Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 27 : SALING MENJAGA LEWAT DO’A


__ADS_3

BDJ 27 : SALING MENJAGA LEWAT DO’A



“Jatuh hati tidak pernah bisa memilih. Tuhan memilihkan. Kita hanyalah korban. Kecewa adalah konsekuensi, bahagia adalah bonus.”—Fiersa Besari


✈️✈️


Ringisan kecil terdengar dari bibir laki-laki rupawan yang tidak mengenakan atasan. Membiarkan tubuh bagian atasnya toples, karena dia baru saja mengompres bagian perutnya yang terkena pukulan orang asing. Beberapa waktu setelah kejadian, ia memang langsung menghubungi pihak hotel untuk meminta layanan kamar. Ia meminta es batu untuk mengompres luka lebam yang ia alami. Sampai saat ini ia tidak tahu betul identitas orang asing yang tadi menyerang dirinya. Padahal, ia tidak pernah memiliki kesalahan sehingga menimbulkan kebencian.


Perhatian laki-laki rupawan itu teralihkan saat mendengar suara pintu yang diketuk. Kening Nathan bertaut kala mendengar ketukan tersebut. Siapa yang datang bertamu malam-malam begini? Ia juga sudah tidak meminta layanan kamar lagi. Apakah Nathania? Apa kurang jelas ucapannya beberapa waktu yang lalu?


Sebelum beranjak untuk membuka pintu, Nathan terlebih dahulu mengambil sepotong kaus polos berwarna putih untuk ia kenakan. Ia tidak mau ada yang melihat tubuhnya, kecuali keluarga dan calon istrinya kelak.


“Ada apa lagi—“ pertanyaan Nathan terpotong begitu saja saat matanya menemukan sosok lain. Alih-alih sosok perempuan yang mati-matian ia jauhi. “Saya tidak memesan layanan kamar.”


Laki-laki muda yang menggunakan seragam staf hotel, lengkap dengan ID Card itu tampak tersenyum kecil seraya menyodorkan barang bawaannya.


“Ini adalah pelayanan khusus dari pihak hotel. Sekaligus tanda permintaan maaf atas apa yang tadi menimpa tuan. Pihak hotel berjanji akan memperbaiki sistem keamanan dan akan segera menemukan pelaku penyerangan.”


Sebelah alis Nathan terangkat mendengarnya. Bagaimana mungkin seorang staf biasa bisa mengetahui insiden yang tadi terjadi padanya? Apa staf ini memiliki akses untuk melihat rekaman pengawas atau CCTV?


Kenapa juga bukan manager hotel yang mengucapkan permintaan maaf secara langsung?


“Dia melakukan ini atas perintah saya.”


Nathan kontan menoleh ke samping saat mendengar suara lain yang terdengar di indra pendengaran. “Siapa Anda?”


“Saya manager hotel ini,” jawab laki-laki paruh baya yang terlihat masih sangat awet muda dan bugar tersebut. Tubuhnya tinggi, kisaran 182 centimeter. Dibalut pakaian formal, jas hitam, kemeja putih, dasi hitam, dan celana kain berwarna senada. “Kami akan segera mencari pelaku penyerangan terhadap Anda. Anda tidak perlu khawatir. Saya juga berharap Anda tidak menolak pelayanan khusus yang kami berikan sebagai permintaan maaf. ”


“Hm.”


Nathan sepenuhnya belum yakin. Ia jadi lebih waspada semenjak insiden penyerangan tadi. ID Card bisa saja dipalsukan. Bagaimana jika mereka masih satu komplotan dengan orang asing tadi? Nathan tidak tahu pasti.


“Anda tidak perlu khawatir, saya memang manager di hotel ini,” ujar laki-laki paruh baya tadi seraya menyodorkan sebuah kartu nama. Nathan menerima kartu nama tersebut tanpa suara.


“Jika ada yang ingin Anda tanyakan, silahkan hubungi nomer tersebut.” Manager hotel itu menoleh, memberikan isyarat pada staf hotelnya untuk memberikan apa yang ia bawa. “Itu adalah salep untuk meredakan memar. Saya harap Anda tidak menolaknya. Di sini saya hanya menjalankan perintah.”


Nathan pada akhirnya menerima salep tersebut karena tidak mau memperpanjang masalah. Ia juga tidak mau merepotkan rekan-rekan kerjanya yang lain, jika mereka sampai mengetahui insiden penyerangan yang tadi terjadi. Jadi, setelah menerima layana hotel yang katanya ‘khusus’ itu, Nathan langsung kembali masuk ke kamar.


Nathan bukannya berprasangka buruk atau apa, tetapi ia hanya mencoba untuk waspada. Setelah memastikan salep yang ia terima aman untuk digunakan, Nathan mengaplikasikan salep tersebut pada area yang lebam. Setidaknya salep itu dapat mengurangi sedikit rasa sakit yang timbul. Ketika baru saja menyimpan salep yang baru ia gunakan, ringtone teleponnya tiba-tiba terdengar. Bersamaan dengan menyalanya layar benda pipih tersebut, menampilkan sebuah nama yang ia beri ikon 🖤 berwarna putih.


Dengan senyum tertahan di bibir, laki-laki rupawan itu kemudian bergegas menerima panggilan tersebut.


“As’salamualaikum, kak Nathan?”


Ah, suara yang menenangkan jiwa dan raga itu akhirnya kembali terdengar menyapa gendang telinga.


“Waalikum’salam,” jawab Nathan pada akhirnya. Suatu keajaiban mendapati sang pujaan hati menelpon terlebih dahulu.


“Kak Nathan apa kabar?”


“Kabarku baik. Bagaimana dengan kabar kamu yang jauh di sana?”


“Kabar Alea alhamdulillah baik.”


Hening untuk beberapa waktu. “Ada apa? Apa ada yang menganggu kamu?”

__ADS_1


“Kak….”


“Naeam (iya)?”


“Kakak baik-baik saja di sana, ‘kan?’


Nathan yang baru saja pindah posisi—dari duduk di pinggir tempat tidur, menjadi berdiri di dekat kaca pembatas balkon—tampak menautkan kening mendengarnya. Dari tempatnya berdiri, ia bisa menyaksikan keindahan ibu kota Negeri Gajah putih dari ketinggian. “Alhamdulillah, aku baik.”


“….”


“Kenapa, ada yang menganggu pikiran kamu?” tanya Nathan memastikan. Sengaja dia tidak jujur soal penyerangan tadi, karena takut membuat sang tunangan risau.


“Alea cuma….”


“Cuma kenapa hm?” goda Nathan dengan senyum mengembang di bibir.


“….risau.”


“Risau kenapa? Allah selalu bersama umat-Nya, kamu tidak perlu khawatir. Lagipula aku bisa menjaga diri dengan baik di sini.”


“Iya, Alea tahu. Tapi, apa kakak lupa jika Malaikat Izrail selalu rajin mengunjungi manusia 70 kali dalam sehari atau 21 menit sekali?”


Nathan manggut-manggut mendengar penuturan sang tunangan. Ada rasa hangat yang mendera rongga dada. “Jadi kamu khawatir dengan kondisiku di sini? Apa perlu aku kirimkan beberapa foto agar dapat meyakinkan kamu?”


“T-idak perlu! Alea percaya kok kakak sehat wal’afiat.”


Diam-diam Nathan tersenyum semakin lebar mendengar nada suara sang kekasih. Perempuan itu pasti salah tingkah. “Kamu yakin?”


“Iya. Kakak sendiri yang barusan meyakinkan Alea kalau kakak baik-baik saja.”


“Tidak perlu repot-repot. Alea sudah yakin kakak baik-baik saja.”


“Baiklah.” Nathan semakin dibuat gembira saat mencoba menebak-nebak raut wajah lawan bicaranya di seberang sana. Ia rindu sekali, ingin bertemu guna melepas rindu.


“Kalau begitu Alea tutup dulu teleponnya.”


“Kenapa tiba-tiba?”


“Karena di sana pasti sudah malam. Sudah waktunya kakak istirahat. Alea tidak mau menganggu waktu istirahat kakak yang berharga. Lagipula Alea juga mau lanjut kerja.”


Nathan untuk sejenak lupa jika mereka tengah berada di benua yang berbeda. Perbedaan itu berlaku pula pada durasi waktu di tempat mereka berada. Jika sang kekasih tengah sibuk bekerja di pagi hari, maka di sini Nathan tengah bersiap-siap untuk mengistirahatkan diri. Untuk beberapa waktu, jarak dan waktu yang berbeda seperti ini akan membentang di antara mereka.


“Kalau begitu matikan saja teleponnya dari sana. Selamat bekerja. Semoga kamu selalu berada dalam lindungan Allah.”


“Amin ya Rabbal alamin,” jawab Alea.


“Satu lagi,” ujar Nathan tiba-tiba.


“Ada apa, kak?”


“Tolong jaga jarak dengan CEO Anderson Cooperation. Apakah kamu bisa?”


“CEO Anderson Cooperation? Tapi kenapa? Alea masih punya agenda dengan beliau.”


“Aku merasa tidak suka jika kamu dekat-dekat dengan dia. Dia juga tidak bisa menghargai kamu sebagai seorang perempuan muslim. Jika kamu ingin bertemu dia untuk membahas urusan pekerjaan, bisa didampingi dengan seseorang bukan?”


“Iya, kak. Ada asisten Alea juga.”

__ADS_1


Nathan menghembuskan napasnya lega. Ia memang tidak suka jika sang kekasih dekat-dekat dengan CEO Anderson Cooperation, apalagi semenjak kejadian di pantai Coney Islands. Kejadian di mana laki-laki itu menyentuh kekasihnya dengan lancang. Lagipula first sigh dengan laki-laki berwajah kaukasia itu juga sudah meninggalkan kesan yang buruk dalam ingatan Nathan.


“Maaf jika aku berkesan posesif. Itu aku lakukan karena aku tidak mau kamu dekat dengan laki-laki ajnabi yang bukan mahram kamu.” Nathan tampak menatap sendu pemandangan indah di hadapannya.


“Iya, Alea tahu. Terima kasih karena kakak sudah mengkhawatirkan Alea.”


“Hm.”


“Kalau begitu Alea tutup dulu teleponnya, ya?”


“Hm,” jawab Nathan, ragu. Antara masih mau mendengar suara sang kekasih, tetapi sambungan telepon itu juga harus segera berakhir. “Sayyidina Ali Bin Abi Thalib pernah berkata, uhibuk walihadha ansahuk. Dan begitulah aku terhadap kamu.”


“….”


Tidak ada jawaban apapun dari seberang, dan Nathan tahu apa yang telah menimpa sang kekasih sehingga tidak dapat menjawab ucapannya.


“Kalau begitu biar aku yang tutup teleponnya. Sampai jumpa lagi, Alea. Semoga harimu menyenangkan. As’salamualaikum.”


Sebelum benar-benar memutuskan sambungan telepon tersebut, Nathan sempat menunggu sang kekasih membalas salamnya. Ternyata dugaannya benar, sang kekasih tetap memberikan balasan dari salam yang ia ucapkan walaupun terdengar sangar pelan sekali. Namun, setidaknya Nathan lega karena bisa mendengar suara sang kekasih pasca dia mengalami peristiwa yang kurang menyenangkan. Sekarang ia pasti bisa tidur dengan nyenyak agar esok bisa semangat lagi untuk menyambut hari.


✈️✈️


“Waalaikum’salam.”


Perempuan dengan Abaya longgar berwarna soft nude itu mengucap salam dengan senyum tertahan di bibir yang tertutup niqab.


“Sayyidina Ali Bin Abi Thalib pernah berkata, ‘uhibuk walihadha ansahuk’. Dan begitulah aku terhadap kamu.”


Kalimat terakhir yang diucapkan oleh seorang laki-laki yang jauh di belahan bumi lain itu masih terkenang dalam benak. Alea—perempuan dengan Abaya berwarna soft nude itu—tadinya mengumpulkan keberanian untuk menelpon terlebih dahulu karena tiba-tiba dia merasa cemas karena semalam laki-laki itu datang ke mimpinya. Namun, bukan datang dalam mimpi baik, melainkan mimpi buruk.


Alea tahu mimpi baik datangnya dari Allah, sedangkan mimpi buruk bukan datang dari Allah. Entah kenapa pula relung hatinya langsung dihantui rasa cemas tak terkira. Jadi, saat melihat kiriman bunga untuk kesekian kalinya dari orang yang sama ada di atas meja kerjanya, Alea lantas mengumpulkan keberanian untuk menghubungi terlebih dahulu. Sekarang Alea bisa merasa lega karena faktanya laki-laki itu baik-baik saja.


Masalahnya, sekarang jantung Alea jadi tidak baik-baik saja karena degupnya tidak karuan. Apalagi semenjak mendengar kalimat ‘uhibuk walihadha ansahuk’ terucap dari laki-laki yang telah mengkhitbah dirinya itu. Alea tahu arti kalimat itu. Kalimat itu adalah salah satu kalimat mutiara dari sayyidina Ali Bin Abi Thalib, suami dari sayyidinah Fatimah Binti Muhammad. Pasangan yang dinikahkan langsung oleh Allah Subhanahu wa ta’ala di langit, sebelum dinikahkan di bumi itu terkenal dengan kisah cintanya yang sama-sama mencintai dalam diam.


Arti dari kalimat yang dikutip dari kalimat mutiara sayyidina Ali Bin Abi Thalib itulah yang berhasil membuat Alea kehilangan kekuatan untuk menjawab.


Sembari menatap bunga hyacinth putih yang hari ini dikirim oleh laki-laki itu—sekalipun sang pengirim ada di belahan bumi lain. Bunga hyacinth putih sendiri memiliki makna ‘aku mendoakan mu’. Bunga ini memiliki bentuk yang unik dan warna yang indah. Selain itu, bunga hyacinth juga memiliki banyak makna tersirat sesuai warnanya. Bunga ini juga dipercayai sebagai bentuk perwakilan kata maaf, jika kamu berbuat salah.



“Semoga kakak selalu berada dalam lindungan Allah Subhanahu wa ta’ala saat bekerja di luar sana. Alea ikut menjaga kakak lewat do’a. Di sini Alea juga akan menjaga diri dengan baik.”


Alea tersenyum di balik kain niqab miliknya, saat harum bunga hyacinth menyapa indra penciumannya. “Dan terima kasih sudah menasihati Alea soal dia yang termasuk laki-laki ajnabi. Di sini Alea akan menjaga diri dengan baik, karena Alea sudah punya kak Nathan sebagai calon mahram.”


✈️✈️


TBC


Note : ‘uhibuk walihadha ansahuk’ artinya: ‘aku mencintaimu, maka dari itu aku menasihatimu’.


FINALLY, I'AM COMEBACK!


GIMANA? MASIH MAU MENCARI TAHU KELANJUTAN KISAH CINTA KAPTEN GANTENG DAN CEO CANTIK? KALAU IYA, RAMAIKAN LAPAK INI LAGI YUK!


Lapak ini juga sedang aku revisi besar-besaran. Untuk revisi part baru sampai part 10 dan 25 sampai part ini. Readers bisa baca cerita ini lebih enak lagi setelah direvisi keseluruhan, sambil berjalan update.


Sukabumi 13/06/22

__ADS_1


__ADS_2