Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 28 : ANCAMAN


__ADS_3

BDJ 28 : ANCAMAN



(Annante)


✈️✈️


Dipindahtugaskan secara tidak hormat bukanlah keinginan siapapun yang merasa kinerjanya selama ini bagus dan baik. Hal itu pula yang dialami oleh Annante. Perempuan berambut pirang itu harus hengkang dari posisi nyamannya karena alasan yang tidak jelas. Tiba-tiba saja dia dipanggil Human Resources Development kemudian diminta untuk menandatangani surat perjanjian pertukaran tenaga kerja ekspor-impor dengan kantor cabang di Kyiv atau Khiev, Ukraina. Nantinya ia akan dikirim ke Negara tersebut untuk beberapa waktu yang belum dapat ditentukan.


Annante tentu menentang dengan keras. Siapa juga yang mau dikirim ke Negara yang tengah kacau-balau karena masalah konflik internal. Ia juga tidak berniat jadi sukarelawan bagi perusahaan. Annante lebih baik resign ketimbang harus dikirim ke Khiev, sekalipun dia harus membayar biaya penalti yang cukup besar. Oleh karena itu, saat mendapatkan surat peringatan karena tidak mau melakukan perintah, Annante langsung bergegas membenahi barang-barang miliknya. Ia juga sudah mengetik surat pengunduran diri, tinggal dikirim saja ke atasannya yang tidak lain dan tidak bukan sahabatnya sendiri.


Dengan perasaan gondok, perempuan yang siang ini menggunakan outfit santai alih-alih formal itu melahap potongan puff pastry yang telah dicelupkan ke dalam cream soup yang terasa begitu creamy di mulut. Blouse dan bawahan rok A-line yang biasa ia gunakan kini berganti dengan halter tank top dengan tali melingkar di leher yang mempertontonkan keseluruhan bentuk dada dan bahu, dipadukan dengan Dylan flared jeans dari Celine seharga $770 atau sekitar 11 juta rupiah.


Annante sedang menunggu seseorang yang janjian akan bertemu di tempat ini. Untuk mengurangi sedikit rasa frustasi, Annante memang mengemis-ngemis pada ‘dia’ untuk datang ke sini. Annante juga sengaja memilih tempat yang memiliki room private agar lebih leluasa untuk menghabiskan waktu bersama ‘dia’.


“Kenapa kamu belum datang juga?” tanyanya lirih pada foto seorang laki-laki yang ia jadikan sebagai wallpaper.


Foto candid itu diambil pasca mereka menghabiskan satu ronde percintaan panas bersama. Annante tentu mengambilnya secara diam-diam, kemudian ia gunakan sebagai wallpaper di handphone miliknya. Siapa juga yang tidak suka memasang foto candid laki-laki tampan, apalagi laki-laki itu sangat hot pasca mereka usai bercinta. Mengingatnya saja, darah Annante jadi berdesir hebat.


Selain foto candid itu, ia juga menyimpan puluhan foto lain dari objek yang sama. Foto-foto itu ia ambil dari berbagai jejaring media sosial. Semua foto itu dimuat dalam sebuah folder private yang diberi nama ‘My Boo’. Nama samara sekaligus panggilan sayang darinya untuk laki-laki itu.


“Dia kemana sih? Kok belum sampai juga?” gumamnya lagi, mulai lelah menunggu.


Sejak datang ke sini, Annante sudah memesan segelas coffe semi freddo with biscuit, panna cota, sepotong cheesecake blueberry, hingga puff pastry dengan cream soup yang creamy. Namun, yang ditunggu tak kunjung datang.


Lelah menunggu, Annante akhirnya memilih pergi dari caffe tersebut. Kedongkolan nya kian bertambah dua kali lipat karena lagi-lagi gagal menemui laki-laki itu. Padahal belakangan masih santer terdengar kabar burung soal laki-laki itu yang kedapatan dating dengan seorang perempuan, sampai menyebarnya foto-foto mereka yang keluar masuk Equinox Hotel Hudson Yards New York City, salah satu hotel bintang lima di New York.


Annante sebal karena tidak bisa bertemu laki-laki itu, padahal ia sangat rindu. Namun, saat baru saja hendak keluar dari tempat tersebut, ia melihat laki-laki yang ia tunggu sejak tadi baru saja masuk ke dalam mobil. Laki-laki itu tidak jadi masuk ke dalam caffe entah kenapa. Sepersekian detik berikutnya, laki-laki itu langsung memutar kemudian, meninggalkan area caffe.


Annante tentu tak tinggal diam. Perempuan itu langsung bergegas mengejar menggunakan mobilnya sendiri. Ia ingin tahu kenapa laki-laki itu pergi tanpa menyapa terlebih dahulu. Apa pula alasan yang membuat laki-laki itu langsung pergi begitu saja. Apakah karena laki-laki itu hendak bertemu dengan perempuan lain?


Annante terus mengikuti super car yang dikemudikan oleh laki-laki itu, sampai kendaraan dengan harga fantastis itu berhenti di sebuah café waralaba yang menyajikan berbagai jenis teh, kopi sampai kudapan manis. Café itu cukup ramai dipadati oleh pengunjung yang sepertinya hendak menikmati jam makan siang.


“Mau apa dia datang ke sini sendiri—“ kalimat Annante terpotong begitu saja saat matanya menangkap kehadiran dua orang perempuan dari arah samping. Annante kenal siapa mereka. Apalagi perempuan yang menggunakan penutup kepala yang saat ini tengah berbincang-bincang dengan laki-lakinya.


Annante kelewat kenal sampai-sampai ia muak hanya untuk menyebut namanya.


“Jadi dia lagi alasan kenapa kamu memilih mengabaikan aku, Louis?” seulas senyum miris tercipta di bibir yang dipoles lipstick waterproof berwarna merah tersebut.


“Kamu cuma menemui aku jika membutuhkan bantuan ku, right? Sedangkan jika tidak butuh, aku kamu buang begitu saja? Kamu pikir aku akan tinggal diam saja Louis? No. Aku ini sudah bertindak sejauh ini karena kamu. Aku tidak mungkin kamu buang begitu saja seperti tisu bekas pakai. Kamu lihat saja apa yang akan aku lakukan. Kamu tidak akan pernah bisa mendapatkan dia, Lou. Tidak akan pernah.” Genggamannya pada kemudi mobil kian mengerat saat melihat mereka berbicara cukup akrab. “Karena kamu hanya akan menjadi milik aku. Your mine, Lou!” lanjutnya menggebu-gebu.


✈️✈️


“Annante mengundurkan diri? Bagaimana bisa?”


Alea tentu terkejut saat mendapatkan informasi tersebut. Ia belum memiliki kesempatan untuk bertemu dengan Annante, apalagi berbicara soal masalah yang menimpanya. Sekarang ia malah mendapat kabar yang lebih mengejutkan. Saat mengunjungi pihak Human Resources Development, Alea juga tidak mendapatkan informasi secara detail soal pemindahan Annante.


Yang pasti, jika keputusan itu bukan keluar dari Alea, berarti keluar dari sang ayah selaku owner di perusahaan. Namun, kenapa sang ayah melakukan itu tanpa bermusyawarah terlebih dahulu dengan putrinya? Pertanyaan itu seketika muncul di benak Alea.


“Ann juga sulit dihubungi,” keluh Alea karena semenjak kemarin sahabatnya itu sulit dihubungi.

__ADS_1


“Nomer telepon nona Annante memang sulit dihubungi semenjak kemarin, nona. Oleh karena itu, untuk sementara waktu saya yang ditugaskan untuk menggantikan posisinya.”


Alea mengangguk. “Kalau begitu tolong bacakan jadwal saya hari ini, Ismi. Takutnya jadwalnya yang kita miliki berbeda.”


Perempuan bernama Ismi itu mengangguk paham. Dengan segera ia kemudian membacakan jadwal kerja sang atasan hari ini.


Alea harus kembali menelan pil pahit karena sang sahabat menutup semua koneksi di antara mereka. Alea juga belum bisa menemui Annante ke apartemennya secara langsung karena jadwal kerjanya cukup padat. Serangkaian urgent meeting, evaluasi laporan, hingga pertemuan penting dengan beberapa divisi mengisi agenda Alea hari ini.


“Kita mampir dulu ke café yang biasa untuk membeli beberapa cup coffe.”


“Baik, nona.”


Ketika jarum jam hendak mendekati waktu makan siang, Alea baru bisa menyelesaikan beberapa urgent meeting yang dilakukan di luar kantor. Sebelum pulang, Alea menyempatkan diri untuk membeli beberapa cup coffe untuk tim Humas sebagai bentuk dukungan atas kerja keras mereka. Sudah jadi kebiasaan memang, Alea akan memberikan tim tertentu makanan atau minuman untuk memberikan ‘support’ bagi mereka yang tengah dikejar deadline.


Ismi yang kebetulan biasa bekerja membantu Annante yang notabene sekretaris Alea, tentu tahu mana saja tempat yang biasa nona mudanya kunjungi untuk membeli makanan atau minuman. Oleh karena itu ia langsung tahu ke mana harus memberikan arah pada supir saat nona mudanya berkata seperti tadi.


Tidak sampai tiga puluh menit dari tempat mereka meeting dengan client, sekarang mereka sudah tiba di café waralaba yang menyajikan berbagai jenis teh, kopi dan kudapan manis yang berlokasi di dekat Times Square. Tempat itu tempat langganan Alea untuk membeli coffe. Coffe di sana memang jadi favorit kebanyakan staf yang bekerja di kantor.


“Sir Louis, Anda di sini?” sapa Alea.


Ia agak terkejut karena tiba-tiba bertemu rekan kerjanya di café waralaba tersebut. Ismi yang mendampingi Alea juga lantas sedikit membungkuk, memberikan salam hormat pada salah satu rekan bisnis penting bagi perusahaan.


“Sebuah kebetulan yang menyenangkan bisa bertemu dengan kamu di sini. Saya ingin membeli segelas coffe untuk mengurangi rasa kantuk. Anda sendiri?”


“Saya juga ingin membeli beberapa cup coffe untuk dibawa ke kantor.”


“Kebetulan yang sangat menyenangkan,” kata laki-laki rupawan yang saat ini tengah memasang senyum angel tersebut. “Kalau begitu mari kita masuk.”


“Ah, tentu saja.” Alea menunduk seraya meng-iyakan. Gadhul bashar. Sebisa mungkin Alea menundukkan pandangan agar tidak terjadi kontak mata yang bisa saja menjadi pemercik zinah mata. Alea tidak mau mendulang dosa karena zinah mata.


“Ayo masuk,” ajak laki-laki itu lagi seraya mengulurkan salah satu tangannya.


Alea mengangguk seraya menangkup kedua tangan di depan dada. “Silahkan Anda masuk terlebih dahulu.”


“Lady first,” sahut Louis enteng.


“Lagipula saya—“


“It’s okay. Kamu bisa masuk terlebih dahulu. Saya bisa menyusul setelah—“


“Nona bisa menunggu di mobil jika tidak enak badan. Saya bisa memesan coffe sendiri,” potong Ismi ikut-ikutan. Ismi tahu Alea tidak suka jika kalimatnya dipotong saat sedang berbicara. Oleh karena itu, Ismi ikut-ikutan memotong kalimat Louis.


Lagipula dalam pandangan Ismi, sang nona tampak tidak nyaman berdekatan dengan rekan kerja mereka itu. Namun, hal tersebut tidak dapat ditangkap oleh pria dengan rupa rupawan tersebut. Itu menambah poin minus Louis di mata Ismi. Ismi memang masuk golongan 0,001% orang yang tidak menyukai Louis, di saat 99.9% kaum Hawa lainnya menyukai laki-laki tersebut. Lagipula Ismi sudah punya laki-laki yang dia sukai dengan kadar 99,9% di tanah air sana.


“Apa kamu yakin, Ismi?” Alea menyambut penawaran Ismi dengan baik.


Ismi mengangguk. “Nona bisa menunggu di mobil.”


“Baiklah kalau begitu.” Alea kemudian menoleh pada Louis.


“Kamu sedang kurang sehat?” tanya Louis, sebelum Alea sempat buka suara. “Sudah menemui dokter? Jika belum saya memiliki kenalan seorang dokter yang professional.”

__ADS_1


Alea dengan sabar menunggu kalimat Louis rampung, baru kemudian ia membalas. “Saya baik-baik saja. Mungkin karena hari ini sangat panas, saya sepertinya mengalami dehidrasi.”


“Dehidrasi?” Louis tampak menatap Alea dengan ekspresi tidak terbaca. “Jika kamu mau, kamu bisa mampir ke apartemen saya yang berlokasi di dekat sini untuk beristirahat. Setidaknya sampai tubuh kamu kembali mendapatkan ion yang cukup.”


Alea menggelengkan kepala dengan sopan. Ia masih mempertahankan kegigihannya menjaga pandangan. Hal itu diam-diam malah membuat Louis kesal sendiri. Sia-sia usahanya menyewa orang untuk membuntuti sang pujaan jika hasilnya seperti ini. Alea saja lebih suka menatap lantai ketimbang menatap wajah rupawan nya.


“Saya dehidrasi karena saya sedang menjalankan puasa.”


“Puasa?”


“Iya.” Alea mengangguk. “Puasa berarti menahan diri untuk makan, minum, dan segala sesuatu yang membatalkan mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Jika di Indonesia, kami berpuasa kurang lebih 13 jam 16 menit per hari. Sedangkan untuk di sini, sekitar 14 jam 40 menit per hari. Itu berarti saya baru bisa baru bisa makan atau minum kembali saat pukul sembilan belas lewat dua puluh delapan menit.”


Louis tampak terkejut mendengar penjelasan Alea. “Kamu berpuasa? Bukannya umat muslim hanya berpuasa pada satu bulan penuh di bulan ramadhan?”


Alea tersenyum kecil di balik kain penutup yang ia gunakan. Ternyata laki-laki yang belum ia ketahui apa agamanya itu, mengetahui salah satu kewajiban umat muslim di bulan Ramadhan.


“Iya. Itu namanya puasa wajib di bulan Ramadhan. Puasa wajib artinya puasa yang harus dikerjakan, tidak boleh ditinggalkan, kecuali karena alasan tertentu. Sedangkan saat ini saya sedang melakukan puasa sunnah. Puasa sunnah adalah puasa yang tidak diwajibkan, tetapi dianjurkan.”


“Lalu kenapa kamu berpuasa jika itu membuat kamu lemah?”


Alea menggelengkan kepala. “Berpuasa tidak membuat saya lemah. Dengan berpuasa, saya malah dapat meningkatkan rasa syukur, menurunkan hawa nafsu, mendapat pengampunan dosa, menghindari dari godaan setan, membantu mengistirahatkan organ pencernaan, dan dapat menjadi obat penghilang stress.”


Ismi tersenyum lebar mendengar penuturan nona mudanya. Alea memang sedang menjalani puasa sunnah, lebih tepatnya puasa Senin-Kamis. Puasa itu rutin Alea jalani. Orang-orang terdekat Alea di perusahaan sudah tahu betul kebiasaan nona muda mereka yang satu ini.


“Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu. Tawaran asisten saya sepertinya bisa membantu kondisi saya untuk saat ini.”


Louis tidak dapat mencegah. Ia juga kehabisan kata-kata untuk menahan kepergian sang pujaan hati.


“Saya tunggu di mobil, ya,” ujar Alea seraya menepuk bahu Ismi.


“Iya, nona.”


“As’salamualaikum.”


“Waalaikum’salam,” jawab Ismi seraya tersenyum kecil.


Louis sendiri hanya bisa membiarkan perempuan bermanik teduh itu pergi begitu saja. Lagi-lagi usahanya untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan perempuan itu kandas begitu saja. Ada saja hambatan di antara mereka. Sepeninggalan Alea dan Ismi yang sudah masuk ke dalam café, suara dentingan dari handphone miliknya membuat fokus Louis teralihkan.


Saat membuka handphone, ada satu pesan dari nomer tidak dikenal. Awalnya Louis ingin mengabaikan pesan tersebut, namun urung karena rasa penasaran. Pasalnya nomer tidak dikenal itu terus menerus mengirim pesan singkat setelah mengirim sebuah video berdurasi 4 menit. Saat membuka room chat dengan nomer tak dikenal tersebut, satu butir pesan yang paling atas langsung membuat Louis mengetatkan rahang.


| +1 718 xxxxx |


I have almost removed your barrier, son.


(Aku hampir menyingkirkan rintangan mu, nak.)


✈️✈️


TBC


LANJUT? JANGAN LUPA ABSEN DULU PAKAI IKON ✈️✈️✈️✈️✈️✈️

__ADS_1


LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE JUGA 💙


Sukabumi 14/06/22


__ADS_2