Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 68 : AKAD


__ADS_3

BDJ 68 : AKAD



Akad berasal dari kata Al-‘Aqd yang merupakan bentuk dasar dari kata ‘Aqada dan jamaknya adalah Al-‘Uqud yang artinya perjanjian (yang tercatat) atau kontrak. Menurut Ensiklopedia Hukum Islam, kata Al-‘aqd ialah perikatan, perjanjian, dan permufakatan (Al-ittifaq). Akad sendiri dalam kamus besar bahasa Indonesia atau KBBI mengandung makna sebuah pelaksanaan nikah dengan ijab dan qabul. Sedangkan ijab dan Kabul berasal dari kata wajib yang berarti mewajibkan, dan kata qabul memiliki arti menerima. Ijab qabul digunakan dalam pernikahan, yaitu ucapan dari orang tua atau wali mempelai wanita untuk menikahkan putrinya kepada sang calon mempelai pria.


Prosesi ijab qobul sendiri mengandung makna yang luar biasa bagi seorang laki-laki. Ketika seorang laki-laki mengucapkan ijab dan qabul, maknanya adalah: “maka akan aku tanggung dosa-dosa dia dari orang tuanya, dari tidak menutup aurat hingga meninggalkan shalat. Semua yang berhubungan dengan dia, aku tanggung dan bukan lagi orang tuanya yang menanggung. Serta akan aku tanggung semua dosa calon anak-anakku. Jika aku gagal, ingkar, maka aku suami fasik, dan aku rela masuk neraka. Aku rela malaikat menyiksa tubuhku hingga hancur.”


Sebelum menikah, baik laki-laki maupun perempuan juga harus mempertimbangkan banyak hal. Maka tak heran terkadang orang tua selalu berkata, jika hendak menikah dengan seseorang harus melihat dulu bibit, bebet, dan bobotnya. Hal itu bukan tanpa sebab, karena pernikahan adalah suatu proses sakral menuju ikatan yang suci.


Menurut Imam Al Ghazali, ada beberapa wanita yang tidak boleh dinikahi karena sifatnya. Pertama, perempuan yang memiliki sifat Al-annaanah, atau wanita yang kerap kali mengeluh dan mengadu. Kedua, Al-Mannaanah, atau wanita yang selalu mengungkit kebaikan sendiri. Ketiga, Al-Hannanah, atau wanita yang membandingkan orang di masa lalu. Keempat, Al-haddaqah, atau wanita yang boros. Kelima, Al-barraqah, atau wanita yang berhias sepanjang hari. Keenam, Al-syaddaqah, atau wanita yang banyak bicara dan suka nyinyir.


Sedangkan menurut agama Islam, bagi perempuan jangan menikahi laki-laki yang memiliki sifat-sifat berikut. Pertama, tidak pernah shalat (tertuang dalam hadist riwayat Ahmad dan Muslim). Kedua, berakhlak buruk (hadist riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah). Ketiga, bersikap kasar (hadist riwayat Muslim dan Abu Daud). Keempat, tidak punya penghasilan (hadist riwayat Abu Daud). Kelima, suka melirik wanita lain (hadist riwayat Bukhari). Keenam, mempunyai penghasilan haram (hadist riwayat Tirmidzi). Ketujuh, peminum atau pecandu alkohol (hadist riwayat Ibnu Majah). Kedelapan, pelit (hadist riwayat Bukhari dan Muslim). Kesembilan, suka berdusta (hadist riwayat Bukhari dan Muslim). Kesepuluh, tidak pencemburu (hadist riwayat At-Thabrani). Kesebelas, membuat istri menjadi pemimpin rumah tangga (hadist riwayat Ahmad, Bukhari, Tirmidzi, dan Nasa’i). Kedua belas, Musyrik (Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 221 ). Ketiga belas, tidak bisa menjaga pergaulan (Al-Qur’an surat An-Nur ayat 31).


Intinya, sebelum hendak menikah semua harus dipertimbangkan dengan baik-baik. Ingat kata papa Anzar, laki-laki memang bisa memilih, namun perempuan juga bisa menentukan.


“Waduh, Bang. Kena gejala pre-marriage syndrome enggak semalam?” goda sebuah suara.


Pre-marriage syndrome ialah kecemasan yang dirasakan pengantin jelang pernikahan. Pre-marriage syndrome ini umum terjadi pada mempelai pria maupun wanita menjelang hari H.


“Nervous enggak, Bang?”


Laki-laki tampan yang pagi ini kian rupawan dalam balutan pakaian formal, berupa atasan kemeja batik warna putih dengan motif batik berwarna coklat tua dan coklat muda yang dipadukan dengan celana bahan itu bertanya.


Walaupun kain batik beragam jenisnya, namun tidak semua motif batik dapat digunakan untuk upacara pernikahan. Motif batik yang biasanya dipakai pada acara pernikahan juga mengandung makna dan filosofi tertentu. Biasanya motif batik yang digunakan pengantin adalah batik motif sido mukti, sido drajat, sido asih, sido mulyo, dan sebagainya. Sedangkan orang tua pengantin biasanya menggunakan kain batik motif truntum.


“Hm.”


“Hmm? Beneran nervous?”


“Sedikit.”


Pemilik nama Algean itu tertawa renyah seraya menghampiri sang kakak yang tengah duduk di ujung tempat tidur. Saat ini mereka berada di salah satu master room yang terletak pada kediaman keluarga Dwiarga daerah Jakarta. Beberapa menit lagi rombongan mereka akan segera pergi ke rumah si mempelai wanita.


Tak tanggung-tanggung, untuk urusan tranportasi, Gean si pemilik super cars dan motor cars mewah rela mengeluarkan hampir sebagian besar koleksi pribadinya untuk mengawal rombongan sang kakak. Mulai dari Lamborghini, Ferrari, Bugatti Divo, Lexus, Rubicon Wrangler, Mercedez Benz A Class, dan masih banyak lagi. Semua koleksi super cars dan motor cars itu siap pawai di sepanjang jalan menuju kediaman Radityan. Gean juga tidak perlu khawatir kendaraan mewah miliknya hilang atau dicuri, karena setiap unit kendaraan sudah dipasang chip GPS yang dapat dilacak lewat citra satelit.


“Abang bilangnya nervous, tapi wajahnya biasa aja tuh.” Gean menelisik raut wajah sang kakak yang pagi hari ini terlihat sangat bening dan shining. Bukan berkat facial wash atau skincare mahal yang sedang marak di pasaran, melainkan berkat power dari air wudhu dan rutin salat tahajud.


Semalam saja Gean tahu jika sang kakak tidak bisa tidur, sehingga lebih banyak menghabiskan waktu untuk salat malam, dilanjut dengan berdzikir. Gean tahu semua itu dilakukan sang kakak, karena semalam ia memaksa untuk tidur bersama sang kakak untuk terakhir kalinya. Dua bujangan itu sempat terlibat deeptalk, sebelum akhirnya Gean tumbang terlebih dahulu sekitar pukul setengah satu dini hari.


“Aku bilang sedikit,” tegas si empunya panggilan.


Nathan yang pagi ini tampil begitu tampan nan rupawan dalam balutan setelan jas satu warna, yaitu putih. Mulai dari kemeja, vest atau rompi, dasi, hingga bawahan. Warna yang membawa kesan sakral yang kental. Jangan lupakan juga detail roncean bunga melati yang melingkari leher dan menjuntai hingga bagian dada.


Wajah tampan Nathan memang tampak biasa saja, namun jauh di dalam lubuk hatinya ada sebagian kecil kerisauan yang menganggu. Tetap saja, akan segera menghadapi salah satu prosesi paling sakral dalam hidup, membuat Nathan sedikit gugup.


“Aku juga nervous, Bang. soalnya masih agak enggak nyangka, Abang yang sempat aku kira g*y hari ini mau melepas masa lajangnya.”


“Lancang sekali kamu berkata seperti itu pada Kakak kamu.”


Gean memasang cengiran saat suara familiar milik sang papa yang menjawab perkataannya, alih-alih Nathan. “Itu ‘kan dulu, Pah. Cuma asal nebak juga.”

__ADS_1


“Tebakan yang tidak bermanfaat,” komentar Al.


Ya, yang baru saja masuk ke dalam ruangan adalah Al. Ayah dari dua laki-laki tampan yang saat ini sedang duduk bersisian.


“Lagian Abang itu jomblo dari dulu, Pah. Kek jones—jomblo ngenes gitu,” kata Gean kemudian. “Kalau aku ‘kan dari zaman sekolah juga udah mainannya cewek, lah. Abang? Sama sekali aku enggak pernah lihat Abang mainan cewek.”


“Anak orang dijadikan mainan. Dasar. Anak siapa sih kamu?”


“Dih, anak Papa lah. Lupa?” sahut Gean ketus. Papanya yang jarang ngelawak itu, sekalinya ngelawak, Gean langsung di-ulti.


Al tak menggubris. Membuat si bungsu tersenyum penuh kemenangan.


“Gugup, Than?” tanyanya kemudian.


“Sedikit, Pah.”


“Itu wajar.” Al mengambil posisi duduk di antara kedua putranya yang memiliki sifat bak langit dan bumi, namun tetap sangat ia sayangi. “Semua laki-laki yang akan melakukan ijab kobul juga pasti akan merasa gugup. Kalian tahu kenapa?”


Gean memilih menggelengkan kepala, karena jawaban yang muncul di kepala masih ia ragukan.


“Karena ijab kobul berarti mengambil alih tanggung jawab yang sangat besar. Ketika ijab kobul dilakukan, sorang laki-laki berarti sudah siap menanggung dosa-dosa yang diperbuat calon istrinya kelak.”


Al tersenyum tipis seraya menolehkan kepala. “Kurang lebih begitu. Ketika sudah mengucapkan kalimat sakral tersebut, berarti bertambah lagi tanggung jawab yang harus dipikul oleh si pria.” Al menjeda kalimatnya untuk sejenak. “Ketika kamu mengucapkan kalimat ‘saya terima nikahnya’ saat itulah kamu harus menerima dengan baik kekurangan dan kelebihannya. Cintai dia tanpa tapi, kemudian terima dia dengan segenap hati.”


“….”


“Untuk kedepannya, nothing impossible (tidak ada yang tidak mungkin). Sebuah pernikahan tidak akan selamanya berjalan dengan manis dan harmonis, ada kalanya pahit datang begitu cepat. Papah harap setelah kamu menikahi perempuan pilihan kamu, kamu akan lebih bijak dalam mengambil keputusan untuk kedepannya. Kalian sudah sama-sama dewasa. Jika ada masalah dalam rumah tangga kalian, bicarakan secara baik-baik. Jika sudah tidak dapat dibicarakan secara baik-baik, panggil saksi dari kedua belah pihak untuk melakukan musyawarah. Tapi Papah sendiri yakin jika kamu sudah sangat siap untuk menjadi imam untuk Alea.”


“Hm.” Al tersenyum seraya menepuk bahu sang putra dua kali. Ia kemudian menoleh pada si bungsu. “Tahun depan giliran kamu. Papah cuma mau berpesan supaya kamu selalu berhati-hati, karena menjelang hari pernikahan biasanya ada saja halangan dan rintangan yang menghadang.”


Gean mengangguk seraya tersenyum lebar. “Bismillah. Semoga lancar sampai hari H, supaya bisa nyusul Abang, enggak jomblo lagi.”


Al dan Nathan tersenyum tipis secara bersamaan. Membuat Gean tertegun untuk beberapa waktu. Kira-kira kapan ia melihat dua orang laki-laki yang sangat ia hormati itu tersenyum tulus begini? Lupa. Saking lamanya. Namun, sekarang ia kembali melihat senyum terpatri di wajah ayah serta kakaknya. Di hari bahagia ini.


“Sekarang kita haru segera bersiap,” ujar Al kemudian. Ia melirik jarum jam tangan yang melingkar di pergelangan. “Ayo, Nath. Calon istrimu sudah menunggu untuk segera dipersunting.”


Nathan mengangguk, lantas beranjak dari posisinya duduk. “Kalau begitu ayo, Pah. Antarkan Nathan ke kediaman Radityan untuk mempersunting kekasih Nathan.”


✈️✈️


“Setiap perempuan pasti menginginkan suami yang baik dan paham agama. Tidak perlu ahli agama atau pemuka agama, yang penting mengerti kewajiban sebagai seorang suami. Hal itu bukan berarti perempuan itu berlagak suci atau apa. Akan tetapi, dia sadar betul bahwa hakikatnya makmum itu mengikuti imam. Jika bukan surga, melainkan dunia tujuan si imam, bagaimana dengan makmumnya? Dunia adalah tempat singgah yang bersifat sementara. Sedangkan akhirat tempat di mana kita menetap untuk selama-lamanya.”


Perempuan paruh baya itu tak berhenti memberikan wejangan positif bagi sang putri yang hari ini tampak berkali-kali lipat lebih cantik dari biasanya. Padahal wajah ayu yang tertutup kain cadar itu hanya dipoles oleh make up sederhana, tetapi aura yang terpancar begitu luar biasa.


Sejauh ini ada empat orang yang melihat wajah cantik cicit dengan posisi tertua di generasi ketiga Radityan tersebut. Mereka adalah kedua orang tuanya, Aurra—bundanya, dan seorang make up artist yang dipekerjakan untuk melakukan make over. Namun, mereka berempat juga sama-sama terkesima akan kecantikan si mempelai wanita. Sungguh, begitu beruntung calon suaminya.


“Rombongan mempelai pria sudah tiba, Mbak.”


Aurra muncul setelah salam ia ucapkan, membawa sebuah buket bunga edelweiss. Memberitahukan bahwa rombongan mempelai pria yang lebih mirip iring-iringan pameran super cars dan motor cars telah memasuki area Radityan.


__ADS_1


Tidak banyak yang datang pada pagelaran akad hari ini, karena cuma keluarga inti, kerabat dekat dan sahabat yang diundang. Acara besar dengan tamu yang lebih banyak baru akan berdatangan pada keesokan harinya—yaitu pada acara resepsi.


“Alhamdulillah kalau mereka sudah datang.” Airra menoleh pada sang putri. “Putri Mamah berarti akan segera diperistri.”


Walaupun menunduk, semua orang yang ada di ruangan itu juga tahu jika putrinya sedang malu-malu.


Hari bahagia yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Pernikahan antara cucu tertua di generasi ketiga Radityan, putri semata wayang Keevanzar dan Airra.


“Sekarang kita lihat prosesi ijab qabul lewat televisi,” kata Aurra seraya menghidupkan layar televisi 48 inch yang menempel pada dinding. Benda itu sudah langsung terhubung dengan siaran langsung dari acara ijab kobul di luar sana. Lebih tepatnya di aula utama mansion Radityan yang langganan dijadikan tempat ikrar janji suci.


Ketika benda persegi itu sudah menyala dan menampilkan resolusi gambar di luar sana, kameramen agaknya sengaja menyorot tokoh utama lebih lama. Ya, siapa lagi selain si mempelai pria?


“Masya Allah, calon menantu Mamah,” monolog Airra dengan perasaan haru. Tidak menyangka jika secepat ini ia akan melepaskan putrinya untuk segera diperistri.


“Calon suami Alea jika dilihat sekilas agak mirip Mas Van’ar saat muda,” komentar Aurra. Walaupun melihat sekilas, ia merasa ada kemiripan di antara calon suami Alea dan suami tercintanya.


“Iya, Ra. Kayak Van’ar pas muda. Tampan dan berwibawa.”


Alea jadi penasaran karena Airra dan Aurra sibuk membicarakan calon suaminya. Namun, untuk sekedar melihat ke arah layar televisi saja ia malu. Ia lebih baik menjaga pandangan, agar dapat menatap laki-laki itu lebih puas, nanti setelah meraka berdua sah menjadi suami-istri.


“Ijab kobul nya akan segera dimulai, sayang.” Airra berkata seraya memeluk bahu kecil sang putri,


Di sebelah kiri, Aurra juga ikut menenangkan lewat ucapan halus di punggung tangan Alea. “Bismillah. Satu langkah lagi menuju status baru kamu, Alea. Semoga pernikahan kalian senantiasa diberkahi dan diridhoi oleh Allah azza wajalla.”


“Amin ya rabbal alamin, Bunda. Terima kasih untuk do’anya.”


“Sama-sama putriku,” balas Aurra seraya memberikan satu kecupan hangat di pelipis kiri Alea. Jika begini, sekilas Aurra lebih terlihat sebagai ibu kandung Alea.


Suara pembawa acara yang mulai membuka acara inti kemudian mengalihkan perhatian. Di layar televisi, tampak penghulu dan seperangkat petugas lain mulai menjelaskan teknis ijab kobul. Alea mendengarkan semua suara yang muncul dari benda elektronik tersebut dengan seksama, walaupun belum berani melihat gambar yang tersaji di sana. Semakin lama proses berlangsung, semakin keras pula debaran jantung.



Apalagi saat suara familiar milik sang ayah terdengar, seluruh kinerja sistem di dalam tubuh Alea seolah-olah merespon dengan lambat. Tak berselang lama, suara familiar lain menjawab lantang dengan satu tarikan napas.


“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan!”


“Bagaimana para saksi, sah?”


“SAHHHH!”


“Alhamdulillah hirobbilal amin.”


✈️✈️


TBC


SAH NGGAK TUH 😂🤗😘


Besok kondang ke resepsi jangan lupa bawa amplop segepok.


LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR, SHARE, TABUR BUNGA SEKEBON, TONTON IKLAN JUGA YA 💙

__ADS_1


Tanggerang 11/09/22


__ADS_2