Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
Awal kisah •Cerita Masa Kecil •


__ADS_3

~ Tiga belas tahun yang lalu ~


Hari sudah mulai menjelang pagi, burung-burung mulai berkicauan dengan merdunya, embun pagi yang telihat menutupi jalanan.


Hari yang telah di tunggu-tunggu oleh Indah akhirnya tiba. Di mana hari ini adalah hari pertama Indah masuk sekolah. Indah merasa sangat bahagia karena akhirnya ia bisa bersekolah seperti teman-temannya yang lain.



Cahaya Permata Indah, yang biasa di panggil Indah, ia gadis kecil yang cantik dan rupawan, Indah termasuk anak yang sangat ceria, Ia anak yang mandiri dan tidak cengeng.


...🌼🌼🌼...


Indah mulai melangkahkan kaki kecilnya menuju ke sekolah bersama dengan ibunya, di sepanjang jalan Indah terus mengandeng tangan ibunya, sembari menyanyikan lagu-lagu favoritnya diiringi dengan tarian-tarian kecil yang di lakukan olehnya.


Indah terlihat sangat bahagia senyum manis terukir indah di bibirnya yang tipis dan berwarna merah muda, matanya terus memandang ke sana kemari.


"Ibu, aku merasa sangat senang saat ini, akhirnya aku bisa sekolah," ujar indah sembari menatap ke arah ibunya, dengan tatapan matanya yang polos dan senyuman manis yang terukir di bibirnya.


"Benarkah, syukurlah jika Indah merasa senang" jawab ibunya sembari menatap ke arah Indah dengan tersenyum.


"Aku akan belajar dengan rajin, aku ingin menjadi orang yang pintar" ucap Indah.


"Hmm, iya, Indah memang harus menjadi orang yang pintar," lanjut jawab ibunya sembari mengusap-usap kepala Indah.


Setelah sekian lama perjalanan akhirnya Indah dan ibunya tiba di sekolah, indah merasa sangat senang setelah ia tiba di sekolahnya, ia mulai mengagumi sekolahnya yang besar dan berwarna warni.


"Waahh, Ibu ini sangat indah, aku sangat menyukai sekolah ini" serunya, dengan senyuman yang lebar sehingga memperlihatkan gigi-gigi kecilnya yang putih.


"Baiklah, ayo kita masuk ke dalam kelasmu."ajak ibu, dengan melangkahkan kakinya secara perlahan.


Indah mulai masuk ke dalam kelasnya dengan langkah kakinya secara perlahan, ia terlihat sangat gugup dan sedikit takut sesekali ia melirik ke arah ibunya.


"Tidak apa-apa, jangan takut, duduklah ibu akan menunggumu di sini," ucap ibunya dari kejahuan.


Indah terus melangkahkan kakinya menuju ke arah meja yang tepat berada di samping jendela. Indah memutuskan untuk duduk di sana.


Hari-hari terus berlalu begitu saja, indah telihat sangat bahagia seperti biasanya.


~ Dua minggu kemudian ~


Terlihat ibu dan ayah Indah sedang bersedih.

__ADS_1


Ibu indah yang duduk di atas kasur sambil menangis menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, dan ayahnya yang berdiri tepat di depan jendela kaca, sambil termenung melihat ke arah luar jendela.


"Kita harus bagaimana sekarang? apa yang harus kita lakukan" tanya ibunya Indah, sambil menangis menatap ke arah suaminya.


"Maafkan ayah, karena belum bisa menjadi suami yang baik dan ayah yang baik untuk anak-anak kita" berjalan mendekati istrinya. Lalu, memeluk istrinya dengan erat dan air matanya yang tiba-tiba mengalir secara perlahan.


"Maafkan ayah, maafkan ayah" kata ayahnya Indah beberapa kali, sambil memeluk dan menepuk-nepuk bahu istrinya yang sedang menangis .


"Bagaimana dengan Indah, apa kita harus meninggalkannya, tetapi dia masih sangat kecil," tanya ibunya Indah, kepada suaminya itu sambil melepaskan pelukannya.


"Kita tidak mungkin bisa membawa Indah, karena Indah harus tetap bersekolah apa pun yang terjadi, Indah tidak boleh putus sekolah" tegas ayah Indah. Lalu berdiri dari tempat duduknya.


Rasa sedih semakin menyelimuti mereka berdua saat ini, karena dengan berat hati harus meninggalkan putri kecil kesayangannya itu sendiri.


Dengan perlahan ibunya mulai menghampiri indah yang sedang asik belajar di kamarnya.


"Ada apa Ibu? "tanya indah.


Ibunya hanya bisa diam tanpa satu kata apa pun.


"Kenapa ibu diam saja," lanjut tanya Indah dengan penasaran.


"Indah" panggil ibunya dengan pelan.


"Ibu dan ayah akan pergi sebentar untuk mencari uang yang banyak, jika uangnya sudah terkumpul banyak ibu dan ayah akan pulang menjemput Indah," kata ibunya yang sedang duduk di samping indah, dengan sangat berat hati untuk mengatakannya.


Indah yang mendengar hal itu hanya bisa terdiam, tanpa satu kata apa pun yang keluar dari mulutnya.


"Ibu berjanji akan menjemput Indah," Ucap ibunya berusaha menghibur Indah.


Indah tetap terdiam dan tidak bisa berkata-kata, Ia merasa sangat sedih dan sangat ingin sekali menagis, tetapi dia tidak ingin membuat ibunya bersedih dan merasa khawatir pada dirinya.


"Baik, tapi berjanjilah Ibu akan kembali secepatnya!" ucap indah dengan berat hatinya.


"Iya ibu berjanji akan kembali secepatnya." jawab ibunya dengan berat hati.


...🌼🌼🌼...


Belum lama ini Usaha ayahnya Indah mengalami kebangkrutan, karena di tipu oleh rekan kerjanya sendiri, yang membuat ayahnya harus merelakan usahanya, dan terlilit banyak hutang.


Dengan terpaksa ayahnya harus merantau untuk mencari uang agar bisa membayar hutang-hutangnya, dan dengan berat hati harus meninggalkan Indah, dengan kakak perempuan Indah yang pertama.

__ADS_1


Jadi, mau tidak mau Indah terpaksa harus tinggal bersama kakak perempuannya, yang tidak pernah perduli kepada Indah.


~Malam terakhir Indah bersama ibunya~


Saat ini malam terakhir Indah tidur di samping ibunya, dengan matanya yang tetap terjaga ia terus memandagi wajah ibunya sepanjang malam. Ia terus saja memperhatikan kerutan-kerutan di wajah ibunya. Ibunya sudah terlihat semakin nampak tua dan kerutan-kerutan di pipi ibunya terlihat semakin bertambah banyak setiap harinya.


"Ya, Tuhan, panjangkan usia ibuku, jagalah kesehatannya dan berilah aku kesempatan untuk membahagiakannya suatu saat nanti," doa Indah dalam hati.


Dengan mata yang sudah di penuhi oleh air mata yang siap mengalir dengan derasnya.


~Sampai tiba hari di mana ibu dan ayahnya harus pergi~


Indah terus memeluk ibunya dengan erat.


"Berjanjilah ibu akan cepat pulang dan menjemputku di sini," ucapnya perlahan melepaskan pelukanya.


"Iya, ibu berjanji akan cepat pulang dan menjemput Indah." jawab ibunya, yang terlihat sangat sedih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Perlahan ibu dan ayahnya mulai melangkahkan kakinya menuju ke dalam mobil.


"Da, cepetlah kembali, aku akan selalu menanti kepulangan kalian," teriak Indah dari kejauhan.


Dengan lambaian-lambaian tangannya kepada kedua orang tuanya, yang sedang berjalan meninggalkannya. Tiba-tiba Ia mulai merasa sedih matanya mulai berkaca-kaca, Indah terus memandangi kedua orang tuannya dari kejauhan.


Sesaat setelah kedua orang tuanya sudah tidak terlihat lagi dari pandangan matanya. Indah mulai menangis air matanya pun mulai mengalir dengan derasnya, dengan kakinya yang kecil dia berusaha mengejar kedua orang tuannya.


Namun apalah daya kedua orang tuanya sudah pergi jauh meninggalkannya. Tangisannya menjadi semakin kuat air mata terus mengalir dari pipinya. Rasa rindu mulai menyelimuti, dunianya seolah-olah berhenti berputar, senyum manis di bibirnya tiba-tiba menghilang begitu saja, canda dan tawanya seakan-akan Sirna.


~Enam Tahun kemudian~


Tahun-tahun berlalu begitu saja setelah orang tuannya pergi meninggalkan dirinya. Indah pun tumbuh menjadi anak yang dingin.


"Indaaaahhhhh!" teriak kakak perempuannya, dengan nada yang keras.


"Iya, ada apa?" jawabnya sambil melangkah menuju ke arah kakaknya.


"Kau ini lama sekali," ucap kakaknya dengan kesal.


"Cepat cucikan bajuku!" perintahya.


"Baiklah," sambil meraih bajunya. Lalu, bergegas mencucinya.

__ADS_1


...🌼🌼🌼🌼🌼...


__ADS_2