
BDJ 54 : KELUARGA BESAR RADITYAN
Dua hari telah berlalu semenjak insiden yang terjadi di lobby Radityan Corp’s. Semenjak hari itu Annante tidak putus asa melakukan berbagai cara supaya dapat berbicara dengan Alea. Namun, semua rencana itu berujung sia-sia. Alea benar-benar menutup semua akses komunikasi di antara mereka. Annante bahkan sudah menerima surat pemecatan tidak hormat yang dilayangkan oleh Human Resources Development atau HRD. Keputusan itu diambil oleh ayah Alea, karena tindakan Annante beberapa hari ke belakang semakin radikal. Untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan terjadi, keputusan itu kemudian diambil. Anzar juga menambah personil keamanan untuk melindungi sang putri.
“Ini buat dimakan di perjalanan ya, kak.”
Laki-laki dengan seragam pilot lengkap itu mengangguk seraya tersenyum lebar kala menerima paper bag dari sang tunangan.
“Apa ini?”
“Makanan ringan dan makanan berat untuk kakak makan di jalan. Ada termos kecil yang isinya creamy corn soup. Ada nasi sama lauknya juga di dalam Tupperware. Kakak biasanya makan kalau mengaktifkan mode auto-pilot bukan?”
“Iya. Biasanya mode auto-pilot diaktifkan saat pilot, co-pilot atau FO beristirahat untuk mengisi perut.” Nathan menerima pemberian sang tunangan dengan hati gembira. Ia pasti akan menikmati semua makanan yang sudah disiapkan sang tunangan. “Kamu sudah benar-benar belajar banyak tentang jobdesk aku, ya?”
Alea mengangguk, masih dengan posisi Gadhul bashar. “Aku hanya sedang berusaha mempersiapkan diri dengan baik untuk menjadi istri kakak.”
“Kamu sudah melakukannya dengan baik,” kata Nathan. Tangannya sudah gemas ingin menyentuh pucuk kepala Alea. Menjatuhinya kecupan, jika saja mereka sudah sah.
Penerbangan Nathan bersama keluarganya hari ini dijadwalkan pada sore hari, berbeda dari biasanya. Dalam perjalanan menuju tanah air kali ini, Nathan yang akan menjadi pilot. Berkolaborasi dengan seorang First Officer atau FO. Sedangkan Gean yang ikut pulang ke tanah air memilih jadi penumpang saja. Toh, kali ini mereka pulang menggunakan jet pribadi milik keluarga. Jadi Gean ingin leha-leha dan menikmati semua fasilitas mewah yang tersedia di dalam jet pribadi milik keluarga mereka.
Alea juga ikut mengantar kepulangan Nathan, Gean, Gea serta Al. Alea datang mengantar ditemani oleh Aileen serta dua bodyguard lain, tanpa orang tuanya. Gean, Gea dan Al saat ini memilih menyisi, memberikan ruang bagi Alea dan Nathan untuk supaya bisa mengobrol walaupun sebentar. Pasalnya setelah ini mereka akan menjalani prosesi long distance relationship untuk kesekian kalinya.
“Selama aku pergi, jika mereka menganggu kamu lagi, jangan segan-segan untuk menelpon.”
“InsyaAllah, kak. Kakak tidak perlu khawatir, karena di sini banyak yang menjaga Alea.”
“Iya. Tapi, aku tidak ingin menjadi orang terakhir yang tahu soal kondisi kamu.” Nathan menatap lawan bicaranya lekat. Sore ini sang tunangan tampak anggun dalam balutan gamis berwarna coklat susu yang dipadukan dengan kerudung berwarna senada. Sedangkan untuk alas kaki, Alea memilih menggunakan sepatu slip on yang nyaman digunakan.
“Aku ingin jadi orang ketiga, setelah Allah dan orang tua kamu yang tahu. Apa boleh?”
Alea mengangguk. “Tentu saja. Kakak calon suami aku, kakak berhak untuk itu,” jawab Alea dengan suara pelan.
Nathan tersenyum sumringah. Ah, kadar posesif nya semakin hari semakin bertambah. Padahal mereka belum menikah. Mau bagaimana lagi, Nathan harus sangat extra menjaga sang permata. Perempuan yang ia cintai dan tak akan pernah terganti.
“Kalau begitu aku pamit. Sebentar lagi kami akan boarding.”
“Iya, kak.”
“Jangan rindu, katanya berat. Lebih baik kamu bercerita pada Allah jika sedang merindukan kehadiran salah satu mahluk-Nya.”
Alea terdiam dengan hati berdebar kencang. Nathan itu sesuatu. Penuh kejutan di setiap waktu. Tutur katanya yang lembut juga tidak dapat ditebak, hingga bisa saja sewaktu-waktu mengandung jebakan. Jebakan manis seperti saat ini.
“I-ya.”
Nathan berdeham kecil guna menghilangkan rasa gugup yang tiba-tiba muncul karena barusan mengeluarkan gombalan receh. Bukan tipikal Nathaniel Allugard Hazka Dwiarga sekali.
“Good afternoon, ladies and ganleman. His is a pre-boarding announcement for passengers of Azka’s Airlines on flight number 404B to Jakarta, Indonesia. We would like to invite to start boarding first. Please have your boarding pass and identification ready. Regular boarding will start in approximately ten minutes. Thank you.”
(Selamat pagi, penumpang sekalian. Ini adalah pengumuman pre-boarding untuk penumpang Maskapai Azka’s Airlines dengan nomor penerbangan 404B tujuan Jakarta, Indonesia. Kami mengundang untuk melakukan boarding terlebih dahulu. Mohon persiapkan pas naik dan identitas anda. Boarding regular akan mulai dalam waktu sekitar sepuluh menit. Terima kasih).
Obrolan Nathan dan Alea terpotong oleh suara airport Announcement yang berasal dari pengeras suara. Airport Announcement atau pengumuman di bandara barusan memberikan informasi pada penumpang Maskapai Azka’s Airlines untuk melakukan boarding—masuk pesawat—dalam waktu sepuluh menit dari sekarang.
“Sudah waktunya kakak boarding.”
__ADS_1
“Hm. Kalau begitu aku harus bergegas pergi.” Namun, kaki ini terasa sulit untuk beranjak, tambah Nathan di dalam hati.
“Iya,” ujar Alea menyetujui.
“Aku pergi, ya. Aku juga minta do’a supaya prosesi silaturahmi dengan keluarga besar Radityan berjalan dengan lancar.”
“Amin ya Rabbal alamin. Alea akan selalu mendoakan yang terbaik untuk semua usaha kakak demi meperjuangkan hubungan kita.”
Apa Nathan sudah pernah bilang kalau kata-kata Alea itu bak mantra yang magic? Iya. Mantra magic yang mampu menjadi support sistem bagi Nathan, supaya lebih bersemangat dalam mewujudkan keinginan mulia mereka untuk segera meresmikan hubungan.
Sayang, kebersamaan mereka tidak bertahan lama, karena Nathan harus segera melakukan boarding. Ia harus mengemudikan burung besi yang akan membawa ia beserta keluarganya kembali ke tanah air. Cukup lama waktu yang akan mereka lewati di udara, namun Nathan sepertinya tidak akan merasa bosan, karena setiap kali melihat bekal yang dibawakan oleh sang tunangan, semangatnya langsung bertambah.
“Akhirnya sampai juga di hotel.”
Tiba di tanah air, keluarga Dwiarga langsung menuju ke hotel yang akan menjadi tempat singgah mereka untuk beberapa waktu. Mereka memang sudah melakukan booking online, supaya saat tiba di tanah air, mereka tinggal chek in. Besok malam baru mereka akan bertandang ke mansion Rdaityan. Tempat di mana sebagian besar keluarga Radityan tinggal. Gea juga sudah meminta sekretarisnya datang dari Bandung ke Jakarta guna mengurus masalah buat tangan yang pantas untuk dibawa ke mansion Radityan. Tidak mungkin mereka datang tanpa buah tangan.
“Dari sini ke rumah my chéri deket banget,” ujar Gean yang kebetulan satu kamar dengan Nathan. Mereka memang hanya kebagian satu kamar dengan double bed terpisah—dikarenakan hotel tempat mereka menginap sudah terisi penuh.
“Jadi nggak sabar mau apel ke rumah my chéri,” monolog Gean antusias.
“Bukannya tunangan kamu sudah kembali ke London.”
“Iya sih,” sedih Gean. “My chéri sudah tidak ada di sini. Tapi….” Ia kemudian menggatungkan kalimatnya sampai berbaring di tempat tidur. “….masih ada keluarganya. Aku juga mau bersilaturahmi sama mereka.”
“Sekalian saja besok malam.”
“Hm. Makanya besok malam aku harus ikut,” kekeuh Gean yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Nathan.
“Asal jangan ribut.”
💐💐
Siapa sih yang tidak mengenal keluarga Radityan? Keluarga terpandang yang memiliki kerajaan bisnis dibawah naungan Radityan Group. Sejauh ini Radityan Group yang digagas oleh almarhum Ibra Radityan sudah memiliki beberapa perusahaan cabang di Negara-negara berkembang, maju, sampai adi daya. Untuk perusahaan pusat masih berada di Jakarta, cabang perusahaan pusat paling krusial kedua ada di New York yang sekarang dipegang oleh Keevanzar Radityan Al-faruq. Dibawah kepemimpinan Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi yang sempat digantikan oleh Diano Aroon Dee Prameswari, perusahaan Radityan semakin berkembang pesat dan kian memperluas jangkauan pasar ke Negara-negara di ASIA tenggara hingga ASIA tengah.
Arsyad bahkan berani melakukan merger dengan dua perusahaan besar di Jepang dan Korea, padahal tidak ada yang berani melakukannya karena resiko yang terlampau tinggi. Intinya, Nathan sendiri menjadi sangat tidak sabar untuk bergabung dengan keluarga yang diisi oleh orang-orang jenius, mapan, taat Bergama dan low profile.
“Selamat datang di mansion Radityan yang sederhana ini. Kami sekeluarga menyambut kedatangan anda dan keluarga dengan gembira. Saya pribadi sudah mendapatkan informasi soal kedatangan anda sekeluarga.”
“Terima kasih atas kemurahan hati tuan Keevano. Saya dan istri datang ke sini untuk mengantar putra kami, Nathan—yang ingin menyampaikan niat baiknya untuk mempersunting putri dari putra sulung anda.”
“Alea? Putri Anzar. Cucu sulung saya, tetapi lahir setelah si kembar Arsyad dan Arra.”
“Betul sekali, tuan.” Al tersenyum kecil seraya menatap lawan bicaranya sopan.
Sementara itu, Nathan juga mencoba menghapal satu per satu anggota keluarga Radityan yang sekarang berada di depannya. Ada Keevano Radityan Khutbi bersama sang isti. Beralih ke kiri, ada Lunarsyah bersama sang suami. Beralih ke kanan, ada seorang perempuan dengan pakaian syar’I seperti Alea yang duduk seorang diri. Kemana sang suami?
Nathan tebak, suami dari perempuan berpakaian syar’I itu adalah ayah Van’ar alias BigLear yang melegenda. Anggota KOPASSUS yang pernah dikira sudah meninggal dunia saat bertugas, padahal ia selamat dan telah diterbangkan ke Papua.
“Jadi kamu yang namanya Nathan?”
“Iya, tuan. Saya Nathan.” Nathan menjawab dengan tenang. namun, ia agak kebingungan saat hendak memanggil Vano dengan embel-embel.
__ADS_1
“Panggil opa saja, seperti cucu-cucu saya yang lain,” koreksi Vano seraya tersenyum.
“Baik opa,” itu adalah jawaban dengan suara ragu dari Nathan. Ia belum terbiasa.
“Jadi apa tujuan kamu datang ke sini, Nathan?” tanya Vano memastikan.
“Kedatangan saya ke sini untuk memeberitahukan niat baik saya untuk mempersunting Alea. Atas izin Allah beserta orang tua Alea, saya telah mengantongi restu untuk menjadikan Alea sebagai istri saya. InsyaAllah, jika semua berjalan dengan lancar, pernikahan akan dilangsungkan empat Sayyidul Ayyam dari sekarang.”
“Alhamdulillah.” Vano selaku kepala keluarga tertua mewakili yang lain mengucap hamdalah. “Kami turun senang mendengarnya. Sebagai keluarga besar Alea, kami tentu mendukung semua keputusan yang telah diambil Alea dengan persetujuan kedua orang tuanya.”
“Selain itu, kadatangan saya malam hari ini karena ingin bertemu ayah dan bunda Alea. Papa Alea berpesan pada saya supaya datang dan memberitahukan berita baik ini secara langsung kepada ayah dan bunda Alea,” tambah Nathan.
“Memangnya ada apa dengan ayah dan bunda Alea?” tanya Vano.
“Saya mendengar dari papa Alea bahwa ayah dan bunda Alea sudah seperti orang tua kandung bagi Alea. Saya mencintai Alea karena Allah, dan semenjak saya berikrar untuk mencintai Alea, itu berarti saya juga harus mencintai orang-orang yang Alea cintai serta hormati. Termasuk ayah dan bundanya.”
Vano mengangguk seraya menoleh. “Bagaimana ini, Ra? Ada satu putra dari keluarga yang sama ingin mempersunting putri kamu yang lain.”
Si pemilik nama yang sejak tadi sangat menjaga pandangan, tetapi tetap mendengarkan pembicaraan langsung mengangkat pandangan. Namun, tak langsung menatap orang-orang yang bukan muhrimnya.
“Alhamdulillah, sebagai bunda Alea saya ikut merasa gembira. Saya hanya bunda Alea, bukan ibu kandung yang melahirkannya. Namun, saya merasa sangat terharu karena kamu datang ke sini untuk menemui saya dan suami saya secara langsung. Saya tidak berhak untuk menghalangi kebahagiaan putri kami, namun ada yang perlu nak Nathan ingat. Alea adalah putri kami, bukan saja putri orang tua kandungnya. Saya harap nak Nathan bisa menjaga, membimbing, menyayangi serta mengayomi Alea dengan semestinya.” Aurra menatap cincin yang melingkari jari manisnya. Cincin nikah yang dulu disematkan oleh sang suami.
“Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk kebahagiaan Alea. Begitu pula dengan ayah Alea. Jika beliau ada di sini malam ini, pasti beliau mengatakan apa yang baru saja saya utarakan. Semoga niat kamu untuk mempersunting Alea lancar sampai hari yang telah ditentukan.”
Nathan mengangguk dengan mantap. Bicara dengan bunda Aurra—bundanya Alea—membuat Nathan tahu dari mana ketenangan yang Alea miliki. Pasti dari perempuan dengan suara jernih yang sangat menjaga pandangan ini.
“Insya Allah. Saya akan membuktikan semua ucapan saya sebagai imam yang baik serta bertanggung jawab untuk Alea, sehingga kelak kami bisa terus berjodoh hingga jannah-nya Allah Subhanahu wata’ala.”
Ucapan Nathan itu direspon positif oleh para anggota keluarga Radityan. Kini jalinan silaturahmi di antara keluarga Radityan dan Dwiarga semakin erat dengan adanya dua ikatan antara keluarga Van’ar dan Anzar dengan mereka.
“Kalau boleh saya tahu, apa ayahnya Alea ada?” tanya Nathan dengan hati-hati. Rasanya tidak afdol datang kesini, tetapi tidak bertemu dengan ayah Alea. Padahal beliau yang harus ia tuju.
Vano tampak menoleh ke arah sang istri, begitu pula dengan Lunar yang saling tatap dengan sang suami. Sedangkan Aurra, tampak tenang menghadapi situsi saat ini.
“Ayahnya Alea akan segera pulang, karena beliau pasti tahu ada yang sedang menunggu.”
Nathan sebenarnya tidak terlalu yakin dapat bertemu dengan ayah Alea, karena laki-laki paruh baya itu tak kunjung muncul juga setelah satu jam ia datang kesini.
“Jika tidak dapat bertemu dengan suami anda hari ini, apa boleh besok kita datang lagi kesini?” tanya Gea.
Namun, belum sempat Aurra menjawab, derap langkah kaki yang terbalut sepatu ceko khas tentara terdengar nyaring memasuki ruangan. Bukan satu langkah, namun dua pemilik langkah.
“As’salamaulaikum.”
“Waalaikumsalam,” jawab semua orang yang ada di ruang tamu seraya menoleh ke arah pintu utama.
Di sana berdiri dua orang laki-laki beda generasi yang berdiri gagah dengan seragam kebanggaannya masing-masing. Seragam loreng beda warna, beda satra, namun mengabdi pada Negara yang sama. Mereka juga menggunakan penutup kepala berupa baret yang berbeda warna. Satu laki-laki menggunakan baret berwarna merah, sedangkan yang satu lagi menggunakan baret berwarna jingga.
“Kami sepertinya datang terlambat.”
✈️✈️
TBC
__ADS_1
SEMOGA DAPAT MENGOBATI RINDU 2 HARI LIBUR UPDATE 😘
Sukabumi 05-08-22