Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 79 : HAK & KEWAJIBAN


__ADS_3

BDJ 79 : HAK & KEWAJIBAN


SIAPKAN HATI UNTUK MEMBACA PART INI. HATI-HATI GAMON DARI PASANGAN PENDAHULUNYA, YAITU VANRA 💙


✈️✈️


Satu minggu telah terlewati dengan begitu cepat. Namun, dalam satu minggu itu banyak sekali momen menyenangkan yang baru Nathan maupun Alea temukan. Pasca Sayyidul Ayyam yang lalu mereka resmi menikah, sehari kemudian resepsi di gelar dengan mewah di kediaman utama milik keluarga Radityan. Sehari pasca resepsi, Nathan dan Alea masih menetap di Jakarta, karena tetap banyak tamu yang berdatangan dari berbagai kota, hingga luar Negari. Di hari ke-empat resmi menjadi suami-istri, mereka langsung bertolak ke Bandung untuk menghadiri acar resepsi yang kedua.


Keluarga besar Radityan menyusul sehari kemudian, lebih tepatnya di hari ke-lima. Acara resepsi yang diadakan di kediaman utama Dwiarga, berlangsung selama dua hari dua malam. Cukup dalam kocek yang dirogoh untuk mengadakan resepsi selama dua hari dua malam di sana, namun itu bukanlah apa-apa bagi Nathan. Toh, ia sudah menyiapkan segalanya sejak lama.


Selesai acara resepsi di kediaman Dwiarga, tanpa ba-bi-bu Nathan langsung mengutarakan niatnya pada kedua keluarga untuk memboyong sang istri ke rumah yang telah ia persiapkan sejak lama. Sebagai orang tua, baik Van’ar, Aurra, Al, serta Gea tentu paham betul apa yang sebenarnya di inginkan oleh Nathan. Bagaimanapun juga mereka pernah muda, dan pernah berada dalam posisi yang sama dengan Nathan dan Alea.


“Alea bawa bekal dari sini ya, buat hari ini sama besok.”


Sejalan dengan itu, Gea jadi excited sendiri mempersiapkan perbekalan bagi Nathan dan Alea yang akan segera pergi ke rumah baru mereka. Di sana baru ada beberapa perabotan, tanpa adanya bahan makanan. Walaupun rumah itu sudah rampung seratus persen, namun Nathan belum mengisi bahan makanan dan beberapa barang elektronik. Karena Nathan berniat membeli semua itu bersama istrinya.


“Ini frozen food yang gampang banget buat disiapkan. Di rumah baru kalian sudah ada beberapa alat elektronik dan peralatan dapur. Waktu itu Mamah sendiri yang memilihnya.”


Alea mengangguk canggung seraya tersenyum tipis. “Maaf, Mamah jadi repot,” katanya tak enak hati.


“Eh, enggak dong. Mamah malah senang, akhirnya rumah dari hasil tabungan Nathan diisi juga.” Ibu dua orang anak itu tersenyum ramah, kemudian memeluk menantunya. “Mamah terkadang masih tidak percaya kalau sudah punya menantu, yaitu kamu. Padahal dulu Mamah sempat ragu.”


“Ragu kenapa, Mah?” tanya Alea hati-hati kala pelukan mereka merenggang.


“Ragu Nathan akan menikah. Soalnya, Nathan itu tidak pernah memperlihatkan ketertarikan pada perempuan mana pun. Saat Mamah tahu dia sudah memilih kamu, Mamah pikir Nathan dijodohkan sama Papahnya.”


“Dijodohkan?”


Gea tersenyum. “Iya. Mamah sempat berpikir kalau Papah Al menjodohkan Nathan. Tetapi, kenyataannya Nathan sendiri yang ngebet pengen dijodohkan sama kamu.”


Alea tersenyum di balik kain penutup wajahnya.


“Jadi, sayang. Kalau misalnya Nathan jadi sangat over protektif sama kamu, tolong dimaklumi. Bagaimana pun juga Nathan akhirnya menikahi gadis yang ia cintai setelah sekian lama menanti. Dia memang mirip Papahnya, over dalam segala hal yang menyangkut pasangannya.”


“Iya, Mah. Alea mengerti.”


Gea tersenyum hangat, kemudian menggenggam kedua tangan sang menantu. “Mamah bisa melihat kebahagiaan yang sangat terpancar di wajah Nathan. Terima kasih, ya, Alea. Semua itu berkat kamu.”


Alea menggelengkan kepala. “Semua ini berkat Allah yang Maha Kuasa, yang telah menakdirkan kita bersama.”


Jika bukan karena Allah Azza Wajalla, Alea tidak yakin ia akan berjodoh dengan Nathan. Mengingat rizki, maut, dan jodoh ada di tangan Allah Azza Wajalla, dan telah ditetapkan semenjak bayi dalam kandungan seorang ibu baru ditiupkan ruh. Jadi jika ada yang berterima kasih pada Alea karena telah membuat seorang Captain Nathan jadi lebih hidup, maka berterima kasihlah pada Allah Azza Wajalla yang Maha Kuasa.


“Makan dulu, Mas. Pekerjaannya bisa ditunda.”


Laki-laki rupawan dengan kacamata baca itu menoleh, menatap sang istri yang baru saja datang dengan nampan berisi makan malam untuknya. Sebenarnya ia bukan sedang bekerja, melainkan mengecek beberapa surel yang masuk.


Mematikan MacBook yang ada di atas meja kaca, Nathan kemudian menyingkirkan benda itu begitu saja ke sisi lain meja.


“Zaujati (istriku) menyiapkan makan malam apa?”


Alea bergerak kian dekat. Ia kemudian menunjukkan apa yang telah ia bawa untuk mengisi perut suaminya, yaitu nasi putih hangat, ayam goreng kalasan tanpa tulang, tempe goreng, sambal, serta tumis sayuran. Menu simpel yang bisa Alea siapkan untuk mengisi perut suaminya, mengingat di dapur alat-alat untuk memasak juga terbatas.


“Kelihatannya sangat lezat,” kata Nathan seraya menarik sang istri agar duduk di sampingnya.

__ADS_1


Mereka memang pergi sejak sore, kemudian tiba di kediaman baru mereka yang ada di daerah Dago sekitar pukul setengah enam sore. Setengah jam merak habiskan untuk melihat-lihat rumah, dan berbenah. Setelah salat Maghrib Nathan langsung mengecek surel, kebetulan ia sempat membawa MacBook. Sedangkan Alea berkutat di dapur rumah barunya untuk pertama kali.


“Mas makan dulu. Kerjanya nanti dulu.”


Nathan mengangguk patuh. “Aku tidak bekerja. Barusan cuma cek surel yang masuk.”


Alea paham, lalu mengangguk. “Ayo, makan dulu. Mumpung masih hangat.”


“Ya sudah, sini piringnya.”


“Eh?” Alea kebingungan saat Nathan merebut piring di tangannya secara tiba-tiba.


“Aku mau kasih Zaujati (istriku) nafkah,” kata Nathan seraya tersenyum manis. “Sekarang baca do’a dulu, baru aku suapi kamu.”


“Kok jadi aku yang makan, Mas?” Alea menyuarakan protes dengan nada bicara lembutnya, beda sekali dengan kebanyakan orang saat menyuarakan protes.


“Kamu belum makan malam, ‘kan?”


“Belum.”


“Ya sudah, kita makan bersama. Satu piring berdua.”


“Tapi, Mas, ini porsinya….”


Nathan menempelkan jari telunjuk di depan bibir sang istri yang kali ini tidak diberi penghalang. “Kalau kurang bisa ambil lagi,” ujarnya kemudian.


Alea sebagai seorang istri yang memiliki kewajiban untuk patuh terhadap suami, kemudian mengiyakan perintah suaminya. Ia bukan tidak mau makan sepiring berdua, cuma terkadang masih belum terbiasa saja.


Selesai makan malam, pasangan pengantin baru itu kemudian langsung melaksanakan salat Isya kala Adzan berkumandang. Seruan untuk menunaikan ibadah itu menggema di setiap penjuru kota kembang. Dari tempat tinggal Nathan dan Alea, mereka bisa mendengar kumandang Adzan dengan jelas, karena rumah mereka cukup dekat dengan masjid setempat.


Kegiatan-kegiatan sederhana seperti itu jadi rutinitas mereka semenjak resmi menjadi suami istri. Kegiatan sederhana, namun selalu berhasil membuat meraka berdua semakin dekat.


“Kamu suka tinggal di rumah kita?”


Nathan tiba-tiba bertanya di kala Alea sedang memberanikan diri menyusuri helai demi helai surai hitam milik sang suami. Posisi Nathan saat ini sedang membaringkan kepalanya di pangkuan sang istri, pasca mereka selesai melaksanakan murojaah bersama.


“Suka.”


“Alasannya?”


“Karena di sini tenang, Mas. Lumayan jauh dari keramaian, dan lingkungan di sekitar masih asri.”


Mendengar penjabaran sang istri yang tampak bahagia, Nathan jadi ketularan bahagianya. “Besok kita jalan-jalan keliling kota Bandung, mau?”


“Boleh.” Alea menjawab seraya memainkan rambut sang suami yang terasa halus di tangannya. “Memangnya Mas mau ajak aku keliling ke mana?”


“Hmm. Ke mana saja yang penting kamu senang.”


Alea tersenyum mendengar jawaban sang suami. “Banyak rekomendasi tempat bagus di kota Bandung. Rumah Didi juga di sini, kita bisa main ke sana kalau ada waktu.”


“Didi?” mendengar nama dengan konotasi berbau Ikhwan alias laki-laki, Nathan kontan menyatukan alis. Alea yang melihat itu tampak tersenyum kian manis.


“Didi itu Ayahnya Bunda Aurra, Mas,” tutur Alea. “Kakeknya Arsyad, Arra, sama Arion.”

__ADS_1


“Oh, Ayahnya Bunda Aurra,” lirih Nathan dengan suara kecil. Hampir saja salah paham.


“Iya. Bunda Aurra ‘kan lahir dan besar di sini. Oma juga lahir di Bandung.”


“Oma Arkia?”


Alea mengangguk. “Bandung itu sudah seperti rumah kedua bagi para Radityan, Mas. Di sini Opa bertemu dengan Oma. Di sini juga Ayah dan Bunda berjumpa. Begitu pula dengan Onty Lunar yang bertemu dengan Om Arkan. Om Arkan itu dulunya tetangga Bunda kalau tidak salah.”


Asik mendengarkan cerita sang istri, dengan pemandangan wajah cantik sfek bidadari dari bawah sini, membuat perasaan Nathan begitu damai. Sungguh, ia sekarang sudah melupakan penatnya mempersiapkan pernikahan hingga melakukan serangkaian acara berkat sang istri.


“Aku juga lahir dan besar di Bandung, tetapi aku bertemu kamu di Bandar udara.”


“Mungkin sudah takdirnya, Mas.”


Nathan tersenyum seraya membawa salah satu telapak tangan sang istri untuk ia kecup. Alea yang diperlakukan seperti itu tentu merasakan denyut jantungnya jadi berantakan. Apalagi saat suara khas milik laki-lakinya kembali mengalun dengan suara rendah.


“Zaujati (istriku).”


“I-ya, Mas.”


“Hari ini malam apa, ya?” tanya Nathan tiba-tiba.


Alea tentu saja keheranan saat suaminya bertanya demikian. Alea tahu betul kalau Nathan mengetahui hari ini hari apa. Orang tadi mereka murojaah surat Al-Kahfi bersama-sama.


“Malam jum’at, Mas. Memangnya kenapa?”


Nathan beranjak dari pangkuan Alea, kemudian memilih duduk tegak menghadap sang istri tercinta. “Apa kamu tahu, ada amalan sunah Rasulullah yang bisa kita tiru pada malam jum’at.”


Alea tampak was-was ketika hendak menjawab. Ia kemudian memilih menggelengkan kepala, padahal ia tahu apa saja amalan yang dapat dilakukan pada saat malam Jum’at tiba.


“Pertama, membaca surat Al-kahfi. Kedua, membaca surat Yasin. Ketiga, salat Tahajud. Keempat, membaca salawat Nabi. Dan yang terakhir….” Nathan sengaja menggantungkan kalimat, karena ia mulai bisa melihat rona merah menjalar di wajah sang istri. Alea pasti tahu maksud dari kode yang ia berikan.


Melihat keterdiaman sang istri, Nathan menghela napas lemah. Sepertinya belum waktunya, bro.


“Kalau kamu masih butuh waktu, kamu bisa bicara terus terang kepadaku.”


Alea memberanikan diri menatap sang suami yang baru saja berkata demikian. “Kenapa Mas tidak coba tanyakan kepadaku?”


Nathan terdiam untuk sejenak. Ia kemudian menatap sang istri lamat-lamat seraya merangkum wajah cantiknya.


“Zaujati (istriku), kalau malam ini aku mengambil hak ku sebagai seorang suami, apa kamu bersedia memberikannya?”


Alea tidak langsung menjawab. Diamnya seorang perempuan terkadang memunculkan seribu satu misteri yang tidak dapat diselami. Namun, bagi Nathan itu berarti sebuah jawaban. baru saja hendak buka suara, sang istri sudah mendahului.


“Itu hak kamu, Mas. Sebagai istri, Alea memiliki kewajiban untuk memberikannya.”


✈️✈️


TBC


Auto ibadah malam Jum'at nggak tuh 😂😂


Jika suka, jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘

__ADS_1


Tanggerang 23-09-22


__ADS_2