Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
BDJ 106 : RIZKI YANG DINANTI-NANTI


__ADS_3

“As’saamulaikum. Bumil sedang makan apa? Kelihatannya lezat sekali.”


Ibu hamil dengan floral dress yang jatuh di atas betis itu menoleh, menatap ke arah sumber datangnya suara dengan senyum anggun yang terlukis di bibir.


“Wa’alaikumsalam. Kara makan salmon with creamy garlic souce made in Yanda. Mbak mau coba?”


Alea yang baru saja bergabung di ruang makan bersama sang suami tampak penasaran. “Abang yang masak?” tanyanya seraya menatap ke arah laki-laki yang dipercaya sebagai keturunan paling rupawan dari generasi ke tiga.


“Hm. Kalau kamu mau akan aku siapkan,” sahut si pemilik nama. Peka.


Walaupun Alea menempati posisi sebagai cucu tertua, karena ia lahir sebagai putri Anzar, ia tetap tidak mau memanggil Arsyad tanpa embel-embel. Baginya Arsyad itu sudah seperti sosok saudara laki-laki yang selalu melindungi serta mengayomi adik-adiknya, termasuk Alea. Jika yang lain memanggil Alea dengan embel-embel ‘mbak’ atau ‘teteh’, lain lagi dengan Arsyad. Ia cukup memanggil nama atau dengan kata ganti ‘kamu’ sesuai permintaan Alea.


“Ikan salmon mengandung asam lemak omega-3 yang penting untuk perkembangan otak dan mata. Ikan salmon juga mengandung vitamin D yang baik untuk kesehatan Kara dan bayi kalian selama kehamilan.”


Arsyad membenarkan ucapan Alea. Laki-laki yang baru pulang dari kantor dan diminta untuk segera memasak itu memang sudah menghafal jenis-jenis bahan makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan ibu hamil. Mengingat istrinya saat ini tengah mengandung. Usia kandungan sang istri sendiri sudah memasuki bulan ke-enam. Bulan depan calon buah hati pertama mereka akan memasuki usia tujuh bulan, rencananya mereka berdua akan menyelenggarakan acara tujuh bulanan di kediaman papi Kara.


“Kalian mau makan, ‘kan? silahkan duduk. Yang lain akan segera datang,” ujar Arsyad memberitahu. “Istriku memang izin makan terlebih dahulu, karena semenjak siang mogok makan. Sekarang dia kelaparan.”


Mendengar ucapan sang suami, putri tunggal Crazy Rich asal Surabaya itu tampak mengerucutkan bibir. “Yanda, Yara ‘kan malu.”


“Tidak perlu malu akan sebuah kejujuran,” balas sang suami. “Ayo dihabiskan. Katanya enak.”


Kara mengangguk seraya kembali menikmati makanan buatan sang suami. Ia memang mencuri start duluan karena lapar yang tidak dapat ditunda. Ini kali pertama Kara seperti ini, namun sang suami meyakinkan jika tidak apa-apa mendahului yang lain. Lagipula Kara sedang hamil, mood-nya sering naik-turun. Termasuk nafsu makannya. Seharian ini saja, Kara enggan makan apa-apa selain bubur oatmeal dengan topping buah segar serta segelas susu almond. Ketika hendak pulang kerja, tiba-tiba bumil satu itu minta dimasakkan menu makan malam istimewa oleh sang suami.


“Besok kalian akan kembali ke New York?” tanya Arsyad kala Alea dan Nathan sudah mengambil posisi duduk.


“Iya, Bang. Kita akan kembali ke New York sebelum pergi ke tanah suci, Makkah Al-Mukarramah.” Nathan menjawab dengan nada bicara yang dibuat senormal mungkin.

__ADS_1


Semenjak resmi menikah dengan Alea, jalan tiga minggu ini, interaksi Nathan dan putra Radityan yang begitu dibanggakan ini sangatlah minim. Mengingat Arsyad adalah orang penting yang memiliki jam terbang tinggi. Dari informasi yang Nathan ketahui, laki-laki ini lah yang telah membuat sejarah baru dengan cara menggabungkan dua perusahaan raksasa asal Korea dan Jepang. Jujur, Nathan sendiri kagum dengan kecerdasan Arsyad yang lebih muda darinya.


Tidak berbeda jauh dengan Nathan, Alea juga memiliki interaksi yang terbatas dengan Kara. Saudari iparnya yang tengah mengandung penerus pertama Radityan di generasi keempat itu juga sibuk seperti sang suami. Sejauh ini jika dihitung, pertemuan mereka masih bisa dihitung dengan jari. Pertama kali mereka bertemu adalah saat kelulusan plus resepsi dadakan pernikahan Arsyad dan Kara yang berlangsung di pulau private milik keluarga Radityan. Kedua, mereka bertemu saat Alea pulang ke tanah air untuk mengurus pernikahan. Itu pun sesekali, karena Kara jarang di rumah jika sang suami tidak ada, sedangkan Alea sibuk mengurus pernikahan.


Namun, karena sifat dasar Kara yang ‘welcome’ pada siapa pun, membuat Alea bisa dengan mudah dekat dengannya. Kendati demikian, perempuan cantik berdarah biru asal negeri Sakura dan Ginseng itu jarang mau banyak berinteraksi jika jauh dari sang suami. Ibaratnya Kara itu pilih-pilih, misalnya jika ada Aurra, maka ia akan lebih nyaman di dekat ibu mertuanya. Hal itu merupakan salah satu karakter yang terbentuk dari peristiwa di masa lalu, Alea sempat mendengar cerita singkat soal masa lalu istri saudaranya itu.


Kara ibarat Rapunzel di dunia nyata. Hampi sebagian besar masa mudanya dihabiskan di dalam istana dengan menara tinggi yang dibangun ayahnya sendiri. Kara dijaga dengan begitu hati-hati, karena di luar sana banyak orang yang berniat jahat kepadanya. Maka tidak heran jika Kara tidak mudah dekat dengan orang lain, selain suami serta orang-orang yang sudah ia percayai. Uniknya lagi, perempuan berdarah biru itu sebentar lagi akan melahirkan cucu pertama bagi Van’ar dan Aurra. Cicit pertama Vano dan Arkia. Penerus pertama Radityan generasi keempat. Pewaris pertama dari pewaris tunggal yang mewarisi dua kekayaan dari Negara yang berbeda, yaitu Jepang dan Korea. Belum lagi posisinya diperkuat sebagai cucu pertama Crazy Rich Surabaya. Dan yang pasti, lahirnya dia sebagai anak pertama CEO Radityan Corp’s serta jajaran perusahaan besar lain yang berada di bawah naungan Radityan.


Bisa dibayangkan betapa kuatnya posisi ‘bayi’ dalam kandungan Kara? Anak pertama, cucu pertama, cicit pertama, penerus pertama, ahli waris pertama, dan tentu saja keponakan pertama bagi para om dan onty nya baru menikah sampai yang masih singel lillah.


“Yanda,” panggil Kara tiba-tiba. Di kala sang suami tengah mengobrol bersama Nathan.


“Ada apa hm?” Arsyad sepenuhnya mengalihkan perhatian pada sang istri yang tampak sedang mengelus perut buncitnya. “Nendang-nendang?”


Kara mengangguk dengan antusias. Semenjak bayi dalam perutnya bisa menendang untuk pertama kali, ia sangat excited tiap kali tendangan itu datang lagi dan lagi. Biasanya jika sudah menendang aktif seperti itu, tandanya baby Asad minta perhatian lebih dari sang ayah.


Melihat interaksi pasangan suami-istri tersebut, Nathan dan Alea jadi satu hati, satu pemikiran. Ingin merasakan hal itu pula dalam waktu dekat. Semoga saja, mereka sama-sama berdo’a di dalam hati supaya sang Ilahi segera mengabulkan permintaan mereka.


“Aku ….boleh sentuh tidak, Bang?” tanya Alea hati-hati.


Arsyad menoleh. Menatap salah satu perempuan yang sangat ia sayangi dan lindungi sejak kecil, walaupun ada jarang yang terbentang di antara mereka. “Tentu saja. Kemari lah As-syfa,” panggilnya dengan embel-embel yang biasa disematkan oleh ayah Van’ar untuk Alea.


Alea terlebih menoleh pada sang suami. Ketika Nathan mengangguk dan menorehkan senyum, baru ia mengambil langkah. Mendekat ke arah Arsyad dan Kara.


“Bismillah,” ucap Alea seraya membawa telapak tangan kanannya supaya bermukim di atas permukaan perut Kara. Tidak sampai lima detik, gerakan yang dikatakan sebagai tendangan itu dapat Alea rasakan. “Masya Allah.”


Binar takjub tampak menghiasi kedua bola mata bening miliknya. Cantik. Nathan memuji di dalam hati. Melihat sang istri begitu senang, ia juga ketularan euphoria nya.

__ADS_1


“Nama panggilannya siapa kalau boleh tahu?”


“Asad,” jawab Arsyad dan Kara, kompak.


“Asad?”


“Hmm,” balas Arsyad. “Nama Asad memiliki arti singa yang pemberani. Nama itu pemberian dari Om nya, Davian.”


“Bagus sekali,” ungkap Alea. “Baby Asad.” Ia kemudian memanggil jabang bayi di perut Kara dengan suara yang begitu lembut. “Sehat-sehat di dalam sana, ya. Beberapa bulan lagi kamu akan berjumpa dengan Ayah, Bunda, dan orang-orang yang sangat menanti kelahiran kamu.”


“Terima kasih doanya, Onty. Baby Asad juga tidak sabar ingin segera bertemu sama Onty dan yang lain,” jawab Kara dengan suara yang dibuat mirip sekali dengan suara anak kecil. Kawaii.


“Semoga kalian juga segera menyusul memiliki momongan,” tambah Kara.


“Amin ya Rabbal Alamin,” jawab Alea dan Nathan secara bersamaan.


Kebetulan tersebut kemudian menarik senyum terbit di bibir masing-masing. Sungguh, pasangan satu ini ingin segera dikarunia buah hati. Mereka akan terus berdoa serta dengan sabar menanti. Sampai datang rizki dari sang Ilahi. Rizki berupa buah hati yang mereka nanti-nanti.


Dari riwayat Imam Al-baihaqi dan Tsabit berkata, “apabila seorang mukmin berdoa, maka Allah pun berkata pada Jibril; wahai Jibril, tahan dulu untuk memenuhi hajatnya karena aku sungguh sangat senang mendengar lantunan doanya.”


✈️✈️


TBC


Semoga suka 😘 Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 👏


Tanggerang 28/10/22

__ADS_1


__ADS_2