Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 98 : KEDATANGAN TAMU


__ADS_3

BDJ 98 : KEDATANGAN TAMU



“Kamu yakin tahu tempat paling aman untuk bersembunyi?”


“Ada satu tempat yang paling aman untuk bersembunyi. Tapi lokasinya ada di ibu kota,” sahut laki-laki yang berada di balik kemudi.


“Di kota Jakarta?”


Laki-laki itu mengangguk dengan fokus yang masih tertuju pada jalanan bebas hambatan di depan sana. Saat ini ia tengah dikejar oleh waktu. Jika dalam dua jam lebih tiga puluh menit atau tiga jam tidak sampai Batavia, ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Leon.”


“Apa?”


“Kamu ….kelihatan sangat cemas.”


Si pemilik nama yang mengandung arti raja rimba alias singa itu berdeham kecil. “Gue biasa aja.”


“Kamu cemas. Napas kamu tidak beraturan.”


Leon menghela napas kecil mendengar penuturan lawan bicaranya. Ia memang sedikit merasa cemas. “Gimana gue nggak cemas, kamu tiba-tiba telpon minta disembunyikan. Memangnya kamu itu buronan atau sejenisnya?”


Semenjak mengenal Lea, Leon tentu mencaritahu beberapa informasi terkait Lea. Dilihat sekilas saja, Lea bukanlah perempuan dari kalangan biasa. Ketika mendapatkan informasi dari pencarian pintar paling popular, Leon tahu jika Lea memang bukan orang biasa. Ditambah lagi Lea ternyata sangat popular di dunia modelling dan fashion. Leon saja yang selama ini kurang update.


Pantas saja Lea selalu terlihat cantik dan mempesona dalam balutan pakaian apapun. Mau kaos barong berukuran besar, atau bahkan daster emak-emak yang harganya lima puluh ribuan sekalipun, Lea tetap terlihat cantik dan menarik. Ia selalu punya tips and trik tersendiri untuk terlihat stylish dengan pakaian sederhana.


Ternyata oh ternyata, Lea memang pada dasarnya sudah terlahir sebagai angel model.


“Sekarang mending kamu habisin nasi tim nya, kasihan dia kalau kamu laper.”


Lea yang sejak tadi memperhatikan Leon dari samping tampak tersenyum kecil seraya mengangguk. “Kamu juga belum makan ‘kan?”


“Udah ngopi, aman lah.”


“Caffein di pagi hari tidak baik bagi kesehatan lambung,” koreksi Lea seraya membuka tempat makan berisi nasi tim yang tadi sempat dibelikan Leon untuk dirinya.


Ini kali kedua Lea makan nasi tim. Ia mengenal makanan berbahan dasar nasi yang dimasak dengan cara ditim (dikukus) itu untuk pertama kalinya dari kakak Leon.



Nasi tim sendiri merupakan hidangan Tionghoa Indonesia berupa nasi dan ayam berbumbu gurih. Penggunakan kata “tim” diyakini berasal dari bahasa Inggris steam yang artinya dikukus. Akan tetapi, kemungkinan juga dari bahasa Tio Ciu “Tim” yang mengandung arti memanaskan.


“Ngopi terus ngemil cakwe sama gorengan bala-bala udah kenyang lah perut gue mah.”


“Seharusnya kamu menjaga pola makan, apalagi kamu mahasiswa yang sedang aktif-aktif nya mengejar pendidikan.”


“Aktif apaan? Kerjaan gue itu jadi kupu-kupu kalau di kampus.”


“Kupu-kupu?” ulang Lea, kebingungan.

__ADS_1


“Kuliah-pulang-kuliah-pulang,” tutur Leon. “Kuliah cuma kalau ada niat. Kalau mager, ya nitip absen sama PJ kelas. Alasan, sakit.”


PJ kelas yang Leon maksud adalah penanggung jawab kelas. Orang yang langganan Leon teror jika absen. Ia memang jarang masuk kuliah jika sedang tidak ada mood. Jika sedang ada mood dan rajin, ia pasti tidak akan ketinggalan maktul—mata kuliah—apapun.


“Kamu mau nasi tim juga?”


“Kenapa emang? Gue ‘kan cuma beli satu. Sengaja. Buat kamu doang.”


“Ini kebanyakan,” ujar Lea seraya menunjukkan nasi tim yang dibeli Leon.


“Kamu ‘kan makan berdua. Masa kebanyakan? Kalau gue suka nasi tim, segitu mah mana kenyang.”


“Kamu enggak suka?”


“Kagak,” ujar Leon lugas. “Catat ya, gue itu nggak suka nasi tim, bubur diaduk, makanan yang terlalu manis, makanan terlalu pedas, sama sayur-sayuran. Tapi, gue suka hampir semua jenis buah. Misalnya mangga, melon, manggis, markisa, apel, anggur, dan kawan-kawannya.”


Lea tertawa kecil mendengar celotehan Leon. Semenjak mengenal Leon, ia seperti tidak kenal kata gengsi. Kalau ingin tersenyum, tinggal tersenyum. Kalau mata ketawa, tinggal ketawa. Lagipula Leon juga anaknya tidak jaim. Jauh dari tipikal laki-laki pada umumnya yang biasa sok jaga image.


“Tadi kamu beli buah juga, kan?”


“Iya. Buah potong,” ujar Leon, membenarkan. “Makan sekalian. Biar kalian sehat.”


Lea mengangguk seraya mulai menyendok kan nasi tim miliknya. “Nanti buahnya kita bagi dua.”


“Hm, terserah.”


“Aku suapin kamu. Supaya kamu tetap bisa makan, tapi fokus berkendara juga.”


“Hm. Terserah.” Seolah-olah baru sadar akan ucapannya, Leon langsung menoleh untuk beberapa detik. “Apa kata kamu barusan?”


Leon yang sudah kembali fokus pada jalanan hanya bisa mengangguk kecil. Padahal biasanya ia paling tidak suka dimanja oleh kaum Hawa. Geli saja. Mantan-mantan pacarnya yang terdahulu saja selalu ia tolak jika sok manja, misalnya ingin menyuapi makanan atau apalah. Risih. Leon tidak suka. Namun, pengecualian bagi bumil satu ini. Apalagi ia dapat pesan dari manager Lea agar untuk menjaga mood Lea agar tetap stabil. Wanita hamil itu katanya sensitif. Gampang marah, sedih, gundah, bahkan tersinggung.


Dikarenakan mereka hanya pergi berdua ke Jakarta, Leon punya tanggung jawab penuh untuk menjaga keselamatan Lea. Sedangkan manager Lea dan kakak Leon bertugas untuk membereskan jejak Lea di kota kembang.


Awalnya Leon tidak tahu alasan kenapa Lea datang ke Negara ini, dalam keadaan tengah berbadan dua pula. Ditambah lagi Lea seperti seorang buronan yang harus menyamar setiap kali hendak pergi ke luar rumah. Usut punya usut, Lea punya alasan kuat dibalik kepergiannya. Ia pergi untuk menyelamatkan hari. Menjaga diri. Juga menyembunyikan sang buah hati.


Leon mencoba mengerti, walaupun ia hanya tahu sedikit informasi mengenai alasan kedatangan Lea ke Negara ini. Sebenarnya Leon bisa saja tidak ikut campur terlalu jauh. Toh, pekerjaannya sebagai tour guide pengganti sudah selesai. Namun, ada rasa iba dan ingin membantu melindungi Lea semenjak mereka pertama kali bertemu. Leon juga tidak tahu alasan kenapa ia bersikap seperti ini. Yang jelas, ia hanya ingin membantu melindungi Lea dan calon bayinya.


Untung saja Leon punya backingan yang luar biasa. Ia adalah senior Leon di tongkrongan dulu. Leon masih ingat betul dengan pesan sang senior yang mengatakan jika butuh bantuan kdalam kondisi genting, maka datangi saja kediaman keluarga besarnya di Jakarta. Sekalipun sang senior tidak ada di sana, nanti ia akan dihubungkan oleh salah seorang keluarga seniornya.


“Senior kaget nggak nih gue bawa cecan kelas model papan atas ke rumahnya?” gumam Leon. Ia hanya berkomunikasi lewat handphone, jadi belum sempat menjelaskan duduk permasalahannya secara detail kepada sang senior.


“Gimana nanti aja deh, yang terpenting Lea aman dulu dari kejaran pacarnya,” lanjut Leon di dalam hati.


✈️✈️


“Surat apa dan ayat berapa, Mas?”


Perempuan cantik dalam balutan mukena berwarna putih dengan motif bunga-bunga berukuran kecil itu bertanya setelah menyelesaikan satu request dari sang suami.


“Surat Yusuf, ayat empat,” jawab sang suami yang duduk bersila di hadapannya.

__ADS_1


“Baik. Surat Yusuf, ayat empat.”


“Silahkan dibaca, Zaujati (istriku).”


Perempuan cantik bernama Alea itu mengangguk. Ia kemudian mengambil napas, ancang-ancang untuk membaca ayat kesekian yang diminta sang suami. Kebiasaan rutin pasutri—pasangan suami-istri yang masih baru menikah itu memang murojaah setelah salat dan berdzikir. Mengulang hapalan mereka supaya tidak lupa.


“Iz qoola yuusufu li-abiihi yaaa abati innii ro-aitu ahada ‘asyaro kaukabaw wasy-syamsa wal-qomaro ro-aitahum lii saajidiin.”


Lantunan suara merdu milik putri Radityan itu kembali terdengar mengisi seisi ruangan. Senyum bangga juga kembali tercipta, bahkan hampir tak pernah lepas dari bibir Nathan. Makin lama malah makin melebar.


“Artinya, ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya, ‘wahai ayahku! Sungguh, Aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan, kulihat semuanya sujud kepadaku.”


“Masya Allah, benar sekali, Zaujati (istriku),” puji Nathan seraya mengelus pucuk kepala sang istri yang terhalang oleh mukena dengan perasaan sayang. “Lalu apa kamu tahu, apa keutamaan membaca surat Yusuf ayat empat?”


“Bismillah, keutamaan membaca surat Yusuf ayat empat adalah wajah orang yang membaca akan berseri-seri, selalu disegani, serta dihormati.”


“Masya Allah, benar lagi, Zaujati (istriku).”


Alea tersenyum manis. Senyum yang hanya diperlihatkan pada orang-orang terpilih dalam hidupnya. “Satu lagi, Mas. Surat yusuf ayat empat juga disebut-sebut sebagai surat yang mustajab dan memiliki keberagaman yang istimewa. Mengamalkan surat Yusuf ayat empat dipercaya bisa mendatangkan jodoh, memikat hati lawan jenis, serta membuat bayi dalam kandungan seorang ibu memiliki wajah yang tampan dan disegani.”


Nathan kembali mengangguk. “Setiap ayat dalam Al-Qur’an memang memiliki keutamaannya dan keistimewaan masing-masing.”


Alea tersenyum seraya menatap wajah teduh sang suami. Ketika tertimpa cahaya sore seperti ini, wajah suaminya entah kenapa jadi berkali-kali lipat lebih tampan.


“Kupu-kupu,” ucap Alea tanpa sadar.


Kening Nathan bertaut mendengar kalimat sang istri yang tiba-tiba melenceng dari topik pembicaraan. “Kupu-kupu?”


“Ada kupu-kupu masuk ke kamar kita, Mas.” Alea menunjuk hewan bersayap elok yang entah datang dari mana. Hewan tersebut tampak senang berkeliling di atas langit-langit kamar pasangan suami-istri itu.


“Mungkin masuk dari balkon,” ujar Nathan seraya menatap ke arah pintu pembatas balkon yang sedikit terbuka, sehingga menimbulkan celah.


“Mungkin. Soalnya di bawah ada taman bunga. Banyak kupu-kupu yang suka berkeliaran di sana.” Sepasang netra teduh Alea masih tampak menatap mahluk bersayap elok tersebut dari tempatnya duduk.


Sedangkan Nathan malah menikmati wajah cantik sang istri yang tampak begitu senang kedatangan si kupu-kupu. Alih menatap kupu-kupu itu sendiri.


“Mas tahu tidak, aku pernah baca buku yang membahas soal primbon jawa. Katanya, jika ada kupu-kupu masuk ke dalam rumah, tandanya akan kedatangan tamu.”


“Benarkah?”


“Iya. Itu menurut buku yang aku baca,” sahut Alea seraya kembali mengalihkan pandangan pada sang suami. “Kenapa, mas?” tanya Alea kala sadar jika Nathan sejak tadi menatapnya dengan intens.


“Cantik.”


“Kupu-kupunya?”


Nathan tersenyum lembut seraya merunduk, menjangkau kening sang istri. “Zaujati (istriku).”


✈️✈️


TBC

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘😘


Tanggerang 18-10-22


__ADS_2