
BDJ 48 : SAYYIDUL AYYAM
“Sudah, sudah. Tidak perlu kamu kupas semua,” lerai laki-laki yang duduk seraya bersandar pada headboard. Tatapannya tertuju pada sang lawan bicara yang tengah sibuk mengupas buah.
“Om sudah tidak mau makan lagi?”
“Sudah, cukup. Saya sudah kenyang.”
“Baik,” sahut laki-laki yang sejak tadi mengupas buah dan memotongnya menjadi dadu agar mudah untuk dimakan.
Ia memang menawarkan diri untuk mengupaskan buah yang disediakan untuk calon mertuanya itu. Pasca selesai numpang menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, dan mengisi perut karena ‘paksaan’ calon ibu mertuanya, ia baru bisa mengobrol dengan si tuan rumah. Anzar memang baru bangun setelah menghabiskan beberapa jam untuk beristirahat.
Cukup lama Nathan menunggu, oleh karena itu Airra menjamu dirinya dengan berbagai makanan. Perempuan itu tidak mau membuat sang calon menantu menunggu dengan perut kelaparan. Saat dijamu dengan makanan berat saja, ada berbagai menu makanan lezat khas tanah air, mulai dari ayam goreng lengkuas, tumis brokoli, tumis buncis dengan telur, udang asam manis, semur daging, kentang mustofa, sampai gorengan bala-bala atau bakwan dalam bahasa sunda yang bisa Nathan nikmati.
“Kamu sudah mau pulang? Tidak berencana untuk menginap?”
“Tidak, om. Mungkin lain kali.”
“Memangnya masih ada lain kali? Nanti keburu kamu berganti status menjadi suami Alea,” canda Anzar yang baru saja meneguk sisa air putih yang ada di gelas miliknya.
“IsyaAllah, om.” Nathan menjawab seraya tersenyum kecil. Ia memang menunggu cukup lama supaya bisa menjenguk calon mertuanya untuk kedua kali. Kemungkinan besok ia akan berhalangan untuk menjenguk lagi karena harus menjemput orang tuanya yang akan berkunjung ke sini.
Jika tidak sempat menginap dengan status yang masih ‘tunangan’ Alea, mungkin saat sudah berganti status nanti Nathan akan semakin sering menginap di sini.
“Kamu datang ke sini lagi seharusnya untuk membahas tanggal pernikahan dengan Alea. Bukannya malah mengupaskan buah untuk saya.”
Nathan terhenyak untuk beberapa saat. “Ah, masalah itu masih bisa dibicarakan lain kali, om. Lagipula saat ini kondisi om juga sedang tidak sehat.”
“Hm. Seharusnya satu bulan setelah kalian melangsungkan lamaran, tanggal pernikahan juga langsung ditentukan. Sedangkan saat ini sudah memasuki bulan kedua setelah kamu dan Alea melangsungkan lamaran, tetapi wacana itu belum juga dapat direalisasikan.” Anzar menoleh ke samping, ke arah nakas di dekat tempat tidur yang di atasnya menyimpan sebuah kalender kecil.
“Karena insiden kecil ini rencana untuk menentukan tanggal pernikahan kamu dan Alea jadi tertunda,” katanya, sesal.
“Tidak, om. Lagipula Alea juga sempat meminta kelonggaran waktu.” Nathan mencoba menjelaskan agar sang calon mertua tidak merasa bersalah. “Kita bisa membicarakan masalah tanggal pernikahan setelah om kembali pulih. Orang tua saya juga rencananya besok akan berkunjung ke sini.”
“Begitu kah?”
“Iya, om.”
Anzar mengangguk-anggukan kepala seraya memusatkan perhatian pada Nathan lagi. “Semua kembali lagi pada keputusan Alea. Dia tidak bisa dipaksa untuk buru-buru mengambil keputusan jika belum merasa siap.”
“Saya paham, om.”
“Bagus. Lagipula laki-laki memang bisa memilih, namun perempuan juga bisa menentukan. Saya tidak mau buru-buru melepaskan Alea untuk menjadi istri kamu, jika Alea sendiri belum siap. Alea itu putri saya satu-satunya. Selama ini saya selalu berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Alea hidup bahagia. Saya dan istri memilih menjauh dari Indonesia karena memang kami memiliki tanggung jawab di sini. Saya harus mengelola perusahaan, sedangkan istri saya ikut menetap di sini sebagai bentuk bakti seorang istri terhadap suami.
Kami juga menjauh dari Indonesia supaya dapat hidup tenang dan tentram. Namun, siapa sangka jika di tempat ini juga banyak yang mencoba menganggu ketentraman kami.”
Dalam diam isi kepala Nathan bertanya-tanya soal alasan kenapa Anzar dan keluarga kecilnya harus menetap jauh dari tanah air supaya mendapatkan ketenangan dan ketentraman. Padahal di tanah air ada keluarga besar Radityan yang sepertinya dapat memberikan dua opsi tersebut.
“Selain saya dan mamanya, Alea juga masih punya orang tua lain di Indonesia.”
“Orang tua lain?”
“Hm. Mereka adalah Van’ar dan Aurra, ayah serata bundanya Alea.” Anzar menjabarkan seraya menatap ke luar jendela dengan tatapan nerawang. Tiba-tiba ada rindu yang tanpa permisi bertamu. Ia jadi ingin bertemu dengan pasangan suami-istri itu. Sudah lama juga mereka tak melepas rindu.
__ADS_1
“Van’ar dan Aurra adalah adik dan adik ipar saya. Calon mertua adik kamu. apa kamu tahu, jika saja dulu saya tidak melakukan kesalahan yang sangat fatal, mungkin hari ini bukan mama Alea yang yang menjadi istri saya, melainkan Aurra. Bundanya Alea.”
Anzar terkekeh kecil melihat lipatan yang tercipta di kening calon menantunya itu. “Kamu pasti kebingungan,” katanya seraya melipat kedua tangannya di dada. “Boleh tolong ambilkan figura foto yang ada di meja itu.”
Anzar menunjuk ke sudut ruangan, di mana sebuah meja berukuran sedang terletak. Di atas meja tersebut ada vas berisi bunga kering yang diawetkan serta beberapa figura foto berukuran kecil.
“Tolong ambil figura yang dekat vas bunga.”
Nathan mengangguk seraya mengambil figura yang dimaksud. Figura itu tampak memuat sebuah foto yang menampilkan dua pasangan anak Adam dan Hawa yang tengah menatap ke kamera dengan ekspresi bahagia. Nathan lalu menyerahkan figura yang telah ia ambil kepada Anzar.
“Ini adalah Van’ar dan Aurra. Ayah dan bundanya Alea. Mereka merupakan orang tua dari Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi, Arrabelle Lumiera Humaira Rajapatni Az-zzioi dan Muhammad Askaryon ….sebentar, saya melupakan nama lengkap si bungsu yang suka mengahapalkan pasal-pasal undang-undang itu.” Anzar mencoba mengingat-ingat nama putra bungsu adiknya itu, namun nihil. “Nanti kamu juga tahu nama si bungsu, saya lupa. Atau tanya ke adikmu itu, dia pasti tahu nama calon adik iparnya.”
“Nanti akan saya tanyakan, om.”
Anzar mengangguk samar seraya tersenyum tipis. “Van’ar dan Aurra sudah seperti orang tua kedua bagi Alea. Mereka sangat dekat, sampai-sampai saya sempat mengira jika Alea terkadang lebih cocok jadi putri mereka.”
Nathan hanya tersenyum tipis mendengar cerita Anzar. Ia cukup mengetahui orang tua kedua Alea yang merupakan calon mertua sang adik. Algean—adiknya—memang sudah menaruh hati pada putri Radityan semenjak duduk di bangku SMA. Laki-laki yang kerap kali dijuluki ‘skylake’ itu bahkan berani menentang orang tua mereka karena ingin menunjukkan bahwa ia mampu mengejar cita-cita dan cinta dengan caranya sendiri.
Hidup si bungsu memang penuh liku. Pun penuh warna-warni yang menciptakan gradasi yang baru. Gean pernah mengambil keputusan untuk melepas semua fasilitas yang ayah mereka berikan, dan memilih melanjutkan studi di Embry-Riddle Aeronautical University College of Aviation atau ERAU. Lebih tepatnya Gean melanjutkan pendidikan di ERAU yang terletak di Priscott. Alih-alih mengenyam pendidikan di Rheinisch-Westflisch Technische Hochshule Aachen atau RWTH Aachen. Universitas tinggi dan terbaik dari Aachen, Jerman. Universitas tersebut juga terkenal akan universitas dengan studi penerbangan terbaik di dunia. Tempat di mana Bapak Teknik Indonesia pernah mengenyam pendidikan.
Gean memilih melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi yang dikenal sebagai Harvard of the Skies guna menunjukkan pada sang ayah bahwa ia bisa hidup dengan mandiri, menggunakan kemampuan dan biaya sendiri. Di perguruan tinggi bergengsi yang memiliki 60 program gelar yang meliputi ilmu penerbangan, teknik penerbangan dan kedirgantaraan, keamanan & intelejen global, control lalu lintas udara, administrasi bisnis, dan sebagainya itu, Gean berjuang mati-matian untuk membuktikan diri.
“Aurra sangat menyayangi mereka.” Anzar menatap foto dalam figura yang ia pegang lekat-lekat. “Mereka juga tahu jika ada seorang laki-laki yang hendak meminang Alea. Akan tetapi, lebih baik jika kamu meminta restu kepada mereka secara langsung. Hitung-hitung bersilaturahmi pula.”
Nathan mengangguk sebagai respon. Ia sudah bisa menangkap maksud dari arah pembicaraan Anzar. “Kalau itu yang om inginkan, saya akan segera mendatangi mereka untuk meminta restu.”
“Hm. Memang seharusnya begitu,” sahut Anzar. “Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu.”
“Apa itu, om?”
“Sayyidul Ayyam?”
“Ya. Bukan tanpa alasan Alea ingin menikah pada hari tersebut. Dalam Al-Qur’an surat Al-Jumuah ayat delapan sampai Sembilan telah Allah Subhanahu wa ta’ala jelaskan bahwa hari jum’at mempunyai keistimewaan dibanding hari-hari yang lain. Hari jum’at atau Sayyidul Ayyam. Rajanya hari, hari paling agung. Sebagaimana disebutkan dalam hadist Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah.
Hari jum’at juga disebut sebagai hari hubungan dan perkawinan oleh Rasulullah Sallallahu alaihi wasalam, karena para Nabi terdahulu menikah pada hari ini. Sebut saja perkawinan Nabi Adam Alaihi salam dengan Siti Hawa, Nabi Yusuf Alaihi salam dengan Zulaikha, Nabi Musa Alaihi salam dengan Shafura binti Nabi Syu’aib Alaihi salam, Nabi Sulaiman Alaihi salam dengan Bilqis, Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasalam dengan Siti Khadijah, Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasalam dengan Siti Aisyah, dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan Siti Fatimah Az-Zahra. Untuk itu, apa kamu bisa mengabulkan keinginan Alea yang satu itu?”
“InsyaAllah, om. Nanti kita akan mencari tanggal baik yang jatuh pada hari Sayyidul Ayyam.”
“Satu lagi,” tambah Anzar.
“Apa itu om?”
“Keistimewaan menikah di hari jum’at. Menikah di hari Jum'at, hari yang dianjurkan, maka akan mendapatkan keberkahan, termasuk pula hari raya, hari terbaik, karena pada hari itu Nabi Adam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dan di hari itu pula Nabi Adam dikeluarkan dari surga.”
Anzar menarik napas, lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Ia berbicara panjang kali lebar seperti ini tentu memiliki tujuan. Anzar yang notabene datar dan irit bicara, rela jadi cerewet dan bawel seperti perempuan karena ingin lebih mengenal calon suami putrinya lebih dekat lagi. Bagaimana pun juga, Anzar harus bisa beradaptasi dengan cepat. Nathan ini karakteristik nya sebelas-dua belas dengan Van’ar, adiknya. Irit bicara sekali. Bicara paling seperlunya saja. Beda cerita kalau sudah bertemu dengan pawangnya.
Jadi Anzar sebagai orang tua mau tidak mau harus membuka diri untuk mempererat hubungan mereka. Apalagi mereka akan segera menjadi keluarga setelah Nathan dan Alea resmi menikah.
Tok
Tok
Suara ketukan pintu yang berasal dari luar membuat perhatian dua laki-laki itu teralihkan. Ternyata ada Alea yang sudah berdiri di ambang pintu.
“Masuk sayang.”
__ADS_1
“Iya, pa,” jawab perempuan berhijab syar’I itu. “Maaf kalau Alea mengangguk pembicaraan papa dan kak Nathan. Alea ke sini cuma mau cek papa. Tadi Alea kira kak Nathan sudah pulang.”
“Calon suami kamu masih betah di sini nih,” kata Anzar seraya menunjuk Nathan dengan dagu.
Natha tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuk. “Hm, sepertinya saya memang sudah harus pulang,” ucap Nathan kala melirik jam yang menempel di salah satu dinding kamar.
“Ya sudah. Kamu juga pasti butuh banyak waktu untuk beristirahat,” sahut Nathan. “Alea, tolong antar Nathan sampai ke depan, ya.”
“Baik, pa.”
Setelah berpamitan pada Anzar, Nathan langsung melangkah pergi dari ruangan tempat Anzar berada. Hari sudah semakin larut. Tak terasa memang. Mengobrol dengan calon mertuanya itu ternyata membuat waktu terasa berjalan begitu cepat.
“Kakak hati-hati di jalan, ya.”
“Hm.”
“Nanti ….kirim pesan kalau sudah sampai.” Alea berucap dengan suara kecil.
Laki-laki tampan dengan jaket hitam itu tersenyum seraya mengangguk. Malam ini ia memang akan berkendara seorang diri, tanpa seorang driver yang menemani.
“Nanti aku telpon kalau sudah sampai,” katanya kemudian seraya menghadap sang kekasih. “Sayyidul Ayyam yang akan datang….”
Nathan sengaja menggantungkan kalimatnya, agar Alea terpancing untuk bertanya. Buktinya, tak lama Alea ikut buka suara.
“Sayyidul Ayyam yang akan datang …memangnya ada apa, kak?”
“Sayyidul Ayyam yang akan datang ...aku akan menjabat tangan papa kamu, lalu mengucapkan kalimat, ‘bismillahirrahmanirrahim. Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan!”
✈️✈️
TBC
SIAPA YANG PAS BACA PANEL TERAKHIR AUTO NYANYI DENYUT ..... JANTUNG KU BERDEABAR 🙈
NEXT APA NEXT??
LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR, SHARE, TABUR BUNGA SEKEBON DULU 💐💐💐💐
Sukabumi 24-07-22
REKOMENDASI NOVEL KEREN UNTUK KAMU!
Aku, adalah protagonis jahat. Pemeran utama yang menggoda suami orang, membuat konflik diantara hubungan suami istri hingga membuat keduanya berpisah.
Aku … adalah protagonis.
Semua demi apa?
Heyri merubah nama, wajah, penampilan, bahkan seluruh hidupnya demi bisa menarik perhatian seorang pria bernama Jeff. Hakim kondang dengan karir yang gemilang, serta menantu dari keluarga Yoon, konglomerat kaya dengan sederet bisnis sukses.
"Aku bersumpah, akan mendapatkanmu kembali, Jeff. Tidak peduli jika harus merebutmu secara paksa dari istrimu!"
--
__ADS_1