Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 43 : PENGHIANAT YANG TAK BERKUTIK


__ADS_3

°BDJ 43 : PENGHIANAT YANG TAK BERKUTIK


Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup, dan yang paling pahit ialah berharap pada manusia.”


Selama ini, Alea selalu dibesarkan dengan aturan yang mengacu pada pedoman berupa Al-Qur’an dan hadist yang ditinggalkan Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam untuk seluruh umatnya. Selain itu, Alea juga berpegang teguh pada kalimat-kalimat mutiara dan nasihat pada sahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam yang sebagian besar memang terbukti kebenaran dari ucapannya. Namun, Alea tidak pernah menyangka jika percaya pada satu umat manusia yang sangat dekat padanya pada kemudian hari akan berbalik jadi sebuah belati.


Belati yang mampu melukai. Menyakiti. Menyayat hati. Merobek semua kepercayaan dalam diri.


“Apa maksud dari perkataan Anda?”


Alea yang belum sepenuhnya mengerti, memilih bertanya untuk mendapatkan jawaban yang lebih pasti.


“Dia ….sekretaris kamu, telah bermain api dengan kekasihku.”


Satu fakta Alea dapatkan. Satu kepercayaan telah mulai diragukan.


“Dia ….penghianat. Musuh dalam selimut yang bergerak menikam lawan dari belakang,” tambah Lea dengan suara yang masih terdengar tenang.


Berbanding terbalik dengan dua orang yang saat ini debaran jantungnya kian memburu, bertalu-talu.


“Lea, sudah cukup.”


“Apanya yang cukup, baby?” Lea memutar bola mata jengah seraya memainkan jemari-jemari lentiknya yang dihiasi oleh nial art bernuansa under water. “Kamu mau membela dia dengan cara menutupi perilaku busuknya?”


“Aku bilang cukup, Lea!” seru Louis mulai terpancing emosi.


Bukannya menuruti, Lea malah beranjak dari posisi nya duduk, lantas berjalan ke arah tirai pembatas agar semakin tersibak dengan lebar. “Kemari lah. Kamu datang jauh-jauh ke sini untuk menjenguk Louis bukan?”


“….”


“Kenapa kamu diam saja seperti patung? Apa tiba-tiba saja kamu lupa cara berjalan saking shok nya?” sindir Lea bertubi-tubi.


Walaupun terkenal memiliki kepribadian introver, jika sudah bergerak ….Lea jangan diremehkan. Sekilas ia bisa tampil sangat berani seperti idolanya, yaitu Gigi Hadid. Apalagi saat ini timming-nya sangat pas sekali menurut Lea. Kebetulan sedang ada Alea yang jadi orang paling ‘bodoh’ di sini, menurutnya. Ya, bagaimana tidak bodoh, Alea diperalat dan dikhianati teman dekat sendiri agar temannya itu dapat menghabiskan waktu dengan laki-laki yang sudah jelas sangat tertarik pada Alea.


Louis juga tentu punya kesalahan yang setimpal, juga seimbang seperti Annante. Ia tertarik pada Alea, namun memilih cara kotor dengan menggunakan Annante yang notabene teman dekat Alea. Ia bahkan mendekati Alea, sembari meniduri Annante agar selalu bisa dijadikan boneka.


“Annante Yosemite?”


Perempuan dengan pakaian formal berupa rok A-line 15 centi di atas lutut yang dipadukan dengan atasan kemeja chiffon berwarna broken white itu tak lantas buka suara sekali pun Lea sudah kembali berbicara.


Annante juga agak terkejut mengetahui jika Lea tahu soal nama aslinya. Annante Yosemite. Padahal Annante sudah mengganti nama Yosemite dari belakang namanya. Ia kurang suka nama Yosemite, karena Yosemite adalah nama taman nasioanl yang terletak di sebelah timur California, Amerika Serikat. Baginya nama itu tidak ada makna nya sama sekali, walaupun kedua orang tuanya bersikukuh menyematkan nama Yosemite karena nama itu unik. Ditambah lagi Annate memang lahir beberapa jam setelah orang tuanya mengunjungi taman nasional Yosemite saat liburan musim panas.


“Kamu memang niat sekali datang ke sini rupanya. Sampai-sampai repot membawa bunga dan buahan tangan.”


Lea tersenyum penuh kemenangan, karena lagi-lagi ia tidak terkalahkan. “Lihat, dia datang bukan untuk menjenguk ayah kamu. Dia datang untuk Louis. Dia mungkin hanya tahu jika Louis yang terluka dan dirawat di rumah sakit ini, sedangkan soal ayah teman dekatnya yang sedang terluka ….dia kemungkinan besar tidak tahu.”


Alea menoleh ke arah Lea, lalu menatap Annante. “Ann, tolong jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu datang ke sini?”


“Aku….”


“Jelaskan Ann. Jangan diam saja, karena itu berarti kamu tidak menyangkal semua tuduhan yang mengarah kepada kamu.”

__ADS_1


“Maaf,” ucap Annante seraya menunduk dalam. Ia tampak enggan harus menjelaskan semuanya.


Bahu Alea meluruh mendengar kalimat tersebut.


“See.” Kali ini Lea menatap Louis yang sejak tadi memilih bungkam. Namun, sorot tajam dari mata laki-laki itu tidak dapat berbohong. “Dia tidak mau menyangkal soal hubungan gelap kalian.”


“Lea, cukup?!” geram Louis. “Diam lah. Sudah terlalu banyak kamu bicara.”


“Kenapa? Apa karena kamu takut aku membuka semua rahasia kalian di sini—“


“Leasya Kim, diam atu enyah dari hadapanku,” ujar Louis memperingati.


“Okay,” jawab Lea seraya tersenyum tipis. Ia menang, itu kuncinya.


Lea telah berhasil membuka jalan bagi kebenaran. Membuka keraguan di hati Alea. Begitu pun membuat Louis dan Annante ketar-ketir dalam waktu bersamaan.


“Ann, kenapa kamu diam saja? Apa tidak ada yang mau kamu jelaskan?” tanya Alea seraya berjalan mendekati Annante yang masih mematung.


“Alea,” panggil Anzar. “Kemari, sayang. Jangan mendekati teman pendusta seperti dia.”


“Tapi, pa….”


“Kemari, Alea. Biar papa yang menjelaskan, jika dia memang tidak punya niatan untuk menjelaskan.”


Alea tampak terkejut mendengarnya. “Papa tahu sesuatu tentang Ann dan sir Louis?”


Anzar mengangguk dalam diam. Ia kemudian menggerakan tangan untuk menyuruh sang putri mendekat. Alea menoleh ke arah Annante sebentar, lalu dengan agak berat hati ia kembali menghampiri sang ayah.


Anzar mengangguk lagi, kemudian menggapai tangan sang putri. “Alea percaya sama papa?”


Alea menjawab pertanyaan itu dengan anggukan kepala.


“Kalau begitu Alea harus percaya jika papa mengatakan bahwa dia….” Anzar menunjuk teman dekat putrinya dengan dagu. “memiliki hubungan dengan dia,” katanya lagi seraya melirik Louis dengan ekor matanya. “Mereka memiliki hubungan, tanpa ikatan. Entah apa istilahnya, papa juga tidak tahu. Yang pasti, papa tahu jika mereka memiliki ‘something’ di belakang kamu.”


“Jelaskan secara detail pada Alea, pa.”


Anzar mengangguk seraya tersenyum kecil. “Tidak di sini, sayang. Sepuluh menit lagi papa akan dipindahkan ke rumah kita.”


“Ke rumah kita? Tapi, kondisi papa….”


“Tenang, Alea. Kondisi papa sudah jauh lebih baik, dan dokter juga sudah memberi izin agar papa boleh dirawat di rumah kita.” Anzar menoleh pada sang istri yang berdiri di samping sang putri. Perempuannya itu tampak tersenyum lembut, seolah-olah memberi support lewat tindakan kecil tersebut.


“Papa akan menjelaskan semuanya di rumah. Semua tentang hubungan teman dekat dan rekan kerja kamu, sebanyak yang papa sudah ketahui. Namun, satu yang perlu kamu ingat, Alea. Dari semua kepahitan, yang paling pahit adalah terlalu percaya dan berharap pada manusia.”


Untuk sejenak, Alea tampak tertegun di tempatnya berdiri. Ia kemudian menatap sang ayah lama, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Bagi seorang putri, ayah adalah cinta pertama. Laki-laki pertama yang memberikan contoh nyata bagaimana bentuk nyata dari yang namanya cinta, kasih sayang, perhatian, kepedulian, kepercayaan, dan sebagainya. Semua itu didapatkan dari peran serta seorang ayah yang tidak kalah berperan besar bagi tumbuh kembah sang putri.


Alea selalu percaya pada sang ayah, karena sang ayah bukan saja cinta pertama nya, namun pedoman, motivator, juga sosok mentor yang selalu bisa mengerti Alea.


Setelah cukup lama menatap sang ayah, Alea kemudian melarikan tatapan pada sang teman dekat. Sosok yang selama ini ia sangat percayai. Sosok itu juga tampak menatap Alea dengan tatapan sendu. Ia kemudian menatap rekan kerjanya. Laki-laki itu juga tampak sudah bergerak dari posisi berbaringnya di atas bed.


“Alea, dengar….”

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, Louis memberanikan diri menyebut Alea menggunakan nama, namun terpotong oleh tindakan Alea.


Perempuan berhijab syar'i itu mengangkat tangan seraya mengalihkan pandangan ke sembangan arah. Louis yang baru saja menurunkan kedua kakinya ke lantai, langsung dibuat terdiam seketika itu juga.


“Saya sedang tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari Anda,” kata Alea dengan suara datar yang baru pertama kali Louis dengar.


Jangankan Louis, Lea, Annante, hingga Anzar dan Airra juga baru mendengar nada bicara putri mereka yang seperti ini. Aura intimidasi yang tampak samar terlihat, sangat mirip sekali dengan aura sang ayah jika tengah dilingkupi amarah yang coba diredam di dalam hati. Anzar juga menyadari hal tersebut. Alea memang kloning nya jika sedang berusaha menekan emosi.


“Alea, aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku dan sir Louis ….tidak seperti yang kamu pikirkan.”


Alea menatap Annante. Netra bening itu kini sudah terganggu. Netra bening yang biasanya tenang itu tampak tengah meredam gelombang juga gemuruh yang terjadi di dalam dirinya. Annante langsung terdiam. Menelan Saliva saja rasanya sangat susah.


Marahnya orang diam itu ….terkadang jauh lebih menakutkan dan mengerikan.


“Untuk saat ini aku sedang tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun dari kamu, Ann. kamu sudah menyia-nyiakan kesempatan yang tadi aku berikan.”


✈️✈️


TBC


YUHUUU, UPDATE LAGI READERS. HARI INI AKU SUDAH DI SUKABUMI LAGI, BELAKANG AKU ADA KERJA DI JAKARTA, JADI UPDATE NGGAK TERATUR 🙏🏻


GIMANA BUAT PART INI? MAU KOMENTAR APA? BILANGAN APA KE ALEA?


KE LEA?


KE ANNANTE?


ATAU KE LOUIS?


RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR YA, MALAM AKU UPDATE LAGI 🔥🔥


JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


Sukabumi 21-07-22


REKOMENDASI NOVEL KEREN UNTUK KAMU!



Blurb:


Zidane telah bertunangan dengan Sonya. Namun, dia tak bisa menahan perasaan untuk mencintai orang lain yaitu Alana.


Dia pun menjalin hubungan gelap dengan Alana.


Padahal, Alana hanya menginginkan uang Zidane agar bisa mengubah penampilannya untuk balas dendam terhadap mantan suaminya.


Bagaimana kisah cinta segitiga yang didasari dendam ini?


-

__ADS_1


__ADS_2