Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 62 : PERGI & MENJAUH


__ADS_3

°BDJ 62 : PERGI & MENJAUH


“Apa ice cream Lucas terasa sangat enak?”


“Tentu saja,” jawab si pemilik nama dengan raut wajah antusias. Saat ini ia memang tengah menikmati tiga skup ice cream dengan rasa yang bervariasi. Saking senangnya, putra bungsu mantan super model internasional itu tampak tidak peduli jika ice cream yang meleleh mengotori sudut-sudut bibirnya. Maka dengan telaten, perempuan di hadapannya membersihkan menggunakan tisu.


“Lucas mau coba ice cream punya Eonni?”


“Memangnya punya Eonni rasa apa?”


“Leechy flavour.”


“Errrr, I don’t like it.”


Anak laki-laki bermarga Kim itu tampak menipiskan bibir, menampilkan raut jijik di wajah tampannya. Ia memang tidak suka buah leci. Baik leci dalam bentuk buah asli, ataupun dalam bentuk makanan olahan seperti ice cream Leechy yang baru saja ditawarkan padanya.


“Hari ini Eonni akan ajak Lucas main sepuasnya. Apapun yang Lucas mau, bilang sama Eonni. Biar Eonni belikan.”


“You sure, Eonni?”


Perempuan cantik yang menggunakan dress yang terbilang tertutup baginya, yaitu ribbon tied long sleeve dress dari brand Bride And You itu mengangguk. Padahal biasanya ia menggunakan pakaian yang lebih terbuka, sehingga lekuk tubuhnya yang elok terekspose dengan sempurna. Namun, untuk kali ini hingga waktu yang belum dapat ditentukan, kemungkinan besar ia akan menggunakan pakaian tertutup dan menyimpan semua koleksi baju sexy yang ia miliki.


“Jadi hari ini Lucas haru bersenang-senang dengan Eonni, karena besok Eonni mau pergi.”


“Pergi? Bersama Hyung?”


“Tidak.”


“Kenapa?” tanya Lucas penasaran.


“Karena Eonni mau pergi sendiri.”


“Pergi sendiri? lalu bagaimana dengan Hyung? Eonni selalu pergi-pergi, apa tidak kasihan melihat Hyung sendirian? Lucas saja kalau ditinggal Eomma selalu sedih dan kesepian.”


Mendengar celotehan bocah laki-laki itu, hati kecil perempuan cantik berdarah mix antara Korea dan European itu tersentil.


“Hyung sudah besar dan bisa menjaga dirinya sendiri. Berbeda dengan dengan Lucas.”


Si pemilik nama tampak mengangguk-angguk seraya terus menikmati ice cream pesanannya. “Lalu kemana Eonni mau pergi? Apakah ke Seoul?”


“Bukan.”


“Lalu ke mana?”


“Ke tempat yang dinamakan Jamrud Khatulistiwa. Tempat yang sangat indah dan menarik untuk dijelajahi.”

__ADS_1


“Apa?” bocah tampan itu mengerjap. Ia tampak kebingungan ingin mengulang kata-kata lawan bicaranya. “Eonni Lea bilang apa barusan?”


“Lupakan saja. Lebih baik kita sekarang habiskan ice cream-nya sebelum meleleh. Setelah ini kita pergi ke time zone.”


“Baik, Eonni,” jawab Lucas antusias.


Lea yang melihatnya tampak tersenyum lebar. Menghabiskan waktu bersama anak menggemaskan seperti Lucas ternyata berhasil memperbaiki mood-nya. Apalagi setelah ia mendapatkan telepon dari salah seorang anggota Radityan. Dari informasi yang ia dapatkan, para anggota Radityan itu tidak dapat ditebak. Mereka terdiri dari sekumpulan orang jenius yang pergerakannya tidak dapat dibaca. Termasuk pergerakan perempuan yang menyandang nama Radityan setelah menikah dengan salah satu anak laki-laki dari keluarga tersebut.


Perempuan itu meminta untuk disambungkan dengan Natalia Gracya Kim. Entah dari mana perempuan itu mendapatkan nomer telepon Lea, padahal Lea punya lebih dari dua telpon. Akan tetapi yang pasti ia meminta nomer telepon Nata dari Lea. Katanya ada ‘something’ yang ingin dibicarakan. Awalnya Lea juga tidak tahu apa-apa. Namun, siapa yang tahu jika putra sulung dari Natalia Gracya Kim telah melakukan kesalahan fatal lain, sehingga membuat salah satu Srikandi Radityan terusik.


Setelah mengetahui apa lagi yang dilakukan oleh laki-laki itu, keputusan Lea jadi sangat bulat untuk segera pergi ke suatu tempat yang sangat jauh. Tempat yang akan memberinya ketenangan untuk menyambut kehidupan baru yang akan segera lahir dari rahimnya.


✈️✈️


Laki-laki tampan bernama Nathan sedang menatap segerombol manusia berseragam pilot dari radius dua ratus meter dengan tatapan yang tidak dapat diartikan. Setelah sekian lama absen datang ke maskapai milik keluarganya sendiri di tanah air, mengingat Nathan sibuk berkutat dengan pekerjaannya sebagai pilot dan CEO di cabang perusahaan milik keluarga di Negara lain.


“Apa ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?”


Nathan yang hari ini tampil dengan pakaian formal, alih-alih seragam kebanggaan itu tampak menggelengkan kepala. Ia kemudian berjalan lurus ke arah office. Beberapa staff tampak menunduk hormat saat melihat kedatangan Nathan. Tiba di ruangan yang dituju, Nathan langsung bergerak ke kursi kebesaran milik kakeknya yang telah diturunkan kepada papah-nya. Singgasana yang rencananya hendak diturunkan kepada dirinya pula. Namun, sejauh ini ia belum memutuskan akan tinggal di mana bersama istrinya kelak, jadi masalah itu belum bisa diputuskan.


“Saya ingin bertemu Kapten Jeff.”


Laki-laki paruh baya yang sejak tadi mengekor di belakang Nathan tampak mengerjap. “Saat ini Kapten Jeff sedang ada penerbangan ke Makasar. Kemungkinan besar baru kembali ke Jakarta besok, Tuan Muda.”


“Jadi begitu.”


Nathan manggut-manggut. Orang yang ingin ia jumpai bisa disebut pilot yang merangkap sebagai selebriti. Atau kebalikannya, selebriti yang merangkap menjadi pilot. Manusia yang semena-mena terhadap profesi yang ia peroleh dengan susah payah.


“Kalau begitu panggilkan seseorang yang bisa saya tanya soal perkembangan maskapai beberapa bulan ke belakang.”


“Kalau begitu biar saya panggilkan beliau dulu.”


“Hm.”


Laki-laki yang merupakan tangan kanan Algafriel Hazka Dwiarga itu pamit undur diri setelahnya. Meninggalkan Nathan seorang diri di ruangan tersebut. Ruangan besar yang menampilkan view ke arah landasan pacu dan hanggar utama.


Tidak sampai lima menit, pintu ruangan tersebut kembali terbuka. Namun, bukan laki-laki tadi yang muncul di baliknya, melainkan sorang perempuan cantik dengan rambut disanggul rapih. Lengkap dengan senyum manis yang berseri.


“Kamu mencari aku?”


“Saya mencari orang yang bisa saya tanya soal perkembangan maskapai beberapa bulan ke belakang. Berhubung Kakek dan Ayah saya tidak ada di tempat.”


Perempuan cantik dengan pakaian kerja khas pramugari itu tampak tersenyum elegan. “Kalau begitu Pak Bram sudah memanggil orang yang tepat.”


“Berarti saya bisa bertanya kepada kamu?”

__ADS_1


“Tentu saja, Tuan Muda. Tanyakan saja apa yang ingin Anda tanyakan, maka akan segera saya jawab jika bisa.”


Nathan menatap lawan bicaranya sekilas. “Soal Kapten Jeff, untuk apa mempertahankannya jika dia tidak professional bekerja sebagai pilot?”


“Pilot Jeff adalah salah satu wajah maskapai ini, Tuan Muda. Sekali pun Kapten Jeff lebih banyak mengisi waktunya dengan agenda tour ke luar kota.”


“Justru karena itu,” sahut Nathan. “Saya tidak butuh pilot yang tidak profesional.”


Setelah berkata demikian, Nathan berbalik badan dan berjalan ke arah pintu. “Kita bicarakan lagi sisanya jika Pak Bram sudah kembali.”


“Kenapa memangnya?”


“Kenapa?” ulang Nathan seraya mengistirahatkan salah satu tangan ke dalam saku celana. “Jawabannya karena hanya ada saya dan kamu di ruangan ini, yang mana seharusnya bertiga dengan Pak Bram.”


“Aku sengaja.”


“….”


“Aku sengaja suruh Pak Bram menunggu, karena aku mau bicara empat mata sama kamu.”


“Maaf. Tetapi saya tidak bisa,” ujar Nathan seraya memilih menatap ke arah pintu. “Ada hati yang harus saya jaga perasaannya.”


“M-aksud kamu?”


“Saya tidak mau menyakiti hati calon istri saya karena berkhalwat dengan kamu.” Nathan berucap dengan mantap. Ia memang sangat menghindari tindakan apapun yang dapat menimbulkan kesalahpahaman. Apalagi tindakan yang menimbulkan dosa, seperti berkhalwat.


“Tapi kamu itu sahabat aku. Kamu tidak mungkin lupa sama aku, ‘kan?”


“Tidak. Saya mengingat kamu.”


“Terus kenapa kamu begini? Apa karena calon istri kamu seorang pecemburu?” tanya perempuan dengan name tage Adinda Putri Rodrigo tersebut.


Adinda atau akrab disapa Adin atau Dinda adalah salah satu teman lama Nathan. Teman zaman sekolah di tanah air lebih tepatnya. Sudah cukup lama mereka tidak bertemu karena Nathan lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri. Mereka di pertemukan kembali sekitar tiga tahun lalu, saat Nathan berkunjung ke maskapai milik keluarganya. Ternyata Adinda bekerja di maskapai milik keluarganya, dan menjadi salah satu face of group. Mengingat bukan saja dianugerahi wajah cantik, Adinda juga dianugerahi otak yang cerdas.


“Apa karena perempuan itu sehingga dulu kamu menolak perasaanku?”


Adinda kembali bertanya. Ia sempat memberanikan diri mengutarakan perasaan pada Nathan yang notabene sudah menjadi sahabatnya sejak lama, namun Nathan tidak memberikan respon apapun. Semenjak hari itu, Adinda tidak pernah lagi memiliki kesempatan untuk bicara lebih banyak dengan Nathan. Ditambah lagi Adinda merasa jika Nathan tidak menganggap dirinya penting, sebagaimana Adinda menganggap Nathan penting.


“Waktu itu saya sudah menjawab pernyataan soal perasaan kamu. Jawabannya masih sama sampai saat ini.”


Nathan meraih kenop pintu. Namun, sebelum benar-benar keluar, ia kembali berkata. “Soal calon istri saya, dia bukan sosok yang pecemburu seperti apa yang kamu katakan barusan. Jika kamu penasaran dengan sosoknya, maka aku akan mengirimkan satu undangan untuk kamu. Datanglah ke pernikahan kami, lalu lihat sendiri bagaimana sosok calon istriku yang sangat berharga itu.”


✈️✈️


TBC

__ADS_1


Tanggerang 02-09-22


__ADS_2