
BDJ 75 : PESAN PAPAH MERTUA
“Sedang apa kamu di situ?”
Merasa tidak ada siapa pun lagi di tempat tersebut, laki-laki rupawan yang menggunakan kaos putih polos dengan bawahan celana bahan yang nyaman digunakan itu menoleh. Mengalihkan pandangan barang sejenak dari piring berisi sayur capcay.
“Aku sedang mengambil makan malam untuk Alea, Pah.”
Walaupun baru menikah dua hari dan sebenarnya belum terbiasa memanggil sang lawan bicara dengan embel-embel ‘papah’, ia tetap berusaha secepat mungkin untuk beradaptasi.
“Lalu itu untuk apa?”
Anzar menunjuk piring kecil berisi potongan wortel yang tadinya ada di dalam sayur capcay.
“Alea tidak suka wortel. Jadi wortel nya dipisahkan,” ucapnya. “Katanya Alea tidak suka wortel, karena Papah juga tidak suka wortel.”
Anzar tersenyum tipis mendengar kejujuran menantu satu-satunya. Ia memang tidak dapat memakan wortel, karena itu adalah kebiasaan buruk ayahnya—Keevano—yang membenci sayuran berwarna orange tersebut. Kebiasaan itu kemudian diturunkan pada Anzar—putra sulungnya, serta kepada Alea, Arsyad, dan si bontot alias Arion. Mereka berlima sangat anti dengan sayur yang namanya wortel.
“Dari mana kamu tahu itu?”
“Dari Mamah Airra.” Nathan menjawab. “Saat proses ta’aruf, ada banyak pertanyaan yang diajukan. Termasuk makanan yang disukai dan tidak disukai Alea. Aku bertanya supaya lebih hafal soal kebiasaan calon istriku.”
Anzar tersentuh mendengarnya. Nathan memang benar-benar telah mempersiapkan diri dengan baik sejak awal. Keputusan untuk memilih Alea sebagai istri sudah dipikirkan matang-matang, sehingga ia telah mempersiapkan diri sedari dini.
“Alea merasa lapar?”
Nathan mengangguk. “Sebenarnya ini adalah inisiatif. Pasalnya aku tahu jika istriku belum mengisi perut sejak siang.”
“Lalu jika kamu tahu, kenapa baru sekarang kamu memberi istrimu makan.”
Nathan terdiam. Baru dua hari resmi jadi suami, ini pertama kalinya ia dimarahi mertua sendiri. Ah, mungkin lebih tepatnya ditegur.
“Tadi sudah aku tawari, Pah. Tetapi, Alea menolak dengan alasan belum lapar, serta masih banyak tamu yang harus disambut.”
__ADS_1
Anzar menghela nafas kecil. Acara resepsi pernikahan Nathan dan Alea memang sudah selesai diselenggarakan. Di malam terakhir acara resepsi, para tamu undangan yang hadir membludak, sehingga membuat pengantin beserta keluarganya kewalahan.
Bagaimana pun juga itu adalah pernikahan seorang Radityan, ditambah mereka hanya menyiapkan satu hari untuk resepsi. Padahal banyak tamu undangan yang datang dari luar nota, bahkan luar negeri. Mau bagaimana lagi, jadwal acara kedua mempelai sudah full. Setelah akad dan resepsi di kediaman utama Radityan, Nathan dan Alea akan segera bertolak ke Bandung untuk melaksanakan pesta ke-dua di kediaman Dwiarga.
Akan ada serangkaian acara tradisional juga yang diselenggarakan di sana. Selama satu Minggu di awal-awal pernikahan, intinya jadwal Nathan dan Alea sudah terisi penuh dengan berbagai macam acara.
“Tambahkan sedikit lagi tumis daging dan brokoli nya, Alea suka menu itu.”
Nathan mengangguk, kemudian menambahkan dua sendok lagi tumis daging dan brokoli untuk sang istri. Ia memang berinisiatif mengambilkan makanan untuk sang istri seorang diri, padahal ia bisa meminta bantuan pada salah seorang maid. Namun, Nathan sungkan, karena ia adalah menantu di kediaman Radityan. Rasanya tidak enak jika main perintah-perintah, padahal posisinya baru dua hari menikahi putri Radityan.
“Sudah. Itu cukup untuk makan kalian berdua,” ujar Anzar saat menatap isi piring yang telah ditata dengan sangat rapih oleh menantunya.
Nathan tersenyum tipis. Ternyata niat baiknya terbaca juga oleh mertuanya.
“Papah juga pernah muda, wahai menantu.” Anzar tertawa kecil seraya bersidakep dada. Senyum tersungging di bibir. “Tidak perlu malu. Makan berdua, atau bahkan makan sambil suap-suapan adalah salah satu sunnah Rasulullah.”
Nathan yang sebenarnya sedikit merasa malu, karena niatnya itu dibaca dengan mudah oleh Anzar hanya bisa mengangguk. Toh, lumrah jika sepasang suami-istri makan bersama dalam satu piring.
“Ada satu hal yang ingin Papah tanya.”
Anzar tampak berpikir keras sebelum mengucapkan pertanyaan yang ia maksud. “Apa kamu ….sudah meminta hak itu?”
“Uhuk ….uhuk.” Nathan tiba-tiba tersedak saliva sendiri.
Anzar yang melihat itu langsung menepuk-nepuk bahu menantunya. “Kamu pasti kaget tiba-tiba Papah bertanya. Akan tetapi, Papah risau sejak kemarin. Bagaimana pun juga Alea adalah putri semata wayang Papah. Rasanya, masih banyak yang harus Papa perhatikan, sekali pun Alea sudah punya suami.”
Nathan berdeham kecil. Ia memaklumi. Toh, Anzar terkenal sangat protectif terhadap putrinya. “Untuk nafkah itu, Nathan belum memintanya.”
“Benarkan? Tapi, kenapa?”
Nathan terdiam barang sejenak. “Hmm. Nathan ingin menunggu sampai Alea siap, dan waktu yang tepat.”
Anzar mengangguk-angguk. “Itu bagus, anak muda. Jangan seperti Papah,” yang langsung buka puasa setelah pulang dari pengajian di rumah pak RT—lanjut Anzar di dalam hati.
“Jangan seperti Papah bagaimana?”
__ADS_1
“Lupakan saja,” ralat Anzar. “Jika kamu memang berniat menunggu sampai Alea siap dan menunggu waktu yang tepat, kemungkinan waktu itu setelah kalian menyelesaikan acara di Bandung. Setelah serangkaian acara di sana selesai, kamu dan Alea punya lebih banyak waktu untuk memadu kasih. Manfaat kan waktu tersebut dengan baik untuk saling mendekatkan diri.”
“Iya, Pah.”
Anzar menatap sang menantu lamat-lamat. Sedangkan yang ditatap tentu semakin dibuat kebingungan. Maksudnya apa lagi nih, ditatap demikian?
“Kamu ….belajar kitab fathul izar dan qurrotul uyun, ‘kan?”
Nathan menelan saliva. “Iya, Pah.”
Nathan memang mempelajari kedua kitab tersebut. Fathul izar dan qurrotul uyun adalah dua kitab kuning popular yang membahas tentang panduan hubungan s*ksual dari sudut pandang islami. Pengajian kitab ini familiar dilakukan oleh para santri dalam lingkup ponpes atau pondok pesantren. Tentu saja di bawah pengawasan guru yang lebih faham, karena mengkaji dua kitab kuning ini tidak dapat dilakukan sembarangan.
“Kalau kamu sudah ada bekal panduan secara benar, kamu pasti sudah tahu kapan waktu baik yang diperbolehkan untuk menggagahi istri kamu.”
Nathan mengangguk. Bicara topik mature dengan mertuanya seperti ini, ternyata lebih menegangkan ketimbang ditanya soal dunia penerbangan oleh ayah atau kakeknya. Pasalnya ayahnya yang datar dan dingin itu, tidak pernah bicara mengenai topik seperti ini.
“Ingat, perlakukan Alea dengan sangat baik. Jika datang waktunya kamu mengambil hak itu dari Alea, tetapi jika tiba-tiba dia menolak, jangan dipaksa. Mungkin itu akan melukai harga diri kamu, tetapi coba lihat dari sudut pandang yang lain. Alea tidak pernah dekat dan terbuka pada laki-laki lain, selain keluarganya. Jadi, pahami dia. Mungkin Alea butuh lebih banyak waktu untuk membuka diri.”
“Iya, Pah.”
Jawaban ‘iya’ kembali Nathan berikan. Lagipula ia juga tidak mungkin memaksa jika Alea tidak mau. Nathan bukan suami yang suka memaksa. Ia malah akan menunggu dengan sabar, mau selama apapun itu.
“Satu lagi,” tambah Anzar tiba-tiba. “Dalam surat An-nur ayat lima puluh delapan, disarankan untuk melakukan hubungan suami istri setelah salat isya sampai sebelum salat subuh, dan tengah hari.”
“….”
“Jika kamu sudah mendapatkan lampu hijau dari Alea, jangan lupa saran dari Allah Azza Wajalla. Supaya ibadah yang kamu lakukan bersama Alea dapat mendatangkan pahala juga rezeki yang baik.”
✈️✈️
TBC
PESAN PAPAH ANZAR WOW YAA 😵
Tanggerang 19-09-22
__ADS_1