Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
aku minta maaf


__ADS_3

Keempat orang itu nampak duduk di gazebo yang ada ditaman belakang rumah Yandi dan Nayra dibagian belakang agak menyamping.


Kris nampak memeluk bahu Bunga dengan sesekali mengelus perut Bunga sang istri yang sudah terlihat membuncit, sedang Yandi...pria jangkung itu nampak duduk di belakang sang istri sembari kedua tangannya melingkar di perut Nayra dari belakang dan dagu di pundak sang istri.


Sungguh kebahagiaan seakan tengah menyelimuti keempat orang pasangan halal itu. Sesekali terdengar gelak tawa dari mereka yang menunjukkan jika mereka sedang terlibat gurauan.


" duduk sini lah yan...." ajak Nayra lembut agar Yandi mau duduk di sebelahnya dan tidak menempel seperti cicak padanya, tapi nihil, ajakannya yang terucap dengan lembut di jawab dengan gelengan dari pria itu.


" dasar posesif...tu badan kamu segede gambreng kali yan, keberetan bini mu nopang badan kamu itu" omel Bunga pada Yandi dan di jawab dengan mencebikkan mulutnya sambil menye menye persis anak kecil yang tak terima di katai temannya.


" mana ada....gak kan sayang, aku kan cuma meluk kamu doang bukan sandaran sama kamu kan ya.." jawab Yandi kemudian membela diri sendiri karena melihat Bunga dan Kris menatapnya tajam.


Nayra tersenyum sambil mengelus rambut sang suami yang ada di pundakknya.


" sudah aku bilangkan Nga....dia ngambil start manja duluan dari pada aku " jawab Nayra dan du sambut tawa renyah Bunga dan Kris


" itung itung kamu lagi privat ngrawat bayi sebelum bayi kamu benar benar lahir Nay..." sambung Bunga di sambut gelak tawa Nayra dan Kris, namun berbeda dengan Yandi yang menyambut kata kata Bunga itu dengan mencebikkan bibirnya.


" sirik lo....iri bilang buk " omel Yandi dengan menduselkan wajahnya pada tengkuk Nayra yang tertutup hijab.


" ogah....dasar gak tau tempat " jawab Bunga jengah dan Kris yang menggeleng gelengkan kepalanya.


" yan...malu ih..." omel Nayra


" biarin...kalo pengen biar mereka pulang aja " jawab Yandi ngasal.


" maklum manten kadaluarsa dan expaired " jawab Kris kemudian yang di jawab Yandi dengan hantaman bantal bertubi tubi namun bisa di tangkis oleh suami Bunga tersebut.


Tak berapa lama kemudia nampak bik sumi melangkah mendekat kearah mereka berempat dengan setengah tergopo gopoh.


" tuan muda..ada tamu di depan mencari anda juga nona Nayra " beri tahu bik sumi pada Yandi dan Nayra dengan wajah penuh kekhawatiran dan juga kebingungan.


Nayra cukup mampu menangkap gelagat wanita tua itu. Ia mengerutkan keningnya sejenak.


Seoalah paham dengan kegundahan wanita tua itu, Nayra segera berdiri.

__ADS_1


" ada apa bik sumi ?! " tanya nya lembut ketika keduanya dalam jarak yang sudah dekat.


" maaf nona..saya sudah berusaha melarangnya, tapi...dia wanita hamil nona, saya tidak tega. Dia memaksa ingin bertemu nona dan juga tuan muda Yan.


Mendengar ucapan bik sumi giliran Yandi juga Kris dan Bunga yang kini mengerutkan kening.


Yandi kemudian melangkah mendekat.


" kamu disini saja sayang, biar aku lihat siapa yang datang " ucap Yandi


" aku ikut " Kris ikut berucap.


" tidak Yan...kau dengarkan yang dikatakan bi Sumi, dia mencari kita berdua dan lagi dia sedang hamil " pinta Nayra.


" kau meragukan aku sayang..aku sungguh tidak pernah menyentuh wanita manapun selain kamu " kini Yandi terlihat panik. Entah mengapa mendengar wanita hamil mencarinya ia menjadi horor tiba tiba.


Nayra tersenyum lembut pada Yandi kemudian mendekat dan menggandeng lengan pria tampan nan jangkung itu.


" aku percaya...ayo kita temui sama sama " ucap Nayra menenangkan sang suami, Yandi menuruti uapan sang istri.


Sesampainya mereka di sana mata Yandi melebar sempurna tak percaya, wajahnya seketika berubah masam dan tak suka.


Seorang wanita cantik yang telah mengacaukan hidupnya dan juga berhasil memisahkannya dari sang istri selama tiga tahun lamanya.


Wajah yang sangat tidak ingin ia lihat ataupun ia temui. Kini dia berdiri di hadapannya. Di dalam rumahnya bersama seorang pria yang terlihat menggandeng mesra wanita itu.


Pria yang ia tahu adalah asisten rivalnya, William Edgar.


Wanita yang terlihat sedang hamil itu terlihat tiba tiba memucat. Tubuhnya bergetar. Bulir bulir keringat terlihat mengalir begitu saja di keningnya. Dan seakan paham dengan yang terjadi pada sang wanita, pria itu mengelus lembut punggung tangan wanita itu.


" jangan khawatir, kita hanya perlu mencoba. Aku bersamamu " hibur pria itu denga suara pelan namun terdengar lembut dan hangat ditelinga wanita itu.


" presdir Yan....mohon berkenan meluangkan sedikit waktu untuk kami " pria itu berucap sesopan mungkin dan selembut mungkin.


Yandi akui, asisten William Edgar ini memanglah pria yang sopan. Keduanya hampir tak pernah bersinggungan sedikitpun meski sang majikan adalah rival.

__ADS_1


 Namun tetap saja Yandi menatap tak bersahabat pada kedua orang di hadapannya itu.


" Zack...." tiba tiba Yandi berteriak memanggil Zack.


Nayra menyentuh lengan sang suami kemudian mengelusnya lembut.


" duduk lah tuan Jacob, Maritha...." kata Nayra kemudian sembari mengajak sang suami melangkah kearah sofa besar melingkar yang ada di ruangan itu. Kemudian diikuti Kris dan Bunga yang juga turut duduk di sofa itu.


Zack dan Lee yang mendengar teriakan Yandi baru saja masuk dan memilih berdiri di ambang pintu untuk bersiapa kalau kalau terjadi sesuatu yang tak di inginkan.


" berdiri terlalu lama sangatlah tidak baik untuk wanita hamil seperti kamu Maritha " kembali Nayra bersuara ketika ia melihat Maritha masih setia berdiri di tempatnya, begitupun dengan Jacob.


Tiba tiba Maritha bersimpuh dan menunduk di hadapan Nayra dan Yandi yang tengah duduk berdampingan di atas sofa.


Nayra nampak terkejut, namun berbeda dengan Yandi. Ia justru melemparkan pandangannya ketempat lain dengan tatapan mata jengah.


" maafkan aku....maafkan aku " kata kata pertama yang terucap dari mulut wanita hamil yang tengah bersimpuh itu. Dan terdengar di ulang ulangnya beberapa kali.


" tidak Maritha...bangunlah, jangan seperti ini " tolak Nayra sambil memegang kedua bahu Maritha hendak memintanya berdiri namun di tolak oleh wanita itu.


" tidak Nayra...aku mohon maafkan aku, aku tidak bisa tenang menjalani kehamilanku ini sebelum kalian benar benar memaafkan aku..." Maritha mulai terdengar sesenggukan. Nayra terdiam membisu.


" kau kehilangan bayimu di saat kau belum menyadari kehadirannya waktu itu. Akupun turut andil dalam perkara itu " lanjut Maritha lagi.


Yandi nampak mengepalkan tangannya erat. Wajah Jacob terlihat pias, kebingungan juga khawatir.


Bagaimanapun juga ini adalah permintaan sang istri padanya sejak awal kehamilannya. Maritha bersikeras meminta diantarkan bertemu dengan Yandi dan Nayra atau setidaknya dengan Nayra untuk meminta maaf.


Maritha sungguh di hantui rasa bersalah yang teramat sangat, apalagi ketika ia dinyatakan hamil.


Bayangan demi bayangan Nayra yang terkapar bersimbah darah di area kaki bawahnya membuatnya ketakutan tak terkira. Ia takut mengalami hal yang sama dengan Nayra. Kehilangan bayinya.


" aku mohon Nayra..." pinta Maritha terdengar sangat pilu.


" hari hari ku selalu dalam ketakutan, aku stres...aku sangat takut kehilangan anak ini " sambung Maritha lagi.

__ADS_1


__ADS_2