Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 63 : SELAMAT DATANG


__ADS_3

BDJ 63 : SELAMAT DATANG


“Tidak mau diantar oleh supir, Tuan Muda?” ucapan laki-laki paruh baya yang menggunakan seragam khas kepala asisten rumah tangga di kediaman milik keluarga Dwiarga itu membuat lawan bicaranya tersenyum tipis.


“Tidak perlu, Pak. Saya akan berangkat sendiri,” jawab si lawan bicara seraya mengambil kunci mobil dari tangan si bapak kepala asisten.


“Maaf, Tuan Muda. Tetapi tadi Bapak sama Ibu sudah berpesan agar Tuan Muda tidak pergi seorang diri. Setidaknya harus ditemani oleh satu orang.”


“Biar saya yang mengurus masalah itu. Bapak tidak perlu khawatir.”


“Baiklah kalau begitu, Tuan Muda.”


“Saya akan berangkat sekarang.”


Setelah berkata demikian, laki-laki yang malam ini tampil gagah dan rupawan dalam balutan kemeja berwarna dark blue itu kemudian melenggang pergi. Ia harus segera pergi ke bandara Internasional Soekarno Hatta untuk menjemput sang kekasih hati, pesawat yang dinaikinya yang akan lepas landas beberapa jam lagi. Ia sengaja datang beberapa jam sebelum pesawat yang mereka lepas landas, karena saat ini ia bukan berada di Jakarta, melainkan di kota kembang.


Nathan menolak diantarkan oleh siapa-siapa, karena kebetulan hari ini ia yang akan menjadi driver pribadi bagi calon istri beserta keluarganya. Salah satu koleksi mobil mewah milik sang adik jadi pilihan untuk menjemput mereka.


Algean—adik Nathan yang terlahir sebagai anak bungsu dari pasangan Sultan kota kembang, membuatnya diberikan fasilitas mewah yang tidak tanggung-tanggung. Namun, dulu hidup Gean idak seperti apa yang orang luar bayangkan.


Keberadaan Gean pernah sulit diterima oleh Algafiel, bahkan Algafriel—ayah Nathan dan Gean—sempat bertindak ekstrim dengan membatasi interaksi antara ia, istrinya, dan Gean. Nathan yang melihat adiknya diperlakukan demikian tentu merasa sangat sedih, walaupun pada saat itu Nathan masih sangat kecil.


Sampai besar pun, Gean lebih banyak diberikan fasilitas ketimbang curahan kasih sayang. Algafriel sering kali pergi ke berbagai Negara bersama Gea, kemudian membiarkan Gean tinggal sendiri di mansion megah milik mereka. Oleh karena itu, jangan heran jika sejak remaja hobby Gean adalah koleksi barang-barang branded.


Hobby Gean itu sebenarnya hanya peralihan. Ya, peralihan supaya kedua orang tuanya mau memperhatikan Gean. Hasilnya, sekarang showroom pribadi milik keluarga Dwiarga jadi rumah bagi koleksi super cars dan motor cars limited edition milik Gean yang harganya fantastis.


Mobil Lexus full black milik sang adik malam ini jadi andalan Nathan. Lexus adalah brand mobil yang khusus memproduksi mobil-mobil mewah. Lexus juga merupakan bagian dari Toyota Motor Corporation yang memasarkan produk-produk premium di Amerika Utara, Timur Tengah, Eropa, Australia, Asia, dan Selandia Baru.


Ketika baru saja memasuki area driver, pandangan Nathan langsung tertuju pada buket bunga mawar merah yang terdiri dari puluhan tangkai bunga. Buket bunga itu sudah tersimpan dengan cantik di kursi penumpang depan.



Bunga mawar adalah bunga yang paling poluler di dunia dan menjadi favorit banyak orang. Bunga mawar juga memiliki banyak varian warna, mulai dari warna merah, putih, pink, soft pink, oranye, biru, perpaduan antara pink dan oranye, serta hitam. Setiap warna bunga mawar memiliki arti tersendiri.


Saat ini pilihannya jatuh pada bunga mawar merah. Mawar merah sendiri merupakan bunga yang sering diberikan pada pasangan, karena bunga ini dipercaya menandakan rasa cinta, komitmen, romansa, rasa hormat, hingga gairah. Mawar merah juga sering diasosiasikan sebagai tanda bahwa orang yang memberikan bunga tersebut sangat menyayangi si penerima bunga.


“BANG?!”


“Astagfirullah.”


Nathan beristigfar kecil saat mendengar suara dan wajah sang adik yang muncul tiba-tiba di balik kaca pintu mobil bagian samping.

__ADS_1


“Ada apa?” tanya Nathan datar kala berhasil menurunkan kaca pintu mobil.


Bukannya menjawab, laki-laki yang menggunakan pejamas pendek motif salur itu malah cengengesan. “Pinjem handphone dong.”


“Untuk?”


“Telepon handphone punyaku. Lupa naro, nggak tahu di mana.”


Nathan tak habis pikir. “Handphone kamu banyak di laci belajar. Jangan pura-pura.”


Gean menurunkan senyum di wajahnya. “Ini main handphone, Bang. Handphone yang utama dan paling utama, karena pakai benda itu aku berkomunikasi sama ayang, alias my Chèri.”


“Kenapa bisa sampai lupa? Memangnya tadi kamu terakhir pakai dimana?” Nathan berkata seraya menekan icon telepon untuk menghubungi nomer sang adik. “Ini terhubung.”


“Nyambung?”


“Hm. Masuk sana, cari sendiri.”


“Waiting,” ujar Gean. “Ada Mbak, Mbok, sama Bibi yang lagi nyari. Aku mending nungguin di sini.”


“Aku harus segera berangkat Algean,” geram Nathan. Bisa-bisanya sang adik menahannya dengan alasan sepele seperti ini.


“Mau kemana sih? Buru-buru amat, Bang?”


“Lah, ngapain mau ke bandara Soetta? Bukannya Abang nggak ada schedule terbang untuk dua bulan ke depan?”


“Jemput calon istri.”


Nathan menatap sang adik kian sebal, karena tumben Gean menahan pergerakannya seperti ini. Adiknya memang tidak bisa diam, tetapi tidak biasa seperti ini.


“Owh, gitu.” Gean mengangguk-angguk. “Kalau gitu tunggu sebentar lagi, kalau handphone aku ketemu, Mbok, Mbak, atau Bibi pasti bakal ngasih tahu.”


“Aku harus segera pergi.”


“Bentar lagi, Bang. Please. Soalnya handphone itu nggak ada yang punya nomernya di rumah ini, kecuali Mamah, Papah, Abang—“


“Maaf, Den.”


Kalimat Gean terpotong oleh suara familiar milik si Mbak.


“Gimana, udah ketemu, Mbak?” tanya Gean antusias. Ia memang kebingungan mencari benda tersebut setelah bangun dari tidur ayamnya.

__ADS_1


“Ini, Den. Monggo.”


“Woah, mantap!” seru Gean heboh. Ia pun segera mengambil benda pipih tersebut. “Thank you so much, Mbak. Nanti sore Gean traktir makan di TSM deh.”


Nathan yang melihat itu hanya bisa menghela napas datar. Adiknya yang super random dan hanya ada satu di dunia itu sudah lupa akan perbuatannya yang sudah membuang-buang waktu. Tanpa pikir panjang lagi, Nathan langsung menghidupkan mesin agar dapat segera tancap gas.


“Aku pergi. Jangan lama-lama main ke TSM, ingat calon istri di luar negeri,” pesan Nathan sebelum benar-benar meninggalkan area kediaman Dwiarga.


Perjalanan dari Bandung ke Jakarta yang cukup memakan waktu, dijalani dengan penuh suka cita oleh Nathan. Ia akan menjemput calon istri serta keluarganya. Itu adalah alasan kenapa suasana hati Nathan sangat baik kali ini.


Jatuh cinta pada pemilik nama lengkap Alea Ananta Rumi Al-faruq telah membuat Nathan mengetahui berbagai warna baru dalam hidup. Cinta adalah reaksi kimia yang terjadi dalam otak manusia. Prosesnya terkadang tidak bisa dinalar karena berkaitan dengan hormon-hormon di dalam tubuh. Nathan juga mengakui kebenaran dari kalimat tersebut, karena jatuh cinta itu terlalu banyak rasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan memakan waktu, Nathan akhirnya memasuki area bandara Soekarno Hatta. Ia langsung memarkirkan kendaraan, mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangan, kemudian bergegas masuk ke dalam bandara. Sebentar lagi, ia hanya perlu menunggu sebentar lagi. Sang kekasih hati baru akan tampak nyata di depan mata.


Dengan sabar Nathan menunggu, ia juga sempat menjalankan Ibadan di mushola terdekat di area bandara sembari menunggu. Dalam setiap do’a yang terselip dalam sujud, Nathan selalu mengharapkan keselamatan bagi sang calon istri. Mengingat ia sempat mendapatkan feeling kurang enak. Takutnya selama mereka berpisah, di sana Alea tidak baik-baik saja. Namun, keraguan itu langsung terpatahkan saat melihat satu rombongan yang ia tunggu-tunggu sejak tadi—keluar dari pintu kedatangan.


Dan Nathan akhirnya bisa melihat Alea. Oase bagi hatinya yang sempat kering kerontang. Sumber kehidupan yang menyokong banyak sel-sel baru bagi unsur hidup di dalam tubuh Nathan.


“As’salamualaikum,” ujar Nathan menyapa kedatangan keluarga sang calon istri.


“Waalaikum’salam,” sahut Anzar, Airra, dan Alea.


“Selamat datang kembali, Om, Tante, dan Ar-Rumi.” Nathan berkata seraya menahan mata supaya tidak menatap Alea lebih lama. Gadhul bashar, Bang.


“Ini untuk kamu,” tambah Nathan seraya menyodorkan buket bunga mawar segar yang telah ia persiapkan.


“Selamat datang, dan terima kasih telah pulang dengan selamat.”


Nathan sempat berpikiran negatif karena feeling yang tidak enak. Namun, melihat Alea berdiri dalam kondisi sehat wal’afiat seperti ini membuatnya sangat merasa lega.


“Satu lagi, kamu hari ini terlihat seperti biasa.”


“Maksud Kakak?” Alea buka suara. Ia dibuat bingung dengan kalimat yang diucapkan oleh calon suaminya.


Terlihat seperti biasa? Maksudnya, penampilan Alea biasa-biasa saja? begitu?


“Ka’amsalil-lu’lu’il maknun. Surat Al-Waqiah ayat dua tiga,” lanjut Nathan menambahkan.


Kalimat itu ternyata mujarab, karena dapat langsung membuat rona merah samar-samar tercipta di balik cadar yang dikenakan Alea. Al-Waqiah ayat dua tiga, Ka’amsalil-lu’lu’il maknun. Kecantikan laksana mutiara yang tersimpan baik.


✈️✈️

__ADS_1


TBC


Sukabumi 04-09-22


__ADS_2