Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 39 : MENGANTONGI BANYAK RESTU MENIKAHI KAMU


__ADS_3

BDJ 39 : MENGANTONGI BANYAK RESTU MENIKAHI KAMU



Louis yang sebenarnya percaya pada keberadaan Tuhan, tetapi tidak menyakini salah satu agama. Ia juga bukan manusia yang agamis, karena lebih cenderung memilih jadi manusia yang logis. Oleh karena itu, Louis tahu jika perbedaan antara ia dan perempuan yang membuat hatinya tertarik ada benteng yang menjulang begitu tinggi. Namun, ia tak pernah membayangkan akan gagal berjuang sejak dini. Bagaimana mungkin ia kecolongan satu informasi besar ini? Alea sudah memiliki calon suami.


Sial, Louis ingin tertawa terbahak-bahak mendengar fakta yang meluncur bebas dari mulut ayah perempuan yang ingin ia perjuangkan. Jika memang benar sudah ada ikatan di antara mereka, lantas kenapa berita yang seharusnya ‘membahagiakan’ itu tidak disebar-luaskan? Kenapa malah dirahasiakan? Berujung pada ketidaktahuan Louis soal fakta tersebut.


Padahal berita bahagia itu sengaja dirahasiakan karena Alea dan Nathan sendiri memilih untuk menjalin hubungan secara diam-diam atau backstreet. Mereka juga ingin beradabtasi dan situasi dan kondisi dalam lingkungan sosial yang mereka tinggali. Dalam ajaran agama isalam, Louis tidak tahu saja, jika ada sebuah hadist yang berbunyi, “Umumkan pernikahan dan rahasiakan lamaran.”


Hadist tersebut diriwayatkan oleh Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus. Namun hadis ini bersifat daif atau lemah, sebagaimana keterangan Al-Baihaqi. Ada pula hadist shahih dari Zubair bin Awam radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umumkanlah nikah.” (Hadist Admad 16130, Ibu Hibban 4066 dan dihasankan Syuaib Al-Arnauth).


Sebagian para ulama memang menganjurkan untuk merahasiakan lamaran, hal ini dalam rangka menghindari setiap peluang hasad—dengki atau kedengkian—yang dapat memicu seseorang berkeinginan untuk menggagalkan rencana pernikahan.


Sikap ini sejalan dengan hadist dari Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “gunakan cara rahasia ketika ingin mewujudkan rencana. Karena setiap pemilik nikmat, ada peluad hasadnya.” (Hadist riwayat Thabrani dalam Al-Ausath 2455 dan dishahihkan Al-Albani).


“Kemarilah, Nathan. Duduk di sini,” panggil Anzar seraya tersenyum kecil.


Laki-laki tampan dengan hoodie hitam itu mengangguk, lantas melirik sang tunangan yang berdiri di sampingnya. Perempuan berhijab itu juga memberikan anggukan, lalu ikut mengambil langkah untuk mendekati sang ibu.


“Kamu baru tiba langsung ke sini?” tanya Anzar saat Nathan sudah berdiri di samping bed yang ia gunakan.


“Iya, om. Tadi langsung ke sini dari bandara JFK.”


“Memangnya kamu tidak capek? Kenapa repot-repot langsung datang ke sini.”


“Saya baik-baik saja, om. Lagi pula saya ikut mencemaskan kondisi om setelah mendapatkan informasi jika om terkena musibah.” Nathan berbicara dengan nada datar namun tetap terdengar ramah di telinga. “Karena buru-buru datang ke sini, saya tidak menyiapkan apa-apa. Hanya ada beberapa buah tangan yang sempat saya beli.”


“Tidak perlu repot-repot. Kamu juga tidak perlu ikut-ikutan cemas, lagipula ini cuma luka kecil,” kata Anzar jumawa seraya menepuk-nepuk bahu calon menantunya itu.


Semua interaksi dan gerak-gerik mereka agaknya tidak luput sedikitpun dari netra abu-abu milik Louis. Laki-laki itu tampan menahan emosi melihat kedekatan mereka, walaupun Luois tidak mengerti mereka berbicara apa karena menggunakan bahasa Indonesia.


“Apa mereka sedang menghinaku?” gumam Louis lirih, sarat akan kekesalan.


Nata yang dapat melihat ekspresi sang putra hanya bisa menghela napas lemah. Ia sudah tahu jika sang putra pasti memiliki rasa suka untuk Alea. Sekarang mereka malah terjebak dalam situasi dan kondisi yang akward begini.


“Mereka tidak sedang menghina siapa pun, sayang. Mereka hanya sedang mengobrol biasa.”


Louis menoleh ke arah sang ibu yang tiba-tiba menjelaskan padanya. “Basa-basi?”


Nata mengangguk seraya menyentuh tangan sang putra yang sejak tadi terkepal. “Laki-laki yang datang bersama Alea sepertinya baru saja berpergian, dan langsung datang ke rumah sakit setibanya di bandara JFK. Laki-laki itu katanya sangat mencemaskan kondisi ayah Alea.”


“B*llshit,” umpat Louis seraya memalingkan wajah.


Nata tersenyum kecil melihatnya. “Jadi putra kesayangan ibu sedang cemburu?” bisik Nata lumayan lirih.


“Please, jangan membuat suasana hati Louis jadi semakin buruk eomma.”


“Ok, kalau begitu eomma diam,” ujar Nata seraya merapihkan surai sang putra yang agak berantakan.


Karena peristiwa kelam di masa lalu, sang putra yang tidak tahu apa-apa jadi kena imbasnya. Putranya yang tampan ini mungkin memang orang baik, apalagi agamis. Namun, setiap manusia punya kesempatan untuk berubah bukan? Nata juga percaya jika suatu saat nanti Louis mampu berubah agar menjadi pribadi yang lebih baik. Sejak kecil Nata sudah berusaha mendidik sang putra agar menjadi laki-laki yang baik, namun ia tetap tidak dapat menyangkal jika fakta ‘darah lebih kental ketimbang air’.


“Eomma.”


“Ada apa? kamu butuh sesuatu, Lou?”

__ADS_1


Laki-laki pemilik netra abu-abu itu menatap lekat sang ibu. “Bisa ceritakan semua peristiwa di masa lalu yang berkaitan dengan ayah Alea, pria itu, dan eomma?”


Nata tertegun mendengarnya. Peristiwa di masa lalu yang berkaiatan dengan Anzar—ayah Alea—juga dengan ‘pria itu’ yang dimaksud Louis, apakah ayah kandung Louis? Jadi Louis ingin mendengar cerita di masa lalu dari versi ibunya? Akan tetapi, sejak kapan putranya itu tahu ada masa lalu kelam di antara orang tuanya dan orang tua Alea?


“Boleh,” jawab Nata seraya memberikan senyum terbaik pada sang putra. “Tapi nanti, kalau kamu sudah sembuh total.”


“I’am fine. Eomma.”


“Kamu tidak baik-baik saja, Lou,” bantah Nata. “Lebih baik sekarang kamu banyak beristirahat. Abaikan saja mereka, jika mereka adalah sumber kekesalan yang tumbuh di hati kamu.”


“Tidak bisa eomma,” kata Louis lirih. “Di sini, rasanya ada yang sangat sesak,” adu Louis seraya menyentuh bagian dada kiri di mana jantungnya terletak. “Tapi aku sempat merasa bahagia karea dia mau peduli padaku,” tambahnya seraya melirik ke arah Alea sebentar.


Nata berusaha bersikap normal seraya tersenyum hangat secara maksimal. Jarang sekali si sulung mau bercerita. Jika sudah bercerita begini, Nata yakin jika si sulung sudah kebingungan menyimpan perasaan kacau yang mendera hati dan pikirannya.


“Eomma ada di sini. Appa juga. Kamu tidak perlu sungkan untuk berbagi cerita pada kami.” Nata tersenyum hangat, mencoba memberikan dukungan terbesar untuk putranya. Didukung pula oleh sang suami yang tengah menggendong Lucas ikut mengembangkan senyum.


Tanpa mereka sadari, interaksi mereka juga tidak sengaja tertangkap oleh sepasang netra. Netra teduh milih Alea yang sejak tadi diam-diam ikut menatap ke arah mereka. Entah kenapa Alea merasa tidak nyaman karena Louis dan keluarganya tahu soal khitbah antara ia dan Nathan dalam situasi dan kodisi seperti ini.


“Nathan sudah mau pulang?”


Perkataan sang ibu barusan baru dapat membuat Alea kembali fokus pada keluarganya sendiri. “Kak Nathan pasti capek, ma. Kakak butuh banyak istirahat,” katanya kemudian.


“Ah, iya. Mama lupa kalau Nathan baru kembali setelah berpergian jauh.” Airra tersenyum tipis seraya menatap putri dan calon menantunya bergantian. “Kalau begitu Alea antar Nathan ke depan, ya. Tadi ada titipan dari Mimi Tari kamu, kayaknya makanan. Katanya dititipkan sama supir.”


“Mimi Tari?” ulang Nathan dan Alea bersamaan, kompak.


Membuat Anzar dan Airra saling berpandangan untuk seperkian detik, lalu sama-sama mengembangkan senyum.


“Istri om nya Alea. Kamu pasti lihat dua pria tampan di luar, mereka om dan sepupu Alea,” kata Anzar memberitahu sang calon menantu. “Dulu Alea sering kami titipkan pada mereka saat masih kecil. Kami memang sangat sibuk saat baru-baru pindah ke sini. Karena sering dititipkan sama mereka, Alea jadi sangat dekat dengan keluarga om-om nya itu. Alea paling dekat sama om dan tante nya yang bernama Gemintang dan Mentari. Oleh karena itu, Alea kecil kerap memanggil istri om nya dengan sebutan Mimi Tari.”


“Gih, sapa om sama keponakan Alea. Mereka pasti ada di depan. Anggap saja sebagai salah satu bentuk perkenalan,” tambah Anzar. “Om Alea namanya Galaksi dan Gemintang. Kalau kamu bingung membedakan keduanya, yang paling banyak bicara dan jumawa adalah Gemintang. Sedangkan dua sepupu Alea yang ada di luar sana bernama Davian dan Astronot. Astronot yang punya netra berwarna biru, sedangkan Davian yang sifatnya tengil. Kamu pasti bisa langsung membedakannya. Sepupu Alea yang satu itu memang paling beda dari yang lain.”


Nathan mengangguk seraya tersenyum kecil. “Sepertinya Alea punya banyak saudara yang memiliki kepribadian menyenangkan.”


“Tentu saja,” jawab Anzar seraya tertawa kecil. “Kamu tidak tahu saja jika om-om Alea yang di luar sana total punya tujuh anak. Dua putri, lima putra. Astronot, Antariksa, Angkasa, Alaska, Aurora, Fajar dan Senja. Itu baru sepupu Alea dari om-om nya yang ada di sini, belum di Indonesia. Davian saja kembar tiga, ada dua lagi copy paste yang seperti dia di Jakarta.”


Nathan agak terperangah mendengarnya. Namun, ia juga sempat tahu tentang profil keluarga Radityan. Mengingat sang adik—Gean—juga sudah menjatuhkan hati pada salah satu putri Radityan yang bernama Arrabelle Lumiera Humaira Rajapatni Az-zzioi. Kembaran Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi yang masih sepupu dekat Alea.


“InsyaAllah, nanti Nathan akan mengenal mereka satu per satu, om.”


“Iya, sebuah keharusan untuk kamu malah.”


“Kalau begitu Nathan pamit terlebih dulu, om. Semoga om cepat sembuh.”


“Hm. Pulanglah. Kamu juga butuh istirahat.” Anzar tersenyum tipis seraya mengangguk. Ia kemudian mempersilahkan sang putri untuk mengantar calon suaminya.


“Sudah mau pulang?”


Sapaan itu datang dari laki-laki yang Nathan langsung yakini bernama Gemintang. Pasalnya laki-laki yang satu lagi tampak lebih banyak diam dan jarang bicara.


“Iya, om. Kak Nathan harus segera pulang untuk beristirahat. Soalnya kak Nathan juga baru pulang.”


“Oh, begitu,” respon Gemintang. “Nggak mau kenalan dulu sama om-om kesayangan Alea?” sindirnya.


“Ah, maaf jika saya lancang karena tidak sempat memperkenalkan diri.” Nathan langsung mengulurkan tangan ke arah Gemintang. “Saya Nathaniel Allugard Hazka Dwiarga. Laki-laki yang InsyaAllah akan mempersunting keponakan om dalam waktu dekat.”

__ADS_1


“Nathan, ya?” tanya Gemintang.


“Iya, om,” jawab Nathan seraya mengangguk.


“Anak ke?”


“Satu, om.”


“Pekerjaan?”


“Pilot, om. Sekaligus merangkap sebagai Chief exsekutive officer.”


Gemintang manggut-manggut seraya melirik Nathan sekali. Tanpa diminta pun, sebenarnya informasi soal Nathan sudah GG bersaudara kantongi. “Alea ini sudah seperti putri kami sendiri. Jadi kamu harus tahu konsekuensinya jika berani menyakiti Alea. Jika sampai hal itu terjadi, kami akan memburu kamu sampai ke lubang cacing sekali pun.”


“Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyakiti hati Alea, om. Namun saya tidak dapat sepenuhnya berjanji, karena saya bukan Tuhan yang memiliki kesempurnaan. Saya hanya manusia biasa, tempatnya salah dan dosa bersarang.”


“Saya pegang kata-kata mu,” sahut Gemintang seraya tersenyum miring. Ia kemudian melirik saudaranya yang sejak tadi diam saja. “Bang, ada yang mau disampaikan sama calon keluarga baru kita?”


“Hm.”


“Ini om nya Alea juga, namanya Galaksi,” kata Gemintang memperkenalkan.


“Saya Nathan om, calon suami Alea.” Nathan memperkenalkan dirinya kembali.


“Hm,” respon Galaksi saat menerima uluran tangan Nathan. Laki-laki yang masih terlihat tampan itu sangat irit bicara rupanya. “Jaga Alea. Jangan sakiti dia. Dia adalah salah satu putri kami yang berharga.”


Tiga kata, sejuta makna.


Nathan menganggap kalimat yang cukup singkat itu adalah kalimat yang menyimpan banyak makna yang membuat kedua bahunya langsung dijatuhi tanggung jawab ganda. Namun, setidaknya Nathan bisa merasa sedikit lega karena sekarang ia mengantongi banyak restu untuk meminang kamu. Eh …. maksud meminang Alea Annata Rumi Al-faruq putri Keevanzar Radityan Al-faruq.


✈️✈️


TBC


UPDATE LAGI READERS! KANGEN GAK DUA HARI ENGGAK UPDATE?


BESOK SIAP BACA LAGI? YOK, RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR DENGAN KOMENTAR NEXT 👇


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


Sukabumi 12-07-22


REKOMENDASI NOVEL KEREN!



Sebuah kebahagiaan hilang dalam sekejap karena terjebak dalam lingkaran yang tak pernah dia inginkan, semua orang yang melihat kehidupannya berada dalam kebahagiaan tetapi kenyataannya tidak seperti yang mereka lihat.


"Aku tidak pernah menginginkan kehidupan seorang ini dan apa aku masih bisa merasakan kehidupan seperti dulu lagi". Sintia


"andai dulu aku mencari kebenaran lebih dulu pasti jalan tak seperti ini". Ilham


bertemu kembali dengan orang di masa lalu sangatlah menyakitkan saat dirinya tak seperti dulu lagi, itulah yang Sintia alami saat bertemu kembali dengan ustadz Ilham. Pertemuan itu membuat ustadz Ilham selalu memimpikan Sintia sedangkan Sintia selalu bermimpi bertemu dengan seorang wanita yang tidak dia kenal yang memintanya untuk menikah dengan suaminya dan menjaga anaknya


-

__ADS_1


Mampir kuy 👋


__ADS_2