Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 84 : NICHOLE


__ADS_3

°BDJ 84 : NICHOLE



“Kamu yakin tidak mau makan di sini dulu?” Perempuan paruh baya yang baru saja melepaskan apron hitam yang tadi ia gunakan tampak bertanya seraya mendekat ke arah lawan bicaranya. “Kamu bisa makan siang di sini dulu, baru pulang.”


“Maaf sekali, Tante. Nic harus segera pergi karena ada meeting penting.”


“Begitu, ya? Padahal ini pertemuan pertama kita setelah beberapa tahun lamanya tidak berjumpa.”


“Sekali lagi Nic minta maaf, Tante. Jika saja Nic ada waktu luang lebih banyak, Nic akan dengan senang sekali tinggal lebih lama di sini.”


Geasya Genandra Putri hanya bisa mengulas senyum tipis. Ia tidak dapat menahan lebih lama lagi, karena lawan bicaranya harus segera pergi. Padahal pertemuan mereka belum terjalin lama, rasanya saja tak cukup untuk menebus perpisahan bertahun-tahun lamanya.


“Kalau begitu Nichole pamit ya, Tante.”


“Iya. Hati-hati di jalan, sayang. Sampaikan salam Tante ke Mommy sama Daddy kamu.”


Perempuan cantik dengan tubuh tinggi, sempai bak top model itu mengangguk seraya memperlihatkan senyum ramah. Kedatangannya ke kediaman Dwiarga setelah beberapa tahun lamanya, ternyata masih tetap mendapatkan sambutan hangat. Padahal dulu ia sempat lost kontak dengan keluarga pilot ternama tersebut. Ketika mendapatkan kabar bahwa putra sulung Gea dan Al menikah di tanah air, ia kebetulan sedang ada schedule untuk pulang. Namun sayang seribu sayang, ia tetap tidak bisa menghadiri acara pernikahan salah satu orang yang “penting” dalam hidupnya itu.


“Kalau masih ada waktu luang, Nichole jangan sungkan main ke sini. Om dan Tante akan menyambut kedatangan Nichole dengan tangan terbuka.”


Perempuan cantik yang multitalenta itu mengangguk. “Iya, Tante. Jika ada kesempatan, Nic pasti akan menyempatkan diri untuk mampir ke sini.”


“Tante akan menunggu.”


Nichole tersenyum. Ia kemudian menyerahkan sesuatu yang telah ia persiapkan semenjak berniat untuk datang ke tempat ini. “Nic juga mau menitipkan ini untuk Nathan, Tante. Apa boleh?”


“Tentu saja boleh, sayang.” Gea menerima benda berbentuk persegi yang ukurannya sedang tersebut. “Tapi kenapa Nichole tidak memberikan langsung kepada Nathan? Kalau mau, biar Gean antar kamu ke rumah baru Nathan dan istrinya.”


Nichole menggelengkan kepala. “Tidak perlu repot-repot, Tante. Biar Nic yang mampir sendiri jika sempat lewat daerah Dago.”


“Baiklah kalau begitu. Ini biar Tante yang simpan,” ujar Gea. Ia kemudian mengamankan pemberian Nichole untuk putranya. “Kalau lewat daerah Dago, sempatkan sedikit waktu untuk berkunjung ke rumah baru Nathan dan istrinya. Alamat rumah mereka sudah Tante kirim lewat WhatsApp. Lengkap sama nomer telepon Nathan yang sekarang.”


“Iya, Tante. Terima kasih banyak.”


“Sama-sama, sayang.” Gea menyentuh bahu sebelah kanan Nichole lembut dengan senyum yang kian mengembang, kemudian berkata. “Kamu seharusnya mampir dan berkenalan dengan istri Nathan. Istri mantan suami kamu itu, Masya Allah sekali.”


✈️✈️


“ABANG LO DUDA ATAU PERJAKA, NJIR?!”

__ADS_1


Laki-laki rupawan yang tadinya sedang minum itu langsung tersedak dan batuk-batuk karena pertanyaan random yang tiba-tiba dilayangkan lawan bicaranya dengan nada bicara nge-gas. Ia dengan cepat menepuk-nepuk dadanya yang terasa sesak.


“Apaan sih pertanyaan lo, random amat,” ketus putra Dwiarga tersebut seraya menyeka bibirnya dengan tisu. “Nanyain soal kek gitu ke orang yang bersangkutan lah. Masa ke gue,” lanjutnya.


“Masalahnya gini ya,” sahut putra Radityan yang tampak menahan geram di wajahnya. Ia baru saja tiba di kediaman Dwiarga setelah burung besi yang ditumpangi mendarat dengan selamat. Setibanya di rumah ipar-nya itu, ia malah mendengar percakapan yang menurutnya mencurigakan, membingungkan, bahkan mohon maaf, membag*ngkan.


“Barusan nyokap lo bilang kalau cewek cantik yang wajahnya gabungan dari idol k-pop sama model catwalk itu ….mantan istri Abang lo.”


Gean menatap lawan bicaranya dengan kening yang berlipat-lipat. “Heh, Abang gue ‘kan baru nikah sama saudari lo dua mingguan yang lalu. Masa lo lupa? Sejak kapan Abang gue jadi duda?”


“Njir, tapi tadi gue dengernya gitu.”


“Lo salah denger kali,” ujar Gean santai. Ia kemudian membuat lemari pendingin, kemudian mengeluarkan dua kaleng minuman soda dari dalam sana. “Nih, minum dulu biar dingin tuh kepala.”


“Nggak mau,” tolak Davian. “Gue nggak minum soda.”


“Air putih?”


“Minumlah. Memangnya gue mahluk apaan nggak minum air putih?” sewot Davian.


Gean tertawa mendengar ucapan sewot lawan bicaranya. Ia kemudian menukar minuman soda kaleng itu dengan satu botol air mineral yang masih disegel. “Lo kayaknya salah denger deh, Dav. Kak Nichole itu bukan matan istri, tapi….”


“Mantan kekasih,” sambung Gean yang langsung mendapat toyoran dari Davian.


“Yang bener lo kalau ngasih info.”


“Hahaha. Kagak lah, Njir. Abang gue itu kalau masa lalunya diibaratkan sama kertas, warnanya dijamin masih putih, bersih, kayak kertas HVS baru beli. Nah, kalau gue, udah kayak kertas HVS buluk plus kucel saking banyaknya coretan dari masa lalu.”


“Makanya lo beruntung dapetin Arra,” celetuk Davian


Gean mengangguk. Ia tidak menyangkal soal fakta tersebut. “Gue memang beruntung banget dapet my Chéri. Padahal dulu kebiasaan gue caper di TSM, sampai alun-alun Bandung. Eh, Allah berbaik hati ngasih jodoh spek bidadari.”


Davian berdecak seraya membuka tutup botol air mineral pemberian Gean. “Nggak usah nostalgia. Mendingan lo ceritain soal masa lalu si cecan—cewek cantik—bernama Nichole itu. Apa hubungannya sama Abang lo.”


“Sabar sodara,” ledek Gean.


“Sabar, sabar. Udah panas nih otak gue mikirin spekulasi nggak jelas soal masa lalu Abang lo yang masih abu-abu. Apa gue melewatkan sesuatu pas investigasi?”


Gean tertawa kecil melihat keseriusan yang masih tergambar di wajah Davian. Lucu juga melihat salah satu pandawa Radityan ketar-ketir hanya karena mereka mengira melewatkan “satu” informasi penting saat menginvestigasi calon pasangan Srikandi mereka.


Gean kemudian bersidakep dada, lalu mulai bercerita. “Jadi gini, Dav. Kak Nichole itu bisa dibilang temen deket Abang.”

__ADS_1


“Temen deket dalam arti konotasi atau denotasi?”


“Denotasi. Alias makna sebenarnya.”


“Ok, lanjut.”


“Saking deketnya, mereka itu dulu sampai dibilang couple goals, ada juga yang sebut mereka sibling goals.”


Davian tidak bodoh untuk mengartikan istilah kids zaman now tersebut. Dua istilah tersebut biasa digunakan untuk menjuluki pasangan yang ideal yang patut dicontoh (couple goals), sedangkan sibling goals adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan hubungan kakak-beradik yang rukun, meski terkadang terdapat momen perselisihan, tetapi justru hal itu yang membuat mereka terlihat manis.


“Gue aja yang adiknya nggak pernah sedeket itu sama Bang Nathan. Tapi, Kak Nichole itu kayak punya tempat tersendiri di hati Abang—“


“Maksud lo apaan, Njir?! Jadi Abang lo punya masa lalu yang belum selesai?” pertanyaan retoris dilontarkan kala Davian dengan cepat menyimpulkan. “Nggak bisa didiemin nih!”


“Dih, bukan. Lo dengerin dulu makanya,” ujar Gean memberi pengertian. “Hubungan mereka itu agak rumit, bro. Gimana ya….” Ia tampak berpikir untuk sejenak. “Kalau dianalogikan begini, mereka itu sedekat Sakura Haruno sama Sasuke Uchiha. Walaupun si Sasuke sifatnya 2D alias dingin dan datar, tapi Sakura tetep aja tuh ngejar-ngejar.”


“Berarti cewek itu suka sama Abang lo, dan Abang lo juga suka dong sama itu cewek?”


“Hah?”


“Menurut sekian banyak fans Sasuke Uchiha, mereka setuju kalau Sasuke itu sebenernya suka sama Sakura dari kecil. Kayak udah ada interesting, tapi ketutup sama dendam dan ego,” tutur Davian. “Jadi Abang lo gitu? Sama kayak posisi Bang Toyib alias Sasuke Uchiha?” tanya Davian dengan sorot mata menyeramkan.


Gean terkekeh canggung seraya menggelengkan kepala. “Gue ….salah menganalogikan, Dav. Intinya, Kak Nichole itu dulu deket sama Bang Nathan, terus kayak menaruh something, entah feeling atau apa sama Bang Nathan. Tapi, Bang Nathan anggap Kak Nichole udah kayak keluarga. Saudara sih lebih tepatnya. Jadi, Bang Nathan kayak rada kecewa pas kak Nicho nyatain perasaannya.” Gean mendongkrak, lalu menatap Davian yang tengah terdiam. “You understand?”


“Nggak,” jawab Davian enteng. “Mending gue tanya langsung ke pihak yang bersangkutan,” tambah Davian sebelum beranjak.


Gean loading. “Eh, mau kemana, Dav? Katanya mau makan baso aci tulang rangu dulu?”


“Cabut!” seru Davian yang sudah berjalan, hendak keluar dari area dapur.


Melihat itu Gean langsung bergegas mengejar saudaranya itu. Bisa gawat kalau sampai Davian baku hantam dengan sang abang yang masih menikmati masa-masa indah menjadi pengantin baru.


“Hadeh, lagian gue juga masih nggak paham hubungan Bang Nathan sama Kak Nichole. Sebenernya mereka berdua itu apaan? Temen? Bestie? Pasangan kekasih? Atau apaan sih?” gerutu Gean saat mengejar Davian. Ia juga kebingungan sendiri.


✈️✈️


TBC


Jika suka jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘


Tanggerang 03-10-22

__ADS_1


__ADS_2