Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
BDJ 19 : DATE WITH YOU


__ADS_3

...BDJ 19 : DATE WITH YOU...


..."If you question about my favorit time, it's easy question. Aku tinggal menjawab waktu terbaik dan favorit bagiku adalah menghabiskan senja bersamamu."-Bukan Dijodohkan...


...✈️✈️✈️...


Keputusan basckstreet-atau hubungan sembunyi-sembunyi diambil atas keputusan bersama bagi seorang pasangan. Keputusan itu juga diambil oleh pasang muda satu ini. Nataniel Allugard Dwiarga dan Alea Ananta Rumi Radityan. Pasangan muda tersebut memilih backstreet walaupun acara tukar cincin sudah dilakukan. Acara tukar cincin sekalipun dilaksankan secara ke keluargaan. Namun, tetap tidak menghilangkan kesakralan dan kebahagiaan yang dapat diraih.


Hanya keluarga dekat dan orang-orang tertentu saja yang tahu soal pertunangan pilot rupawan dan CEO wanita yang pernah masuk top 10 pembisnis wanita ter-muda se-Asia tersebut. Hal itu diambil karena Alea sendiri ingin melewati masa penjajakannya dengan tenag dan nyaman, tanpa ada banyak ornag yang mengetahui.


"Di mana tempat pertemuannya?" Tanya wanita berkhimar syar'I tersebut.


Di sampingnya, seorang wanita bersurai pirang tengah membaca laporan yang masuk di macbook miliknya. "Caffe biasa, Alea. Di dekat Central park."


"Owh, ok." Jawab gadis berkhimar tersebut, sambil melanjutkan kembali membaca laporan online dari macbook iphone miliknya. "Saham di tanah air mulai merangkak naik. Apa perlu kita melanjutkan konsep star-up terbaru di sana?"


"Menurutku, untuk saat ini kondisi saham di sana masih belum stabil."


"Iya. Bisa dibilang begitu." Setuju Alea.


"Jadi, untuk sementara waktu kamu focus saja pada kerjasama dengan tiga collegan besar kita." Imbuh Anannte.


Alea mengangguk sambil tersenyum kecil. Gadis itu memang sedang ada jadwal meeting dua collegan pentingnya. Sayangnya, satu diantara mereka harus mangkir dari jadwal pertemuan tersebut.


"Alea, tempat meetingnya berubah."


Gadis berkhimar itu menoleh refleks. "Maksudnya?"


"Kita putar balik, karena lokasi pertemuannya telah berganti. Sekretaris CEO Arga's Air baru saja mengatakannya lewat surel."


"Kenapa tiba-tiba?"


"Entahlah. Tidak ada alasan yang spesifik yang tercantum di surelnya."


"Hm, kalau begitu kita ikuti arahan mereka saja."


Anannte mengangguk, sambil mengalihkan pandanganya. Dia langsung membalas surel yang baru saja masuk dari perusahaan collegan mereka tersebut. Entah mengapa pula, tiba-tiba saja CEO Arga's Air mengganti tempat pertemuan yang telah disepakati di awal. Kini, mereka harus putar balik ke perusahaan Arga's Air guna melangsungkan pertemuan.


"Mrs. Radityan?" Seorang pria menyambut kedatangan Alea dan Anannte dengan ramah.


"Ya, saya." Jawab Alea.


Pria berkaca mata yang memiliki wajah oriental dan warna kulit sawo matang khas orang Indonesia itu tersenyum formal. "Mari, Sir Nathan sudah menunggu anda."


Alea mengangguk. Pria yang mengenalkan diri sebagai sekretaris Nathan itu mengantarkan mereka menggunakan lift khusus anggota direksi. Kedatangan Alea tentu mengundang banyak perhatian. Para staf yang mayoritas orang asli New york dan sekitarnya, agaknya curi-curi pandang kepadanya karena penasaran.


Hari ini, gadis itu menggunakan gamis berwarna lavender dengan model rok berlayer. Ia juga menggunakan khimar longgar dan niqab berwarna senada, tetapi lebih soft. Sepasang pump shoesh yang terbuat dari bahan premium juga menghiasi kedua kakinya. Membuatnya nyaman saat beraktifitas seharian.


"Kita akan berpisah di sini, Mrs." Ujar pria yang akrab disapa El tersebut. "Saya dan sekretaris anda akan menunggu di sini."


Alea dan Anannte kompak bertatapan. "Maksudnya?"


"Sir Nathan menunggu anda di atas. Lift ini akan membawa anda ke lantai teratas." Ujar El, sambil mengeluarkan sebuah card access berwarna gold yang khusus digunakan untuk mengakses lantai teratas yang sifatnya privat.

__ADS_1


"Alea, pergilah. Aku akan menunggu di sini."


Alea mengangguk, lantas mereka berpisah di lantai 39. Alea meneruskan perjalanannya sendiri menuju lantai teratas gedung tersebut. Tiba di tujuan, angin yang berhembus cukup kencang menyambut kedatangannya. Area lantai teratas tersebut rupanya sebuah tempat yang digunakan untuk mendaratkan atau menerbangkan sebuah helicopter atau sejenis pesawat tanpa awak.


Benar saja, saat Alea baru melangkahkan kakinya. Sudah ada sebuah helicopter yang terparkir di sana. Gamis dan khimar longgarnya sampai berterbangan karena angin yang dihasilkan oleh gerakan baling-baling raksasa benda terbang tersebut.


"C'mon."


Sebuah suara membuat Alea beralih. "C'mon here, Alea."


Pria yang seharusnya dia temui di caffe untuk meeting itu, ada di sini. Di balik kursi pilot benda berbaling-baling raksasa itu lebih tepatnya. Alea masih terpaku di tempatnya, hingga seorang pria yang dia yakini sebagai co-pilot melambaikan tangan ke arahnya. Alea memberanikan diri untuk terus melangkah.


Deru angin yang dihasilkan oleh perputaran baling-baling semakin terasa kencang saat ia mendekat. Saat sudah berada di depan pintu benda tersebut, sebuah sapu tangan terulur kepadanya. Sapu tangan itu sama dengan sapu tangan yang menuntunya saat berada di pantai kala itu.


"C'mon. young lady. Pesawatnya akan segera take off."


Alea mengangguk. Tanpa ragu, ia merih sapu tangan pengganti tangan yang sesungguhnya itu. Saat sudah mendudukan dirinya, si co-pilot tadi mengintruksikan agar Alea mengenakan body protection yang telah tersedia.


"K-ita mau kemana?" Tanya lirih.


Dia belum pernah naik helicopter sebelumnya. Pernahpun saat dia masih kecil. Saat sudah beranjak dewasa, dia lebih sering bepergian menggunajakan pesawat pribadi milik keluarganya. Ini kali pertamanya dia duduk sebagai penumpang satu-satunya di belakang pilot dan co-pilot yang tengah mengemudikan filght dect.


"For your information, nona. Ini meeting penting yang sengaja aku gantikan menjadi first dating with you."


Alea terkejut mendengarnya. Dia mendongrak, menatap pria rupawan yang duduk di balik kemudi benda berbaling-baling tersebut. "Maksud kakak?"


"Ini date pertama kita." Pria itu menoleh sekilas. "Dan untuk date pertama ini, aku mau calon istriku tahu bagaiman profesi pria yang akan mempersuntingnya."


"Bersiap, kita akan segera lepas landas."


"Baik capt."


Alea mendongrak. Bibirnya bergumam kecil di balik kain penutupnya, melantunkan do'a saat menaiki kendaraan udara.


"Siap?" Pria rupawan itu menoleh sekilas.


"Hm." Alea mengangguk kecil.


"Relax, dan nikamati perjalanan ini." Ujar Nathan sambil kembali focus ke arah depan. Tanpa Alea sadari, pria itu mengumbar senyumnya lebar-lebar.


Dengan keseriusan penuh, benda berbaling-baling itu ia operasikan. Lepas landas dengan landasan pacu yang bisa dikatakan pendek. Namun, itu bukanlah sebuah penghalang. Dia tetap bisa mengendalikan benda tersebut dengan baik dan benar. Membawa mereka bertiga mengudara di atas langit kota New York yang padat akan mobilitasnya.


Alea berulang kali mengucapkan 'masya Allah' juga 'subhanallah' saat melihat pemandangan yang tersaji di hadapannya. Entah rute mana yang akan mereka tempuh. Alea begitu terpukau dalam perjalan pertamanya ini. Kesan pertama saat mereka dating sungguh antimainstream. Pria itu benar-benar penuh kejutan. Entah dengan kalimat apa Alea menggambarkan kebahagiaanya.


Mengudara di atas langit seperti ini, rasanya beban pekerjaan yang seharian menumpuk hilang entah kemana. Kendati demikian, dia tidak pernah lupa akan tujuan awalnya.


"Jadi, beginilah tugasku."


Alea kembali mendengar suara ria tersebut lewat alat mirip yang tadi digunkannya sesuai intruksi si co-pilot.


"Aku mengudarakan burung besi seperti ini beribu-ribu kaki di atas ketinggian. Membawa serta banyak penumpang yang keselamatannya aku pikul di pundakku."


Alea mendengarkan semua itu dengan seksama. Jantungnya berdebar seirama dengan jarum jam pada awalnya. Akan tetapi, sekarang tidak. Jantungnya berdebar tidak terkira, tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Mendengarkan suara pria itu tepat di telinganya sendiri, rasanya sungguh mendebarkan. Seolah-olah dia memang tengah berbisik saat berucap demikian.


"Terkadang ketika masih berada di ketinggian, ketika ada kendala entah itu cuaca buruk atau keadaan pesawat yang tanpa diduga mengalami kerusakan, pertanyaan semacam ini akan muncul."


"Pertanyaan seperti apakah itu?"


"Apa aku bisa membawa penumpang landing dengan selamat? Atau apakah aku bisa kembali bertemu juga dengan orang-orang yang aku sayangi termasuk kamu."


Deg!


Alea terhenyak mendengarnya. "Ada kalanya, pertanyaan seperti itu datang."


Profesi pria satu ini tidaklah mudah dan memiliki tanggung jawab besar. Seperti seorang abdi Negara-Tentara saja contohnya. Mereka memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keutuhan bangsa, melindungi agar tetap aman dan tentram dengan resiko mempertaruhkan nyawanya sendiri demi hajat orang banyak. Hal itu juga berlaku bagi seorang Pilot yang harus membawa para penumpang selamat sampai tujuan.


Terkadang cuaca buruk seperti hujan disertai petir yang mengakibatkan mesin turbulensi, tidak pernah bisa diprediksi. Pilot berseta co-pilot dan jajarannya harus siap dalam segala situasi guna memnyelamatkan para penumpang dan diri mereka sendiri.


"Terkadang aku bisa mengudara hingga puluhan jam, dan tidak pulang hingga berbulan-bulan. Siapapun istriku nanti, aku selalu berharap jika dia diberi kesabaran lebih saat aku tidak bisa selalu menemaninya."


Alea menunduk. Pria itu benar-benar menjabarkan segala resiko jika dia akan menikahinya. Kepercayaan is only one dalam sebuah hubungan. Nathan tengah membangun hal tersebut dengan Alea. Pria itu ingin calonnnya paham dan mengerti resiko menjadi istrinya. Jika mereka menikah nanti, Aleapun tidak akan terlalu banyak terkejut jika dia sudah menjelaskannya.



Helikopter yang mereka tumpangi akhirnya mendarat di sebuah pantai yang terkenal akan dermaga yang menyajikan pemandangan indah kala senja. Benar saja, saat mereka landing semburat senja tengah cantik-cantiknya. Nathan mengajak Alea untuk berjalan-jalan di atas jembatan kayu yang membentang hingga pantai tersebut. Di sana, mereka dapat menemukan burung camar yang mulai berterbangan untuk pulang. Indahnya sang surya yang sudah mulai kembali menutup hari di peraduannya, menjadi pemandangan yang istimewa.



Untuk beberapa saat mereka hanya saling memgunci bibir sambil menikmati maha karya ciptaan tuhan di depan sana.


"Alea?"


"Hm."


"Apa pendapat kamu soal profesiku?" Tanya Nathan sambil menatap gadis tersebut dari samping.


"Pekerjaan Kakak beresiko. Tapi, memiliki tujuan yang baik untuk hajat orang banyak."


Nathan mengulas senyumnya kecil. "Kamu tidak keberatan?"


Alea menggeleng, "pekerjaan kakak halal. Aku dan anak-anak kita kelak tidak akan meragukan uang yang kakak berikan. You're the best one we have."


Hati Nathan menghangat mendengar kalimat gadis di sampingnya. Sungguh, menikmati senja di kala malam menjelang bersama orang terkasih adalah waktu terbaik baginya. Di temani semilir angin pantai yang membelai manja, perasaan ingin segera memiliki itu kian besar tiap detiknya. Tidak ada lagi ragu, kala semua itu telah terjawab oleh penantian dan waktu. Tinggal tunggu waktu yang tepat untuk melegalkan semua itu.


****


...TBC...


...BDJ Update guys?! Absen dulu yuk…. Gimana, gimana? Makin penasaran sama kelanjutan kisah cinta mereka? Tim NathLa juga mana nih? Absen kuy…....


...Ok, Jadi jangan lupa like, vote, komentar, share dan follow Author. Maaf baru bisa update sekarang9...


...Semoga Readers selalu setia & sabar menunggu ya:...


...Sukabumi 28 Juni 2021...

__ADS_1


__ADS_2