Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 50 : DUA SAUDARA PEMILIK PERMATA RADITYAN


__ADS_3

BDJ 51 : DUA SAUDARA PEMILIK PERMATA RADITYAN


“Ini beneran Gean nggak boleh ikut? Ini pasti karena abang nggak ikhlas ya, jemput Gean? Abang tuh kalau disuruh jemput adik sendiri di bandara, bawaannya pasti males.”


Mendengar celotehan sang adik yang baru saja bergabung di meja makan, laki-laki yang tengah menikmati nasi hangat dengan sepotong ayam bakar taliwang itu menautkan kening. Datang dengan muka bantal—karena baru bangun tidur pasca mengalami jetlag—adiknya itu bicara panjang kali lebar sebagai bentuk protes.


“Lebih baik kamu cuci tangan di wastafel, terus makan. Perut kamu lapar, ‘kan? makanya bicara absurd,” sahut sang papa yang juga tengah makan siang dengan menu ayam bakar taliwang.


Pasca tiba di New York pagi tadi, keluarga pilot Al langsung berangkat menuju mansion milik keluarga mereka. Mansion itu memang kerap jadi tempat singgah atau jadi tempat si bungsu diberi hukuman saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tiba di mansion, pasangan suami-istri Algafriel Hazka Dwiarga dan Geasya Genandra Putri memilih untuk beristirahat barang sejenak. Begitu pulang dengan si bungsu yang memang kondisi tubuhnya kurang fit, ditambah lagi efek jetlag. Sedangkan si sulung memilih untuk bekerja dari rumah, lewat daring. Work from home.


Saat berkumandang adzan di siang hari, mereka sudah kembali beraktivitas seperti semula, kecuali Gean. Alhasil saat Gea membuat ayam bakar taliwang dengan satu ekor ayam utuh—sekitar 800 gram—untuk menu makan siang suami dan putra-putranya, si bungsu belum bangun. Bangun-bangun Gean langsung mendapat titah supaya tidak ikut ke kediaman Anzar Radityan—calon mertua kakaknya.


“Iya juga sih, perut Gean kelaparan dari tadi,” ujar si bungsu seraya mengambil piring bersih.


Ia lantas mengambil satu centong nasi, kemudian melirik ayam bakar taliwang utuh yang sudah kehilangan beberapa bagian. Dari tampilan luar sudah sangat menggoda dan membuat cacing-cacing di perut keroyokan minta diisi. Masakan mama Gea memang tidak pernah gagal memuaskan lidah dan lambung sih.


“Omong-omong mama kemana, pa?” tanya Gean seraya memindahkan satu potong ayam bakar taliwang bagian sayap ke piring.


“Lagi bongkar koper,” kata papa Al yang sudah hampir menghabiskan makan siangnya.


“Oh.”


Gean ber-oh ria seraya mengambil posisi duduk di seberang sang kakak. Ia tersenyum kecil melihat isi piringnya, kemudian menggumamkan do’a mau makan. Ia sudah kelaparan. Makan ayam yang telah dimarinasi dengan garam dan jeruk nipis, lalu dibumbui dengan bawang merah, bawang putih, kemiri, cabe merah besar, cabe rawit, tomat, kencur, minyak goreng secukupnya, terasi, santan kental, penyedap rasa secukupnya, garam, gula, dan air itu sepertinya ide yang sangat bagus.


Ayam bakar taliwang dengan daging ayam utuh itu dibuat dengan resep simpel ala mama Gea. Anti ribet-ribet club, tinggal dibakar di atas grill pan dengan ukuran 20cm. Semua bumbu juga tinggal di-chopper, lalu ditumis hingga kering dan berminyak. Tambahkan air secukupnya, santan kental, penyedap rasa, gula dan garam. Jika bumbu sudah mendidih serta mengental, sisihkan sedikit bumbu untuk sambal dan olesan saat dipanggang, kemudian ungkep ayam sekitar sepuluh menit. Setelah diungkep, ayam tinggal panggang di atas grill pan.


“Enak,” komentar Gean saat ia menyicipi bumbu ayam bakar taliwang itu. “Wilujeung emam (selamat makan),” katanya kemudian dalam bahasa Sunda seraya tersenyum lebar.


Si bungsu itu memang sudah cukup lama tidak pulang ke Indonesia. Berhubung ia tengah mengejar gelar Master di Negara orang. Jadi, ia sangat excited jika disuguhi makanan Indonesia. Selain ayam bakar taliwang, ada beberapa menu lain yang tersaji di atas meja. Menu-menu pelengkap itu tentu semakin membuat Gean merasa terlena untuk tambah lagi dan lagi.


“Alhamdulillah,” ucap Gean penuh syukur setelah ia selesai menyantap makan siangnya. Rasa ayam bakar taliwang sang mama memang nampol dan juara. Sampai-sampai Gean menghabiskan dua potong ayam.


“Hm, sekarang Gean mau tanya, kenapa nggak boleh ikut?”


Sang kakak yang duduk di seberang dirinya, kontan menatap ke arah nya. “Papa Alea sedang sakit. Beliau baru saja mengalami musibah penembakan. Lebih baik kamu jangan ikut dulu, karena kita juga tidak akan lama-lama di sana.”


Gean mengangguk-anggukan kepala. “Kalau gitu aku main aja ke Manhattan. Asal pinjam mobil sama black card.”


“Memangnya black card kamu kemana?” Al bertanya karena tiba-tiba si bungsu ‘malak’ si sulung.


“Ada. Mau aja malak abang yang bentar lagi mau nikah. Hitung-hitung hadiah pra-nikah.”


“Mana ada tradisi seperti itu.”


“Ada kok,” sahut Gean lagi. “Buktinya sekarang sedang Gean lakukan.”


Al menatap sang putra tanpa berkedip. Gean dan segala sifat keras kepalanya, sudah tidak bisa tertolong. “Ya udah, kasih aja, Than. Adik kamu itu, lagak aja mau nikahin putri gadis orang, tapi kelakuan masih begini.”


“Wah, papa meragukan Gean?” si bungsu tersenyum miring seraya bersidakep dada. “Barusan Gean cuma bercanda doang kok. Lagian aku juga ke sana mau silaturrahmi sama kerabatnya my chéri.”


“Maksud kamu keluarga Pradipta?”


“Iya. Abang udah kenalan sama mereka?”


“Hm.”

__ADS_1


“Bagus. Itu berarti abang sudah resmi diakui.” Gean tersenyum lebar seraya mengacungkan jempol.


“Kamu juga sudah kenal dekat sama mereka?”


Gean terkekeh kecil mendengar ucapan sang kakak. “Kembaran Arra sama Triple D itu satu angkatan sama aku, bang. Kalau tim GA sama duo kembar sih aku juga sudah kenal, tapi nggak dekat yang dekat banget. Sama Triple D juga. Aku dulu pernah dimusuhi sama mereka, terutama sama si Davian. Katanya nggak cocok sama saudari mereka.”


“Itu sih karena kamu rese,” celetuk Al tanpa dosa.


“Pa, please deh,” kesal Gean. Masa papa sendiri begitu sama anaknya?


“Lah, itu faktanya. Kamu mah anak mama sih, bukan anak papa, jadi rese,” canda Al. Walaupun raut wajahnya tetap datar.


“Papa pikir yang membuahi sel telur mama itu siapa? Lawakan papa nggak logis deh.”


“Heh?” Al menatap tajam si sulung.


“Dih, marah. Tadi, kan, papa yang mulai?” kekeh Gean. Tukang lawak profesional kok dilawan.


Al geleng-geleng kepala melihat keangkuhan sang putra yang menang telak darinya. Ia kemudian beranjak dari kursi makan. Hendak meninggalkan ruangan. “Papa mau ke kamar dulu. Alat-alat bekas makan jangan lupa dibereskan dan bersihkan.”


“Siap Tuan!”


“Algean,” peringati Al.


Gean berkedip dengan tampang sok polos. “Kenapa, pa?”


“Kurang. Biasanya kamu sebut papa dengan sebutan ‘Tuan Besar’ bukan?”


“Hah?” Gean loading untuk beberapa waktu. “Kok papa tahu?” Gean menatap sang papa horor. Kalau sedang sebal, Gean memang biasa menggunakan kata ganti ‘Tuan Besar’ yang ditujukan untuk sang ayah.


“Woah, selera humor papa mulai mengalami peningkatan,” ucap Gean sepeninggalan sang papa. Jujur, Gean agak terkejut karena hari ini sang papa tidak lempeng-lempeng amat.


“G.”


“Hm?”


“Kalau ….nama calon adik ipar kamu siapa?” tanya Nathan ragu.


Gean menoleh ke arah sang kakak dengan raut wajah cengo. “Kenapa emang? Tiba-tiba kok abang nanya soal Arion.”


“Oh, namanya Arion”


“Muhammad Askaryon Rafisqi Az-zzioi,” koreksi Gean. “Itu nama lengkapnya. Si copy paste dari calon ayah mertua. Pokoknya, plek-ketiplek mirip banget. Dia juga mengabdi kepada Negara, kayak ayahnya. Kata my chéri, dulu itu Arion suka banget menghafal undang-undang, bang. Dia juga seorang hafidz, anaknya pendiam. Dia nggak nyaman gitu kalau kelamaan berada di keramaian.”


“Kamu tahu banyak soal dia, ya?” Nathan berkata demikian seraya beranjak dari posisi duduk. Dikumpulkan alat makan yang kotor, agar dapat ia bawa ke wastafel.


“Iya, dong. Namanya juga mau jadi saudara. Ya, aku usaha.” Gean ikut membantu sang kakak membereskan kekacauan yang tersisa. Ia memindahkan ayam bakar taliwang yang masih tersisa ke wadah yang lebih kecil. Ia juga membenahi lauk yang lain dengan baik, supaya nanti bisa dimakan lagi.


“Terus progres abang udah sampai mana?”


“Hm?”


“Progres? Pendekatan.”


“Oh.”

__ADS_1


“Dih, ‘oh’ doang. Aku tanya nyampe mana?” tuntut Gean yang baru saja mengambil kain lap untuk membersihkan permukaan meja makan.


“Tidak ada kata-kata yang mampu mendeskripsikan.”


“Duh, si abang pakai kiasan segala lagi,” gerutu Gean yang sudah mulai membersihkan meja dengan kain lap. “Yang penting abang sudah mengusahakan yang terbaik selama ini. Tinggal tunggu hari H. Semoga dilancarkan, amin ya Rabb.”


“Hm.” Nathan merespon seraya mencuci piring.


“Omong-omong, abang tahu nggak kalau keluarga yang bakal kita masuki punya banyak aset berharga incaran berbagai Negara.”


Nathan yang sudah mulai mencuci piring tampak terdiam mendengar informasi tersebut. Ia memang tahu jika keluarga Radityan bukanlah keluarga yang mudah untuk disentuh. Keluarga Radityan punya ‘bakingan’ orang-orang hebat yang memang mewarisi darah keluarga itu sendiri. Oleh karena itu, hingga saat ini nama Radityan tetap disegani di dalam maupun di luar negeri.


Sebagian besar dari mereka juga orang-orang jenius yang bisa mengimbangi antara urusan dunia duniawi dan surgawi. Mereka pekerja keras selayaknya pekerja yang selalu punya mimpi untuk digapai. Namun, mereka juga selalu mengimbanginya dengan kewajiban sebagai umat beragama yang tidak pernah meninggalkan perintah Tuhan.


“Nih, aku kasih spill sedikit informasi apa aja yang sudah aku tahu.” Gean berjalan mendekat ke arah sang abang yang masih sibuk mencuci piring. “Pendiri Radityan Universe itu kalau nggak salah namanya Ibra Radityan. Mantan purnawirawan TNI yang namanya harum sampai saat ini. Kakek buyutnya my chéri, mantan anggota pasukan elit TNI AD, tapi bukan KOPASSUS. Kayaknya TONTAIPUR deh, tapi informasi kurang lengkap. Soalnya TONTAIPUR itu pasukan elit yang informasinya sangat minim diketahui.


Nah, dari beliau lahir dua orang anak. Putra dan putri, Keyvanya Fitriasmi Radityan dan Keevano Radityan Khutbie. Dari Keevano Radityan Khutbie, lahir tiga orang anak, yaitu Keevanzar, Keevan’ar, sama Lunar. Calon mertua kakak sama calon mertua aku itu termasuk generasi kedua. Nah, kalau calon istri kita termasuk generasi ke tiga. Dari calon ayah mertua abang, lahir satu putri. Alea Ananta Rumi Al-Faruq. Kemudian dari calon ayah mertua aku—ayah Van’ar sama bunda Aurra, lahir Arsyad An-nass Senopati Az-zzioi, Arrabelle Lumiera Humaira Rajapatni Az-zzioi, sama Muhammad Askaryon Rafisqi Az-zzioi. Terakhir, dari calon om sama tente kita, lahir tiga orang putra kembar. Davin Arsyed Di Prameswari, Davian Arion De Prameswari dan Diano Aroon Dee Prameswari.”


Boleh Nathan takjub dengan kemampuan sang adik yang katanya punya sedikit informasi mengenai keluarga Radityan?


Sedikit yang Gean maksud ternyata meringkas semua silsilah keluarga Radityan dari generasi pertama hingga generasi saat ini. Mungkin jika Gean punya informasi lebih banyak dari ini, ia pasti akan menjelaskan pula kisah cinta para anggota keluarga Radityan. Sedikit informasi yang Gean ceritakan saja, Nathan mendengarkannya dari awal hingga akhir kegiatan mencuci piring.


“Nah, kalau abang penasaran sama awal mula hubungan keluarga Radityan dan Pradipta. Bakal Geal spill juga. Walaupun sangat dekat, sebenarnya mereka tidak terikat hubungan darah loh.”


Nathan tampak tertarik mendengarkan topik tersebut. Ia yang baru selesai mencuci piring, langsung mengerikan tangan dengan lap kering yang bersih.


“Jadi, dulu itu opa sama oma-nya my chéri menikah karena dijodohkan. Abang tahu sendiri, kan, kalau pernikahan yang terjadi karena perjodohan tidak selamanya berjalan mulus? Nah, pernikahan mereka juga begitu. Singkat cerita, orang tua om Galaksi dan om Gemintang itu dulunya deket sama oma-nya my chéri, kayak ada kisah one sided love (cinta bertepuk sebelah tangan) gitu. Tapi beliau mengikhlaskan perempuan yang dicintainya supaya hidup bahagia dengan laki-laki lain. MasyaAllah banget deh keikhlasannya.


Terus beliau menikah dengan seorang perempuan dan memiliki dua orang putra, yaitu om Galaksi dan om Gemintang. Nama beliau itu kalau nggak salah ….Bara Pradipta. Yaps! Bara Pradipta. Salah satu lawyer kondang pada masanya yang menjadi korban tabrakan maut. Karena insiden tersebut, Om Galaksi dan om Gemintang jadi yatim-piatu, kemudian mereka dibesarkan oleh keluarga Radityan seperti anak sendiri. Sampai saat ini hubungan mereka tetap harmonis, walaupun tidak terikat hubungan darah.”


Gean mengakhiri ceritanya, kemudian mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin dari water dispenser. Haus juga cerita soal silsilah keluarga Radityan yang sangat panjang.


“Kamu ….tahu dari mana semua informasi itu?” heran Nathan.


Gean tertawa setelah selesai menenggak habis setengah air putih di gelasnya. “Abang lupa kalau aku ini incu (cucu) kesayangan amin sama apih? Mereka itu, kan, mertuanya ayah Van’ar.”


Nathan hanya mampu merespon lewat kedipan mata. Apih dan amin? Jadi ini bagian dari plot twist.


Sejak kapan Apih dan Amih memiliki hubungan dengan keluarga Radityan? kok Nathan tidak tahu.


“Hayo, bingung ya? mau Gean kasih spoiler lagi nggak?” tawar sang adik dengan nada jenaka.


Kalau kata Gean sih, menyelami silsilah keluarga Radityan memang tidak dapat dilakukan sehari. Jadi, Nathan sepertinya harus lebih banyak mengorek informasi.



✈️✈️


TBC


HAYO, NGAKU SIAPA YANG UDAH LUPA SILSILAH KELUARGA RADITYAN?


UDAH DIINGATKAN LAGI TUH SAMA GEAN 🤗MAU LANJUT BACA?


YUK, RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR 👇 TERUS LIKE, VOTE, FOLLOW AUTHOR, SHARE & TABUR BUNGA SEKEBON 💐💐💐💐

__ADS_1


Sukabumi 29-07-22


__ADS_2