
BDJ 46 : HADIAH TERBAIK
“Sudah merasa jauh lebih baik, Ar-Rumi?”
Dengan gerakan perlahan, Muezza dan Mauza diturunkan dari gendongan. Bersamaan dengan anggukan kepala yang ia berikan. Entah berapa lama ia menangis dalam diam. Yang lebih memalukan adalah ia menangis di depan calon suaminya.
Bagi Alea, menangis adalah salah satu bentuk dari kelemahan. Ia merasa jadi sangat lemah saat menitihkan air mata. Sekarang ia malah jadi terlihat lemah di depan calon suaminya sendiri. Alea merasa sedikit malu. Sungguh, Alea malu. Namun, mau bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Akan tetapi, Alea juga merasa bersyukur karena ada yang menemaninya selain Muezza, Izaan, Mauza, dan Jarrah. Biasanya para anabul—anak berbulu—itu yang menemani Alea dikala senang maupun sedih.
“Forget about the one who caused you pain,” kata laki-laki yang saat ini duduk bersila di hadapan Alea dengan Izaan dan Jarrah dalam pangkuan. Kedua anabul itu tampak anteng bermain dengan laki-laki yang bekerja sebagai Pilot tersebut.
“Lupakan seseorang yang membuatmu sakit. Qur’an surat At-Taubah ayat empat puluh,” tambah Nathan. Ia mencoba membuat Alea mengerti jika terkadang melupakan dapat jadi pilihan.
“Kakak tahu sesuatu soal Annante dan sir Louis?” tanya Alea dengan suara kecil.
“Tidak,” jawab Nathan jujur. “Aku juga baru tahu. Namun, sebagai seorang laki-laki aku sudah tahu bahwa sejak awal CEO Anderson menyimpan rasa tertarik terhadap kamu.”
“….”
“Apakah kebenaran yang baru terungkap ini akan mempengaruhi keputusan kamu untuk mempertimbangkan pernikahan kita?”
“InsyaAllah, tidak.” Alea menjawab seraya melipat sapu tangan Nathan yang sudah lembab menjadi bagian yang lebih kecil. “Aku hanya terkejut mengetahui jika orang yang aku percayai ternyata telah bermain api.”
“Terkadang, kita hanya dipertemukan sementara. Bukan untuk dipersatukan selamanya.”
“….”
“Ada banyak cara yang dapat Tuhan lakukan untuk membuat kita sengsara sebagai ajang penguji iman. Jika hari ini kamu mengetahui tabiat asli teman dekat kamu, kamu harus bersyukur karena Allah azza wajalla masih membuka mata dan hati kamu supaya dapat meninggalkan manusia toxic yang berlindung dibalik kata teman.”
Nathan memang tidak memiliki banyak teman. Itu bukan karena ia pilih-pilih teman, melainkan karena orang-orang yang ingin berteman dengan Nathan pada akhirnya kabur satu per satu, karena alasan tidak satu frekuensi. Contoh, jika ada acara party yang diselenggarakan di tempat hiburan malam atau sejenisnya, Nathan akan langsung menolak untuk bergabung. Kenapa? Karena pola pikir Nathan yang masing memegang teguh budaya timur.
Nathan menjauhi apa yang telah Allah azza wajalla larangan. Seperti minuman beralkohol, daging ba—bi, hubungan seksual di luar nikah atau berzina, berkhalwat atau berduaan dengan lawan jenis, dan sebagainya. Oleh karena itu Nathan jarang memiliki teman jika temannya tidak toleransi terhadap agama dan prinsip yang Nathan pegang.
Omong-omong soal berkhalwat atau berduaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim di tempat sunyi atau tersembunyi, apa saat ini Nathan dan Alea termasuk berkhalwat?
Mereka saat ini duduk lesehan di ruang baca milik keluarga Keevanzar Radityan Al-faruq. Tempat di mana rumah tinggal Muezza, Izaan, Mauza, dan Jarrah berada di balik sebuah ruang kaca yang telah didesain secara khusus.
“Kamu sudah merasa lebih baik, Ar-Rumi?”
“Iya, kak. Kenapa memangnya?”
Nathan menggaruk tengkuk seraya tersenyum tipis. “Kita belum boleh duduk berdua lama-lama, karena belum memiliki ikatan yang membuat kita bisa saling berkhalwat sesuka hati.”
“Astaghfirullah haladzim,” Alea langsung beristigfar seraya beranjak dari posisi duduknya. Namun, ia tetap menjaga pandangan. Gadhul bashar. Alea hampir saja lupa jika sejak tadi mereka hanya berdua dan ditemani oleh Muezza, Izaan, Mauza, serta Jarrah.
“Kak Nathan datang ke sini untuk menjenguk papa bukan? Maaf telah menahan kakak cukup lama di sini. Papa sedang beristirahat di kamar tamu karena menolak tidur di master room yang ada di lantai atas.”
“Aku memang datang untuk menjenguk om Anzar. Namun, aku tidak pernah merasa keberatan untuk menemani kamu.” sekalipun aku harus menemani kamu seumur hidupku—lanjut Nathan di dalam hati.
__ADS_1
“Tapi ….kita telah berkhalwat, kak,” lirih Alea dengan suara kecil.
“Kita tidak berdua, tetapi berenam.”
“Maksud kakak?”
“Muezza dan saudara-saudaranya ada bersama kita,” balas Nathan dengan nada tentang.
“Tapi tetap saja, kak. Kita telah berkhalwat. Kita harus meminta ampunan atas dosa besar yang telah kita perbuat.”
“Alea.”
“Kita harus melakukan salat sunnah taubat seraya….” Alea tidak lagi melanjutkan kalimatnya saat sadar jika ada yang ambigu dalam kalimatnya. “Maksudnya, kakak sama Alea salat sunnah masing-masing untuk meminta pengampunan.”
Nathan diam-diam tersenyum mendengar sang pujaan hati yang salah tingkah. “Kamu bisa tenang saja, Alea. Karena dari tadi kita tidak berkhalwat.”
“Maksud kakak? Jelas-jelas sejak tadi kita hanya berdua. Ehm, maksudnya bersama Muezza, Izaan, Mauza, dan Jarrah.”
“Ada mama juga di sini.”
Alea sontak menoleh ke arah di mana suara familiar itu terdengar. Ternyata benar, ada sang ibu yang entah sejak kapan duduk tidak jauh dari tempat Alea dan Nathan lesehan.
“Mama ….sejak kapan duduk di situ?”
“Semenjak putri mama menangis,” jawab Airra. “Alea tidak berkhalwat dengan Nathan, karena mama juga ada di sini sejak tadi.”
“Bukannya tadi mama mau mengecek kondisi papa?”
“Tidak perlu repot-repot, tante.”
“Nggak repot kok. Tolong di tunggu sebentar ya, calon menantu. Kamu pasti haus.”
“Iya, tante,” jawab Nathan dengan suara sedikit kikuk.
“Mama pergi ke dalam dulu sebentar,” kata Airra sebelum benar-benar pergi meninggalkan Alea dan Nathan.
Kedua anak Adam yang kini sudah berdiri berhadapan dengan jarak yang membentang cukup panjang itu tampak kikuk satu sama lain. Padahal beberapa saat yang lain mereka terasa sudah begitu dekat. Seperti sudah saling mengenal satu sama lain. Namun, sekarang kembali seperti orang asing.
“Kak.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
“Untuk?”
“Waktu yang telah kakak luangkan saat menemani Alea,” ujar Alea seraya menunduk. Memusatkan tatapan pada engagement ring yang melingkari jari manisnya. Cincin yang tida dapat dikatakan murah, walaupun modelnya sederhana.
Geasya—ibu Nathan—yang mendesain model engagement ring Nathan dana Alea. Hingga saat ini ibu Nathan juga masing suka mengirim barang-barang untuk Alea. Mulai dari tas, gamis, hijab, niqab, perhiasan, hingga barang-barang kecil lain. Orang tua Nathan memang baik. Terutama ibunya, karena Geasya adalah tipikal ibu yang ramah dan royal.
__ADS_1
“Sama-sama,” kata Nathan seraya mengumbar senyum yang tidak dapat ia tahan lagi.
Ali Bin Abi Thalib pernah berkata, ‘Jika engkau sedang berusaha meluluhkan hati seseorang, maka luluhkanlah lewat Do’a.’
Mungkin, hari ini adalah jawaban dari do’a yang dulu selalu Nathan panjatkan. Do’a dalam setiap sujud yang dilangitkan dalam sepertiga malam. di dalam do’a tersebut, terselip nama yang sama yang selalu Nathan perkenalkan pada Allah azza wajalla bahwa si pemilik nama itulah yang ingin Nathan dapatkan untuk dipinang menjadi calon istri yang akan menyempurnakan agamanya. Sekarang Nathan sudah menyadari jika Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang telah mengabulkan do’anya.
Tinggal butuh satu langkah lagi, yaitu keyakinan sang pujaan hati agar mau segera dipersunting dalam waktu dekat. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ada saja halangan dan rintangan yang terus malang-melintang. Nathan harap, apapun cobaannya, semoga ia dan sang calon istri tetap istiqomah sampai resmi menjadi suami istri.
“Kakak bisa tunggu di ruang tamu dulu. Alea ….mau mengecek papa,” kata Alea, memecahkan keheningan yang sempat menguasai atmosfir di antara mereka.
“Hm.”
“Nanti Alea akan sampaikan ke papa kalau kakak datang lagi untuk berkunjung.”
“Tidak perlu. Biarkan om Anzar beristirahat. Aku bisa datang lagi besok untuk berkunjung,” kata Nathan. Ia tidak mau menganggu waktu istirahat sang calon mertua.
Alea mengangguk paham seraya bergerak guna meninggalkan Nathan. Namun, sebelum benar-benar pergi meninggalkan laki-laki itu, suara familiar miliknya yang selalu enak didengar indra pendengaran, berkata.
“Alea, apa kamu tahu salju adalah hadiah musim dingin.”
“Hm?”
“Sedangkan bunga adalah hadiah musim semi.”
“Hmm?”
“Wa anta ajmal hadiyah pii hayaatii.”
Satu kalimat berjuta makna. Satu kalimat, namun mampu membuat Alea sangat bahagia. Satu kalimat, tetapi berhasil membuat sebagian dari diri Alea yakin jika kalimat itu juga berlaku untuknya. Wa anta ajmal hadiyah pii hayaatii—dan kamu hadiah terindah dalam hidupku.
Nathan memang bukan tipikal laki-laki yang banyak bicara. Namun, sekalinya bicara maknanya selalu deep alias dalam. Tahu Keevan’ar Radityan Az-zzioi? Om Alea? Adik dari ayah Alea?
Laki-laki paruh baya yang berprofesi sebagai TNI Angkatan Darat yang juga personil dari Komando Pasukan Khusus atau KOPASUS dengan ciri khas baret berwarna merah. Nah, sifat Nathan ini sekilas sama seperti Van’ar. Jarang bicara, lebih banyak mengutamakan tindakan dan aksi. Namun, sekalinya berbicara, meleleh hati hayati bestie. Kata-kata yang keluar dari mulutnya seolah-olah telah dipertimbangkan matang-matang, sehingga damage-nya begitu Dahsyat.
✈️✈️
TBC
DOUBLE UPDATE NIH, MANA SUARANYA??
LANJUT? RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR DULU. TERUS LIKE, VOTE, FOLLOW AUTHOR & BOOM BUNGA 💐💐
Sukabumi 22-07-22
REKOMENDASI NOVEL KEREN UNTUK KAMU!
Adhara Andromeda, seperti namanya yang berarti bintang paling terang di antara rasi bintang. Adhara adalah gadis ceria yang selalu menerangi orang di sekitarnya. Adhara bukanlah gadis dari keluarga kaya, ia hanya gadis biasa yang berhasil masuk dalam sekolah elit. Namun, di hari pertamanya sekolah ia malah harus terjebak pada tiga laki-laki tampan yang di sebut pangeran sekolah. Masalah tak pernah henti melibatkannya pada ketiga pangeran tersebut. Hingga rasa sayang menjebak mereka, ketiga pangeran tersebut perlahan menyayangi Adhara dengan rasa yang berbeda. Sedangkan Adhara juga mulai menyayangi mereka delam berbagai arti menyayangi. Bagaimana Adhara akan menghadapi setiap masalahnya bersama tiga pangeran tersebut? Baca ceritanya agar kalian tidak penasaran siapa yang kira-kira akan menarik hati Adhara dan menjadi pelabuhan untuk gadis itu. Arche dengan sikap hangat nya, Chan dengan sikap dinginnya, Atau Antariksa dengan sikap kasarnya?
__ADS_1
--