Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 35 : KUNJUNGAN YANG TIDAK MENYENANGKAN


__ADS_3

BDJ 35 : KUNJUNGAN YANG TIDAK MENYENANGKAN


Empat orang laki-laki tampan dengan visual yang kelewat rupawan tampak berjalan beriringan memasuki lobby sebuah rumah sakit yang cukup ternama dan sibuk di New York. Empat laki-laki beda usia itu tampak datang dengan outfit non-formal dan semi formal. Kehadiran mereka sudah menjadi pusat perhatian semenjak berada di area basemen rumah sakit. Di tempat itu mereka sudah jadi perhatian, karena katanya mirip oppa-oppa sampai vibes-nya mirip anggota F4 versi campuran. Dikarenakan mereka memiliki rupa rupawan yang bervariasi, mulai dari dominan Asia, half Asia dan Europe, sampai full Europe.


Intinya pada pagi hari yang cukup sibuk itu, mereka berempat membawa angin segar tersendiri bagi para penghuni rumah sakit.


“Baru di sini Dadav merasa bangga punya warna kulit kecoklatan. Kelihatan lebih manley ketimbang para cowok lain yang kulitnya putih pucat, kayak habis minum pemutih sejeligen.”


Kekehan terdengar dari laki-laki yang kulitnya memang paling gelap, karena darah dan gen yang mengalir di tubuhnya dominan Asia. Malah tidak ada campuran Europe nya, kecuali dari garis keturunan sang ibu yang memiliki campuran darah Timur Tengah.


“Abang gak mau gitu punya warna kulit sawo matang atau tan? Biar makin banyak yang suka,” tanyanya pada laki-laki di sampingnya yang bertugas membawa parsel buah.


“Tidak.”


“Lah, kenapa?”


“Mensyukuri apa yang telah Tuhan beri,” jawab laki-laki bernama Astronot Reynandra Pradipta itu singkat.


“Iya, juga sih. Lagian modelan kayak bang Astro bakal susah hitam, karena keturunan asli orang ras putih. Mana matanya biru lagi. Abang itu beruntung jadi salah satu dari 5% - 10% penduduk bumi yang memiliki warna mata cantik itu. Warna mata yang menurut penelitian, berasal dari mutasi genetik sekitar 6000-10000 tahun yang lalu.”


Laki-laki yang membawa buket bunga berukuran sedang itu kembali berbicara panjang setelah menahan diri cukup lama. “Kalau aku juga beruntung sih, punya warna mata yang dimiliki hampir 70-80 persen manusia di bumi. Kalau boleh request sih, aku maunya punya bola mata berwarna dua atau Heterochromia. Biar…..”


“Dav, gak usah tabligh akbar mulu. Lebih baik cepat jalan, supaya cepat sampai,” potong Gemintang Reynando Pradipta yang masih tidak habis pikir dengan anak muridnya yang sudah diasuh sejak lama itu.


Davian itu kayak tidak ada habisnya membahas ini dan itu. Masalah bola mata saja, bisa panjang urusannya jika dibahas oleh Davian. Padahal mereka datang ke sini untuk menjenguk, bukan numpang tabligh akbar unfaedah.


“Ayo, buruan!” seru Gemintang, membuat Davian tersenyum keki seraya mengangguk.


Setelah menaiki lift, mereka langsung bergegas ke alat ruangan di mana saudara mereka dirawat. Siapa lagi jika bukan Keevanzar Radityan Al-faruq. Laki-laki itu harus dilarikan ke rumah sakit karena tindakan tak terduga yang dilakukan oleh mantan musuh bebuyutannya, Logan Gallion Smith Anderson. Rupanya sudah puluhan tahun berlalu sekali pun, kebencian yang dulu masih ada dan terpupuk dengan baik. Bukannya menghilang dan habis digerus oleh waktu.


“Om!” seru Davian heboh, pasca mengatakan salam kala memasuki ruangan. “Apa kabar om? Sudah merasa lebih baik? Ini, Dadav bawakan bunga ….gak tahu namanya bunga apa, lupa. Tapi, artinya Dadav ingat. Bunga ini bisa diartikan sebagai sebuah harapan dan do’a.”


Mendapati kemunculan keponakan super happy virus nya itu, Anzar tak kuasa untuk menahan senyum. Apalagi saat laki-laki muda itu menyalami tangannya.


“Beginilah jika Lunar yang tidak mau diam dikawinkan dengan laki-laki yang sama-sama gak suka diam. Hasilnya out of the box,” komentarnya yang langsung membuat yang lain tersenyum, kecuali Davian tentunya.


“Jangan gitu dong, om. Ini keponakan om yang paling ganteng, pinter, baik, sholeh, rajin nabung, dan suka membantu, sudah jauh-jauh datang ke sini masa disambut begitu?”


“Keponakan om yang paling ganteng itu ....Arsyad.”


“Eh, iya, ya?” Davian loading. Kalau dibandingkan dengan Arsyad, beda jauhhhhh.


“Kalau paling pintar, Arsyad juga. Ditambah Aroon sama Arion. Baik? Itu mah sifatnya Arra. Sholeh? Rajin menabung dan suka membantu? Jawabannya sudah tentu Davin. Lah kamu, bagian apanya? Dari dulu cuma ngerusuh mulu bisanya,” canda Anzar, terniat.


“Dih, om menistakan keponakan sendiri itu gak boleh loh. Gini-gini Davian bagian dari triple D. Anaknya mama Lunar dan papa Arkan.”


Anzar lagi-lagi dibuat tertawa walaupun bukan tawa terbahak-bahak.


“Tapi om udah merasa lebih baikan, kan?”


“Iya, Alhamdulillah. Berkat do’a kalian semua,” kata Anzar seraya tersenyum tipis.


“Alhamdulillah. Syukur deh kalau gitu.”


Pembicaraan kembali dilanjutkan, membahas seputar kondisi Anzar dana jalannya perawatan. Mereka bahkan sampai lupa jika ada orang lain di sana. Ya, orang yang sama-sama berstatus sebagai pasien. Tirai penyekat memang sengaja ditutup, jadi keberadaanya terisolasi. Hingga detik ini pun, belum ada sanak-saudara nya yang datang. Ibunya juga belum datang, karena katanya harus menunggu kedatangan sang suami yang sempat mengalami delay di perjalanan.

__ADS_1


“Dadav sama Astro sudah lama sampai?”


Ah, suara yang sempat lama tak terdengar itu, kembali terdengar. Suara yang lembut dan menyenangkan untuk didengar. Berbanding terbalik dengan suara laki-laki bernama Davian yang sejak tadi membuat telinganya sakit.


“Udah, teh. Dari tadi malah. Teh Alea sendiri dari mana?”


“Dari kantin, beli makanan buat mama.”


“Owh, gitu. Kirain tadi pulang dulu.”


Suara laki-laki bernama Davian itu terdengar bersahut-sahutan dengan suara sang pujaan hati, membuat Louis menahan geram di dalam hati.


“Terus itu nampan makanan punya siapa? Itu makanan pasien, kan?”


Belum sempat Alea menjawab pertanyaan itu, suara Davian kembali terdengar.


“Oh, Dadav tahu. Itu pasti makanan buat om Anzar ya. Ini sudah waktunya om makan, terus minum obat. Gitu?”


“Bukan,” jawab Alea. “Ini punya pasien lain yang dirawat di ruangan ini juga.”


“Hah? Siapa? Memangnya ada pasien lain?” bingung Davian.


Alea mengangguk, lantas bergerak ke kanan untuk menyibak tirai pembatas. Saat melihat siapa yang tengah menatap ke arah mereka dengan tampang datar, Davian langsung bereaksi.


“Lo?!” sentaknya, marah. “Ngapain lo masih hidup? Kirain udah tinggal nama,” kata Davian dengan penggunaan bahasa inggris yang kasar.


“Dadav gak boleh gitu, enggak baik,” lerai Alea, langsung membuat Dadav bungkam.


Karena pembatas sudah di buka, mau tidak mau Louis langsung bertatapan dengan 4 orang laki-laki beda usia yang sejak tadi hanya terdengar suaranya saja. Sekarang Louis bisa melihat mereka dengan mata kepalanya sendiri. Boleh Louis akui jika keluarga Radityan rata-rata isinya orang-orang visual alias orang dengan rupa yang menawan, cantik dan tampan. Postur tubuh mereka juga bagus-bagus, proporsional.


“Dadav.”


“Iya, maaf. Lagian lihat muka situ bikin gedek, bawaannya jadi mood swing.”


“Memangnya kamu sedang hamil?” celetuk Astronot, tiba-tiba ikut nimbrung.


“Enggak lah. Bad mood aja karena emosional,” kata Davian meluruskan.


Kedatangan empat laki-laki beda usia itu juga membuat Louis bertanya-tanya. Ia yakin salah satu di antara mereka pasti ada di warung kopi malam itu. Menyaksikan potongan kejadian yang Louis lupakan setelah kehilangan kesadaran.


“Makan dulu. Anda harus segera minum obat,” kata Alea, memutuskan lamunan Louis. “Tante Nata sedang dalam perjalanan ke sini. Mungkin beliau akan sedikit terlambat.”


“Hm.”


“Makanlah secara perlahan. Anda harus makan, walaupun sedikit. Supaya ada tenaga.”


“Hm.”


“Gak usah diperhatikan gitu juga, teh. Biarin aja,” sewot Davian. “Nanti dia baper, siapa yang rugi?”


Alea menatap Davian cukup lama, kemudian mengangguk. Ia memang tidak berniat untuk membantu secara berlebihan, cuma seadanya saja.


“Silahkan di makan,” kata Alea sebelum meninggalkan Louis.


Davian tampak tersenyum penuh kemenangan melihatnya. Ia kemudian mendekati Alea, lantas memeluk saudarinya yang sangat ia sayangi itu. Seperti Arra, posisi Alea juga sangat penting bagi para cucu laki-laki Radityan. Arra dan Alea itu ibarat srikandi yang selalu dijaga mati-matian.

__ADS_1


“Kangen,” kata Davian seraya melepaskan pelukan. Walaupun berada di kota yang sama, tidak sampai tiga atau enam bulan sekali mereka bertemu. Itu karena Davian sering pergi menjalankan misi.


“Makanya sering-sering main ke rumah,” kata Alea menimpali.


Setelah Davian, giliran Astronot yang ikut-ikutan memeluk perempuan berhijab syar’I itu. Astronot bukan termasuk laki-laki ajnabi bagi Alea, karena ia adalah anak dari istri Galaksi—om nya, walaupun keluarga Pradipta dan Radityan tidak terikat hubungan darah. Astronot juga saudara persusuan dan teman main Alea waktu kecil. Karena usia mereka tidak beda jauh, Alea kecil yang sering di asuh oleh pasangan suami istri dari marga Pradipta, sempat diberi ASI oleh ibu Astronot. Dikarenakan produksi ASI Airra tidak lancar karena terlalu banyak beban pikiran akibat adaptasi dengan pekerjaan di New York.


Tanpa mereka ketahui, ada hati yang meradang melihatnya. Ia saja yang sudah melakukan berbagai cara belum bisa leluasa menyentuh Alea, kenapa mereka bisa begitu mudah menyentuhnya? Ah, Louis geram sendiri. Namun, apa haknya untuk marah? Ia bukan siapa-siapa Alea.


“Alea,” panggil Anzar.


“Iya, pa?”


“Bisa tolong tunggu di luar dulu sama mama? Papa mau bicara sama om Galaksi, om Gemintang, Astronot dan Davian.”


Alea mengangguk, lantas pamit undur diri setelah menyapa dua om gantengnya yang tidak pernah lekang di makan waktu.




Dari dulu, dari Alea masih balita hingga dewasa, dua om gantengnya itu tetap saja begitu. Jika pindah ke Indonesia, mungkin emak-emak di sana akan salah mengira usia mereka. Wajah kisaran dua limaan, usia asli sudah kepala empatan. Pesona luar biasanya juga tidak bisa didebat.


“Bagaimana kondisi mu, jerk?” tanya Gemintang yang baru saja mendekati ranjang Louis.


“Hm. Better,” jawab Louis singkat.


“Kau pasti penasaran apa yang terjadi kemarin malam pasca kau kehilangan kesadaran.”


“….”


“Ck, ekspresi datar mu itu masih bisa aku tebak,” kata Gemintang meremehkan. “Aku akan berbaik hati menceritakannya kepadamu. Tapi, ingat satu hal, jerk. Setelah ini, jangan pernah bermimpi untuk mendekati Alea lagi. Atau kami …..” Gemintang mengangkat pandangan, melirik satu per satu rekan seperjuangannya. Mulai dari sang kakak—Galaksi, saudaranya—Anzar, hingga anak dan muridnya—Astronot dan Davian. “….akan menjadi malaikat maut yang mempercepat ajal mu.”


✈️✈️


TBC


LANJUT? MASIH SAMA GG BERSAUDARA BUAT PART BERIKUTNYA. KAYAK KILAS BALIK, DAN MUNCULNYA MANTAN. MANTAN SIAPA TUH? ADA YANG TAU??


CUS, KOMENTAR DI SINI 👇


JANGAN LUPA, LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️


Sukabumi 06-07-22


Ada REKOMENDASI NOVEL JUGA NIH!



Bercerita tentang manis pahitnya kehidupan seorang wanita cantik bernama Sashi yang harus berjuang membesarkan putranya seorang diri setelah kematian suaminya karena kecelakaan. Sashi yang seorang desainer harus mampu mengelola dan mempertahankan perusahaan peninggalan suaminya dari sifat tamak adik iparnya.


Seiring waktu, Sashi berubah menjadi seorang CEO wanita dan seorang Ibu serta akan menguak misteri kematian suaminya. Apakah ketika semuanya terkuak Sashi masih sendiri, atau ia berhasil menemukan pendamping hidupnya?


-


Mampir yuk 👋

__ADS_1


__ADS_2