Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 74 : ISTRI CAPTAIN


__ADS_3

°BDJ 74 : ISTRI CAPTAIN



“Selamat atas pernikahan Anda dan istri, Captain Nathan.” Adinda kembali buka suara. Ia berkata seraya menyodorkan tangan, menunggu balas dari Nathan untuk berjabat tangan.


“Maaf,” ucap Nathan seraya mengangkat genggaman tangannya dan sang istri. “Lagipula kita bukan muhrim, haram hukumnya jika bersentuhan. Lebih baik kamu bersalaman dengan istri saya, maka tidak akan menimbulkan dosa.”


Deep banget perkataan Nathan, sampai-sampai berhasil membungkam dua lawan bicaranya dengan rasa malu.


Toh, apa yang Nathan katakan sesuai dengan sabda Rasulullah Shallalahu’alaihi Wasallam. “Sungguh jika kepala seorang laki-laki ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik baginya dari pda dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya.” Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani.


Mantan cabine one yang dulu kerap menjadi partner Nathan itu tersenyum kecil. Senyum yang kentara sekali dibuat senormal mungkin, padahal dalam hati ia tengah menahan gejolak emosi.


Adin kemudian melirik ke samping kiri mempelai laki-laki, tatapannya terkunci pada perempuan yang menggunakan wedding dress syar’I yang harganya pasti tidak dapat dibilang murah. Perempuan ini salah satu anggota keluarga Radityan loh, siapa sih yang berani menyinggung keluarga besar yang terkenal kaya raya? harta meraka bahkan melimpah-ruah dari berbagai sektor. Konon katanya, saking banyaknya harta milik keluarga Radityan, harta itu tidak akan habis sampai tujuh turunan.


Adin juga tidak menyangka jika inilah istri Nathan. Ia pikir saat Nathan berkata sudah memiliki calon istri, calonnya adalah perempuan cantik yang relatif. Maksudnya, perempuan cantik sekelas rekan sejawat, atau bahkan aktris dan mantan finalis kontes kecantikan yang memiliki tubuh body goals, serta terkenal karena kepopulerannya. Namun, ternyata istri captain Nathan ternyata modelan seperti ini.


Adin tentu tahu siapa istri Nathan. Ia adalah putri Keevanzar Radityan Al-faruq yang dulu menjadi CEO di perusahaan raksasa Radityan Corp’s. Lokasi perusahaan raksasa itu berada persis di jantung ibu kota. Namun, Keevanzar memilih pindah ke luar Negeri—lebih tepatnya ke New York, untuk mengambil alih kepemimpinan di cabang Radityan Corp’s.


Nama Alea Radityan sendiri sempat melejit beberapa tahun belakangan, karena banyaknya prestasi yang ditorehkan Alea. Walaupun masih muda, ia merupakan salah satu lulusan Harvard yang menyabet gelar cumlaude. Selain itu, Alea juga sudah berhasil meneruskan tonggak kepemimpinan sang ayah di usianya yang masih sangat muda.


Jika dibandingkan dengan Adin, Alea tentu paling the best kemana-mana. Adin mengakui fakta tersebut, karena memang Alea Radityan terlihat lebih jenius di usianya yang masih sangat muda. Untuk mendapatkan posisi cabin one saja, Adin sebenarnya membutuhkan banyak kerja keras, plus bantuan orang-orang dalam pada beberapa kesempatan. Sekarang Adin tahu maksud dari perkataan Nathan waktu itu.


“Soal calon istri saya, dia bukan sosok yang pencemburu seperti apa yang kamu katakan barusan. Jika kamu penasaran dengan sosoknya, maka aku akan mengirimkan satu undangan untuk kamu. Datanglah ke pernikahan kami, lalu lihat sendiri bagaimana sosok calon istriku yang sangat berharga itu.”


Nathan telah menemukan sosok layaknya bidadari surga untuk dijadikan sebagai pasangan hidup.


“Saya Adin, rekan lama Captain Nathan.” Adin menatap Alea lekat. “Kami pernah bekerja sebagai tim untuk kurun waktu yang tidak dapat dibilang sebentar,” tambah Adin. “Saya sempat mengagumi suami kamu, dan sempat menyatakan perasaan juga.”


Nathan tampak terhenyak kecil di balik raut wajah flat yang ia tampilkan. Ia tak mengira jika Adin akan terus terang sejauh ini.


“Lalu apa yang Mbak inginkan dari saya?” tanya Alea dengan suaranya yang terdengar sangat tenang dan sopan. “Mbak tiba-tiba mengutarakan semua itu, apa ada maksud tersembunyi di baliknya?”


Adin tersenyum. Istri Captain Nathan memang cerdas. “Saya cuma ingin kamu tahu, bahwa saya hanya satu dari sekian banyak wanita di luar sana yang menginginkan posisi kamu, yaitu bersanding dengan Captain Nathan.”


“Mbak, sudah,” lerai Nathania. Ia merasa tidak enak pada pasangan pengantin—Nathan dan Alea—karena Adin terus bicara omong kosong. Apalagi saat ini mereka sudah menjadi pusat perhatian. “Lebih baik kita segera turun, Mbak. Tidak enak sama yang lain.”


“Tunggu sebentar, Ni.” Adin menyentuh lengan Nathania pelan, memberikan intrupsi agar Nathania tidak ikut campur. “Kamu sangat beruntung dapat bersanding dengan Captain Nathan.”

__ADS_1


Alea baru saja hendak buka suara, namun didahului oleh suara milik suaminya.


“Bukan istriku yang beruntung, tetapi aku,” balas Nathan. “Jadi apa mau kamu sebenarnya, Adin?” tanya Nathan to the point.


“Aku hanya ingin mengucapkan selamat. Itu saja,” sahut Adin. “Lebih tepatnya selamat pada istri Captain Nathan, karena dia adalah pemenang yang sesungguhnya. Pemenang yang keluar tanpa harus susah payah berjuang.”


Nathan tertawa kecil mendengarnya. Tawa yang menarik perhatian tiga kaum Hawa di sekitarnya. Ah, bukan tiga tiga kaum Hawa, melainkan beberapa kaum Hawa yang kebetulan perhatiannya tengah tertuju padanya.


“Istriku keluar sebagai pemenangnya, karena dia berjuang jalur langit.” Nathan menoleh, membiarkan seluruh wajahnya hanya dapat ditatap sang istri. Begitu pula dengan tatapannya yang hanya tertuju pada istrinya seorang. “Mau berjuang sekeras apapun, meraka akan kalah oleh perempuan yang namanya tertulis berdampingan dengan nama saya di lauhul mahfudz.”


Alea ikut menyunggingkan senyum di balik kain penutupnya. Sungguh, belum genap sehari semalam pun mereka menikah, Alea sudah merasa bersyukur sebesar ini. Bersyukur karena ia berjodoh dengan laki-laki seperti Nathan.


“Saya jadi ingat perkataan sayyidina Ali Bin Abi Thalib, apapun yang menjadi takdirmu, akan mencari jalannya sendiri untuk menemukanmu. Seperti aku dan kamu, pada akhirnya kita dipertemukan dalam ikatan pernikahan setelah melewati banyak halangan dan rintangan,” tambah Nathan.


Pandangan Nathan masih terkunci pada sang istri, tidak peduli jika ada segelintir orang yang saat ini mungkin merasa iri, dengki, bahkan benci. Yang terpenting, Nathan ingin menegaskan bahwa ia sangat bersyukur memiliki istri seperti Alea. Dikarenakan Nathan memang sudah jatuh cinta sejak lama pada sosok yang sekarang menjadi istrinya.


“Aduh, Abang gue dingin-dingin kayak coolkas dua pintu yang bisa jalan, ternyata bisa uwuuu juga,” celetuk laki-laki yang tengah duduk sembari melipat kaki. Menikmati pertunjukkan di pelaminan sembari menikmati es sorbet—jenis ice cream dari buah-buahan asli.



“Bang Nathan itu cangkang doang dingin, datar, bin kaku. Aslinya kalau udah ada pawang, beuh ….bakal jadi kayak Ayah Van’ar dan Bang Arsyad ke-dua,” sahut laki-laki yang duduk di samping.


“Kenapa? Nggak boleh? Orang gue cuma menyuarakan aspirasi.”


“Iya deh, iyaa.” Gean—memilih mengiyakan sembari menandaskan es sorbet miliknya. Sebenarnya ia dan laki-laki di samping masih sering bertengkar perkara hal kecil seperti saat ini, padahal meraka sudah resmi terikat menjadi kerabat.


“Tahun depan giliran lo sam Teh Arra.” Davian—yang duduk di samping Gean tiba-tiba kembali buka suara.


“Hm. Kenap juga lo tiba-tiba bahas soal gue sama my Chéri?”


“Ingat-ingat aja, takutnya gue kelamaan kerja di luar, jadi lupa schedule. By the way, tahun depan kerjaan gue full. Bisa jadi gue nggak bisa pulang.”


“Mau gue susulin lo ke sana?” Gean menatap horor ke arah Davian. “My Chéri pasti sedih kalau lo nggak pulang.”


“Hmm, iya sih. Tapi, gue bakal usaha beresin kerjaan dari sekarang-sekarang, supaya bisa pulang pas lo sama Teh Arra nikah.”


Gean mengangguk. Tidak afdol rasanya jika salah satu anggota Radityan menikah, tetapi anggota Radityan yang lain tidak hadir.


“Psssttt,” bisik Davian tiba-tiba. Memberi isyarat agar Gean mendekatkan telinga ke arahnya.

__ADS_1


“Apaan?” bingung Gean.


“Semalam ‘kan Abang lo mandi di kamar gue.”


Gean melotot mendengarnya. “Maksudnya? Tolong di perjelas, gue takut salah tangkap.”


Davian memutar bola mata sebal. “Bang Nathan mandi di kamar mandi gue, Karena Teh Alea mandi duluan. Mau tau nggak alasan yang lebih amazing dari itu?”


“Apaan memang, Njirr? Bikin penasaran sia mah (lo mah). Kalau bicara jangan setengah-setengah.”


Davian tertawa kecil mendengar nya. “Kadie sia (sini lo), gue bisikin.”


“Dih, apaan pake acara bisik-bisik segala? Nggak bisa to the point aja?”


Davian mendengus sebal. Ia kemudian menggeser kursi supaya lebih dekat dengan Gean. “Waktu itu Bang Nathan bilang makasih sama bilang gini, Kami jadi bisa menghemat lebih banyak waktu untuk ibadah bersama,” ucap Davian dengan suara yang dibuat semirip mungkin dengan suara Nathan.


Gean tersenyum lebar mendengarnya. “Waduh, auto langsung buka puasa si Abang.”


Anggukkan kepala Davian berikan seraya ikut tersenyum lebar. “Kayaknya bentar lagi ada yang bakal manggil kita Om deh.”


“Hmm. Nggak nyampe dua tahun kayaknya, bakal ada yang manggil kita Om.”


“Tapi, bentar lagi memang ada yang bakal manggil gue Om sih. Soalnya baby Asad bentar lagi lahir ke dunia. I'am so excited.”


“Baby Asad?”


“Anak pertama Bang Arsyad sama Mbak Kara. Duh, gue jadi makin nggak sabar punya keponakan. Ngebayangin gimana lucunya anak mereka aja udah bikin gue gemes, apalagi kalau udah lahir. Kayaknya bakal gue uyel-uyel terus.”


Gean tertawa melihat ekspresi excited yang tergambar di wajah Davian. Davian juga tampak tidak keberatan saat ditertawai, karena ia terlalu excited menyambut kelahiran keponakan pertamanya. Baby Asad. Anak pertama Arsyad dan Kata yang diberi nama olehnya sendiri.


Asad sendiri adalah nama yang mengandung arti singa, senang, bahagia dan beruntung.


✈️✈️


TBC


Next??


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘😘

__ADS_1


Tanggerang 18-09-22


__ADS_2