
Kabar soal kehamilan Alea nyatanya sudah menyebar dengan begitu cepat. Bahkan kabar itu juga sudah sampai ke telinga CEO Anderson Cooperation yang siang itu sedang berada di kediaman ibunya. Ia tengah menemani sang adik main basket saat Jack yang diberi jatah cuti dua hari menelpon. Mengatakan bahwa Nathan dan Alea—pasangan yang baru menikah itu telah dikaruniai calon buah hati. Mengejutkannya lagi, bukan satu calon buah hati, namun sekaligus tiga.
Ketika mendengar informasi tersebut, Louis sempat terdiam cukup lama. Jack yang ada di seberang sana bahkan menjadi risau, takut-takut sang atasan masih belum merelakan putri Radityan seutuhnya. Namun, mau bagaimana lagi. Louis bukan Tuhan. Ia tidak bisa selamanya memaksakan kehendak.
Kendati demikian, kalimat yang dilontarkan oleh calon ayah itu detik berikutnya berhasil membuat Jack terdiam. Gantian, Jack yang dibuat tertegun.
“Aku harus memberikan apa sebagai ucapan selamat?”
Menurut usulan Jack, Louis tidak perlu memberikan apa-apa, jika memang sudah merelakan putri Radityan dengan ikhlas. Cukup doakan yang terbaik saja. Toh, mereka berdua tahu jika Anzar Radityan tidak akan mudah menerima barang pemberian dari laki-laki yang pernah menggangu hidup putrinya. Namun, Louis kekeuh. Ia ingin memberikan sesuatu, tidak apa jika tidak diberi nama pengirim. Yang terpenting ia tetap ingin memberi sesuatu sebagai ucapan selamat.
“Kamu ….tahu dari mana Alea sedang mengandung?”
Nata yang sempat mendnegar pembicaraan sang putra lantas melontarkan pertanyaan. Ia was-was. Takut-takut jika sang putra masih melakukan tindakan yang diluar nalar.
“Berita itu sudah dikonfirmasi secara resmi di perusahaan milik keluarga mereka, Eomma.”
Perempuan yang baru saja menyajikan anggur Ruby roman yang baru dicuci pasca keluar dari lemari pendingin itu langsung tersenyum. “Benarkah?”
Louis mengangguk seraya mengunyah satu butir anggur berharga fantatis itu. Bahkan di Jepang, anggur Ruby roman dibanderol dengan harga mulai dari 44.730 yen atau sekitar 5,7 juta rupiah per butir. Anggur ini juga pernah terjual dengan harga 1,3 juta yen atau setara dengan 167 juta rupiah untuk 1 tangkai anggur. Sungguh harga yang fantastis untuk ukuran sebuah anggur.
“Hm. Keluarga dari suami Alea juga membagikan bingkisan pernikahan pada para staf di perusahaan mereka, sebagai tanda rasa syukur.”
Nata tersenyum saat melihat wajah sang putra. Wajah rupawan itu kini tidak lagi menyiratkan obsesi yang begitu tinggi, melainkan menyiratkan raut wajah yang tampak biasa. Seolah-olah ia sudah bisa menerima kabar bahagia itu dengan biasa. Secara tidak langsung, Nata bisa menyimpulkan jika sang putra sudah benar-benar berubah. Apalagi saat putranya yakin jika Lea, satu-satunya perempuan yang menjadi partner friends with benefit nya yang paling spesial telah mengandung benihnya.
Banyak yang berubah pada Louis. Terutama soal bagaimana laki-laki itu mengontrol sikap. Louis juga jadi lebih banyak menghabiskan waktu bersama orang tua serta adiknya, membayar waktu yang dulu ia lewatkan begitu saja. Jika orang tuanya sibuk, dengan senang hati Louis akan menawarkan diri untuk menjaga Lucas. Bukan lagi mangkir berkunjung, dan berakhir di kelab malam.
“Louis.”
“Hm?”
“Bagaimana perasaan putra eomma sekarang?”
Louis tampak terdiam untuk beberapa saat. Namun, bola mata abu-abu miliknya menatap lekat wajah sang ibu. “Tidak bisa dijelaskan,” ungkapnya.
“Coba berbagi dengan eomma, apa yang saat ini kamu rasakan?”
“Happiness, maybe.” Louis menjawab demikian, karena tiba-tiba ia teringat wajah Lea. Calon ibu dari bayinya. Ia sudah mendapatkan kabar terbaru dari orang-orang suruhannya. Kata mereka calon ibu serta bayinya sehat dan baik-baik saja. Selain itu Louis juga berhasil mendapatkan salinan foto USG hasil pemeriksaan bayi mereka.
“Because you going to be a daddy?”
“Of course, yes.”
Nata mengangkat tangan. Guna menyentuh helai demi helai rambut halus sang putra. Belakangan hidup si sulung sempat tidak terurus kerana tidak ada Lea. Namun, semenjak sedikit lebih “sadar” barulah si sulung kembali menata hidup serta penampilannya. Bagaimana pun juga ia harus terus berjuang, serta berubah menjadi lebih baik, sampai tiba waktunya Lea kembali ke sisinya. Perempuan itu tidak ilfil.
“Sekarang eomma tanya perasaan kamu tentang Alea.”
“….”
“Kamu masih menyimpan rasa suka itu untuk dia?”
Louis tidak bisa berbohong. Puluhan tahun lamanya ia habiskan dalam masa “jahiliah” alias zaman bodoh, terutama dalam mengenal kata cinta. Ketika ia bertemu dengan Alea, ia langsung paham akan maksud dan makna dari arti kata “cinta” itu sendiri. Bohong jika ia bisa melupakan rasa itu dengan mudah. Namun, sekarang ia sudah bisa menekan rasa itu. Pun bisa membedakan mana rasa yang harus dipertahankan, dipelihara, serta adijaga, dengan perasaan yang harus dikubur dalam-dalam.
“Senang.”
“Senang?” ulang Nata.
“Senang untuk kebahagiaan yang dia dapatkan. Dia pantas untuk mendapatkan itu.”
__ADS_1
Nata tersenyum. Ia kemudian menatap sang putra dengan sorot penuh kehangatan. “Semangat sayang. Eomma percaya kamu bisa menjadi lebih baik.”
“Hn.”
“Kamu pasti bisa melupakan Alea. Jika tidak bisa melupakan, kamu bisa tetap menyimpan perasaan itu di lubuk hati kamu yang paling dalam. Namun, tetap utamakan seseorang yang memang sudah seharusnya kamu limpahi perasaan istimewa itu.”
Louis mengangguk. Ia juga sedang belajar memperbaiki diri. Sekaligus belajar menjadi ayah serta pasangan yang baik bagi Lea. Jadi, ketika Lea sudah memutuskan untuk kembali, ia sudah memantaskan diri.
“Eomma.”
“Ya?”
“Apa tidak berlebihan jika aku mengirimkan seribu kuntum bunga mawar dan peony?”
Nata yang baru saja mengunyah satu butir anggur itu sempat tersedak kecil mendengar ucapan sang putra. “Seribu kuntum bunga mawar dan peony untuk apa?”
“Ucapan selamat.”
“Untuk Alea?”
Louis mengangguk seraya mengalihkan tatapan ke arah Lucas. Adiknya itu sedang asik main kejar-kejaran dengan Blossom di taman samping rumah. “Dia suka bunga. Aku mengirimkan itu untuk mengucapkan selamat. Jack bilang dua jenis bunga itu yang paling cocok untuk diberikan sebagai simbol ucapan selamat. Eomma tidak perlu khawatir, aku mengirimkan bunga-bunga itu atas nama wanitaku.”
Louis tidak main-main soal mengirimkan “something” untuk simbol ucapan selamat. Setelah berpikir cukup lama, ia akhirnya memilih untuk mengirimkan bunga sebagai simbol. Bunga yang dipilih adalah bunga mawar dan bunga peony. Dua jenis bunga itu dapat mewakili berbagai simbol, mulai dari rasa cinta, romansa, persahabatan, kekayaan, kemakmuran, keberuntungan, hingga pertanda baik dalam sebuah hubungan.
Bunga mawar dan Peony juga miliki banyak variasi warna yang sedap dipandang mata, misalnya bunga warna merah, putih, merah muda, jingga, ungu, lavender, kuning, hitam, sampai burgundy untuk bunga mawar. Sedangkan peony sendiri dari variasi warna white, beige, green, light pink, pink, red, mint, blue, dan rose red.
Supaya tidak terbuang cuma-cuma, Louis juga meminta pada Jack untuk mengirimkan bunga-bunga tersebut dalam kondisi yang terjamin bisa bertahan lama.
“Ada yang Mas sembunyikan dari aku?”
Laki-laki dengan rambut lembab itu menoleh. Menatap sang istri yang juga baru selesai melipat sajadah. “Tidak ada.”
“Tapi, aku merasa ada yang menganggu pikiran kamu, Mas.”
Laki-laki rupawan yang baru saja menyimpan kopiah itu berdeham. Semenjak pulang dari kediaman orang tuanya, lebih tepatnya mansion tempat tinggalnya selama menatap di New York, memang ada satu hal yang menganggu pikiran. Mereka memang sempat menginap dua malam di sana, baru kembali ke kediaman Radityan.
“Ada apa, Mas? tidak mau cerita?” tanya sang istri dengan suara lembut.
Bumil cantik itu tampil manis dengan gamis syar’I berwarna soft pink. Perutnya yang belum kentara, tersamarkan dengan baik oleh gamis tersebut. Namun, semenjak tahu ada 3 kehidupan yang tengah berkembang di sana, sang suami selalu membawa telapak tangan kanannya untuk bermukim di atas permukaan tersebut.
“Sebenarnya bukan sesuatu yang menganggu,” ucap Nathan pada akhirnya. Ia lantas mengajak sang istri untuk duduk di pinggiran tempat tidur. “Aku cuma mendapatkan mimpi yang terasa begitu nyata.”
“Mimpi?”
Nathan mengangguk seraya membelai permukaan perut sang istri. “Waktu kita berada di Lembang, aku juga sempat mendapatkan mimpi yang terasa sangat nyata.”
“Mimpi apa, Mas?”
Nathan tampak berpikir dua kali saat hendak menceritakan mimpinya saat mereka berada di Lembang, lebih tepatnya saat mereka menginap di bukit saung bambu. Di dalam agama islam, ada beberapa perdebatan dalam menafsirkan mimpi. Setiap orang pasti ingin mendapatkan mimpi baik, alih-alih mimpi buruk sebagai bunga tidurnya.
Menurut Ibnu Qayyim Rahimahullah dalam kitabnya, Madarijus Saalikiin, “Barang siapa yang menginginkan mimpinya menjadi mimpi yang indah dan membahagiakan, hendaklah ia berusaha untuk selalu jujur, memakan hanya makanan yang halal, menjaga dan menjalankan perintah Allah Ta’ala, menjauhi larangan Allah Ta’ala, tidur dalam keadaan suci (berwudu sebelumnya), menghadap kiblat, dan berzikir kepada Allah hingga matanya tertutup. Maka mimpinya (insyaallah) tidak akan dipenuhi dengan kedustaan dan keburukan.
Mimpi terbaik adalah mimpi di waktu sahur karena saat itu waktu turunnya Allah Ta’ala ke langit dunia. Waktu sahur juga merupakan waktu dekatnya rahmat dan ampunan Allah Ta’ala. Sedangkan mimpi buruk sering kali terjadi di waktu salat Isya karena itu adalah waktunya setan berkeliaran.”
__ADS_1
Mimpi itu terbagi menjadi dua golongan, mimpi baik dan buruk. Saat mendapatkan mimpi buruk, maka dianjurkan untuk tidak menceritakannya kepasa orang lain. sebaliknya, ketika mendapatkan mimpi baik dan membahagiakan, maka ia boleh untuk menceritakannya. Sebagaimana sabda Rasullullah Shalallahu Alaihi Wasalam, “jika kalian mengalami mimpi yang baik, maka carilah artinya dan ceritakan mimpi indah itu. Dan jika kalian mengalami mimpi buruk, maka janganlah ia mencari-cari takwil dan artinya, dan jangan pula menceritakannya kepada orang lain.” hadist riwayat As-suyuti dalam Al-jami’ As-shaghir.
“Mas.”
Usapan lembut mampir di punggung tangan, bersamaan dengan panggilan tersebut. Nathan kemudian membawa pandangannya pada sang istri. Rupanya ia barusan sempat melamun.
“Waktu itu aku melihat kamu di dalam mimpi. Duduk di bawah pohon yang lebat daun, buah, serta bunganya. Kamu tidak seorang diri, tetapi ditemani oleh tiga mahluk mungil yang wajahnya bercahaya, solah-olah diselimuti oleh nur.”
“Masya Allah,” puji sang istri.
“Di sana juga ada orang tua serta keluarga kita, mengelilingi kamu. Kalian tertawa, dan bersenda gurau bersama.”
“Lalu kamu dia mana, Mas?”
“Aku ….jadi orang terakhir yang hadir.” Nathan masih menatap sang istri. Namun, kali ini bersama dengan senyum yang muncul. “Lalu ketiga mahluk mungil itu berebut minta digendong. Kamu bilang kepada mereka untuk bergantian, karena tangan Baba cuma satu pasang.”
Alea masih mendengarkan dengan seksama. Ada bahagia tercipta di wajah sang suami saat bercerita.
“Jika diingat-ingat lagi, mungkin tiga mahluk mungil itu adalah cerminan dari tiga calon buah hati kita.”
Alea mengangguk. Mungkin saja bukan?
“Lalu, mimpi apa lagi yang membuat Mas terganggu belakangan ini?”
Nathan menggeleng. “Bukan terganggu, akan tetapi lebih kepada penasaran.”
“Penasaran?”
“Waktu kita menginap, aku sempat bermimpi bertemu dengan seorang remaja. Dia tinggi, juga rupawan.”
Alea tampak penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
“Bukan bermaksud sombong atau sok percaya diri, tetapi remaja itu mirip aku saat masih duduk di bangku sekolah menengah. Wajahnya gabungan dari aku, Gean, bahkan ….Davian.”
“Davian?” Alea tampak menautkan kening seraya menyentuh permukaan perutnya sendiri.
Nathan mengangguk, menjawab kebingungan sang istri. “Iya, Davian.”
“Lalu, apa lagi yang Mas ingat?”
“Dia tersenyum, Zaujati (istriku). Lalu membisikkan kata maaf.”
Alea tampak semakin kebingungan. Begitu pula dengan Nathan. Ia juga bingung dan penasaran, kenapa remaja berwajah rupawan yang mampir ke dalam mimpinya itu meminta maaf?
“Tapi, itu hanya mimpi. Bunga tidur,” ujar Alea kemudian. “Semua kembali kepada-Nya. Kita hanya bisa berdo’a supaya mimpi itu menjadi pertanda baik, bukan sebaliknya.”
Nathan tersenyum seraya mengikis jarak di antara meraka. Satu kecupan kemudian ia jatuhkan di kening sang istri. “Iya, Zaujati (istriku). Aku harap juga begitu.”
🫐🫐
TBC
UPDATE LAGII .... MENDEKATI ENDING 🤗
SPOILER MUKA COGAN NIH, YANG NYAPA CALON BABA 👌
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga, tonton iklan sampai selesai 😘
__ADS_1
Tanggerang 14-11-22