Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 70 : IBADAH BERSAMA


__ADS_3

BDJ 70 : IBADAH BERSAMA


Keluarga Radityan sedang berbahagia. Sudah bukan rahasia lagi jika keluarga Radityan tidak pernah pelit berbagi rezeki, apalagi jika kebahagiaan tengah mendatangi keluarga mereka. Guna menyambut pernikahan cucu sulung Radityan yang sudah didahului oleh cucu tertua Radityan—Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi—keluarga yang sekarang dipimpin oleh Keevano Radityan Khutbi itu menggelontorkan cukup banyak dana untuk menyiapkan pernikahan super dadakan. Namun, semua uang yang digelontorkan, murni uang milik keluarga Anzar. Mungkin ada beberapa bagian sumbangan dari pihak keluarga Radityan yang lain. Misalnya wedding organizer dan busana diurus oleh Lunar dan suami. Sedangkan untuk urusan konsumsi dan sebagian besar suvenir dibantu oleh pasangan Van’ar dan Aurra.


Sebagian besar keperluan lain ditanggung oleh keluarga mempelai pria. Nathan dengan sangat jelas mengatakan bahwa ia sanggup membiayai semua keperluan bagi pernikahan mereka. Namun, ide tersebut ditolak oleh Alea. Pada akhirnya mereka berunding untuk membagi keperluan pernikahan sama rata.


Awalnya Alea tidak ingin pernikahan diadakan terlalu mewah, ia ingin pernikahan sederhana yang bersifat kekeluargaan. Kendati demikian, sebagai putri satu-satunya dan calon menantu sulung dari keluarga Dwiarga, ide itu tentu dipikirkan berulang kali oleh kedua belah pihak. Bagaiman pun juga pernikahan mereka adalah pernikahan yang sangat ditunggu-tunggu, bahkan ada beberapa stasiun televisi yang menawarkan diri untuk meliput pernikahan meraka, namun ide tersebut ditolak mentah-mentah.


Siapa sih yang tidak penasaran soal berita pernikahan anggota keluarga Radityan yang sudah terkenal seantero negeri? Begitu pula dengan Nathan yang merupakan cucu Crazy Rich asal Bandung. Walaupun memutuskan untuk mengundang sedikit orang, namun pelayanan yang mereka berikan pada para tamu undangan bukan kaleng-kaleng. Untuk menjamu para tamu undangan yang tidak sampai menyentuh angka 200 orang di hari akad, keluarga Radityan dan Dwiarga setuju untuk menghidangkan berbagai jenis makanan khas dari Indonesia, Eropa, dan Timur Tengah.


Meja-meja dan kursi-kursi berjejer rapih, siap menjadi tempat yang nyaman untuk para tamu menikmati hidangan yang telah disediakan. Mulai dari appetizer, menu berat, hingga dessert, bisa dipilih sesuka hati. Ada para maid dan koki bintang lima yang siap meracik menu yang dipilih oleh para tamu undangan. Menu khas dari Indonesia yang menjadi unggulan, tentu saja olahan daging sapi yang dibuat menjadi rendang, sate daging, semur daging, serta olahan daging yang lain. Ada pula olahan ayam, serta olahan dari sayur-mayur. Untuk menu dari Eropa, ada steak dari daging sapi premium yang dapat dipilih. Terakhir, olahan dari Timur Tengah, diwakili oleh makanan khas Turki, seperti nasi kebuli serta makanan lezat dan nikmat lainnya.


Tidak banyak acara yang akan berlangsung pada hari akad. Hanya acara inti, yaitu prosesi ijab Kabul. Dilanjutkan proses silaturahmi dengan para tamu undangan yang datang. Mereka yang akan segera meninggalkan kediaman Radityan juga tidak ketinggalan diberikan suvenir yang telah dipilih dengan sangat teliti oleh mempelai wanita dan pria. Bukan suvenir mewah dan wah seperti suvenir pernikahan anak Crazy Rich di luaran sana, namun ada makna di balik suvenir yang meraka siapkan.


Suvenir yang akan diberikan pada tamu undangan pada hari akad terdiri dari beberapa jenis. Di antaranya adalah Terrarium mini berisi beberapa jenis kaktus yang cantik. Terrarium mini dipilih, karena benda itu memiliki makna tersendiri bagi si pengantin. Dan alasan kenapa Terrarium mini itu berisi kaktus, karena katanya merawat kaktus itu seperti menjalin sebuah hubungan. Gampang-gampang susah, susah-susah gampang. Kaktus akan mati tanpa perhatian. Kaktus memang bisa hidup dengan sedikit air, tetapi bukan berarti kaktus bisa hidup tanpa air. Sama halnya seperti sebuah hubungan. Hubungan bisa saja terjalin dengan sedikit perhatian, tetapi bukan berarti sebuah hubungan bisa bertahan tanpa adanya perhatian. Kaktus juga akan mati jika kelebihan cadangan air, begitu pula dengan hubungan yang terlalu banyak perhatian juga terkadang tidak baik.



Nathan yang mengetahui kecintaan sang istri soal tumbuhan berbunga, tentu menyetujui ide Terarium mini dijadikan salah satu suvenir pernikahan mereka. Toh, memberikan Terrarium mini kepada para tamu undangan yang datang dapat memberikan manfaat yang berbeda-beda. Misalnya, bagi mereka yang tidak suka merawat tanaman, mereka akan belajar bagaimana cara merawat kaktus yang gampang-gampang susah, susah-susah gampang.


Selain Terrarium mini, ada pula wewangian yang dikemas dalam botol kaca kecil berwarna putih bening. Wewangian tersebut adalah wewangian yang disunnahkan oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam, yaitu minyak Katsuri. Sebagaimana sabda Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam, “sebaik-baiknya wewangian adalah minyak katsuri.”


Minyak katsuri dipercaya sudah digunakan sebagai obat-obatan dan wewangian sejak 5000 tahun yang lalu. Konon, minyak katsuri telah digunakan untuk meredakan sakit, menghilangkan racun, hingga meningkatkan energi dan vitalitas. Selain minyak katsuri, ada pula pilihan wewangian lain, yaitu wewangian aroma ember dan musk.


Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam memang suka menggunakan wewangian. Hal itu biasa dilakukan setiap kali hendak berangkat menunaikan salat, terutama pada salat jum’at dan menasehati sahabatnya untuk melakukannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam yang diriwayatkan oleh Bukhari. “Siapapun yang mandi pada hari jum’at dan membersihkan dirinya sendiri sebanyak yang dia bisa dan mengoleskan minyak (pada rambut) atau mengharumkan dirinya dan kemudian melanjutkan untuk salat, semua dosanya di antara hari ini dan hari jum’at terakhir akan diampuni.”


Empat perkara yang termasuk kesunahan para rasul; rasa malu, memakai wewangian, nikah, dan siwak. Bau yang harum menjadi salah satu kebiasaan yang baik dalam kehidupan Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam. Salah satu wewangian yang Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam sukai adalah aroma ember dan musk. Istri Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam, Aisyah binti Abu Bakar biasa menyemprotkan pakaian Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam dengan wewangian kesukaan beliau setiap kali hendak keluar untuk salat atau berjumpa dengan para sahabat.


Selain Terrarium mini dan beberapa jenis wewangian, ada pula suvenir lain berupa lilin aromaterapi dengan aroma bunga dan hiasan bunga asli, set box berisi orchid cookies dan flower Oolong tea cookies premium, handmade buatan mempelai wanita, sampai carousel instrumen musik klasik.





“Kenapa kamu diam saja dari tadi, Ar-rumi?”


Laki-laki tampan yang hari ini sangat bahagia luar biasa itu buka suara. Dikarenakan sejak tadi hanya ada hening yang menyelimuti di antara mereka. Benar, di antara ia dan sang kekasih hati yang telah ia peristri.


“Kamu masih belum terbiasa dengan status kita?” Nathan bertanya seraya mengelus lembut punggung tangan yang sejak pertama kali ia genggam, tidak dilepaskan sama sekali sampai detik ini.


“Bukan seperti itu, Kak.”


Suara kecil, halus, dan lembut itu baru terdengar lagi setelah sekian lama memilih puasa bicara. Padahal saat ada tamu undangan yang datang menyapa dan mengucapkan selamat, sang istri akan mengeluarkan suara walaupun sekata.


“Kamu masih belum terbiasa,” asumsi Nathan. Ia tahu betul butuh waktu untuk beradaptasi dengan status mereka yang baru. “Maaf kalau aku terlalu buru-buru mendekatkan diri,” tambahnya seraya mengurai tautan tangan di antara mereka. Namun, belum sempat tautan itu terlepas, sang pemilik manik bening di sampingnya bersuara.


“Justru aku yang seharusnya minta maaf, karena masih belum terbiasa dengan sentuhan Kakak. Padahal kita….”


“….sudah resmi menjadi suami-istri,” lanjut Nathan seraya tersenyum hangat. “Tidak apa-apa, Zaujati (istriku). Kita mulai perlahan-lahan.”

__ADS_1


“Terima kasih, Kak,” kata Alea tulus. Di balik kain penutup wajahnya, ia menerbitkan senyum kecil. Ia memang belum terbiasa akan status baru mereka. Akan sentuhan Nathan yang begitu lembut di jemarinya, seolah-olah sentuhan itu ikut menyentuh dan menggetarkan hati kecilnya.


“Captain Nathan.”


Si empunya nama mendongkrak, menatap pada pemilik suara familiar yang baru saja muncul di pelaminan. “Co-pilot Juan?”


Pemilik nama lengkap Juan Adam itu tersenyum lebar. Ia kemudian menghampiri Nathan dan memberikan pelukan hangat. Hampir dua bulan mereka tidak berjumpa, karena Nathan sibuk menyelesaikan pekerjaan sebelum mengurus pernikahan. Sedangkan Juan sibuk di maskapai—dengan berbagai jadwal penerbangan.


“Kamu datang?”


“Of course.” Laki-laki berwajah European itu mengangguk. “Mana mungkin aku tidak datang di hari bahagia kawanku.”


Juan berkata dengan bahasa Indonesia, sekalipun aksen dan pengucapannya masih terdengar agak aneh.


“Kamu datang dari NY?”


“Tidak juga. Aku sudah tinggal di Singapura semenjak satu minggu yang lalu. Ada urusan pekerjaan.”


Juan adalah satu-satunya rekan sejawat Nathan yang paling dekat. Mereka bahkan berteman baik, walaupun Juan bisa dibilang sangat kontras dengan Nathan yang cukup agamis. Juan adalah laki-laki yang hidup bebas dan tidak menganut agama apapun. Namun, untuk kepentingan identitas dan pekerjaan, ia menyematkan Kristen sebagai agama yang ia anut.


“Ini hadiah kecil dariku. Semoga kamu dan istrimu bisa hidup bahagia sampai menua bersama.” Juan memberikan sebuah benda berbentuk persegi kepada Nathan. Ia sempat melirik Alea dengan singkat, karena tahu betul istri temannya itu sangat menjaga pandangan.


“Semoga kalian juga lekas diberikan malaikat kecil. Aku akan sangat senang saat berkunjung ke tempat ini lagi, ada mahluk mungil yang mirip Captain Nathan.”


Nathan tersenyum tipis mendengar do’a rekan sejawatnya. “Amin.”


Do’a yang demikian sudah jadi hal lumrah Nathan dan Alea dengarkan hari ini, mengingat status meraka sekarang adalah pengantin baru.


Nathan yang pekan akan situasi dan kondisi, agak berbisik pada sang istri. Ia khawatir istrinya merasa lapar, karena sejak tadi mereka tertahan di pelaminan. Mereka sempat berpisah beberapa waktu untuk melaksanakan salat wajib, itupun bergantian. Dikarenakan mereka tetap harus ada yang tinggal di pelaminan, minimal satu orang. Sekarang, hari sudah mulai larut. Pasangan pengantin baru itu juga sudah diizinkan untuk kembali ke kamar mereka. Lebih tepatnya kamar Alea yang telah disulap sedemikian rupa.


“Lebih baik kamu ke atas dulu. Nanti aku menyusul. Aku akan mengambil makanan untuk kamu.”


Nathan berucap seraya mengelus punggung tangan sang istri dengan lembut. Punggung tangan itu jadi candu untuk ia sentuh semenjak mereka resmi menjadi suami istri.


“Lebih baik Kakak yang naik dulu. Biar aku mengambilkan makanan untuk Kakak.”


Nathan menatap sang istri dalam. “Tidak. Lebih baik kita pergi bersama,” putusnya kemudian. “Ayo Zaujati (istriku). Tunjukkan di mana kamar kita.”


Alea menundukkan kepala kala Nathan berbicara demikian. Ia jadi sangat pemalu semenjak diperistri oleh Kapten ganteng tersebut. Nathan yang melihat itu malah kian dibuat gemas, sehingga ia tidak tahan untuk tidak mencuri satu kecupan di kening sang istri. Untung saja pertahanan diri Nathan masih bagus, jadi ia tidak berbuat demikian.


“Ayo, Kak. Biar aku tunjukkan kamar ….kita.”


Nathan tersenyum seraya berdeham. Ia kemudian mengeratkan genggaman tangan di antara mereka. Dengan panduan Alea, mereka naik ke lantai dua. Tempat di mana kamar Alea berada. Posisi kamar Alea sendiri berhadapan dengan kamar Arsyad dengan Kara. Di sampingnya ada kamar Arra.


Dalam perjalanan menuju kamar, mereka sempat bertemu bagian dari triple D, yaitu Davian yang julidnya minta ampun. Untungnya, hari ini laki-laki tampan itu tidak banyak bertingkah karena sibuk menjadi koordinir keamanan.


“Ini kamar Kita,” ucap Alea saat mereka sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


Nathan mengangguk. Ia kemudian bergumam, mengucapkan salam dan mendahulukan kaki yang kanan saat memasuki kamar istrinya. Adapun salam yang ia ucapkan berbunyi demikian, “Bismilla wassalamu’ala Rasulillah assalamualaikum.”


Tiba di dalam kamar dengan nuansa warna putih dan pastel itu, aroma manis dan segar campuran aroma bunga dan buah-buahan menyapa indra penciuman. Aroma yang sama dengan aroma yang tercium dari tubuh istrinya.

__ADS_1


“Kakak bisa membersihkan badan terlebih dahulu. Pintu kamar mandinya di sebelah sana,” kata Alea seraya menunjuk ke arah pintu kamar mandi di dekat walk in closed. “Aku akan menyiapkan baju tidur untuk Kakak,” lanjut Alea dengan suara kecil. Ia sedang berusaha menjadi istri yang menjalankan perannya dengan baik, yaitu melayani dan menyiapkan kebutuhan sang suami. Sekalipun Alea sebenarnya sangat tidak bisa mengendalikan perasaanya untuk saat ini. Jantung nya, berdebar tak karuan.


Nathan tersenyum tipis. “Kamu bisa mandi terlebih dahulu, Zaujati (istriku).”


Alea menggelengkan kepala. “T-idak. Kakak duluan. Biar aku siapkan dulu airnya….”


Alea yang hendak pergi ke kamar mandi untuk menyiapkan air bagi sang suami—sekaligus menjauh sejenak untuk menenangkan diri—tidak dapat merealisasikan niatnya, karena tiba-tiba Nathan melingkarkan tangan di sekeliling pinggang rampingnya yang tertutup gaun pengantin longgar.


“Sebentar, Zaujati (istriku). Aku sedang mencari pahala dengan memperbanyak waktu bersama kamu.”


“…”


“Sebentar saja, Zaujati (istriku)” lirih Nathan. Ini adalah pelukan pertama mereka setelah resmi menjadi suami istri, dan rasanya begitu membuat rongga dada dipenuhi bunga-bunga bermekaran. “Andai kamu tahu, Zaujati (istriku). Momen seperti ini sudah sangat lama aku nantikan.”


Alea masih terdiam. Tubuhnya yang membeku, berangsur-angsur rileks. Bagaimana pun juga Nathan adalah suaminya, dan ia berhak akan dirinya.


“Bisa menyentuh kamu seperti ini adalah sebuah anugrah.” Nathan mengeratkan pelukan di antara mereka. Penat yang mendera seharian ini langsung sirna begitu ia memeluk sang istri. Sungguh luar biasa.


Berselang beberapa menit, Nathan mengalah. Mengingat sang istri yang masih belum terbiasa, dan ia telah bertindak begitu agresif. Bagaimana jika Alea lari tunggang-langgang karena ketakutan?


“Maaf karena telah menyentuh kamu sembarangan tanpa izin,” ucapan Nathan seraya melerai pelukan di antara mereka. “Aku hanya terlalu bahagia, sehingga lepas kendali.”


Alea mengangguk dengan kaku.


“Sebaiknya kamu yang mandi terlebih dahulu, Zaujati (istriku). Aku akan mandi di luar.”


Alea mendongkrak. Hendak melontarkan pertanyaan, namun didahului oleh Nathan.


“Davian sempat menawarkan kamar mandinya untuk digunakan, jadi kita tidak perlu bergantian.”


“Tapi, Kak….”


“Tidak apa-apa, Zaujati (istriku). Lekas lah mandi, kemudian ambil wudhu. Kita akan menunaikan salat sunah zifaf setelah bersih-bersih.”


Deg!


Alea tidak bodoh. Ia tahu betul apa itu salat sunnah mutlak dua rakaat yang bernama salat zifaf.


“Kalau begitu aku bersih-bersih dulu. Baru kita ibadah bersama,” kata Nathan. Diakhiri dengan usapan lembut di pucuk kepala sang istri. Tidak lupa dengan senyum sejuta volt yang membuat kaum Hawa mana pun terpesona, bahkan jatuh cinta.


✈️✈️


TBC


Duh, yang makin lancar Ngombol nyaa 🤭😘😘


Next? ada yang mau ibadah bersama nih. Apakah lancar jaya atau malah tertunda?


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, tabur bunga sekebon, dan jangan lupa tonton iklan sampai selesai 🙏🏻☺️


Tanggerang 13/09/22

__ADS_1


__ADS_2