
BDJ 92 : WISATA MASA LALU
Jarum jam pendek baru menyentuh angka tiga, sedangkan jarum jam panjang menyelinap di antara angka delapan dan Sembilan saat Nathan mengakhiri kegiatan membaca Al-Qur’an. Ia memang bangun pada sepertiga malam—seperti kebiasannya sebelum menikah—untuk melaksanakan salat tahajud. Setelah salat tahajud, Nathan lanjut tadarus Al-Qur’an. Setelah selesai tadarus, ia tidak lupa mencium kitab suci tersebut, lalu mengembalikannya ke tempat semula.
Setelah menyimpan kitab suci di tempat semula, Nathan kemudian berjalan ke arah tempat tidur. Tempat di mana sang istri masih terlelap dengan raut wajah yang tampak damai. Pada kesempatan kali ini Nathan tidak membangunkan sang istri untuk salat tahajud bersama, dikarenakan semalam mereka sempat melakukan ibadah sunah malam jum’at hingga larut malam. Oleh karena itu, Nathan memberikan keringanan pada sang istri, supaya dapat beristirahat lebih lama dari biasanya.
Perempuan cantik itu juga tumben tidak terbangun pada sepertiga malam, seperti biasanya. Itu bererti ia memang tidur nyenyak karena ibadah semalam, atau karena terlalu lelah. Istrinya bahkan langsung tidur setelah mereka mandi wajib, padahal rambutnya masih lembek. Dengan telaten Nathan kemudian mengeringkai rambut hitam nan panjang milik sang istri, sebelum ikut menyusul istrinya ke alam mimpi.
“Zaujati (istriku).” Usapan lembut Nathan berikan di pucuk kepala sang istri seraya memanggil.
“Zaujati (istriku), bangun.”
Pada panggilan kedua, perempuan cantik itu mulai terusik. Kedua kelopak matanya yang tertutup mulai bergerak-gerak, sebelum kemudian terbuka dengan perlahan.
“Bangun Zaujati (istriku), sebentar lagi subuh. Nanti tidurnya boleh dilanjut setelah salat subuh.”
Sang istri yang baru saja membuka mata dan tengah mengumpulkan nyawa, langsung beranjak dari pembaringan. “Aku kesiangan.”
“Tidak,” jawab Nathan. “Ini belum masuk waktu salah subuh.”
“Salat tahajud? Mas tidak membangunkan aku?”
Nathan tersenyum tipis. “Kamu terlihat sangat lelap, aku tidak tega membangunkan.”
Alea menghela napas kecil. Melihat itu, Nathan kian intens mengelus pucuk kepala sang istri.
“Baca do’a dulu.”
“Iya.”
Alea memejamkan mata dengan kedua tangan terangkat di udara. Bibirnya tampak bergerak, membacakan do’a bangun tidur. Nathan yang menyaksikan itu tersenyum kian lebar. Sudah dua minggu ke belakang, aktivitas seperti ini mengisi pagi harinya. Aktivitas yang biasa saja sebenarnya, namun bagi Nathan efek nya sangat luar biasa.
Membuka mata di pagi hari dengan pemandangan berupa wajah cantik sang istri ibarat sebuah mimpi. Mimpi yang dulu hanya ada dalam angan, tiba-tiba terwujud begitu saja.
“Lekas ambil air wudhu, lalu kita salat subuh berjamaah.”
Alea mengangguk. Ia kemudian segera beranjak dari tempak tidur, hendak menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Namun, cekalan sang suami pada pergelangan tangannya menahan gerakan Alea.
“Ada yang kamu lupakan.”
“Apa mas?”
__ADS_1
“Morning kiss.”
Blush.
Alea langsung blushing mendengar ucapan sang suami yang lugas tersebut. “Maksud Mas?”
Nathan tersenyum kecil tanpa buka suara, namun wajah rupawan itu kian mendekat ke arah sang istri. Membuat istrinya ketar-ketir sendiri.
“Mas?” lirih Alea.
Nathan tidak menggubris. Ketika wajah mereka tinggal beberapa senti lagi, Alea refleks menutup mata. Sepersekian detik berikutnya, ia dapat merasakan satu kecupan ringan jatuh di keningnya.
“S-udah?” tanya Alea dengan suara kecil. Saat membuka mata, wajah sang suami masih berada dalam radius yang cukup membuat jantung jedag-jedug.
Nathan mengangguk seraya berdiri, menjulang tinggi di depan sang istri. “Ayo.”
“Kemana, Mas.”
“Kamar mandi.”
“Astagfirullah, iya. Ayo,” jawab Alea seraya menerima uluran tangan sang usami. Namun, ia tiba-tiba sadar akan situasi mereka saat ini. Ke kamar mandi berdua? sepertinya ada yang janggal.
“Mau wudhu lagi. Barusan ‘kan batal karena morning kiss kamu, Zaujati (istriku),” ungkap Nathan dengan senyum sejuta volt yang mampu menggetarkan hati sang istri dengan begitu dahsyat pagi ini.
✈️✈️
Sisa waktu yang dimiliki Nathan dan Alea di tanah air bisa dihitung dengan jari. Oleh karena itu, selagi mereka masih di kota Kembang, Nathan ingin sang istri puas menikmati honeymoon mereka di tanah Pasundan tersebut. Sebelum kembali ke New York, mereka akan kembali ke mansion Radityan terlebih dahulu. Di sana mungkin beberapa malam akan mereka habiskan, sebelum pulang ke New York. Dilanjut persiapan untuk berangkat ke tanah suci.
Hari ini agenda Nathan dan Alea adalah piknik. Iya, piknik di rumah lama Didi Dimas, ayah bunda Aurra. Rumah yang terdiri dari satu lantai itu memang tidak terlalu besar. Dilengkapi dengan tiga kamar yang terdiri dari satu master room yang dulunya kamar Dimas, sedangkan dua lagi kamar tidur Aurra dan Zega. Karena Zega dulu suka sekali hiking ke puncak gunung, kamarnya kerap kali dijadikan kamar tamu ketika tidak berpenghuni.
Walaupun sudah tidak ditinggali, rumah yang diwariskan pada Aurra itu tetap terawat dengan baik. Dikarenakan ada yang menjaga serta mengurusnya. Jika dulu menjaga rumah tersebut adalah mantan pekerja di kediaman Haidan, sekarang penjaga rumah ini sudah diturunkan ke generasi kedua, yaitu anak dari Mbok Jah (penjaga rumah yang lama (read on Bukan Salah Jodoh part 43 : Harapan dan Bunga Mimpi).
Rumah bersejarah tersebut menyimpan banyak sekali kenangan tentang keluarga Haidan. Terutama tentang seorang dokter muda bernama Dimas Barack Al-haidan yang harus menjadi single parents di usia yang tergolong masih sangat muda.
Di rumah itu pula, cinta pada pandangan pertama terjadi antara Van’ar dan Aurra. Dikarenakan kediaman Dimas tidak jauh dari kediaman Arkia (orang tua Van’ar), sejak kecil Van'ar memang kerap berkunjung untuk main atau sekedar numpang mancing ikan di kediaman Dimas.
Intinya, pada setiap jengkal di kediaman tersebut, ada memori di masa lalu yang pasti tertinggal.
“Makan dulu, Mas. Nanti lihat-lihat lagi,” ujar Alea yang sejak tadi tengah menata makanan di atas meja.
Mereka mendapatkan ide untuk piknik di sana setelah mendapatkan izin dari si empunya rumah untuk main-main ke sana.
__ADS_1
“Kamu memangnya bawa bekal apa dari rumah Zaujati (istriku)?”
“Nasi kuning. Tadi katanya Mamah sengaja beli, soalnya sedang ingin makan nasi kuning. Kebetulan disuruh bawa banyak, jadi aku sekalian bagi-bagi ke Mbak Minah.”
“Sepertinya enak,” komentar Nathan.
Satu porsi nasi kuning sudah tersedia di depan mata, lengkap dengan irisan telur yang didadar, orek tempe, telur balado, oseng bihun, serta taburan bawang goreng di atas nasi kuningnya. Tidak ketinggalan pula kerupuk sebagai pelengkap.
“Kalau begitu Mas makan dulu. Nanti kita lanjut lihat-lihat lagi.”
Nathan tersenyum tipis seraya mengambil antibacterical hand sanitizer non alkohol yang ada di dekat box tisu. “Rumah ini teras hangat dan nyaman, walaupun sudah lama tidak ditinggali.”
“Iya, Mas. Tapi kata bunda setiap beberapa bulan satu kali, tempat ini selalu disinggahi. Ketika sedang berlibur di Bandung, Bunda sama Ayah juga suka menginap di sini.”
“Hm. Mungkin karena di tempat ini sangat kental akan memori di masa lalu.”
Alea mengangguk seraya menuangkan air minum untuk sang suami. “Makanya tempat ini jadi salah satu pilihan ketika Ayah dan Bunda berniat untuk keluar dari mansion Radityan. Akan tetapi, Opa sama Oma melarang. Mansion Radityan ‘kan besar, jadi Opa dan Oma berpikir bahwa akan terasa sangat sepi jika hanya mereka dan keluarga Tante Lunar yang tinggal di sana. ”
Nathan paham betul maksud dari keinginan para tetua di keluarga Radityan. Bagaimana pun juga keluarga Radityan memang keluarga besar, dan mereka memiliki hunian yang juga terbilang sangat mewah, serta dilengkapi dengan berbagai fasilitas canggih yang memadai. Semua itu tidak mengherankan, mengingat ancaman bisa datang dari mana saja, mengingat keluarga Radityan yang selalu terlihat baik dengan segala citra bersih yang ditunjukkan di depan publik, di luar sana banyak yang iri, dengki, hingga benci.
“Datang ke rumah ini rasanya seperti wisata masa lalu,” ujar Alea tiba-tiba.
“Hm?”
“Rumah ini adalah tempat yang selalu tercantum dalam setiap cerita Bunda. Cerita tentang bagaimana Ayah Van’ar jatuh cinta pada putri si pemilik yang lebih tua lima tahun dari Ayah Van’ar.”
“Usia hanya angka ketika bicara soal cinta,” respon Nathan. “Semenjak 1400 tahun yang lalu, kita sudah belajar soal itu dari kisah Rasulullah.”
Alea tersenyum lebar seraya mengangguk-anggukan kepala. “Aku juga belajar itu dari kisah cinta Ayah dan Bunda yang sangat berliku. Termasuk peran serta Papah yang pernah membuat satu generasi Radityan kacau balau. Namun, semua sudah diatur dengan rapih oleh yang Maha Kuasa semenjak manusia berusia 120 hari dalam kandungan seorang ibu. Jadi, pada akhirnya, Ayah, Bunda, maupun Papah bisa mengecap bahagia dengan orang-orang yang tepat.”
“Sama seperti kita,” timpal Nathan. “Pada akhirnya bisa mengecap bahagia dengan orang yang tepat.”
✈️✈️
TBC
Jika suka jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘
Tanggerang 11-20-22
__ADS_1