itu cuma satu jenis.”
“Nggak, banyak malah.” Leon menarik tisu basah dari dekat slim bag milik Lea yang sejak tadi ia amankan. Kehadiran benda mungil itu sempat menarik perhatian beberapa kaum Hawa yang sepertinya tahu jika benda itu asli, bukan KW. Mengingat harganya yang fantastis, benda itu harus dijaga dengan baik.
Dandanan Lea mungkin boleh sederhana, namun apa yang melekat pada tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, semuanya berbau duit. Moneyable istilah kerennya. Bagiamana pun juga image super model tetap melekat pada gaya busana Lea.
Leon kemudian menyerahkan tisu tersebut pada Lea. Dilihat dari segi mana pun, Lea itu orangnya sangat menjaga kebersihan. Ia juga sudah siap sedia hand sanitizer, antiseptic pembersih tangan, tisu basah, sampai tisu kering. Untung saja Leo cukup peka sebagai laki-laki, jadi ia bisa memperlakukan Lea dengan baik, sehingga bumil itu merasa nyaman.
“Habis ini mau kemana lagi?” tanya Leon. Situasi mulai tidak kondusif saat beberapa orang mulai menyalakan kamera handphone, Leo sadar akan itu.
Lagipula kehadiran Lea cukup mencolok, mengingat paras rupawan nya tidak mampu disembunyikan walaupun sudah dalam mode penyamaran.
“Kamu punya rekomendasi?”
__ADS_1
Leon tersenyum seraya mengeluarkan beberapa uang pecahan lima puluh ribu dari dalam dompet kulitnya. “Banyak. Kamu tinggal duduk santai aja di jok penumpang, nanti bakal gue bawa kamu ke tempat-tempat yang ikonik di Bandung.”
Walaupun gaya bicara yang digunakan Leon campuran—gaya bahasa kasar dan half formal—Lea merasa mudah akrab dengan Leon, karena pembawaan Leon yang Hubble dan easy going.
“Kalau begitu bawa aku ke mana saja, asalkan bukan ke tempat yang tidak ramah bagi ibu hamil.”
Leon mengangguk kecil. “Anything for you, Lady.”
✈️✈️
“Kita sudah sampai di Indonesia, Tuan. Sekarang apa perintah Anda selanjutnya?”
Laki-laki rupawan yang hanya menggunakan bathrobe putih dan tengah duduk dengan posisi satu kaki terlipat dan tertumpu pada kaki lainnya tidak menggubris. Ia masih sibuk menikmati makanan bernama sate yang telah dipisahkan dari tusuk nya. Setibanya di Negara ini, ia langsung ke hotel untuk menuduh dari teriknya suhu musim panas di sini. Oleh karena itu, ia langsung mandi kala tiba di kamar hotel yang sudah Jack booking dari awal.
“Kalau kamu belum menemukan jejak wanitaku di Negara ini, cari terus. Kalau perlu cari sampai ke seluruh pelosok Negara ini.”
Jack hanya bisa menghela napas kecil mendengarnya. “Kira-kira saya harus memulai dari mana untuk menjelajahi sekitar 17.000 pulau di Negara ini, Tuan?”
Laki-laki yang disebut “tuan” itu agak berjengit kaget kala mendengar ucapan sang tangan kanan. Ia kemudian berdeham kecil, sebelum kembali buka suara. “Kalau begitu gunakan orang-orang mu untuk mencari tahu alamat wanitaku, supaya kau tidak perlu menjelajahi satu per satu pulau itu, Jack.”
Jack kembali memberikan anggukan. “Untuk saat ini Tuan bisa beristirahat di sini, selama saya mencari informasi yang lebih detail soal nona Lea.”
“Hm.”
“Kalau begitu saya pamit undur diri, Tuan.”
“Iya, Tuan?”
“Tolong bawakan kotak berwana hitam yang kemarin aku titipkan kepadamu.”
“Baik, Tuan. Ada lagi yang Tuan butuhkan?”
“Alamat,” sahut Louis. “Aku butuh alamat kediaman utama keluarga Radityan.”
“Maksud Anda apa, Tuan?” Jack tampak kebingungan dengan permintaan tuannya yang satu itu.
Kendati demikian, Louis tidak berkeinginan untuk menjelaskan. Ia hanya tersenyum misterius seraya kembali melahap sisa makanan bernama sate yang dihidangkan bersama makanan bernama lontong.
“Sial*n, kenapa rasa makanan sederhana ini sangat enak di lidah,” dengusnya seraya membuang muka ke arah sembarangan. Ternyata menu sederhana bernama sate asal Negara Indonesia yang pernah dinobatkan sebagai makanan terenak urutan ke-14 menurut survei dari World’s 50 most delicious foods, memang benar-benar enak.
✈️✈️
“Suka?” sembari membenarkan letak topi yang menutupi sebagian wajah sang istri, Nathan bertanya dengan suara yang lembut.
__ADS_1
“Suka sekali, Mas.”
Jawaban dengan binar takjub kemudian dapat ia lihat di bola mata sang istri. Karena meraka sedang berada di kota dengan julukan kota Kembang, di hari ke-tiga pasangan baru itu akhirnya membulatkan niat untuk jalan-jalan berdua. Nathan yang menjadi driver sekaligus tour guide bagi mereka. Mengingat sang istri sangat menyukai bunga, dan kebetulan mereka sedang berada di kota Kembang, jadi tempat pertama yang mereka kunjungi adalah taman bunga.
Apa ada yang tahu kenapa Bandung dijuluki sebagai kota Kembang? Jika ada yang menjawab karena di kota ini banyak tempat wisata yang berhubungan dengan “kembang” atau bunga, maka itulah jawabannya. Tempat wisata yang berupa taman bunga banyak berjamur di Bandung, karena di dukung dengan letak wilayah Bandung yang merupakan dataran tinggi, udaranya sangat cocok dan tanahnya subur. Sehingga tanaman bunga tumbuh subur di sana.
Nathan kemudian membawa sang istri untuk berkunjung ke Sky garden Paris Van Java. Sky garden Paris Van Java sendiri merupakan tempat wisata yang menyajikan konsep taman bunga unik di atap sebuah gedung mal bernama Paris Van Java.
“Kalau sudah capek keliling, bilang. Nanti kita pulang,” kata Nathan seraya menyeka peluh yang menghiasi pelipis sang istri.
Saat ini mereka berdua tengah duduk lesehan di sebuah angkringan, menunggu pesanan es kelapa muda yang mereka beli untuk melegakan dahaga.
“Iya, Mas.” Alea menjawab seraya menatap sang istri lekat. “Tapi, ada satu taman lagi yang ingin aku kunjungi. Dulu katanya Ayah dan Bunda pernah berkunjung ke sana.”
“Taman bunga apa namanya, Zaujati (istriku)?”
“Taman begonia.”
Nathan coba mengingat-ingat alamat tempat tersebut. Kerap bepergian ke Negara lain dalam kurun waktu yang lama, ternyata sempat membuat sebagain ingatan soal kampung halaman luput dalam ingatan. “Taman yang lokasinya ada di jalan Maribaya, Cibogo?”
Sang istri menggelengkan kepala. “Aku kurang tahu lokasinya, Mas.”
Nathan mengangguk, tanda jika ia memaklumi. “Taman itu ada di daerah Lembang, Zaujati (istriku). Kalau mau ke sana, besok atau lusa. Supaya kita bisa menginap sekalian.”
Taman yang Alea sebutkan memang masuk ke dalam kawasan Lembang. Jadi jika ingin ke sana, Nathan menawarkan opsi untuk besok atau lusa, supaya mereka bisa sekalian menginap.
“Menginap?”
Nathan mengangguk. “Nanti kita bisa sekalian main ke Rainbow Garden. Taman bunga yang menyuguhkan jejeran bunga warna-warni seperti pelangi dan tersusun sangat rapih. Selain bunga-bunga yang berderet dengan apik, di Rainbow Garden juga terdapat green house yang diisi oleh tanaman kebun yang tidak kalah indah, serta kebun organik.” Setelah menjelaskan demikian, ia membawa telapak tangan kanan sang istri ke dalam genggaman. “Aku sudah menyiapkan beberapa rekomendasi penginapan yang bangus dengan view panorama alam yang asri di daerah Lembang. Kalau kita deal pergi besok atau lusa, aku tinggal menyelesaikan transaksi.”
“….”
“Jadi bagaimana, Zaujati (istriku). Besok atau lusa?”
Alea tampak berpikir untuk beberapa saat. “Lusa, boleh? Soalnya kita tetap perlu persiapan untuk menginap di sana, Mas.”
Nathan mengangguk seraya membawa punggung tangan sang istri ke depan mulut, kemudian ia kecup. “Anything for Zaujati (istriku).
✈️✈️
BDJ
Semoga suka 😘😘
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘😘
Tanggerang 28-09-22