Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
BDJ 94 : SPOILER CUCU


__ADS_3

BDJ 94 : SPOILER CUCU


“Huft.”


Helaan napas kembali terdengar untuk ke sekian kalinya dari laki-laki yang sedang menikmati Choipan berukuran jumbo. Choipan sendiri adalah makanan khas Pontianak dengan tampilan luar berupa kulit putih yang tipis dan kenyal, diisi dengan isian bervariasi, mulai dari bengkuang dan ebi. Ada pula isian talas serta kucai dan ebi. Choipan biasanya dihidangkan dengan taburan bawang putih goreng serta sambal cocolan yang pedas. Namun, saat membeli makan satu ini harus dipastikan terlebih dahulu, halal atau non halal.


“Ngerjain gue aja itu orang.” Keluhan kemudian terdengar setelah helaan napas tersebut.


Saat ini ia tengah duduk seorang diri di ruang tengah kediaman Radityan. Tanpa ditemani oleh kedua kembarannya, ia hanya berteman kan MacBook yang setia menemani sejak tadi. Pada jam-jam segini, dua kembarannya masih hetic. Satu sibuk bekerja, sedangkan yang satu lagi tentu saja sedang menjalankan tugas di kesatuan.


Selain kembarannya, saudara yang sebaya dengannya satu per satu sudah pulang ke rumah masing-masing, termasuk para anggota keluarga Pradipta. Tidak terkecuali sang pujaan hati, Senja Pradipta.


“Gue udah bela-belain enggak nganterin ayang pulang demi ngawasin gerak-gerik itu si bangs*t. Tau nya, salah tangkap.”


Ketika sang pujaan hati kembali ke New York, ia memang tidak dapat ikut mengantarkan, karena sedang hetic dengan masalah keamanan. Ditambah lagi saat itu posisinya mereka masih backstreet. Hanya para orang tua Pradipta yang tahu soal hubungan dua anak muda tersebut. Sedangkan yang lain belum diberi tahu.


“Kamu kenapa, Dav? Kelihatanya muram sekali?”


Mendapat pertanyaan dari perempuan berpakaian syar’I yang tengah berjalan mendekat, Davian langsung mengangkat kepala.


“Eh, enggak usah repot-repot, Teh. Kalau haus, Davian bisa ambil sendiri.”


“Tidak repot, kok. Barusan sekalian bawakan ke sini, soalnya Mbak yang tadi kamu suruh mau antar makanan ke Oma.”


Davian mengangguk seraya menerima gelas berisi es teh manis yang baru saja disodorkan oleh Alea. Aroma yang khas langsung tercium saat Davian menerimanya.


“Baunya beda. Bukan merk teh yang biasa, ya?”


Alea mengangguk seraya mengambil posisi duduk. “Itu herbal tea, namanya teh ciplukan. Oleh-oleh dari orang tua Mas Nathan.”


“Ooo, pantesan baunya beda.”


“Teh ciplukan itu katanya bagus, dan memiliki berbagai macam manfaat yang baik bagi kesehatan. Di antaranya dapat mengatasi diabetes, menurunkan kadar gula darah, menurunkan tekanan darah tinggi, mencegah stroke, melindungi hati serta ginjal, menjaga kesehatan mata, menjaga kesehatan tulang, menurunkan kolesterol, meningkatkan kekebalan tubuh, sampai mengobati nyeri sendi.”


“Woah, banyak banget manfaatnya.”


Alea tersenyum di balik kain penutup wajahnya. Ia sudah kembali ke kediaman Radityan bersama sang suami pagi tadi. Ia juga awalnya kebingungan, karena tiba-tiba sang suami memberi informasi jika mereka harus segera pulang ke Jakarta. Ketika di perjalanan pulang, Alea sempat bertanya ‘kenapa’ mereka harus pulang lebih cepat dari jadwal. Bahkan Gean—adik iparnya—yang langsung turun tangan menjemput mereka menggunakan jet pribadi milik keluarga sang suami.


Usut punya usut, ternyata ada sosok yang masuk black list keluarga Radityan yang telah tiba di tanah air. Siapa lagi jika bukan Louis yang sempat tertarik pada Alea. Ia bahkan menggunakan berbagai cara guna mendapatkan Alea.


Sejauh ini hanya Davian, Nathan, Alea dan Gean yang mengetahui soal kedatangan Louis ke tanah air. Belum ada Radityan lain ataupun orang luar yang mengetahuinya.


“Zaujati (istriku).”


Mendengar suara familiar itu memanggil, Alea langsung menoleh ke arah sumber datangnya suara tersebut. Sedangkan Davian yang juga ikut menoleh, langsung tersenyum masam. Berbanding terbalik dengan raut wajah laki-laki yang baru saja memasuki ruangan dengan beberapa buah mangga berukuran besar di tangan.


“Teh Alea belum hamidum, Bang. Ngapain udah bawa-bawa mangga segala? ‘kan belum ngidam,” seloroh Davian.


“Memangnya cuma orang hamil saja yang boleh makan mangga?” alih-alih menjawab, laki-laki rupawan yang baru saja kembali itu malah melontarkan pertanyaan balik.


“Enggak juga, sih. Tapi, tau nggak sih, kalau buah mangga itu identik sama kehamilan dan gairah seksual,” ujar Davian dengan seringai menyebalkan yang tercipta di bibirnya. “Pasalnya Mangga mengandung banyak nutrisi, salah satunya adalah vitamin E yang melimpah. Vitamin ini dapat membantu mengontrol hormon seksual.”

__ADS_1


Pasangan suami istri yang baru menikah sekitar 2 minggu itu kompak terdiam mendengar kalimat yang baru saja dilontarkan oleh Davian. Melihat respon keduanya, laki-laki yang tadinya sedang sibuk mengoperasikan MacBook itu langsung tertawa terbahak-bahak.


“Ya Allah, maaf. Tapi, ekspresi pasutri satu ini bikin ngakak brutal,” celoteh Davian di sela-sela tawanya.


Ternyata selain membuat Nathan dan Alea terpekur, tawa Davian yang sangat lepas juga menarik perhatian pasangan suami istri lain yang baru saja memasuki ruangan.


“Ini bocah gendeng kenapa?”


Alea dan Nathan kontan menoleh ke arah si pemberi pertanyaan. Keduanya kemudian kompak menggelengkan kepala.


“Kenapa kamu?” tanya Anzar.


Pasangan suami istri yang baru saja bergabung memang Anzar dan Airra. Mereka langsung dibuat penasaran kala melihat tawa Davian.


“Aduh, perut aku sakit,” keluh Davian kala mengurai tawa lepasnya. Saking sibuknya tertawa, ia sampai tidak sadar dengan MacBook miliknya yang hampir jatuh. Ia bahkan tidak sadar telah dikatai ‘bocah gendeng’ oleh Anzar.


“Davian sepertinya baru saja menggoda Nathan dan Alea, ya?”


No Jaim-jaim club, Davian langsung mengangguk. “Maaf, habisnya lucu aja gitu,” ujar Davian tulus. “Lagian Abang sama Teh Alea baru digodain dikit aja udah sama-sama nge-freeze. Padahal apa yang Davian jadikan lelucon barusan, itu fakta loh.”


“Memangnya fakta macam apa yang kamu jadikan lelucon?”


“Fakta soal buah mangga yang identik dengan kehamilan dan gairah seksual.”


Anzar yang baru saja mengambil posisi duduk di samping keponakannya itu langsung berdeham keras seraya memejamkan mata untuk sejenak. Usia boleh saja sudah kepala dua, namun tingkah laku Davian Radityan kadang-kadang mirip bocil alias bocah kecil. Akan tetapi, itu adalah point plus seorang Davian yang selalu menjadi happy virus di mana pun ia berada.


“Aku nggak salah loh, Om, Tante. Itu fakta.”


Davian mengangguk. Ia kemudian menyimpan MacBook miliknya di tempat lebih aman, lalu menoleh pada sang om. “Omong-omong, Om mau langsung punya cucu nggak nih? Davian jadi penasaran.”


“Itu privasi, Davian,” jawab Anzar seraya memiting leher keponakannya itu dengan lengan bisepnya.


“Aduh, Mas. Jangan gitu, kasihan Davian nya,” lerai Airra. Ia parno sendiri melihat kedekatan om dan keponakan itu.


“Dia mana kesakitan kalau diginiin doang.” Walaupun berkata demikian, sedetik berikutnya Anzar melepaskan Davian. Ia kemudian beralih guna merangkul bahu keponakan yang belakangan sangat sulit dijumpai, kecuali dipanggil dengan jampi-jampi. Tapi bohong. Kecuali dipanggil dengan embel-embel ‘urgen’ yang menyangkut keselamatan para Radityan.


“Jadi gimana sama jawaban dari pertanyaan Davian yang barusan, Om?”


“Pertanyaan yang mana?”


“Yang barusan, Om.”


“Oh.”


“Oh doang nih?” pancing Davian.


Anzar menghela napas kecil menanggapi tingkah laku Davian. Jika ia dianugerahi anak laki-laki macam Davian, Anzar bisa-bisa khilaf berulang kali. Ia lebih memilih punya anak laki-laki macam Arsyad, Aroon, atau Arion. Davin juga masih oke lah. Kalau Davian? Punten. Anzar memilih tidak punya anak laki-laki, ketimbang setiap hari darah tinggi.


Dari semua keponakan yang paling dekat dengannya, jika ditanya siapa keponakan yang paling ingin Anzar jadikan anak, maka ia akan menjawab dengan satu nama. Siapa? Arsyad? jawabannya bukan. Aroon? Bukan juga. Jawabannya adalah ARION. Ya, si bungsu yang paling anti sosial. Sebenarnya Arion itu lebih dominan mirip Van’ar muda yang tidak suka berada di tengah-tengah keramaian.


Mentang-mentang jadi Radityan paling muda di generasi ke-tiga, nama Arion juga selalu disematkan paling belakang. Namun, ada baiknya juga jadi si bungsu. Dikarenakan ia punya kakak-kakak yang sangat royal memberikan kasih sayang, dukungan, dan semangat pada setiap langkah yang ia ambil.

__ADS_1


“Kalau Nathan dan Alea memutuskan untuk langsung punya momongan, Om pasti akan merasa senang sekali. Sudah terbayang bagaimana jika nanti rumah akan ramai dengan suara tangisan bayi.”


Kedua pemilik nama yang disebut-sebut saling pandang untuk sejenak. Mereka yang kini duduk berdamping lalu menatap ke arah Anzar yang sedang buka suara.


“Kalaupun mereka memilih menunda juga tidak apa-apa. Pasalnya jadi orang tua itu tidak mudah. Fisik, psikis, dan finansial jadi tiga hal yang harus dipersiapkan dengan matang sebelum memutuskan untuk memiliki momongan.”


“Peran orang tua secara umum adalah merawat, menjaga, dan membimbing anak dalam kehidupan sehar-hari,” tambah Airra. Ia jadi ingin ikut menambahi kalimat sang suami dari sudut pandangnya. “Di Indonesia, kewajiban orang tua terhadap anak diatur dalam Undang-Undang Nomer 35 Tahun 2014. Undang-undang itu merupakan perubahan atas Undang-Undang Nomer 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak.


Pasal 26 Undang-Undang tersebut mengatakan bahwa kewajiban orang tua terhadap seorang anak mencakup empat hal, pertama adalah mengasuh, memelihara, melindungi, serta mendidik anak. Kedua, menumbuhkan minat dan bakat. Ketiga, mencegah anak menikah pada usia dini. Keempat, memberikan pendidikan karakter dan penanaman nilai budi pekerti anak.”


Davian mengangguk-anggukan kepala mendengar kecakapan istri dari om nya itu. Padahal jelas sekali jika ia kurang mengerti apa yang dibahas oleh Airra. Mungkin jika Arion yang menjadi pendengar, maka topik pembicaraan tersebut akan ditelaah dengan baik.


“Kamu seharusnya ngobrol soal pasal Undang-Undang sama Arion, jangan sama Davian. Kalau sama Davian, bahas soal tips and trik bobol situs keamanan saja. Pasti langsung nyangkut.”


Davian tertawa geli mendengar ucapan Anzar. “Om tahu banget.”


“Iya lah. Orang kamu itu keponakan Om yang paling menonjol dari segi….”


“Segi apa, Om? Kecerdasan?”


Anzar menggeleng.


“Terus apa, dong? Segi keterampilan?”


Sekali lagi, Anzar menggelengkan kepala.


“Terus, apa dong, Om?” sebal Davian.


“Dari segi keabsurdan,” jawab Anzar seraya tersenyum tipis. “Kamu itu absurd, tapi bermodal. Mengerti tidak? kalau dari segi kecerdasan, keahlian, keterampilan, keuletan, semua itu mungkin sudah dimiliki oleh saudara-saudara kamu. Tapi, kamu punya yang berbeda dari yang lain.”


“Tapi tetap aja aku absurd di mata Om,” keluh Davian. “Absurd itu menurut kamus besar bahasa Indonesia kalau tidak salah, artinya tidak masuk akal. Dalam tanda kutip, mustahil.”


Anzar mengangguk seraya menguyar pucuk kepala sang keponakan. “Justru itu, kamu unik. Generasi ke-tiga tanpa kamu, sudah seperti makan sayur tanpa garam.”


“Ah, Om bisa aja,” kata Davian dengan senyum jenaka di bibirnya.


Melihat kedekatan tersebut, Airra, Alea, serta Nathan jadi ikut tersenyum. Jarang sekali mereka dapat melihat Anzar dekat dengan anak-anak saudaranya. Padahal Anzar itu aslinya penyayang, namun terkadang sifat tersebut tertutup oleh raut wajahnya yang kadang terlihat tidak bersahabat.


“Jadi kalau Om punya cucu kayak aku gimana? Suka dong? ‘kan katanya aku absurd, beda dari yang lain.”


Anzar langsung menghentikan gerakannya. “Tidak.”


“Apaan yang enggak, Om?”


“Punya cucu kayak kamu,” lanjut Anzar seraya bersidakep dada. “Nanti Om darah tinggi setiap hari kalau punya cucu kayak kamu. Mana hobby-nya ekstrim, suka retas website global company.”


✈️✈️


TBC


Tanggerang 14-10-22

__ADS_1


__ADS_2