
Matahari bersinar cukup hangat pada awal bulan itu. Burung-burung kecil tampak asik terbang dari dahan satu ke ranting-ranting kering yang mulai ditumbuhi oleh daun-daun baru. Daun yang jatuh berguguran juga telah berganti dengan yang baru. Menghidupkan lagi bias warna pada pohon-pohon yang sempat tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Pagi itu Alea sedang menikmati paginya ditemani anabul—anak berbulu—kesayangannya. Karena kondisi kehamilannya yang sudah masuk trisemester tiga, ia kembali mengambil cuti kerja. Oleh karena itu, untuk membunuh rasa bosan selama di rumah, ia bisa melakukan apa saja yang bisa mengisi waktu luang. Salah satunya adalah dengan cara baking.
Pukul Sembilan pagi, kediaman Radityan itu sudah diselimuti aroma harum dari arah dapur. Siapa lagi pelakunya jika bukan Alea Ananta Rumi Al-Faruq, istri dari Captain Nathan. Bumil satu itu tampak senang sekali jika sudah berkutat dengan tanaman, alat-alat masak, dan peralatan baking.
“Kamu buat apa, sayang?”
“Roll cake blue velvet, Mah,” jawaban nya ketika sang ibu datang menghampiri.
Alea baru saja menuangkan adonan roll cake ke dalam Loyang ukuran 57 x 22 cm yang sudah dioles carlo—pengoles Loyang, dan telah dialasi oleh baking paper.
Alea sengaja membuat roll cake yang simple untuk nanti dibagikan pada keluarga Pradipta serta kerabat dekat mereka. Roll cake yang dibuat Alea hanya terdiri dari bahan-bahan sederhana, yaitu 6 butir telur, 90% gram gula kastor, ¾ cake mulsifier, 70 gram tepung terigu protein rendah, 70 gram tepung protein rendah, 10 gram maizena protein rendah, 15 gram susu bubuk, 120 gram butter, dan pewarna makanan secukupnya. Sedangkan bahan untuk cream cheese terdiri dari cream cheese, butter, coklat putih, vanilla bean, serta air lemon.
“Terus itu yang sudah digulung, roll cake blue velvet juga?” tanya Airra. Ia baru kembali dari rumah kaca saat disambut aroma harum dari arah dapur.
Alea menggelengkan kepala seraya memadatkan adonan di dalam Loyang. “Itu roll cake strawberry cream.”
“Oh, isiannya cream sama strawberry segar?”
“Iya.”
“Aduh, Papa kamu pasti suka.”
Alea mengangguk seraya tersenyum kecil. Hobby baking nya semakin lama memang semakin meningkat. Ia bahkan sempat ditawari usaha bakery oleh mertuanya, Geasya Genandra Putri. Namun, Alea menolak menolak dengan halus. Baginya baking adalah hobby dan healing di kala pening. Pekerjaan utama Alea tetap sebagai wanita karir. Apalagi sekarang tugas utamanya bertambah, yaitu sebagai seorang istri dan ibu
bagi calon anak-anaknya.
“Mas mu pulang hari ini, Nak?”
“Iya, Mah.”
“Sorean?” tanya Airra lagi. Wanita paruh baya itu baru saja mencicipi roll cake strawberry cream buatan putri tercintanya. Para maid yang ikut membantu Alea baking juga sudah diberi kesempatan untuk mencicipi. Mereka semua dibuat takjub setiap kali putri majikannya mengolah apapun.
“Iya, Mah. Kemarin bilangnya agak sorean,” jawab Alea. Suaminya memang sedang ada jadwal terbang. Pria itu pergi seminggu yang lalu, dan akan pulang hari ini.
Walaupun hanya pergi satu minggu, Alea rasa prianya itu sudah sangat merindukan rumah. Tidak ada satu menit pun pria itu lewatkan ketika memiliki waktu luang. Ia pasti akan mengubungi sang istri dan bertanya soal banyak hal. Alea juga merindukan suaminya, terlebih lagi tiga jabang bayi yang sudah aktif menendang di dalam perutnya. Jika malam tiba, tiga jabang bayi di dalam perutnya akan aktif menendang-nendang. Itu bisa menjadi karena mereka merindukan suara baba nya yang biasa melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an sebelum tidur.
Satu minggu ini Alea jadi istri mandiri yang apa-apa melakukan seorang diri. Toh, kehamilan pertama nya ini tidak rewel, dikarenakan ia tidak mengalami gejala-gejala kehamilan pada umumnya. Mengingat sang suami lah yang mengalami gejala-gejala tersebut.
“Mamah mau kirim makan siang ke Papah?”
__ADS_1
“Iya,” jawab Airra yang baru saja mengambil satu set Tupperware. “Barusan Papah telepon, minta Mamah kirim makan siang karena Papah tidak bisa pulang.”
Alea mengangguk seraya melipir ke arah water dispenser. Ia baru selesai baking, kemudian langsung melaksanakan salat Dzuhur. Semua roll cake yang ia buat sudah dipacking dengan rapih dan cantik, tinggal dikirim ke alamat tujuan.
Alea juga sudah bisa beristirahat barang sejenak, sambil mengisi perut supaya kebutuhan asupan gizi tiga buah hatinya terpenuhi. Sebentar lagi sang suami juga akan kembali.
“Eh, ini air dari mana?" gumam Aurra. "Hati-hati, Nak. Ada air di lantai, takutnya kamu kepeleset,” pesan sang ibu. Mewanti-wanti. Sebab ia melihat ada ceceran air di atas lantai.
“Air? Aku barusan tidak menumpahkan air, Mah.”
“Bukan kamu, mungkin Mbak,” sahut Airra. “Kamu hati-hati saja jalan….” Kalimat wanita itu terpotong saat melihat dari masa sumber ceceran air tersebut. “Alea, sayang.”
“Iya, Mah?”
“Ketuban kamu….”
Alea mengelus perutnya yang sangat buncit. Karena kondisi tersebut, ia sukar untuk melihat ke bawah. Namun, ia baru sadar jika ada yang merembes melewati betisnya.
“Kamu mau lahiran, Nak!” seru Airra, mulai panik. Namun, sedetik kemudian wanita yang berprofesi sebagai lawyer senior itu langsung menenangkan dirinya sendiri. “Kita berangkat ke rumah sakit sekarang. Mamah telepon Papah dulu.”
Alea mengangguk seraya berpegangan pada sandaran kursi. Ia pikir rasa mulas yang datang dan pergi semenjak kemarin adalah kontraksi palsu seperti biasa. Ternyata kali ini benar, para buah hatinya akan segera lahir ke dunia. Padahal menurut HPL atau hari perkiraan lahir, para buah hatinya akan lahir dua minggu lagi. Untung saja semua kebutuhan untuk persalinan Alea sudah disiapkan dalam sebuah koper. Jadi ketika Alea mengalami kontraksi, mereka bisa langsung berangkat ke rumah sakit terdekat.
Orang pertama yang tentu saja Azar Radityan. Pria itu kedapatan tengah menunggu kedatangan sang istri. Saat istrinya menghubungi, tanpa pikir panjang ayah satu anak itu langsung bergegas meninggalkan kantor. Ia panik bukan main setelah mendengar putrinya akan segera melahirkan.
Alea menggelengkan kepala seraya bergumam, membaca istighfar dengan suara lirih kala rasa sakit kembali datang melilit.
“Ya Rabb, semoga Nathan bisa segera menyelesaikan pekerjaannya, supaya bisa menemani proses persalinan Alea,” gumam Airra seraya terus memberikan instruksi pada sang putri untuk mengatur pernapasan dengan baik.
Untungnya Alea tenang. Ia bisa dengan baik mengatur emosi, sehingga tidak panik seperti kebanyakan ibu hamil yang sedang kontraksi. Setibanya di rumah sakit, Alea langsung disambut oleh bed dorong. Anzar, sang ayah juga ternyata sudah tiba di lokasi. Tergambar jelas raut cemas di wajah pria tersebut.
“Alea, kamu harus tenang, oke? Ada Papah dan Mamah di sini.” Sebisa mungkin Anzar memberikan support pada sang putri, sebelum buah hatinya itu dimasukkan ke dalam ruangan. “Kamu pasti bisa, sayang. Kamu tidak sendirian di dalam sana. Ingat, Allah Azza Wajalla selalu bersama umat-Nya.”
Alea mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Tampak sekali jika ia tengah berusaha menahan rasa sakit yang bertandang. Hari ini benar-benar tidak disangka akan menjadi hari kelahiran para buah hatinya. Hari jum’at. Sayyidina Ayyam. Rajanya hari, hari paling agung.
Dalam Al-Qur’an, surat Al-jumuah ayat delapan sampai Sembilan juga telah Allah Subhanahu wa ta’ala jelaskan bahwa hari jum’at mempunyai keistimewaan dibanding hari-hari yang lain. Dalam hadist Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah, Rasulullah juga menyebutkan bahwa hari jum’at adalah hari hubungan dan perkawinan. Nah, pada Sayyidul Ayyam kali ini akan lahir buah hati dari hasil pernikahan Nathan dan Alea.
“Nathan masih belum bisa dihubungi, Mas?” tanya Airra.
“Belum. Kalau orang tuanya sudah bisa dihubungi. Mereka sedang dalam perjalanan,” jawab Anzar. “Kemungkinan pesawat yang Nathan kemungkinan mengalami delayed.”
“Ya Rabb. Lalu bagaimana dengan putri kita? Siapa yang akan menemaninya selama proses persalinan?”
__ADS_1
Anzar menghela napas kecil. Nathan tidak dapat dihubungi jika masih mengudara. Sedangkan jadwal kepulangannya agak sore. Saat ini masih sekitar pukul satu, siang hari. Sedangkan di dalam sana sang istri sedang berjuang hidup dan mati. Anzar bisa saja menemani. Namun, ia masih punya trauma dengan ruang bersalin. Mengingat dulu, terakhir kali ia masuk ruang bersalin saat adik Alea gagal dipertahankan.
“Kita do’akan yang terbaik untuk Alea dan calon cucu-cucu kita, sayang.”
Airra mengangguk tipis. Sejak tadi pun ia tidak berhenti-henti mendoakan keselamatan putri serta calon cucu-cucu nya. Begitu pula dengan keselamatan menantunya.
“Pembukaannya belum lengkap, jadi persalinan masih belum bisa dilakukan.”
Informasi tersebut diterangkan oleh dokter wanita yang keluar dari ruangan tempat Alea dirawat semenjak tiga puluh menit yang lalu. Pembukaan belum lengkap, itu berarti jalan lahir bagi para cucu Anzar belum sempurna. Jika pembukaan sudah lengkap, baru proses melahirkan secara normal bisa berlangsung.
Alea sempat ditawari melahirkan dengan metode operasi Caesar, mengingat ia akan melahirkan 3 bayi. Namun ide tersebut ditolak mentah-mentah oleh Alea sendiri. Ia tetap ingin melahirkan secara normal dan merasakan kodrat perempuan yang sesungguhnya. Toh, kondisi kesehatannya juga memungkinkan. Kecuali jika memang ada kondisi yang mengharuskan untuk melakukan Caesar.
“Astagfirullah haladzim,” lirih Alea kala rasa nyeri itu kembali datang dengan hebat. Saat ini masih ada kedua orang tuanya yang menemani. Namun, entah dengan nanti.
Bohong jika Alea tidak takut menghadapi proses persalinan. Ia gugup juga kikuk. Ditambah lagi tidak ada sang kekasih hati yang dapat menemani. Namun, Alea berusaha tegar. Mungkin sudah nasib para buah hatinya, lahir tanpa didampingi ayah mereka.
“Kalian jangan rewel, ya. Nggak apa-apa kalau tidak ada Baba menemani perjuangan kita. Masih ada Kakek dan Nenek,” lirih Alea seraya mengelus perutnya yang sangat buncit.
Menjelang waktu salat Ashar, pembukaan sudah lengkap dan Alea siap melakukan proses persalinan. Ia akan masuk tanpa didampingi oleh siapa pun, atas dasar permintaannya sendiri. Sang suami masih belum bisa dihubungi, namun informasi mengenai persalinan Alea telah diberitahukan lewat pesan singkat dan pesan suara.
Padahal Alea diam-diam menyimpan harapan besar, yaitu dapat ditemani sang suami saat melahirkan buah cinta pertama mereka. Namun, apalah daya. Semua sudah ada yang mengatur. Sang suami mungkin masih berjibaku dibalik flight deck, menghantarkan banyak penumpang hingga selamat sampai tujuan. Sedangkan di sini, ia akan berusaha melahirkan buah hati mereka dengan mandiri.
Akan tetapi, sebelum pintu ruang persalinan berhasil ditutup rapat, Alea masih bisa melihat siluet yang begitu familiar melewati celah pintu. Dengan langkah lebar, siluet yang menggunakan APD steril berwarna hijau itu berjalan mendekat ke arah hospital bed yang Alea gunakan.
Semakin dekat, semakin Alea bisa mengenali aroma khas milik suaminya. Bersamaan dengan itu, air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk mata jatuh tak terbendung.
"Mas," panggilnya tanpa keraguan.
Lelaki itu mengangguk, lantas merunduk. Mendekatkan wajahnya.
Cup!
“Maaf, aku datang terlambat, Zaujati (istriku).”
✈️✈️
TBC
Semoga suka 😘
Jadi rate bintang 5 🌟, like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon 💐💐
__ADS_1
Sumber : buku Tintin Rayner Home Baking
Tanggerang 29-12-22