Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
BDJ 116 : JODOH TIDAK AKAN TERTUKAR


__ADS_3

BDJ 116 : JODOH TIDAK AKAN TERTUKAR


“Le, tumben kamu juga makan di sini?”


Laki-laki yang baru saja menandaskan satu porsi bakso cuanki itu menoleh. Pandangannya langsung tertuju pada perempuan bergamis biru yang berjalan dengan bantuan tongkat. Maka dengan segera laki-laki yang menggunakan T-shirt Stone island original yang harganya bisa mencapai jutaan rupiah itu menggeser kan kursi panjang yang tengah ia duduki, supaya perempuan itu lebih leluasa berjalan.


“Dari mana?”


Perempuan itu mendudukkan dirinya terlebih dahulu sebelum menjawab. Ada jarak aman, sekitar satu meter lebih yang terbentang di antara mereka. “Rumah. Kamu sendiri dari mana?”


“Baru balik dari Jakarta. Rencananya mau langsung balik, tapi laper. Jadi mampir ke sini,” jelas laki-laki yang berperawakan mirip Jefri Nichole itu. Angkringan yang menjual beberapa jenis makanan serta jajanan khas sunda itu memang jadi salah satu andalannya ketika lapar datang.


“Lo sendiri ke sini mau ngapain?”


“Beli bakso buat anak-anak. Kemarin pada mau bakso cuanki, tapi baru sekarang aku sempat beliin.” Setelah berkata demikian, perempuan berjilbab syar’I itu memesan 8 bungkus bakso cuanki pada si penjual.


“Fi.”


“Iya. Kenapa?”


“Menurut lo cewek ini cantik atau cantik banget?” tiba-tiba sebuah layar handphone tersedor ke arah perempuan bernama Safiyah tersebut. Menampilkan wajah seorang perempuan yang tengah tersenyum anggun ke arah kamera.



“Masya Allah, cantik sekali,” jawab Safiyah, jujur. Siapa pun yang melihat foto itu pasti akan berpendapat demikian. “Siapa? Pacar kamu?”


“Bukan,” jawab Leon, cepat. “Pacaran kata lo ‘kan haram.”


Senyum tipis tersungging di wajah Safiyah atau akrab disapa Fiya. “Itu tahu hukumnya. Terus kenapa waktu itu kamu doyan banget ganti pacar?”


Leon terbahak mendengarnya. “Uji coba, Fi. Nyari yang terbaik buat dijadikan kandidat calon istri.”


“Kalau kamu nyari yang terbaik terus, percuma. Ujung-ujungnya kamu bakal nyesel, kalau kamu menyia-nyiakan sesuatu yang sudah pasti untuk sesuatu yang belum pasti.” Safiyah mode ustadzah tengah berbicara. Jika orang lain mungkin akan enggan mendengarkannya, namun tidak bagi Leon. Ia akan dengan senang hati mendengarkan. “Kamu tahu enggak komposisi pacaran itu apa saja?”


“Enggak. Memangnya apaan?”


“Komposisi pacaran itu zina tangan, zina telinga, zina mata, zina mulut, berkhalwat, dan ikhtilat.”


“Nggak paham. Wawasan soal agama gue minus, tolong diperinci, Fi.”


Safiyah mengangguk. Ini lah alasan kenapa ia senang berteman dengan Leon. Walaupun terlihat urakan, tetapi Leon mau mendengarkan. Setidaknya dari situ, apa yang Safiyah ucapkan, nantinya dapat mengetuk hati Leon.


“Chatting-an itu termasuk zina tangan, teleponan termasuk zina telinga, memandang termasuk zina mata, bergandengan termasuk zina tangan, gombalan termasuk zina mulut, berduaan termasuk berkhalwat, dan berboncengan termasuk ikhtilat.” Safiyah tersenyum tipis di ujung kalimat. Pandangan matanya tertuju ke arah seberang, di mana para anak-anak kecil tengah bermain di taman dengan didampingi oleh orang tua mereka.

__ADS_1


Bukannya tidak mau sopan, namun Safiyah memang tidak pernah sembarangan membangun eye contact dengan laki-laki ajnabi atau laki-laki yang bukan mahram. Jika tidak ada perempuan lain yang duduk di bangku panjang—yang saat ini mereka duduki—Safiyah juga kemungkinan besar akan berpikir dua kali untuk duduk di sana.


Safiyah mungkin memiliki kekurangan pada kakinya, ia mengidap monoplegia sejak lama. Monoplegia adalah kelumpuhan pada sebelah bagian tubuh. Biasanya mempengaruhi satu lengan atau kaki. Akibatnya kaki atau tangan akan kehilangan kekuatan dan fungsi otot di bagian yang bersifat sementara, bahkan permanen. Penyebab monoplegia bermacam-macam, mulai dari kecelakaan, cedera otak, stroke, polio, sindrom Gullian-barre, Multiple sclerosis, cedera syaraf tulang belakang, tumor otak, sampai efek traumatis. Kendati demikian, kekurangan itu tak lantas membuat Safiyah minder untuk mengejar cita-citanya.


Sekarang Safiyah berprofesi sebagai guru SLB atau sekolah luar biasa. Ia memang satu angkatan dengan Leon, namun berkat kecerdasan otaknya, Safiyah mampu menyelesaikan pendidikannya dengan cepat dan singkat.


“Fi.”


“Iya.”


“Lo udah ada rencana buat nikah belum dalam waktu dekat ini?”


“Belum,” jawab Safiyah, lugas. “Kamu ‘kan tahu sendiri kalau perempuan kayak aku bakal dipandang sebelah mata. Sulit mencari laki-laki yang tulus pada masa sekarang.”


Leon tertegun mendengarnya. Ia merasa tidak setuju dengan ucapan Safiyah, karena masih ada laki-laki yang tulus menerima kekurangan perempuan yang ia cintai di luar sana. Jangan jauh-jauh, Leon saja contohnya. Ia mau kok menerima semua kekurangan Lea jika Lea mau membuka hati untuknya. Toh, Leon juga bukan laki-laki yang sempurna.


“Fi.”


“Iya.”


“Kalau menikahi perempuan dalam kondisi hamil itu, enggak boleh, ‘kan?”


Safiyah langsung beristigfar mendengar kalimat yang baru saja Leon lontarkan. “Kamu ….menghamili anak gadis orang, Le?”


Leon menggelengkan kepala dengan cepat. “Bukan gitu! Tapi, posisinya si perempuan memang udah hamil sama laki-laki lain, gitu.”


Leon bungkam untuk beberapa saat. Sampai Safiyah selesai melakukan pembayaran 8 bakso cuanki pesanannya, laki-laki itu masih bungkam.


“Fi.”


“Iya?”


“Satu pertanyaan lagi,” ucap Leon kala menyadari Safiyah sudah hendak beranjak dari posisinya. “Lo ….percaya kalau jodoh nggak akan tertukar?”


Tanpa ragu, Safiyah mengangguk. “Umur, rizki, dan jodoh sudah Allah tetapkan semenjak seorang manusia berusia 40 hari dalam kandungan. Semua sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an dan hadist. Apalagi yang harus diragukan?”


“….”


“Jodoh tidak apan pernah tertukar. Bahkan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib sudah menegaskannya semenjak 1400 tahun yang lalu, apapun yang menjadi takdirmu, pasti akan mencari jalannya untuk menemukanmu.”


Setelah berkata demikian, Safiyah pamit undur diri. Meninggalkan Leon yang lagi-lagi berhasil ditampar oleh fakta dan realita. Tidak ada yang salah dari ucapan Safiyah, Leon bahkan sampai dua kali menatap Safiyah yang masih tampak di pelupuk mata untuk meyakinkan hati. Perempuan bersahaja itu berjalan perlahan dengan bantuan tongkat.


Tiba-tiba Leon jadi teringat perkataan almarhum guru pendidikan agama islam (PAI) saat SMA dulu. Katanya, kaki yang tidak sempurna itulah yang kelak akan membawa Safiyah berjalan dengan normal di surga milik-Nya. Leon tidak pernah menampik perkataan gurunya itu, karena semua orang juga tahu, selain kekurangan pada salah satu kakinya, Safiyah tidak memiliki kekurangan lain. Ia memiliki tabiat yang baik luar dan dalam. Hanya saja kerap dipandang sebelah mata.

__ADS_1


Leon lantas bergerak. Menyimpan selembar uang pecahan lima puluh ribu di atas meja, kemudian memutuskan untuk berlari kecil mengejar perempuan bergamis biru yang hampir menghilang di antara lorong gang perumahan.


“Fi, tunggu. Gue anter!”


✈️✈️


“Kamu yakin?” perkataan itu dilontarkan oleh seorang perempuan yang berprofesi sebagai manager. Barang kali ia salah dengar, jadi ia mengulang pertanyaannya.


“Tidak, Kak. Kakak tidak salah dengar,” sanggah lawan bicaranya. “Aku mau melahirkan di Seoul.”


“Tapi, kenapa? Bukannya kamu berniat untuk menetap cukup lama di sini? bahkan sampai bayi itu lahir.”


“Apa aku tidak boleh berubah pikiran?” tanya perempuan yang tengah mengandung tiga belas minggu itu. “Aku juga ingin membuat klarifikasi mengenai kehamilan ini.”


“Kamu ….sudah yakin?”


Lea mengangguk tanpa keraguan. Ia sudah memikirkannya baik-baik. Lagipula jika terlalu lama disembunyikan, Lea akan membuat para penggemarnya di luar sana kecewa. Terlebih lagi semenjak tinggal di Negara ini, ia bisa lebih berpikiran jernih, sehingga dapat dengan mudah mempertimbangkan banyak hal.


Masalah kehamilannya tidak dapat ditutupi terlalu lama, karena seiring dengan berjalannya waktu perut itu akan membesar. Maka, sebelum ada paparazzi yang berhasil mengambil beberapa potret, lantas menjualnya ke pihak redaksi untuk dijadikan berita yang siap dibumbui, Lea lebih memilih memberikan klarifikasi. Setidaknya informasi yang keluar langsung dari mulutnya tidak akan dilebih-lebihkan.


“Jika kamu hendak memberikan klarifikasi, lalu bagaimana tentang identitas ayah dari bayimu?”


“Rahasia,” ungkap Lea. “Aku akan mengatakan bahwa ayah dari bayiku adalah pria dari kalangan non selebriti. Sisanya, akan aku serahkan pada Kakak.”


Manager Lea tampak menghela napas kala mendengar keinginan modelnya itu. Lea memang jarang meminta sesuatu, namun sekalinya meminta, bukan main permintaannya itu. Ia pikir meraka akan menetap cukup lama di sini. Namun, siapa sangka jika Lea ingin cepat-cepat pergi dari Negara dengan julukan jamrud khatulistiwa ini. Toh, ibarat healing guna menghilangkan pening, saat ini Lea sudah waktunya kembali ke tempatnya yang semula. Setiap orang punya masanya masing-masing untuk menyembuhkan diri, ada yang cepat, sedang, sampai membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya.


“Lalu bagaimana dengan perasaan ayah dari bayimu? Dia juga manusia. Dia berhak untuk mendapatkan kesempatan kedua.”


Lea mengangguk paham. “Aku akan memberikan apa yang dia mau, karena memang dia butuh diberi kesempatan kedua untuk melihat apakah dia benar-benar berubah atau hanya berkamuflase.”


“Lalu Leon, bagaimana?”


Lea langsung terdiam saat nama Leon dibawa-bawa. Laki-laki itu terlalu baik untuknya yang sudah buta akan cinta. Lea tidak mau Leon menderita karena cinta, karena ia sudah pernah merasakannya. Jadi, sebelum rasa itu tumbuh dan berkembang pesat, sebaiknya segera diakhiri.


“Kami tidak ditakdirkan untuk bersama,” ujar Lea pada akhirnya. “Aku sempat mendengar nasihat dari seseorang yang mengerti agama lewat saluran radio. Katanya, dalam agama yang dia anut, orang baik akan bersama dengan orang yang baik pula. Sedangkan orang dengan konotasi negatif, akan bersama orang dengan konotasi yang sama pula,” tuturnya. “Leon itu laki-laki yang baik dan tulus. Kelak, dia akan menemukan perempuan yang baik dan tulus juga, sama sepertinya. Akan tetapi, yang sudah pasti perempuan itu bukan aku.”


"Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga). " Al-Qur'an surat An-Nur 26.


✈️✈️


TBC


SEMOGA READERS SUKA DENGAN ENDING YANG SUDAH AUTHOR SIAPKAN 🤗

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komentar, follow, Author, share, tabur bunga, rate lima bintang 🌟


Tanggerang 18-11-22


__ADS_2