Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 44 : AKU ADA DI SINI


__ADS_3

BDJ 44 : ADA AKU DI SINI



“Eh, calon abang ipar ada di sini juga?”


Nathan yang baru saja menerima cake pesanannya tampak sedikit terkejut saat berbalik dan mendapati sosok yang cukup familiar. Nathan memang baru saja keluar dari unit apartemen miliknya setelah menghabiskan waktu sekitar empat jam untuk beristirahat. Ia kemudian keluar untuk membeli buah tangan yang rencananya akan ia bawa untuk menjenguk calon mertua.


“Kamu….?”


“Davian, masa lupa. Kita baru salken beberapa jam yang lalu loh.”


Laki-laki yang lebih muda darinya itu tampak tersenyum lebar seraya membenarkan topi hitam yang melindungi kepalanya.


“Lagi ngapain di sini, bang?” tanyanya ramah. Berbanding terbalik jika menyapa adik Nathan—Gean—yang dulu ‘ngebet’ ingin menjadi jodoh Arra—kembaran Arsyad—untung saja Allah yang Maha Bijaksana benar-benar mengabulkan do’a laki-laki selengehan tersebut.


“Beli cake?”


Nathan mengangguk sebagai jawaban. Ia ingat sekarang. Davian adalah salah satu sepupu calon istrinya. Nama lengkapnya adalah Davian Arion De Prameswari. Memiliki dua saudara kembar, yaitu Davin Arsyed Di Prameswari dan Diano Aroon Dee Prameswari. Putra kembar tiga dari pasangan Arkan dan Lunar yang merupakan adik ipar dan adik dari Keevan’ar Radityan Az-zzioi yang merupakan calon ayah mertua Gean—adiknya. Calon besan orang tuanya juga kelak, karena Van’ar dan Lunar adalah adik dari Anzar—ayah Alea.


“Kamu sendiri sedang apa di sini?”


“Sama,” jawab Davian jenaka seraya mengangkat paper bag berisi beberapa roti bagel dan teman-temannya. “Disuruh belanja bulanan sama camer alias calon mertua.”


“Sendirian?”


“Nggak juga,” jawab Davian seraya menggelengkan kepala. “Guys, kumpul,” katanya kemudian.


Nathan tampak menaikkan satu alis saat melihat tingkah laku si tengah. Tak berselang lama, muncul seorang laki-laki yang membawa satu box cake berukuran sedang.


“Ada apa manggil-manggil? Aku belum selesai beli cheese tart.”


“Kumpul dulu elah, banyak tanya,” ketus Davian. “Yang lain mana?”


“Tidak tahu. Tadi kak Alas sama Angka katanya mau beli gelato.”


“Riksa?”


“Bang Riksa katanya tadi mau beli bahan makanan basah di toko sebelah.”


“Astro?”


“Hm, kalau mas Astro ….kayaknya ke kamar kecil.”


Davian mengangguk-angguk seraya menatap ke arah barang bawaan laki-laki yang berdiri di sampingnya. Si pemilik rupa copy paste dari rupa rupawan Gemintang Reynando Pradipta. Untuk sejenak Nathan sempat salah kira, namun wajah Gemintang versi muda ini membuatnya langsung paham ikatan di antara mereka.


“Kenalin dulu, ini calon suami teh Alea.”


“Yang Captain itu?”


“Yups.”


“Saudaranya calon teh Arrabel?”


“Yups again.”


“Owh, gitu,” respon laki-laki bernama Fajar Pradipta itu. Ia kemudian menjulurkan tangannya guna berkenalan dengan Nathan. “Halo, salam kenal. Aku Fajar Pradipta. Salah satu anggota klan Pradipta, juga salah satu penjaga teh Alea.”


“Ah, ya. Salam kenal. Saya Nathan.” Nathan dengan senang hati menerima uluran tangan tersebut.


“Nggak usah formal gitu juga kali, bang,” ujar Davian seraya merangkul bahu Nathan. Sok akrab, sok dekat pula.


“Santai aja. Kita, kan, bakal jadi saudara.”


Nathan mengangguk tanpa banyak menampilkan ekspresi. Ia memang tidak se-ekspresif Gean, adiknya. Juga tidak se-pandai Gean dalam menjalin hubungan sosial dengan orang-orang baru. Oleh karena itu, rasanya agak canggung dan akward saat harus beradaptasi dengan keluarga besar Alea.


“Abang kayaknya orang baik,” komentar Fajar yang memang sifatnya sebelas-dua belas dengan Davian. “Aku suka.”


Nathan terdiam untuk sejenak pasca mendengar kalimat tersebut. Suka? Maksudnya?

__ADS_1


“Heh, bahasa mu ambigu,” koreksi Davian.


“Apanya?”


“Your language, brother,” jelas Davian.


“Intinya aku suka bang Nathan. Feeling aku better kalau teh Alea sama bang Nathan. Ketimbang sama calon-calon yang dulu.” Fajar menjelaskan secara detail, kemudian menyunggingkan senyum di akhir kalimat.


“Calon-calon?” bingung Nathan.


“Iya,” jawab Fajar. “Dari dulu banyak kandidat yang mau mencalonkan diri menjadi calon suami teh Alea. Biasanya mereka mengirimkan curriculum vitae sebagai bentuk perkenalan awal sebelum terjadinya proses ta’aruf. Jika dilihat dari curriculum vitae itu cocok, maka bisa berlanjut ke proses ta’aruf.”


Nathan tampak tertarik mendengar topik pembicaraan tersebut. Lain hal dengan Davian yang mati-matian memberikan kode agar Fajar tidak bicara lebih banyak lagi. Fajar itu ….jujurly orangnya. Terlalu jujur malah.


“Dari mana kamu tahu kalau ada banyak laki-laki yang ingin mencalonkan diri sebagai pendamping hidup Alea?”


“Tahu dari om Anzar lah. Dari banyaknya CV yang masuk, pasti dikirim ke mansion Pradipta untuk direvisi. Nanti sama ayah atau papa bakal direvisi habis-habisan, mulai dari latar belakang sampai ke track record si bakal calon.”


“Caranya?”


“Caranya ya digali informasinya lewat jalan pin—“


“Ngawur banget cerita Anda, saudara,” serobot Davian seraya beralih merangkul bahu Fajar dengan cepat. “Dia suka ngawur kalau bicara, bang. Soal CV itu, om Anzar biasanya cuma minta bantuan om Galak dan om Gemi untuk mencari kebenaran dari informasi yang ditulis di sana. Gitu, nggak lebih.”


Nathan mengangguk sebagai jawaban. Walaupun ada setitik keraguan di matanya.


“Intinya, karena abang yang sudah keluar sebagai pemenang….” Davian melepaskan rangkulannya pada Fajar, kemudian menatap Nathan lekat. “Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kami, para anak laki-laki di keluarga Radityan akan selalu menjaga para Srikandi di keluarga kami dengan baik. Utamanya adalah teh Arra dan teh Alea.”


“Setuju,” sambung Fajar. “Jangan sampai abang menyakiti teh Alea barang sedetik saja. Peringatan ini juga berlaku bagi adik abang, dan laki-laki mana pun yang pada akhirnya menjadi pasangan para saudari kami.”


Nathan yang mendadak mendapat serangan tiba-tiba itu hanya bisa memberikan jawaban lewat anggukan kepala. Toh, ia juga tidak pernah berniat untuk menyakiti Alea. Barang sedetik saja, tidak akan pernah. Ia berjanji.


“Ok. Abang pasti sekarang sudah mengerti.”


“Yaps. Jadi kita nggak usah main urat lagi.”


Fajar dan Davian kembali bicara bersahut-sahutan dengan nada bicara yang kembali terdengar jenaka. Apa-apaan itu? secepat itu kah mood mereka berubah? Padahal barusan mereka berubah jadi sosok yang bisa dibilang ….cukup menakutkan.


✈️✈️


“Alea?”


Pemilik nama yang berarti seorang pemimpin yang cerdas dan rendah hati itu menoleh, lalu beristigfar dengan suara kecil. Ia sempat tersesat pada buaian lamunan imajinasi.


“Kamu melamun?”


“Tidak, ma. Tadi, cuma sedang kepikiran sesuatu,” jawab Alea seraya menutup kembali toples berisi makanan yang entah sejak kapan ia buka.


“Kamu yakin? Kamu bisa cerita sama mama kalau ada sesuatu yang menganggu.”


“Iya, ma.”


“Kalau nggak ada, mama mau masuk dulu. Mau cek papa.”


Alea mengangguk. Sepeninggalan sang ibu, ia kemudian melirik pada hewan yang kelak dapat membawa kita ke surga, padahal hewan itu sendiri tidak masuk ke surga. Melainkan kembali menjadi tanah. Hewan itu juga merupakan hewan yang sangat disukai oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan Rasulullah menyuruh untuk menyayangi hewan tersebut, karena jika seseorang menelantarkan hewan tersebut, maka akan mendapatkan siksa neraka.


“Muezza, Izaan, Mauza, dan Jarrah kenapa nggak dihabiskan makanannya? Bosan, ya? Mau umma belikan ikan segar untuk besok?”


Empat anabul—anak berbulu—yang tampak bermanja-manja di sekitar kaki dan bagian bawah gamis yang ia gunakan itu, tampak merespon lewat suara-suara ‘rengekan’ yang khas. Melihat itu, Alea jadi merasa sedikit terhibur.



Diraihnya satu anabul kesayangan miliknya, anabul jenis Anggora. Jenis anabul satu ini memang membutuhkan kasih sayang dan perhatian ekstra, karena angora termasuk jenis anabul yang manja.


Namanya Muezza. Nama yang diambil dari nama kucing kesayangan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan dalam sebuah keterangan dijelaskan bahwa, ketika hendak melaksankan salat dan beliau hendak menggunakan jubahnya, beliau menemukan Muezza tertidur di jubahnya. Saking sayangnya, alih-alih membangunkan, Rasulullah membiarkan Muezza tertidur dan memilih memotong sebagian jubahnya.


Selain Muezza, Alea juga memilik 3 kucing lain yang bernama Izaan, Mauza, dan Jarrah. Muezza dan Mauja berjenis kelamin betina, sedangkan Izaan dan Jarrah berjenis kelamin jantan. Alea mengurus kucing-kucing nya dengan baik dan penuh perhatian. Ia bahkan memikirkan dengan baik nama untuk hewan peliharaannya itu.


__ADS_1


Seperti nama Mauza, nama itu memiliki arti kebaikan. Nama yang cocok digunakan untuk nama kucing betina. Ada pula Izaan. Nama Izaan memiliki arti ketaatan. Nama ini cocok untuk kucing jantan yang patuh terhadap perintah. Kemudian Jarrah yang memiliki arti kapal. Nama Jarrah cocok untuk kucing berjenis kelamin jantan. Nama Jarrah dipercaya akan dapat membawa si pemilik berlayar ke dunia yang lebih menyenangkan.


“Apa Muezza tahu umma sedang sedih, makanya tidak mau pergi?” tanya Alea seraya membelai bulu-bulu lembut yang menyelimuti tubuh Muezza dengan sangat lebat.


Sejak pulang ke rumah, dan menghabiskan waktu satu jam untuk berbicara empat mata dengan sang ayah, Alea memang merasa kehilangan sesuatu dari dalam hatinya. Entah Muezza menyadari hal itu atau entah karena apa, tapi sejak tadi anabul satu itu terus mengekori Alea. Padahal Izaan, Mauza, dan Jarrah tidak.


“Umma sedang sedih. Apa boleh umma cerita sama Muezza?”


Meow


Meow


Si manja Muezza bersuara seraya menggeliatkan tubuhnya yang ditumbuhi bulu-bulu super lembut. Hewan berbulu itu seolah-olah tengah menghibur tuannya yang tengah bersedih karena mendapati beberan fakta yang begitu mencengangkan soal orang yang sangat ia percaya.


“Umma cuma punya satu teman yang sangat umma percaya. Kenapa ….kenapa dia tega membohongi umma?” lirih Alea seraya menundukkan wajahnya. Perlahan, namun pasti kain penutup wajah berwarna putih yang menutupi sebagian wajahnya basah karena air mata.


Alea kecewa. Ia ….tidak suka dibohongi. Dan sekarang, ia dibohongi oleh orang yang sangat ia percayai. Bagaimana bisa, orang itu menusuknya dari belakang dengan cara sekeji ini. Bukannya Alea ingin menghakimi. Namun, ia benar-benar merasa jika kebohongan ini sangat menusuk hati.


“Umma tidak boleh menangis, nanti Muezza sedih.”


Jantung Alea berdebar mendengar suara tersebut.


Itu bukan suara Muezza. Alea tahu itu. ia juga tahu suara itu milik siapa, namun ia tetap mempertahankan posisi untuk menunduk. Ia tidak mau memperlihatkan wajah penuh air mata pada sang pemilik hati.


“Jika Muezza bisa bicara, kurang lebih itu yang akan Muezza sampaikan.”


Nathan.


Itu suara Nathan, calon suami Alea. Laki-laki yang hadir dengan outfit non formal yang saat ini tengah berlutut di hadapan Alea. Ditemani oleh Mauza dalam pelukan, serta Izaan dan Jarrah yang berada di sisi kanan juga kiri kakinya.


“Tapi jika rasanya sangat sakit, kamu boleh menangis untuk melampiaskan rasa sakit itu,” tambah Nathan seraya menurunkan Mauza. Kucing cantik itu langsung mendekati Alea, dan menarik-narik ujung gamis yang digunakan oleh Alea.


Seolah-olah ia juga ingin dipeluk seperti Muezza.


“Menangislah. Menangis tidak akan membuat kamu terlihat lemah.” Nathan berkata demikian seraya menyodorkan sapu tangan putih dengan motif pesawat dan inisial N yang dibordir dengan benang berwarna emas di ujung sebelah kanan. “Lalu gunakan benda ini untuk menyeka air mata kamu, karena aku belum bisa menyeka air mata kamu secara langsung dengan tanganku.”


Laki-laki yang menghargai perempuan dengan caranya sendiri ini, adalah laki-laki yang selalu berhasil membuat hati Alea berdesir.


“Kak….”


Suara Alea terdengar begitu parau. Jelas sekali ia tengah menahan tangis yang lebih hebat dari tangis saat ini.


Nathan tidak tahu apa alasan dibalik tangis sang calon istri. Namun, mendapati sang calon istri menangis seperti ini, jujur ia juga dapat merasakan rasa sakit yang teramat dahsyat. Untuk pertama kalinya, Nathan melihat dengan mata dan kepala sendiri jika sang kekasih hati yang ia cintai sejak lama menitihkan air mata.


“Menangislah. Jangan takut. Aku ada di sini menemani kamu Ar-Rumi.”


✈️✈️


TBC


GIMANA? LANJUT LAGI PART NATHAN & ALEA? SUDAH SIAP DRESS CODE BUAT KONDANG 😁


DISIAPKAN DULU, YA. SEMBARI MENUNGGU 💙


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


Sukabumi 21-07-22


REKOMENDASI NOVEL KEREN UNTUK KAMU!



Di sebuah kampus mewah, tepat di ruang loby itu tiga anak muda terlihat sedang duduk beralaskan karpet di bawah pohon. Buku-buku pelajaran terbuka, sementara remah remah makanan ringan berceceran di atas meja.


Langkah Hanna dihentikan oleh sebuah tangan, Hanna terdiam pasi, kala sebuah akar yang tiba saja melilit kaki kanannya, jelas ia lihat benda kenyal seperti tangan menempel ke kakinya baru saja.


Saat itu remang remang. Sehingga tidak terlalu jelas apa yang ada di sekitar. Pandangan Hanna dipalingkan ke kiri dan ke kanan, tapi tak terlihat seorang pun. Hingga ia menatap atas atap pohon besar, tepat diatas kepalanya.


Sosok itu jelas mengeluarkan suara lidah, Hanna tiba saja menatap atas kepalanya. Begitu terdengar kaget, ketika dari ujung pohon sebuah lidah panjang menjulur menghampiri wajah Hanna.

__ADS_1


Aaaaarrrrgh!! teriak Hanna saat itu, tanpa sadar suaranya mengecil dan wanita berwajah lidah melilit lehernya dengan darah yang menetes bau amis, membuat Hanna mual dan ingin muntah. Tapi saat berteriak Hanna tiba sudah berada di berbeda tempat.


Yuks! intip kisah Hanna indigo tersesat dihutan acara camping. Judul 👉 "PEKA."


__ADS_2