
BDJ 29 : I WANT YOU!
Dua orang pria yang menggenakan setelan fit to body tampak tengah menikmati lunch mereka dengan santai. Mereka baru saja selesai meeting di dekat Times Square, kemudian memutuskan untuk kongkow—duduk-duduk santai sambil mengobrol kan sesuatu yang tidak menentu ujungnya—menjelang jam makan siang.
“Tumben Louis tidak ada kabar. Apa dia juga tidak menghubungimu?” laki-laki yang baru saja selesai menikmati Catfish soup with rice.
“Tidak ada. Mungkin dia sibuk mengurusi proyek baru,” balas lawan bicaranya.
“Atau mungkin dia masih belum bisa menerima fakta soal ayahnya.” Setelah menghabiskan catfish soup with rice, kini ia beralih pada potongan donkatsu—daging ba—bi goreng tepung—yang tampak menggiurkan. Ia memang pecinta makanan tersebut, semenjak pertama kali menikmatinya di negeri Ginseng.
“Entahlah.”
“Pasti Louis shock karena—“
“Ternyata kalian di sini.”
Pembicaraan dua laki-laki satu circle itu terpotong begitu saja saat suara deep bass yang familiar menyapa indra pendengaran mereka.
“Louis, bagaimana kau bisa ada di sini?”
“Itu tidak penting,” jawab si pemilik nama seraya mendudukkan dirinya di salah satu kursi yang kosong. “Aku ingin bantuan kalian untuk melakukan sesuatu.”
“Apa itu?” tanya laki-laki bernama Nuel tersebut. Ia tak jadi menikmati donkatsu pesanannya.
“Bawa aku kepada pria itu.”
Laki-laki bermata abu-abu itu menatap kedua teman satu circle nya dengan tatapan menerawang. Ia sudah tidak tahan lagi dengan perbuatan ‘ayah biologisnya’ itu. Jika dibiarkan lebih lama lagi, entah apa yang akan dilakukannya. Ia juga ingin menegakan bahwa laki-laki paruh baya itu tidak perlu ikut campur soal urusan asmaranya. Sekalipun memang benar mereka terikat hubungan darah, bukan berarti dirinya boleh ikut campur. Louis tidak mau hubungannya dengan perempuan yang ia sukai semakin rumit karena campur tangan ayahnya.
“Tidak mudah untuk bertemu dengan ayahmu,” kata Nicho. Laki-laki itu masih tampak menggali alasan dibalik keinginan tiba-tiba tersebut.
“Bagaimana pun caranya, aku ingin segera menemui pria itu.”
“Akan aku usahakan,” balas Nicho. “Tapi aku tidak dapat menjanjikan apa-apa.”
Louis hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia harus bertemu ‘ayahnya’ itu, bagaimana pun caranya. Ia tahu tidak akan mudah menemui laki-laki paruh baya yang telah berhasil kabur dari penjara kelas berat tersebut. Entah di mana ia berada sekarang.
Setelah bertemu dengan kedua temannya, Louis memutuskan untuk kembali ke kantor. Ada beberapa pekerjaan yang sempat tertunda karena ia tidak terlalu produktif hari ini. Oleh karena itu, setelah mengisi perut laki-laki bermata abu-abu itu kembali ke kantor untuk bekerja.
Saat tiba di kantor, sekretarisnya mengatakan bahwa ada tamu yang sedang menunggu. Namun, sang sekretaris tidak mengatakan dengan rinci siapa tamu yang dimaksud. Saat tiba di ruangan megah nan mewah miliknya, laki-laki rupawan itu menautkan kening saat melihat siluet seorang perempuan tengah memunggunginya. Dari belakang ia bisa melihat siluet punggung perempuan itu karena tubuh bagian atasnya hanya tertutup oleh halter tank top dengan tali melingkar di leher yang mempertontonkan keseluruhan bentuk bahu dan lengannya.
“Kamu sudah datang rupanya,” sapa si pemilik rambut pirang tersebut saat berbalik badan dan menemukan si pemilik ruangan.
Louis tampak terkejut saat melihat si ‘tamu’ yang ternyata sekretaris Alea. Perempuan itu tampak tampil dengan outfit non-formal yang tidak familiar di matanya. Biasanya Louis melihatnya menggunakan pakaian kerja yang formal, atau tanpa mengenakan sehelai benang pun.
“Sedang apa kau di sini?”
Perempuan itu tampak menipiskan bibir saat mendengar nada bicara Louis yang datar. “Aku ke sini untuk berkunjung.”
“Berkunjung dalam rangka?”
“Menikmati hari liburku,” sahut Annante seraya berjalan mendekat. Senyum manis tampak menghiasi bibir ranum miliknya. “Kamu dari mana saja? Kata sekretaris kamu, hari ini kamu baru masuk kerja setelah makan siang.”
“Hm.” Louis merespon dengan singkat.
Laki-laki rupawan itu kemudian berjalan ke mini pantry, lebih tepatnya ke arah lemari pendingin berukuran medium yang menyatu dengan dinding. Dari sana, ia kemudian mengeluarkan satu botol anggur putih atau white wine jenis chardonnay dari brand ternama asal Inggris. Setelah mengambil anggur, Louis berjalan ke arah mini pantry untuk mengambil sloki.
Setelah mengisi perut dengan makanan yang tak seberapa, Louis jadi ingin menikmati wine. Dalam waktu bersamaan, ada Annante yang bisa dijadikan teman untuk menikmati wine.
“Terima kasih,” ucap Annante saat menerima sloki berisi white wine tersebut. Ia tentu menerima jamuan dari si pemilik ruangan dengan senang hati.
Penyajian white wine sendiri disarankan untuk menggunakan gelas ukuran kecil guna menahan bubble atau buih agar tidak terlalu kabur. Dengan suhu udara dingin, temperatur soda yang disajikan untuk white wine tidak akan terlalu habis ketika diminum. Saat masuk ke dalam mulut, dua karakter khas white wine akan dikecap oleh lidah. Karakter itu antara lain, rasa cenderung keasaman dan pekat. Karakter white wine yang lain adalah cenderung mengeluarkan aroma buah. Berbeda dengan red wine yang hanya memiliki dua karakter, yaitu aroma buah dan tingkat keasaman saja.
“Kamu terlihat sedang banyak pikiran,” ujar Annante membuka pembicaraan.
“Hanya masalah pekerjaan.” Louis menjawab dengan datar.
“Aku juga sedang memiliki masalah dengan pekerjaan,” ceritanya. “Aku baru saja mengajukan pengunduran diri.”
“What? Why?!”
Annante tersenyum kecil melihat respon lawan bicaranya. “Karena aku menolak menyetujui tawaran pekerjaan di Kyiv.”
“Ukraina?”
__ADS_1
Annante mengangguk sebagai jawaban. Sedangkan Louis yang tampak terkejut sedang berpikir keras. Annante adalah ‘pion’ yang sangat berguna untuknya. Lewat Annante, ia bisa mengawasi sang pujaan hati. Jika Annante pergi, bagaimana dengan aktivitas sang pujaan hati?
“Apa kau tidak bisa bertahan?”
“Tentu saja bisa. Hanya saja, egoku sempat tersakiti,” jawab Annante dengan gamblang. “Aku butuh waktu untuk berpikir.”
“Kau harus bertahan di sana. Ingat apa janjimu?” Louis menatap lawan bicaranya dengan lekat.
Annante tersenyum sensual seraya mengangguk. “Aku ingat.” Ia kemudian menyecap tetes terakhir white wine miliknya. “Asalkan kamu juga ingat, apa perjanjian kita.”
Louis menatap lawan bicaranya dengan kening bertaut.
“Aku tidak suka diabaikan.”
Tautan di kening Louis kian bertambah saat mendengar kalimat Annante yang terdengar seperti rajukan seorang kekasih. “And then?”
“Aku juga butuh kamu perhatikan.”
Ok, Louis tahu ke mana arah pembicaraan ini akan berlangsung. Ia tahu apa yang perempuan di hadapannya ini inginkan. Louis teramat tahu, karena ini bukan pertama kalinya Louis memiliki ‘pion’ seperti ini.
“I want you.”
Louis menyeringai tipis mendengar itu. Di saat mood-nya buruk seharian ini, ada yang suka rela menyodorkan kesenangan padanya. Kucing mana yang tidak tergoda saat disodorkan ikan segar, coba? Perumpamaan itu juga berlaku untuk Louis. Toh, bercinta dapat mengurangi stress dan dapat membantu menjaga sistem kekebalan tubuh.
“Come here,” panggil Louis seraya menepuk-nepuk pahanya. Hal itu tentu disambut dengan senyum sensual si lawan bicara yang duduk di seberang sana. “I want you too, now. Inside of me (aku juga mau kau, sekarang. Di dalam diriku).”
“With pleasure, my lord (dengan senang hati, tuanku).”
✈️✈️
“Alhamdulillah.”
Hamdalah terucap dari bibir yang tertutup oleh kain niqab tersebut. Ia baru saja selesai menjalankan ibadah salat isya di masjid Usman bin Affan pasca selesai menemui seorang rekan kerja.
New York memang salah satu kota dengan populasi masyarakat muslim minoritas. Berdasarkan data World Population Riview, hanya ada 6 persen populasi muslim di New York, atau sekitar 2.028 penduduk dari tiap 100 ribu penduduk New York. Meskipun masyarakat muslim terbilang minoritas, tidak sulit menemukan tempat Ibadan masyarakat muslim di sana. Sekalipun masjid-masjid di sana terbilang kecil dan tidak terlalu terlihat seperti masjid pada umumnya. Jika tidak cermat, maka masjid-masjid tersebut akan luput san terlewatkan dari perhatian.
Masjid Usman bin Affan salah satunya. Masjid ini berlokasi di sekitar 5th Avenue atau jalanan ramai di New York yang popular dengan jajaran toko mewah dan terkenal. Masjid Usman bin Affan adalah masjid terdekat dari jalan tersebut.
“Iya. Alea akan pulang setelah membeli beberapa barang,” ujarnya, memberitahu seseorang di seberang sana. “Iya, pa. Alea akan segera pulang.”
Alea saat ini tidak ditemani oleh siapapun, karena dua orang bodyguard yang merangkap sebagai supir dan penjaganya tengah menunggu di mobil. Mereka kebetulan non-muslim, jadi tidak dapat mengawasi Alea yang tengah beribadah.
“Anda tidak apa-apa, tuan?”
Alea yang baru saja keluar dari masjid tidak sengaja melihat seorang laki-laki tua yang berjalan perlahan menggunakan tongkat. Laki-laki tua itu tampak kesusahan membawa dua paper bag berisi satu jenis bunga yang cukup awam bagi Alea.
“Ah, iya.”
“Anda sepertinya kesulitan membawa semua itu.”
“Kaki dan tanganku memang sudah bermasalah karena faktor usia,” jawab laki-laki tua itu dengan suara deep bass berat miliknya.
“Apa Anda perlu bantuan? Saya bisa membantu membawakan barang-barang Anda.”
“Aku memang kerepotan membawa semua bunga ini.”
Alea mengangguk paham. “Kalau begitu biar saya membantu Anda.”
“Apa kamu tidak keberatan, gadis muda?”
Alea menggeleng sebagai jawaban. Menolong orang tua adalah perbuatan yang sangat mulia. Allah Subhanahu wa ta’ala akan mencatat 73 ampunan bagi umat-Nya yang menolong orang yang sangat membutuhkan. Besaran ganjaran dari menolong orang lain telah diterangkan oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam lewat sabdanya yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Baihaqi.
“Barang siapa menolong orang yang sangat membutuhkan, maka Allah mencatatnya sebanyak 73 ampunan. Satu ampunan terdapat kebaikan semua masalahnya, yang 72 (menaikkan) derajatnya pada hari kiamat.”
“Di mana rumah Anda? Biar saya antar.”
Laki-laki tua itu mengangguk senang. Sekarang barang bawaannya sudah berpindah tangan pada Alea.
“Apa aku tidak menyita waktumu, gadis muda?”
“Tidak sama sekali, tuan.”
“Aku merasa tidak enak karena telah menyusahkan dirimu.”
Alea menggeleng seraya tersenyum kecil di balik niqab yang ia gunakan. Ia memang memutuskan untuk membantu, tanpa memberitahu dua bodyguard-nya terlebih dahulu. Toh, malam ini sangat banyak orang berlalu-lalang. Alea bisa menjaga diri dengan baik sekalipun hilang sekejap dari pantauan.
__ADS_1
“Kamu sangat baik hati, gadis muda. Orang tuamu pasti mendidik kamu dengan baik.”
“Alhamdulillah, orang tua saya memang mendidik saya dengan sangat baik.”
“Beruntungnya orang tuamu karena dapat mendidik darah dagingnya dengan tangan sendiri. Tidak seperti diriku yang harus berpisah dengan putra sematawayangku sejak dia dalam kandungan.”
Alea tertegun mendengarnya. Ia ikut merasakan rasa sedih si laki-laki tua berpakaian lusuh di sampingnya. “Setiap manusia sudah memiliki jalan hidupnya masing-masing, tuan. Mungkin perpisahan antara anda dan putra anda adalah salah satu jalan hidup yang telah Tuhan siapkan.”
Laki-laki tua itu tampak menyeringai tipis tanpa sepengetahuan Alea. “Tapi penyebab perpisahan itu bukanlah Tuhan, melainkan seorang manusia bajing—“
“Nona!”
Alea dan laki-laki tua itu refleks menoleh. Beberapa meter dari tempat Alea berdiri, seorang laki-laki dan perempuan yang tampak datang dengan langkah tergesa-gesa.
“Kenapa nona ada di sini? Apa ada sesuatu yang telah terjadi pada nona?” tanya si wanita.
“Aku baik-baik saja. Maaf telah membuat kalian cemas, aku hanya ingin menolong bapak ini,” ujar Alea seraya menoleh ke samping. Namun, yang ia temukan hanya lalu-lalang manusia asing. Bukannya laki-laki tua yang beberapa saat lalu mengobrol bersamanya.
“Tadi laki-laki tua itu ada di sini.” Bingung Alea.
“Apa nona baik-baik saja? Ada yang luka? Atau ada barang-barang nona yang menghilang?” tanya bodyguard perempuannya itu, beruntun.
“Aku baik-baik saja,” jawab Alea. Ia masih mencoba mencari laki-laki tua yang sempat ia tolong.
“Kita harus segera kembali, nona.”
“Iya. Kemungkinan nona hanya dikerjai oleh orang asing yang berniat jahat.”
Alea tak menanggapi ucapan dua bodyguard-nya dengan respon apapun. Ia kemudian melirik paper bag berisi satu jenis bunga yang awam baginya. Kedua bodyguard itu juga langsung mengalihkan tatapan ke objek yang sama.
“Nona, boleh saya memeriksa bunga itu?”
“Bunga ini?” bingung Alea.
“Iya.”
“Silahkan.”
Alea menyerahkan bunga itu pada bodyguard laki-laki yang juga merangkap sebagai driver pribadi. “Memangnya ada apa dengan bunga itu? bunga itu terlihat biasa saja, sama seperti bunga kebanyakan.”
Bodyguard laki-laki itu menggelengkan kepala. “Ini adalah bunga Haganbana.”
“Bunga Haganbana?” bingung Alea. “Aku baru mendengar nama bunga cantik itu.”
Bunga yang Alea maksud memang cantik. Warnanya merah menyala dengan batang hijau tanpa daun. Bentuk bunga itu juga sangat unik menurut Alea yang memang pecinta bunga.
“Bunga Haganbana, Lycoris radiate atau red spider lily adalah bunga yang sering muncul di anime sebagai lambang kesedihan atau kematian.”
Alea terlonjak kaget saat mendengar informasi tersebut. “Lambang kesedihan? kematian?”
“Iya, nona. Di samping cantik, bunga yang melambangkan kematian ini juga memiliki umbi yang mengandung racun mematikan. Di Jepang, bunga ini sering dipersembahkan untuk anggota keluarga yang sudah meninggal. Sedangkan di Korea, karena bunga ini dan daunnya tidak pernah bertemu, orang Korea menggunakan bunga ini sebagai simbol dua orang yang akan berpisah.” Laki-laki itu menatap sang nona muda dengan waspada.
“Ada apa?” tanya Alea.
“Ada lagi satu informasi yang harus saya sampaikan.”
“Maka sampaikan. Aku ingin mendengarnya.”
Laki-laki yang sudah terlatih sebagai bodyguard itu menghela napas berat sebelum menjawab. “Seseorang yang diberi bunga Haganbana dipercaya akan mendapatkan kesedihan atau musibah kematian.”
✈️✈️
TBC
NEXT OR NOT?
YUK, LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
SPOILER 👇
Sukabumi 21/06/22
__ADS_1