
BDJ 69 : RESMI DIPERISTRI
Memasuki aula utama kediaman Radityan yang begitu megah dan indah, jantung Nathaniel Allugard Hazka Dwiarga kian berdebar tak karuan. Aula megah yang telah disulap jadi sangat indah berkat bunga-bunga segar yang hadir secara menonjol, memberikan kesan anggun, aroma yang menenangkan, hingga warna-warna yang cantik serta menarik. Bunga yang dipilih juga beragam jenis, mulai dari anggrek, mawar, peony, sampai gardenia.
Kedatangan rombongan mempelai pria yang antimainstream langsung disambut oleh keluarga besar mempelai wanita. Mereka disambut dengan sangat ramah, kemudian dibawa ke aula utama. Tempat akan dilangsungkan acara ijab kobul.
Tidak banyak tamu yang hadir, namun tetap tidak mengurasi rasa gugup yang sedikit menganggu. Nathan tahu sebagian besar orang yang hadir dari pihak mempelai wanita adalah orang-orang luar biasa yang masih menuruni darah Radityan. Sebut saja Davian Radityan yang tampak berdiri tegap seraya menggenggam walkie-talkie. Ia sempat mendapat bocoran dari sang adik, jika laki-laki itu adalah hacker professional dan sudah berulang kali ditawari join oleh BIN. Selain itu, ada pula Arion Radityan. Calon adik ipar Gean itu tampak berdiri dengan gagah di samping Arsyad Radityan yang tampak menjaga sang istri dengan protektif.
Jika dilihat lebih seksama, hampir semua anggota keluarga Radityan dari generasi ke generasi hadir di acara tersebut. Sebut saja generasi Keevano, ada Dimas Barack Al-haidan yang datang bersama istri dan putra mereka—Kaisar Zega Redadgard Al-haidan yang datang bersama sang istri, serta putranya—Raja Arrayan Al-haidan. Kemudian perwakilan dari keluarga almarhum Bara Pradipta dan istrinya, ada Galaksi Reynand Pradipta dan Gemintang Reynando Pradipta yang memboyong serta istri dan anak-anak mereka. Kemudian ada Ezka—adik Arkia yang datang bersama keluarga kecilnya. Tidak ketinggalan pula Aditama—cinta pertama Arkia di masa lalu yang menikahi adik Keevano—datang bersama istri serta putri-putrinya.
Dari generasi berikutnya, yaitu anak-anak mereka, yang hadir mulai dari Arsyad Radityan bersama istri, Arrabelle Radityan, Arion Radityan, Davin Radityan, Davian Radityan, Aroon Radityan—dengan pasangan masing-masing, kecuali Davian, karena masih belum memiliki pasangan resmi—ada pula Pricella—putri Aksa (cinta pertama Aurra, plus kakak dari Arkan—suami Lunar), Raja Al-haidan, serta para putra-putri dari marga Pradipta.
Selain datang dengan alat transportasi yang seketika membuat parkiran mansion Radityan jadi showroom dadakan, ketampanan mempelai pria dan para pengantarnya juga tidak luput dari sorotan. Pada hari bahagianya, Nathan memang sengaja menggandeng beberapa sahabat dan rekan kerja satu profesi untuk mengantarnya. Alhasil jajaran para pengantar di garis depan dipenuhi oleh para pilot, co-pilot, first officer, pramugara, hingga para eksekutif muda.
“Bagaimana, apa sudah bisa kita mulai proses ijab Kabul nya?” tanya bapak penghulu.
Mereka yang duduk di sekitar bapak penghulu langsung mengangguk. Lantas bapak penghulu mulai menjelaskan teknis prosesi ijab Kabul. Mulai dari satu kali gladi, kemudian dilanjut dengan proses ijab Kabul yang sebenarnya.
“Rileks, Nath,” ujar Algafriel, memberikan dukungan moril pada sang putra.
Sebagai seorang ayah, ia tahu jika Nathan saat ini pasti dilanda gugup. Walaupun Nathan sangat pandai menutupinya. Hari ini Algafriel juga bertugas sebagai saksi dari pihak mempelai laki-laki. Sedangkan di pihak mempelai perempuan, ada Van’ar sebagai saksi. Duduk di samping Anzar selaku wali.
“Gean yang nervous, Pah,” lirih Gean yang duduk di samping kiri Nathan. Hal itu tentu menarik perhatian beberapa orang di sekitar, bahkan mereka terhibur melihat tingkah adik mempelai pria.
Al juga ikut tersenyum kecil seraya menatap tajam sang putra. Dalam situasi seperti ini, Gean masih saja bisa bercanda. Dasar.
__ADS_1
“Baik, untuk mempersingkat waktu, sebaiknya kita segera memulai.”
Bapak penghulu kembali buka suara. Nathan kemudian diarahkan untuk menjabat tangan Anzar yang duduk di seberangnya. Dengan hati yang berdebar tidak karuan, Nathan mencoba tenang. Karena ia biasanya pandai mengontrol diri. Seperkian menit berikutnya, ia sempat dibuat menahan napas saat Anzar akhirnya mengucapkan kalimat sakral yang harus dijawab.
“Ankahtu wa Zawwajtuka Makhtubataka, Alea Ananta Rumi Al-faruq binti Keevanzar Radityan Al-faruq. Bil Mahril bi’adawati sholah, wa khamsumiayat dirham, wa Al-Qur’an, Al-surah Ar-rahman haalan.”
(Kalau salah koreksi)
Menarik napas dalam, kemudian menghelanya perlahan. Nathan lalu buka suara setelah melakukan instruksi barusan untuk kedua kalinya.
“Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan!”
“Bagimana para saksi, sah?”
“SAHHHH!”
“Alhamdulillah hirobbilal amin. Barakallahu laka wa Baraka ‘alaika wa jama’a bainakhuma fiil khairon (mudah-mudahan Allah memberkahi engkau dengan segala hal (yang baik) dan mempersatukan kamu berdua dalam kebaikan.”
“Baarakallahu likulii wahidimmingkungkumaa fii shaabihi wa jama’a bainakumma fi khayrin (Mudah-mudahan Allah memberkahi mu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kamu berdua pada kebaikan).”
Do’a yang berisi harapan supaya pengantin baru itu diberkahi, baik dalam suka maupun duka, dan selalu dikumpulkan dalam kebaikan.
Sekarang tidak ada lagi beban yang tinggal di pikiran dan perasaan. Semua begitu terasa melegakan. Meninggalkan bertumpuk-tumpuk kebahagiaan. Apalagi saat pembawa acara mengatakan bahwa mempelai wanita akan segera memasuki aula. Duh, hati sang mempelai pria langsung berdebar menggila.
Ditemani oleh saudarinya—Arrabelle Radityan—sang mempelai wanita memasuki aula utama. Berjalan mendekat ke arah pelaminan agar dapat menghampiri laki-laki yang baru saja merubah status meraka. Suami-istri. Sekarang itulah status meraka berdua di mata hukum maupun agama.
Semua perhatian kemudian berpusat pada mempelai wanita yang tampak begitu mempesona dalam balutan baju pengantin syar’i. Namun, tidak menutupi pesona dari kecantikannya. Banyak yang memuji jika keturunan Radityan tidak pernah gagal dalam segi rupa. Ditambah lagi mereka mendapatkan pasangan yang tidak kalah rupawan. Jadi, bisa dibayangkan bagaimana luar biasanya hasil dari pernikahan meraka? Masya Allah.
__ADS_1
Ketika sang istri sudah duduk di sampingnya, Nathan tidak henti-hentinya bersyukur pada sang Maha Cinta. Ia memanjatkan dzikir, serta sholawat pada baginda Rasul atas pencapaian yang ia raih hari ini.
Hal itu pula yang dilakukan oleh Alea. Dengan debar liar di dada, ia melantunkan syukur dan sholawat berulang kali di dalam hati. Sungguh, ia juga benar-benar dibuat terpesona oleh laki-laki yang baru saja memperistri dirinya. Laki-laki rupawan yang baru saja resmi menjadi suaminya. Si pemberani yang berhasil memiliki hati Alea seutuhnya.
Prosesi pertama yang dilakukan setelah Alea tiba adalah tukar cincin. Alea yang masih belum bisa beradaptasi dengan status barunya, beberapa kali tampak menarik tangannya saat Nathan hendak menyentuhnya. Tindakan itu tentu membuat Nathan gemas sendiri, dan beberapa orang tampak tersenyum. Itu berarti selama ini pengantin wanita sangat menjaga sentuhannya. Dengan bantuan sang ayah, Alea pun akhirnya berani disentuh oleh Nathan untuk pertama kalinya.
“Masya Allah.”
Tanpa kedua anak Adam itu sadari, saat kulit meraka sama-sama bersentuhan, mereka sama-sama mengucapkan salah satu kalimat tayyibah. Seolah-olah ada sengatan tak kasat mata yang membuat hati mereka sama-sama berdebar kencang.
Kalimat tayyibah sendiri adalah kalimat yang diucapkan ketika seseorang melihat hal yang baik atau indah, sebagai ekspresi penghargaan sekaligus pengingat bahwa semua itu bisa terjadi hanya karena kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala.
Setelah bergantian menyematkan cincin pernikahan, kini gilian Nathan diberi intrupsi untuk mengecup kening sang istri. Laki-laki tampan itu tampak terdiam dengan tatapan tertuju pada manik bening milik sang istri. Meminta izin. Sedangkan istrinya tampak menunduk, malu. Sungguh, jika bukan di muka umum, Nathan sudah pasti segera membawa sang istri ke dalam pelukan. Girang, senang, bahagia, gemas, semua bercampur menjadi satu.
Namun, prosesi itu tetap harus dilakukan. Maka dengan gerakan sangat hati-hati, seolah-olah Alea adalah barang rapuh yang mudah pecah, Nathan menyentuhnya dengan gerakan sangat lembut. Membawa wajah tampannya agar dapat mengecup kening sang istri, bersamaan dengan bertemunya dua permukaan tubuh itu, ada do’a yang dilangitkan oleh si mempelai pria.
“Bismillahi allahumma barikly fihya wabarik laha fi. Allahumma inni as-aluka khairo-ha wa khaira-ha ma jabaltaha ‘alaihi wa a-‘udzu bika min syarriha wa min syarri majabataha ‘alaihi. (ya Allah berkahilah dia untukku, dan berkahilah untuknya. Ya Allah, aku mohon kebaikannya, dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku lindungi dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa).”
Setelah melangit kan do’a tersebut, Nathan tersenyum hangat kala jarak kembali terbentang di antara meraka. Sekarang sang istri baru mau menatap ke arahnya, walaupun masih malu-malu. Oleh karena itu, Nathan membalas tatapan sang istri dengan senyum se-hangat sinar mentari pagi. Sebagai apresiasi bagi keberanian sang istri. Senyum limited edition yang hanya diberikan pada segelintir orang terpilih. Termasuk Alea. Perempuan terpilih yang sekarang menjadi istrinya.
“As’ssalamualaikum, Ar-rumi. Zaujati. ‘Umu almustaqbal li’awladi. Anna uhibbu kafillah (As'salamualaikum, Ar-rumi. Istriku. Calon ibu dari anak-anakku. Aku mencintai kamu karena Allah).”
✈️✈️
TBC
😇😇🥰🥰😚😚
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, tabur bunga sekebon dan jangan lupa tonton iklan sampai selesai 🙏🏻
Tanggerang 12/09/22