
°BDJ 86 : TABIAT ASET RADITYAN
Davian keheranan. Semenjak tiba di Lembang dan langsung mengintai pergerakan pasangan pengantin baru—Nathan dan Alea, Davian hanya dapat merasa keheranan. Pasalnya pasangan pengantin baru itu seperti gambaran pasangan pengantin baru pada umumnya, romantis, bucin, dan memancarkan aura positif satu sama lain kala mereka berada dalam ruang lingkup yang sama. Davian juga dapat melihat bagaimana putra Dwiarga itu memperlakukan Alea dengan sangat istimewa.
Dari hasil pengamatan tersebut, Davian dapat menyimpulkan bahwa Nathan belum jujur soal masa lalu nya dengan Nichole. Sampai saat ini Davian juga masih penasaran, siapa itu Nichole?
Ingin bertanya secara langsung, ia sungkan mengganggu romantisme pasangan pengantin baru tersebut. Hendak bertanya pada orang lain, lebih tepatnya pada adik si tersangka utama, laki-laki itu sejak tadi malah meminta Davian untuk positif thinking saja. Hadeuh.
“Lo yakin nggak tahu apa-apa soal Nichole?”
“Nggak.”
“Masa nggak tahu. Katanya dulu sering diajak ke rumah. Sedikit bayaknya lo pasti pernah ngobrol dong sama Nichole.”
Laki-laki rupawan yang menggunakan baseball hat berwarna hitam itu menggelengkan kepala. Bibir kissable miliknya masih mengatup rapat, karena di dalam sana sibuk mengunyah makanan bernama baso aci tulang rangu.
Baso aci tulang rangu sendiri adalah salah satu jenis olahan dari tepung tapioka yang diberi tambahan berupa ceker dan tulang ayam. Baso aci tulang rangu dalam satu porsi biasa berisi cuankie kering, cuakie tahu, sukro cikur, hingga tetelan sapi. Namun, ada juga yang menambahkan cuakie lidah, ceker ayam, batagor mini, cuankie kembung, dan isian lainnya sesuai selera.
“Mending jangan ikut campur terlalu jauh, Dav. Lagian Bang Nathan sama Mbak Alea juga udah dewasa. Mereka pasti tahu cara mengatasi masalah dalam rumah tangga mereka,” komentar Gean kemudian. “Mending habisin makanan lo, terus balik ke kamar. Sayang udah booking kamar capek-capek kalau nggak digunakan dengan baik fasilitas yang tersedia.”
“Hm.”
Gean yang melihat ekspresi Radityan muda itu masih sama, hanya bisa geleng-geleng kepala. Walaupun begitu, Gean meyakini jika sifat protektif dari para laki-laki Radityan adalah satu sifat yang diwariskan. Jadi tak apa Davian bersifat demikian, mungkin sudah bawaan dari keluarga Radityan. Lagipula siapa coba yang tidak shock saat mendengar suami dari saudari yang sangat kita sayangi memiliki “something” dengan mas lalu yang belum usai.
Kendati demikian, Gean yakin jika sang abang juga sudah dewasa. Setahunya, Nathan adalah laki-laki dewasa yang selalu punya pikiran matang dan stabil. Soal masalah “something” dari masa lalu nya, tidak mungkin laki-laki itu menyembunyikan terlalu lama dari sang istri. Pasti akan ada saatnya Nathan bicara jujur pada Alea.
“Eh, ini Abang gue ada kasih klarifikasi soal Kak Nichole,” ujar Gean tiba-tiba.
Davian yang sedang menikmati makanannya langsung menatap ke arah Gean. “Coba lihat.”
Gean menyodorkan benda pipih miliknya. Layar benda tersebut menampilkan room chat antara Gean dan Nathan. Saat ini mereka tengah berada di cafe bukit saung bambu yang terbuka untuk umum. Café ini welcome bagi siapa saja, bukan hanya untuk tamu yang menginap di penginapan Bukit saung bambu. Di cafe ini spesialisnya makanan sunda yang dimasak begitu ada pesanan, jadinya dijamin fresh from the kitchen. Menu paling khas dan popular di sini adalah nasi liwet padukdek yang disajikan menggunakan nampan, sehingga sayur-sayuran terlihat berdesakan (dalam bahasa sunda biasa disebut padukdek).
Nasi liwet padukdek berisi nasi liwet yang disajikan di dalam kastrol, bercitarasa gurih, yang disajikan bersama lauk seperti ayam goreng atau ikan goreng, tahu goreng, tempe goreng, cumi masak cabe ijo, tumis keciwis (bisa diganti dengan toge atau kangkung), tidak ketinggalan pula kerupuk dan sambal yang dinamai ‘hese baleum’ yang mengandung arti susah mingkem. Selain menu makanan berat seperti nasi liwet padukdek, ada juga cemilan seperti pisang goreng dan peuyeum goreng yang dapat menjadi menu pilihan.
“Gimana? Klarifikasi dari Abang gue masuk akal?” tanya Gean yang baru saja menyeruput kuah baso aci tulang rangu terakhirnya.
“Asuuu!” umpat Davian seraya mengembalikkan benda pipih milik Gean. Asu sendiri adalah salah satu umpatan (kata-kata hewan dari bahasa sunda). “Jadi gue ovt karena masalah sepele?”
Gean ngakak. “Lo sih, over thinking terlalu jauh. Nah, ‘kan, langsung diklarifikasi sama yang bersangkutan baru ngeh.”
“Lah, gue kira Abang lo beneran udah pernah nikah sebelum ini. Soalnya nyokap lo bilangnya….”
“Selamat, Anda terkena jebakan Betmen.” Gean semakin dibuat tertawa puas melihat kengerian di wajah Davian. “Nggak tahu aja lo selera humor keluarga Dwiarga. Sekalinya bercanda, beuh ….nggak ada yang sadar kalau itu candaan saking real-nya.”
__ADS_1
Davian berdecih seraya menusukkan garpu di tangan ke atas peuyeum goreng bertabur parutan keju dan kental manis pesanannya. “Lo juga, kenapa nggak ngasih tau gue?!”
“Gue juga nggak punya informasi soal Kak Nichole. Eh, taunya ternyata dia itu mantan kakak ipar gue jalur praktikum mapel keagamaan di sekolah.”
“Tol*l sih gue. Bisa-bisanya gue nggak mikir, kalau orang se-bucin Bang Nathan memang sanggup menyembunyikan fakta sebesar itu kalau dari teh Alea.”
“Nah, itu Anda tahu.”
“Tauk ah, gelap,” sahut Davian seraya kembali melanjutkan sesi makan. Tak lagi mau meladeni Gean yang sedang menertawakan kebodohannya.
✈️✈️
“Apa nama makanan ini?”
Mendapat pertanyaan demikian, laki-laki yang berada di kitchen island itu menoleh. “Pisang bakar. Kenapa? Nggak suka?”
“Suka.”
Perempuan yang sedang hamil muda itu menjawab seraya menunjukkan isi piringnya yang tinggal setengah. Pisang bakar yang tadinya ada sekitar enam sampai tujuh potong itu kini tinggal sisa beberapa potong.
“Enak?”
“Enak. Manis,” komentar si lawan bicara. “Tapi aku suka. Ada rasa gurihnya sedikit, mungkin karena dibakar dengan margarin.”
“Iya. Itu ‘kan dibakar sama margarin, terus dikasih susu kental manis sama parutan keju cheddar,” tutur si pemilik nama yang berarti Leo tersebut. “Pisang ini baik untuk kamu, karena mengandung vitamin B6 yang baik untuk dikonsumsi oleh ibu hamil pada trimester pertama. Vitamin ini dapat mengurangi rasa mual.”
Laki-laki tersenyum kecil. “Sekalian bantu menghabiskan barang dagangan temen gue. Dia punya kios buah, jadi sekalian bantu larisin.”
Lea tersenyum kecil. Ia kemudian kembali mengunyah pisang keju miliknya. “Kamu hari ini tidak ada kelas?”
“Ada. Nanti jam satu.”
“Terus kenapa masih ada di sini?”
“Gabut. Seenggaknya kalau di sini, gue bisa nemenin kamu.”
Lea menautkan kening mendengarnya. “Tapi aku ada teman di sini.” Ia berucap seraya menatap ke arah sang manager yang sejak tadi seolah-olah menjadi mahluk tak kasat mata di antara mereka.
“Manager kamu sibuk kerja, kamu pasti bakal kesepian.”
Lea kembali tersenyum. Kali ini lebih lebar dari sebelumnya. Semenjak mengenal Leon, hari-harinya memang jadi lebih berwarna. Laki-laki muda itu memang membawa positif vibes bagi orang-orang di sekitarnya. Walaupun ya, kesan pertama saat melihat Leon pasti akan memunculkan komentar negatif.
“Sebelum berangkat ke sini, gue sempat lihat laki-laki yang ada di wallpaper handphone kamu.”
“Uhuk, uhuk.”
“Kalau makan pelan-pelan, keselek ‘kan?” dengan cepat Leon mengambil satu gelas air putih untuk melegakan tenggorokan Lea. Manager perempuan itu juga sampai kaget saat melihat Lea tiba-tiba tersedak.
__ADS_1
“Maksud kamu apa bicara begitu?”
Leon menghela napas perlahan, kemudian buka suara setelah menyodorkan tisu kering untuk menyeka bibir Lea.
“Gue nggak sengaja lihat wallpaper handphone lo kemarin. Dan tadi, gue lihat laki-laki itu di sekitar jalan Antapani.”
Lea terdiam mendengarnya. Namun, bibirnya secara spontan mengeluarkan satu nama. “Louis.”
“Kamu nggak mau ketemu dia?” tebak Leon tiba-tiba. “Kalau iya, gue bisa bantu kamu buat sembunyi dari dia.
✈️✈️
“Kerja orang-orang mu itu sebenarnya apa Jack?! Kenapa kalian tidak becus mencari satu orang wanita pun!”
Jack hanya bisa menunduk kala sang tuan kembali “mengamuk” untuk ke sekian kalinya. Alasan kenapa sang tuan “mengamuk” sudah tentu karena wanitanya belum juga ditemukan hingga hari ini.
“Maaf, Tuan. Tetapi kami memang kesulitan mencari jejak nona Lea di Negara ini, sama seperti Negara-negara sebelumnya.”
“Lalu dimana wanitaku, sial*n?!”
“Saya juga tidak tahu, Tuan.”
Louis yang sudah naik darah hanya bisa meremas surai miliknya dengan perasaan frustasi. Hingga detik ini, pencarian sang kekasih masih tidak membuahkan hasil. Malah semakin nihil. Ia juga sudah mendapat puluhan telepon dari sang Eomma. Perempuan yang telah melahirkannya ke dunia itu meminta untuk segera kembali ke New York.
Nata mencoba memberikan penjelasan pada Louis, mungkin saja Lea masih membutuhkan waktu untuk berpikir. Jadi, Nata memberikan masukan agar Louis memberikan apa yang Lea mau. Bukannya terus mengejar Lea kemana pun Lea pergi.
“Tuan, saya memiliki satu solusi,” ujar Jack hati-hati.
“Solusi macam apa yang kau miliki?”
Jack terdiam untuk sejenak. Ia tampak ragu saat hendak berkata. “Bagaimana jika Tuan meminta bantuan kepada….”
“Kepada siapa?!”
“….kepada aset keluarga Radityan.”
“Damn crazy!” umpat Louis seraya tertawa evil. “Kamu pikir aku sudah tidak memiliki harga diri? Pikir dengan otak kecil mu itu, Jack. Setelah apa yang orang tuaku dan aku lakukan, apa aku masih punya muka untuk minta bantuan pada mereka?”
“Tapi, hanya mereka yang memiliki jaringan paling berpengaruh di Negara ini, Tuan.”
Louis terdiam. Apa yang dikatakan Jack memang benar. Namun, apa ia harus meminta bantuan pada keluarga Radityan setelah apa yang terjadi beberapa waktu kebelakang? Rasa-rasanya urat malunya sudah putus jika memang berniat merealisasikan solusi tersebut.
✈️✈️
TBC
Jika suka jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘
__ADS_1
Tanggerang 06-10-22