
°BDJ 49 : INI BUKAN SALAH KAMU
“Mereka semua kemana Lou?”
Nata yang baru saja kembali bertanya pada sang putra. Pasalnya saat ia kembali, sudah tidak ada siapa-siapa di sini selain putranya seorang diri. Bed pasien yang tadinya ditempati oleh mantan kekasih di masa lalu, kini sudah kosong dan telah dirapihkan kembali. Nata memang pergi cukup lama karena mencarikan suami dan putranya makanan untuk mengisi perut. Saat hendak kembali, Lucas tiba-tiba minta dibelikan ice grean green tea. Jadilah ia harus menuruti permintaan putra bungsunya itu. Saat ini Lucas sedang bersama sang appa di taman rumah sakit guna menghabiskan ice cream green tea yang mereka beli.
“Pergi,” jawab sang putra sekenanya.
“Pergi?” bingung Nata yang tengah membuka beberapa Tupperware berisi nasi putih hangat beserta lauk-pauknya.
Nata memang sempat menghubungi asisten rumah tangga di rumahnya untuk memasak beberapa menu makanan, kemudian dikirim ke rumah sakit. Nata sedih melihat Louis yang tampak enggan menelan makanan rumah sakit yang pasti rasanya tidak sesuai selera sang putra. Padahal makanan di rumah sakit tempat Louis dirawat cukup menggugah selera dengan menu yang bervariasi. Misalnya salmon dengan saus krim, nasi atau bisa diganti dengan mashed potato, sup labu, dan kue pisang. Bahkan ada pula menu steak yang disajikan pada pasien.
Asisten rumah tangga Nata kemudian mengirimkan tumis chikuwa shirataki yang terbuat dari bahan dasar cedea chikuwa mushroom dan shirataki yang dibumbui bawang putih, soy sauce atau kecap asin, saus tiram, serta ditambah irisan wortel dan daun bawang. Disajikan dengan taburan biji wijen agar lebih nikmat. Ada pula lauk lain seperti chicken yakiniku, creamy mushroom soup, mun tahu seafood, salad, yoghurt, potongan buah segar, hingga chicken nugget kesukaan Lucas. Sepertinya makanan itu buka cuma untuk Louis, tetapi untuk mereka berempat.
“Alea dan orang tuanya sudah pulang.”
“Pulang? Bagaimana bisa mereka pulang di saat ayahnya ….masih sakit?” lirih Nata di akhir kalimatnya.
“Mereka mungkin merasa tidak nyaman,” sahut Louis, menebak-nebak.
Nata hanya diam tak menjawab. Apa benar begitu? Namun, saat ini kondisi Anzar seharusnya yang jadi perioritas. Bagaimana jika laki-laki itu terluka semakin parah karena tidak mendapatkan perawatan yang intensif. Atau bahkan….
“Eomma?”
“….”
“Eomma?”
“Ne?!”
Louis menatap sang ibu dengan pandangan lurus, cenderung menelisik. “Eomma baik-baik saja?”
“Iya, tentu saja.” Nata menjawab seraya tersenyum kecil. “Apa ….terjadi sesuatu selama eomma dan appa pergi?” tanya Nata hati-hati.
“…..”
“Louis?”
“Hm, ada sedikit masalah,” ungkap Louis. “Tadi sempat ada tamu yang berkunjung.”
“Iya. Lalu?”
__ADS_1
“Dia adalah sekretaris sekaligus teman dekat Alea.”
“Oh, ok. Eomma mengerti. Dia pasti datang untuk menjenguk ayah Alea bukan?” tebak Nata. Ia dengan telaten mendengarkan cerita sang putra secara memindahkan beberapa menu makanan.
“Bukan begitu Eomma.”
“Bukan begitu? Maksudnya?”
“Dia datang untukku,” ujar Louis dengan pandangan menerawang ke depan. “Kami ….sempat memiliki hubungan terbuka.”
“Kamu ….memiliki hubungan terbuka dengan sekretaris sekaligus teman dekat Alea? Dan dia datang ke sini untuk menjenguk kamu, alih-alih ayah dari sahabatnya?” Nata tidak dapat menutupi rasa terkejut di wajahnya. Hubungan terbuka macam apa? Nata tahu jika sang putra bukan tipe laki-laki yang akan mengajak berhubungan jika tidak memiliki tujuan.
‘Sialnya, iya. Dia datang kepadaku, bukan kepada sahabat yang sangat mempercayai dirinya,’ jawab Louis di dalam hati.
“Diam berarti eomma anggap sebagai jawaban dari pertanyaan barusan,” kata Nata seraya menatap sang putra. “Apa kamu ….pernah tidur dengan sekretaris sekaligus teman dekat Alea itu?”
“Eomma ….aku ….” Kalimat Louis tak sampai rampung di ucapkan, karena laki-laki itu kebingungan untuk mencari kata-kata yang pas untuk menyelesaikan kalimatnya.
“Jawabannya sudah eomma dapatkan.” Bukannya memberi pertanyaan untuk dijawab sang putra, pada akhirnya Nata mencari jawaban sendiri dari pertanyaan barusan. Ia bisa melihat jawaban dari pertanyaan tersebut di bola mata sang putra.
Nata kemudian mengambil langkah untuk mendekati Louis. Menarik kursi di dekat bed pasien, lalu menduduki kursi tersebut dengan pandangan tak lepas dari sang putra. Diraihnya salah satu punggung putranya itu.
“Sebenarnya eomma sengaja memberi kamu dengan Alea ruang, sekali pun ada orang tua Alea di sini. Eomma tahu mereka benci pada eomma karena di masa lalu eomma memang sangat menjijikan. Eomma bahkan sempat mengemis untuk kembali pada ayah Alea ketika tengah mengandung kamu. Namun, eomma selalu berharap jika putra eomma yang tidak tahu apa-apa tidak disalahkan karena kesalahan yang dulu eomma buat. Louis tidak tahu apa-apa. Louis putra eomma tidak ada sangkut pautnya dengan masa lalu eomma yang kelam.
Oleh karena itu, eomma awalnya senang saat melihat Louis tampak tertarik pada Alea saat pertama kali bertemu. Saat itu eomma juga belum tahu kalau Alea adalah putri dari mantan kekasih eomma. Sungguh, eomma tidak pernah menyangka jika akan bertemu dengan putrinya tanpa sengaja. Sejak dulu eomma selalu dihantui rasa bersalah, karena pernah menghancurkan hidup laki-laki yang sangat eomma cintai. Karena eomma, hidupnya hancur. Dia bahkan sempat dibuang oleh keluarganya, karena telah membangkang demi eomma.”
“Eomma, apa boleh aku bertanya?”
“Ya …katakan saja,” jawab Nata seraya berusaha tegar.
Sedangkan Louis tampak ikut berusaha membuat sang ibu terhibur. Laki-laki dengan netra abu-abu itu dengan telaten menyeka air mata sang ibu. Tindakan yang belum pernah ia lakukan pada perempuan lain di luar sana.
“Apa pendosa sepertiku sangat tidak pantas untuk Alea?”
“….”
“Apa pendosa sepertiku tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan Alea?”
Tangis Nata semakin menjadi-jadi mendengarnya. Ia tak dapat menjawab pertanyaan sang putra, karena ia sadar ada tembok yang menjulang begitu tinggi di antara mereka. Nata tidak yakin, apakah Louis akan bisa melewati tembok itu atau tidak.
“Eomma, kenapa tidak menjawab?”
“Louis …..my son.….” panggil Nata lirih. “Di antara kamu dan Alea, ada tembok pemisah yang terlalu tinggi. Eomma saja ….tidak yakin apa kalian bisa melewatinya atau tidak.”
__ADS_1
“Aku bisa,” jawab Louis. “Aku bisa melewatinya, eomma.”
“Ini bukan semudah yang kamu bayangkan, Louis. Setidaknya jika ingin mengejar Alea, kamu harus memperbaiki diri terlebih dahulu. Apa kamu yakin bisa melakukan itu?”
“Louis bisa.”
“Apa kamu yakin? Apa kamu bisa mengatasi perbedaan yang paling menonjol di antara kalian?”
“Perbedaan apa itu?”
“Keyakinan,” ujar Nata seraya menatap sang putra lekat. “Walaupun kita berada di amin yang sama, namun keyakinan kita berbeda, itu akan sangat sulit untuk diatasi. Kamu bisa lihat sendiri tipikal seperti apa Alea? Dia adalah gadis yang taat akan kepercayaan yang dia percayai. Dalam kepercayaan yang Alea percayai juga melarang pernikahan berbeda keyakinan.”
“….”
“Eomma berkata seperti ini bukan karena eomma ingin mematahkan semangat kamu. Tetapi, karena eomma sudah merasakan dan mengalami semua itu.” Nata mengelus punggung tangan sang putra lembut, mencoba membuat sang putra tenang agar mudah mengerti. “Keluarga mereka—keluarga Radityan sejak dulu dikenal sebagai keluarga yang taat akan agama yang mereka percayai. Saat eomma menjalin hubungan dengan ayah Alea, eomma bisa merasakan rintangan setiap saat karena perbedaan keyakinan di antara kami. Pacaran saja sudah termasuk larangan dalam kepercayaan mereka, dan ayah Alea melanggar larangan itu karena mencintai eomma.
Kami bertahan selama lima tahun dengan cara pacaran secara sembunyi-sembunyi. Namun, pada akhirnya itu menjadi bom waktu yang dapat meledak kapan saja. Puncaknya terjadi saat eomma mendatangi ayah Alea dan membujuknya untuk lari bersama. Saat itu eomma nekad melakukannya karena tidak mau ayah Alea menikah dengan wanita lain. Siapa sangka, saat itu eomma sedang mengandung kamu. Eomma egois. Eomma sudah mengkhianati ayah Alea, namun tetap egois ingin mendapatkan ayah Alea untuk eomma.”
“Jadi aku lahir….”
Nata menggelengkan kepala. “Kamu memang hadir tanpa rencana, namun eomma tidak pernah menyesali kehadiran kamu. Sekali pun eomma sangat membenci ayah kamu, tapi eomma juga sangat bersyukur karena kehadiran kamu mampu membuat eomma terus bertekad untuk tetap melanjutkan hidup.”
“Pasti hidup eomma sangat sulit karena aku,” lirih Louis dengan kepala yang menunduk. Ia merasakan sesak mulai menyerang rongga dada. Kehadirannya memang tidak pernah diharapkan. Ia hadir karena keegoisan sang ayah. Laki-laki bajing*n yang telah merusak hidup sang ibu.
“Memang sulit, tetapi eomma berhasil melewatinya berkat kamu,” balas Nata seraya menyentuh rambut sang putra. “Eomma tidak pernah menyesal mempertahankan kamu. Sekali pun eomma harus kehilangan pria yang eomma cintai, serta karir yang eomma dapatkan susah payah. Eomma tidak pernah menyesal untuk itu.”
“Maaf, eomma.”
Untuk pertama kalinya setelah tumbuh menjadi laki-laki dewasa yang telah melanglang buana kemana-kemana, Louis menangis di hadapan sang eomma. Ia merasa begitu menyesal telah menjadi anak yang kurang ajar karena tidak tahu terima kasih. Selama ini ia hidup dengan bebas, mempermainkan banyak wanita, tanpa mengetahui jika ia telah menjelma menjadi seperti sang ayah—si bajing*n yang dulu menghancurkan hidup wanita yang ia cintai.
Selama ini Louis tidak tahu jika kehidupan yang eomma-nya lewati di masa lalu sangatlah terjal dan berliku. Ditambah lagi eomma-nya harus mengubur luka di masa lalu demi menjaga dirinya. Oleh karena itu, Louis hidup semena-mena tanpa mengetahui perjuangan sesungguhnya yang dilakukan Nata semenjak mengandung dirinya.
“Sekarang aku harus bagaimana, eomma?” tanya Louis dengan suara sengau. Sebelah tangannya yang bebas juga mengepal begitu kuat, menahan sesak yang kian kuat menyerang. “Aku harus apa?”
“Kamu hanya perlu melakukan apa yang menurut kamu benar untuk kedepannya. Perbaiki diri kamu, sayang. Perbaiki sampai kamu bisa menjadi ‘layak’ untuk perempuan mana pun nantinya akan kamu perjuangkan.” Nata tersenyum hangat sembari membawa sang putra dalam dekapan.
“Pesan eomma cuma satu, setiap orang yang baik punya masa lalu yang buruk. Setiap orang yang buruk punya masa depan yang terbaik. Kamu tidak perlu memperdulikan cacian dan makian orang-orang di luar sana, karena bisa saja suatu saat nanti Louis berubah dan menjadi lebih baik dari mereka.”
✈️✈️
TBC
GIMANA PERASAAN KALAU BACA PART INI? MSU LANJUT? KALAU RAME AKU DOUBLE UPDATE 😘
__ADS_1
DON'T FORGET TO LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR, SHARE & TABUR BUNGA SEKEBON 💐💐💐💐
Sukabumi 27/07/22