Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 72 : KECANDUAN


__ADS_3

BDJ 72 : KECANDUAN



Seumur Nathan hidup—hampir dua puluh delapan tahun, ia pernah mendiagnosa dirinya sendiri mengalami gangguan mental yang benama Alexithymia. Alexithymia sendiri merupakan kondisi mental yang berkaitan dengan kesulitan mengekspresikan emosi. Membuat sebagian pengidapnya kehilangan gairah hidup.


Nathan pernah menduga ia mengalami Alexithymia, karena dulu hidupnya terasa begitu monton. Padahal ia punya kedua orang tua yang sayang serta begitu peduli kepadanya. Namun, tetap saja terasa ada yang kurang dalam hidup Nathan. Ia merasa gairah untuk hidup hanya berputar pada keharusan membanggakan kedua orang tua.


Oleh karena itu, Nathan lebih sering menghabiskan waktu untuk belajar dan les, ketimbang main seperti teman-teman sebayanya. Jika pun ada waktu untuk bermain, akan dihabiskan bersama adiknya—Gean. Kebiasaan itu terbawa hingga dewasa. Nathan bahkan bisa menghabiskan lebih dari 20 jam untuk bekerja, serta menyisihkan 2-3 jam untuk memejamkan mata.


Ketika harus belajar lebih giat untuk tes masuk perguruan tinggi saja contohnya, Nathan hanya akan memejamkan mata 1 atau 2 jam per hari. Padahal normalnya, manusia dewasa membutuhkan sekitar 7 jam per hari untuk beristirahat.


Kemudian, Allah azza wajalla berbaik hati membawa sedikit perubahan pada kehidupan Nathan. Awal mulanya berasal dari pertemuan tidak sengaja di Bandar udara. Mengantarkan pada rasa tertarik Nathan pada gairah hidup yang baru, agar ia dapat mengenal lebih jauh soal objek dari ketertarikannya itu. Pada akhirnya Nathan tahu lebih banyak soal gadis di bandara waktu itu. Putri teman lama ayahnya. Bagian dari keluarga Radityan yang telah membuat Nathan jatuh hati pada pandangan pertama.


Sekarang, berkat kehendak Allah azza wajalla pula, akhirnya Nathan bisa sangat leluasa terhadap sang pemilik hati. Dapat melihatnya dari dekat tanpa takut dosa, bahkan dapan menyentuhnya sesuka hati. Bagaimana Nathan tidak bahagia mendapati keinginan yang selama ini terpendam di dalam hati terwujud? Bahkan jika bisa, Nathan ingin menghentikan waktu agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama sang istri.


Perempuan yang begitu terjaga kecantikannya. Perempuan yang begitu tertutup dari dunia luar, namun menyimpan banyak kecantikan dibalik pakaian syar’I yang ia gunakan sebagai bentuk kesiapan diri terhadap kewajiban seorang muslimah.



Dipandang lagi wajah cantik yang tampak damai nan permai di atas peraduan. Tidur berbantalkan bisep kokoh dan dada bidang yang nyaman untuk bersandar.


Tak bosan, Nathan terus mengamati setiap fitur di wajah sang istri yang begitu jelita di matanya. Kulit wajah yang putih, bersih alami, alis yang tersusun rapih, sepasang bulu mata lentik yang dirawat alami, menyembunyikan sepasang netra teduh yang menenangkan hati. Turun ke bawah, ada hidung berukuran kecil, mungil, akan tetapi bangir. Tak luput pula bibir mungil yang selama ini terlindung oleh kain penutup. Bentuknya cantik, berwarna merah seperti buah ceri yang segar. Dibingkai oleh garis wajah berbentuk oval, membuat wajah istrinya terlihat sangat kecil, mungil, tetapi sangat pas menurut Nathan.


Mungkin semenjak tiga puluh menit yang lalu, Nathan memandangi Alea tanpa rasa bosan. Yang ada malah memupuk rasa yang ada semakin subur di dalam hati.


Rasa-rasanya, semua ini masih seperti mimpi. Oleh karena itu, Nathan jadi enggan beranjak dari peraduan karena tidak mau menganggu tidur nyenyak sang istri. Namun, mau bagaimana lagi, beberapa menit lagi panggilan untuk menunaikan Ibadah pasti akan berkumandang.


“Zaujati (istriku),” panggil Nathan pada akhirnya.


Nathan berusaha memanggil sang istri dengan suara paling lembut yang ia pernah keluarkan. Seraya menyentuh jalinan surai hitam panjang milik sang istri. Surai yang pertama kali ia lihat semalam, setelah sang istri menggunakan seluruh keberanian untuk membuka jilbab di hadapan sang suami. Hasilnya, sekarang Nathan jadi kecanduan menghirup aroma harum yang berasal dari surai hitam sang istri, plus kecanduan menyentuh surai hitam yang panjangnya mencapai pinggul tersebut.


“Zaujati (istriku), bangun. Kita harus segera membersihkan diri untuk salat subuh berjamaah.”


Malaikatnya bergerak. Lebih tepatnya mengerjapkan mata. Gerakan sesederhana itu saja begitu berhasil membuat hati Nathan menghangat. Euforia bangun di pagi hari, disuguhi pemandangan wajah cantik perempuan yang belum genap sehari ia nikahi, benar-benar membuat perasaan bahagia Nathan mencapai tingkat maksimal. Ia bahagia, senang, juga bersyukur. Karena pada akhirnya setelah perjuangan yang begitu panjang, mereka dapat bersatu dalam sebuah ikatan suci bernama pernikahan.


“Bangun, Zaujati (istriku). Apa kamu berencana bangun bersama dengan terbitnya sang Surya?”


Mendengar godaan yang dilontarkan sang suami, Alea kemudian membuka mata. Sebenarnya ia sudah bangun sejak tadi, namun ia tak lekas membuka mata karena terlalu malu. Siapa juga sih yang tidak mau ditatap begitu intens oleh laki-laki setampan Nathan? Ditambah lagi posisi mereka saat ini terbilang sangat intim.


Alea ingat betul jika semalam mereka tidur menghadap ke satu arah, yaitu kanan. Mengingat tidur ke arah kanan sebagai ulama mengatakan sunah. Namun, ketika bangun di pagi hari, kenapa malah begini—tidur sambil berhadapan serta berpelukan. Jujur, Alea sangat malu saat ini, sehingga ia tidak punya pilihan selain terus menutup mata.


“Aku tahu kamu sudah membuka mata, Zaujati (istriku),” bisik Nathan seraya menyelipkan beberapa anak rambut ke belakang telinga sang istri. “Mau sampai kapan kita berbaring seperti ini hm?”

__ADS_1


Alea ketahuan. Apada akhirnya tidak ada jalan lain, selain menyerah.


“Selamat pagi, Zaujati (istriku).”


Nathan menyapa pandangan pertama sang istri dengan ucapan selamat pagi, plus senyum hangat yang terpatri.


“Tidur kamu nyenyak?”


Alea tidak menjawab. Suaranya terlalu sukar untuk dikeluarkan karena terlalu malu. Jadi, ia memilih untuk mengangguk. Kemudian ikut mengulas senyum tipis.


“Sebaiknya kita lekas membersihkan diri, kemudian melaksanakan salah subuh berjamaah.”


Alea kembali merespon lewat gerakan kepala. Nathan lagi gemas sendiri melihatnya. Ia kemudian dengan kecepatan kilat mencuri satu kecupan di kening sang istri.


“Ar-rumi ku benar-benar menggemaskan,” pujinya.


Alea tidak tahan. Sungguh, dekat dengan laki-laki yang belum genap menikahinya sehari, membuat jantung Alea tidak sehat. Detak jantungnya jadi tidak karuan, Alea risau si jantung copot di dalam sana.


“Lekas lah membersihkan diri, Zaujati (istriku). Biar aku yang mengurus tempat tidur,” kata Nathan kala mereka berdua sudah beranjak dari peraduan.


Alea tentu memberikan penolakan. Mengurus tempat tidur dan sebagainya adalah tugas seorang istri, bukan tugas seorang suami. Apalagi ini hari pertama Alea resmi menyandang status sebagai seorang istri, masa ia langsung mengabaikan tugas dan tanggung jawabnya.


“Pekerjaan seperti ini bukan sepenuhnya kewajiban seorang istri, Zaujati (istriku). Aku sebagai seorang suami juga boleh membantu.”


“Lekas lah membersihkan diri, kemudian aku memiliki satu permintaan kecil.”


“A-pa itu, Kak?” tanya Alea.


“Tolong siapkan pakaian dan alat salat untukku, seperti semalam. Aku sangat senang menggunakan apapun yang kamu siapkan untukku, Zaujati (istriku).”


Alea tersenyum seraya mengangguk. Senyum limited edition yang hanya diperlihatkan pada orang-orang pilihan. “Baik, Kak. Aku akan siapkan untuk Kakak.”


“Satu lagi,” tambah Nathan. “Hm, bisa ubah panggilan kamu untukku, Zaujati (istriku)? Embel-embel ‘kak’ rasanya kurang tepat untuk kita yang sudah resmi menjadi suami-istri.”


Lebih tepatnya, Nathan tidak mau seseorang di luar sana salah mengira jika meraka adalah kakak-beradik saat jalan bersama.


“Lalu ….aku harus memanggil dengan sebutan apa?”


“Terserah kamu, Zaujati (istriku). Yang terpenting kamu merasa nyaman saat menggunakan panggilan itu.” Nathan menyentuh pucuk kepala sang istri. Membelainya dua kali.


“M-as.”


“Hm?” respon Nathan cepat, begitu peka. “Kedengarannya itu panggilan yang lebih baik.” Nathan kian melebarkan senyum. Hangat kembali menyerap ke setiap dinding di hatinya. “Aku suka mendengar kamu memanggil aku begitu, Zaujati (istriku). Suka sekali.”

__ADS_1


“Ya sudah.” Kikuk Alea. Ia kemudian menatap sang suami sebentar, sebelum mengambil ancang-ancang untuk segera pergi ke kamar mandi. “A-ku mandi dulu, Mas.”


“Naam, Zaujati (iya, istriku).” Nathan membalas dengan nada menggoda yang masih sedikit terselip di kata-katanya.


Sepertinya Nathan mendapatkan kebiasaan baru, selain menatap wajah cantik sang istri yang membuat candu, mengelus surai sang istri yang lembut dan harum, ditambah menggoda sang istri. Wallahi, Nathan menyukai setiap ketetapan yang telah ditetapkan oleh-Nya. Termasuk ketetapan soal ia dan Alea yang akhirnya berjodoh. Sangat menyukainya malah.


✈️✈️


Acara pernikahan di kediaman Radityan tidak pernah mengalami kegagalan saat tiba pada waktunya. Dulu, pernikahan pertama yang sangat mewah jatuh pada pernikahan Van’ar dan Aurra di generasi ke-dua. Mereka menikah secara militer, mengingat Van’ar adalah seorang Abdi Negara berpangkat Perwira. Serangkaian acara digelar, tidak terkecuali prosesi sakral bernama pedang pora. Resepsi bahkan dilakukan selama tiga hari tiga malam, mengundang berbagai guest start dari berbagai kalangan. Resepsi yang mengusung tema garden party itu berhasil menyulap kediaman Radityan menjadi istana di negeri dongeng. Hampir semua bagian dengan view cantik di mansion Radityan digunakan dalam acara resepsi pernikahan Van’ar dan Aurra—yang awalnya dipersiapkan untuk pernikahan Anzar dan Aurra.


Setelah pernikahan pasangan Van’ar dan Aurra, Anzar dan Airra tak mau kalah start. Mereka kemudian menikah tak berselang lama, sekitar satu tahun setelah Van’ar dan Aurra menikah. Pada pernikahan Anzar dan Airra, mereka mengadakan resepsi selama dua hari dua malam, karena menolak resepsi selama tiga hari tiga malam. Pernikahan mereka mengusung tema garden party and memories, bukan cuma garde party saja. Walaupun begitu, kemewahan juga tetap tampak walaupun mereka ingin menampilkan tema yang lebih sederhana.


Sedangkan dalam sejarah pernikahan yang paling ribet adalah pernikahan Lunar—si bungsu. Untung saja suami Lunar begitu sabar dalam menanggapi semua keinginan sang istri. Mengusung tema ala Princess Disneyland, mansion Radityan diubah agar benar-benar persis seperti kerajaan di negeri dongeng Disney. Pada pernikahan Lunar juga, taman bunga private milik almarhumah Silvia—nenek mereka turut ikut serta disulap menjadi bagian favorit bagi para tamu undangan.


Setelah pernikahan Lunar, tidak ada lagi pernikahan yang digelar secara mewah. Mengingat Arsyad yang sudah menikah terlebih dahulu, melangsungkan ijab Kabul di Bogor. Kemudian menunda resepsi pernikahan, mengingat usia si mempelai yang masih dini. Resepsi juga tak kunjung diadakan, sampai pada akhirnya mereka memilih go publik pada usia pernikahan yang ke-empat tahun. Keputusan go publik sudah diputuskan oleh para orang tua, sehingga mereka membuat acara kecil-kecilan bertajuk ‘wedding surprise’ di pulau pribadi.


Sekarang, pernikahan kembali digelar dengan mewah. Dari mahar saja sudah jadi perbincangan hangat semenjak kemarin. Ditambah lagi banyak yang notice suvenir cantik yang mereka dapatkan dari pernikahan Nathan dan Alea. Suvenir tidak selamanya harus yang mewah dan mahal, akan tetapi harus mengandung makna yang tersirat di dalamnya.


“Kalau kamu lelah, kamu bisa istirahat sebentar di kamar, Zaujati (istriku).”


Nathan sejatinya adalah laki-laki yang mudah peka dengan keadaan. Oleh karena itu, ia mulai tahu jika sang istri menunjukkan tanda-tanda kelelahan.


“Alea tidak apa-apa kok, Mas.”


“Kamu kelihatan lelah, Zaujati (istriku). Lebih baik kamu istirahat dulu. Ayo, biar aku antar kamu ke kamar,” ujar Nathan seraya menyentuh punggung sang istri lembut. Tak lupa memberikan senyuman tipis, agar sang istri mau menuruti perintahnya yang satu ini.


Namun, belum sempat sang istri menjawab, kehadiran dua perempuan berparas rupawan yang menaiki pelaminan tiba-tiba menarik perhatian.


Siapa sih yang tidak mengenal mereka berdua? Dua wajah dari Arga’s Air, maskapai milik keluarga Nathan. Sialnya lagi, mereka berdua adalah dua perempuan yang pernah mengutarakan rasa suka pada si mempelai pria. And then, tiba-tiba mereka berdua keroyokan datang ke pelaminan.


“Halo, Capt Nathan. Kita datang untuk memenuhi undangan spesial dari Captain.”


Sampai salah satu di antara mereka berdua buka suara, menarik serta seluruh perhatian Alea.


✈️✈️


TBC


NAH, LOH, CAPTAIN NATHAN GIMANA TUH?


NEXT?? JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR, SHARE, TABUR BUNGA SEKEBON, DAN TONTON IKLAN JUGA SAMPAI SELESAI 💙💙


Tanggerang 15-09-22

__ADS_1


__ADS_2