Cinta Gadis Dingin

Cinta Gadis Dingin
sedikit terkuak


__ADS_3

Liam segera masuk ke dalam ruangan meski ia merasakan ketegangan disana.


" maaf kakak ipar..." Nayra yang telah menguasai kesadarannya lebih dulu mempersilahkan liam sembari berjalan menuju sofa, dimana disana telah ada Edo dan Kenan juga laptop mereka masing masing.


" ada apa ini sebenarnya...kenapa kalian semua.......?! " liam tak meneruskan kata katanya tapi menatap satu persatu mereka yang ada di sana. Kris dan Edo ia tahu mereka orang orang setia Yandi, dan sudah barang tentu kini mereka akan setia pada istrinya.


Tapi Kenan, dia cukup tahu Kenan orang yang cukup misterius. Namun kemudian ia tetap duduk di antara mereka.


" ada yang mencoba meretas data perusahaan kakak ipar, dan itu atas perintah mu..." kata Nayra membuat kening Liam mengkerut tak percaya dengan yang ia dengar.


Kenan berpindah kesisi Liam dengan tanpa bicara ia menunjukkan laptopnya pada liam dan Liam cukup paham itu. Itu terjadi beberapa hari yang lalu jika di lihat dari waktu yang tertera di sana. Dan itu adalah jejak jejak peretasan sebuah data dengan memasukkan virus kedalam data data perusahaan yang terlindungi dan yang diamankan.


Kemudian Edo pun mendekatinya dan menunjukkan hal yang sama dengan Kenan kepada Liam. Tapi bedanya..pada layar laptop Edo menampilkan seorang pria yang tengah tak berdaya terikat di sebuah kursi kayu di sebuah ruangan. Lengakap dengan wajah yang sudah babak belur yang cukup membuat Liam bergidik ngeri.


Ketika loudspeacker terdengan pria itu menyebut namanya sebagai seseorang yang memerintahkannya melakukan peretasan pada data data Ar.Co.


" apa apaan ini..aku tidak pernah mengenal pria itu, aku tidak pernah bertemu dengannya aku juga tidak pernah memerintahkan apapun pada siapapun..." Liam merah padam.


Selama ini memang dia tak pernah memerintah orang lain untuk melakukan rencanya tapi cenderung melakukannya sendiri dengan di dampingi orang orang kesetiannya. Liam juga memiliki pengaruh yang cukup besar dan memiliki perusahaan yang besar juga yang bergerak di bidang minyak sawit dan masih banyak yang lain. Maka tidak heran jika kemana mana ia juga selalu di kawal oleh orang orang kesetiannya.


" kami tahu itu tuan muda...kami sudah membuktikannya, masalahnya adalah kami kesulitan menemukan siapa sebenarnya dalang yang memakai namamu..." Edo menjelaskan dengan wajah yang rumit ketika bicara dengan pria tampan berdarah Tionghoa itu.


" saham milikmu sebesar 15% di Ar.co berhasil di jual kepada pihak luar jika saja kami terlambat mengetahuinya.." kali ini Kenan menjelaskan. Liam menatap Nayra dan juga Kris yang kini duduk berdampingan di hadapannya.


" Liam...ada yang berusaha menghancurkan Ar.co dengan memakai namamu, dan orang orang itu sungguh lihai menyembunyikan jati diri mereka " Kris ikut bicara. Ia tahu permasalahan antara Yandi dan suami kakaknya itu, namun ia tak tahu benar pokoknya apa.


" tunggu...saham 15%, atas namaku hendak di lelang maksudmu..lalu sejak kapan aku punya saham di Ar.co sebesar itu. Ini perusahaan bagian Yandi aku tak punya hak disini.." Liam mengungkapkan pikirannya.

__ADS_1


" papa yang memberikannya padamu...itu adalah hak orang tuamu di masa lalu sejak lama..." jawaban Nayra seakan menampar dengan telak wajah Liam. Om nya Tama mengatakan Wirahadi Aditya Rachman mencuri semua aset milik sang papa dan menguasainya sendiri.


Sungguh kini kenyataan tak sesuai dengan yang dia dengar ketika Kris menyerahkan sebuah berkas berisi kepemilikan saham akan Ar.co kepada dirinya.


Ia menatap lekat lekat berkas berkas yang kini ia pegang. Semua nyata


Lalu...apa yang sudah ia dengar selama ini. Apa yang sudah di curi Wirhahadi Aditya Rachman dari papanya jika semua bukti kepemilikan adalah tetap atas nama papanya. Lian Tjahja Sasmitra.


Mata Liam memerah, ia mulai meragukan kisah yang mengatakan sang papa yang di bunuh oleh sahabatnya sendiri melalui drama kecelakaan karena ingin memiliki usaha yang telah mereka rintis bersama sendirian, hingga karena tragedi itu sang mama menjadi trauma dan membuatnya hampir kehilangan akal sehat karena melihat dengan mata kepalanya sendiri sang suami terkapar di jalan raya. Dan hingga kini sang mama lupa dengan hampir setengah ingatannya di masa lalu.


Sebenarnya bukan penguasaan atas aset yang berusaha di balaskan kepada keluarga Aditya Rachman. Sungguh nilai aset itu tidak ada apa apanya bahkan meski hanya sepucuknya saja dari miliknya.


Namun sungguh semata mata karena ia ingin membalas dendam akan kematian papanya yang juga menyebabkan sang mama kehilangan setengah dari ingatannya. Tapi Liam terlihat masih enggan untuk mengungkap larar belakang tindakannya selama ini.


" ada yang tidak beres...aku akan segera mencari tahu.." pikirnya dalam hati, ia masih belum bisa mempercayai Nayra dan antek anteknya sekarang ini. Ia akan membahasnya lebih dulu pada sang paman.


" dia baik baik saja...ya aku tahu, aku akan mencari tahu sendiri.." jawab Liam kemudian. Pikiranya masih terganggu dengan apa yang baru saja ia tahu.


" jangan tahan lama lama nona laura...." kali ini Edo berkata kata dengan sarkas membuat Liam menoleh tak suka padanya


" siapa yang menahan siapa....jaga bicaramu, dia istriku. Aku berhak membawanya bersamaku kemanapun aku mau.." jawab Liam dengan cepat dan tatapan tajam tak bersahabat pada Edo.


Begitupun Edo, ia balik menatap Liam dengan tatapan mata yang menantang pula. Kembali suasana yang baru saja terasa kondusif menjadi menegang kembali.


" kau ...aku ingat kau selalu saja ikut campur urusan istriku. berhenti ingin tahu urusannya....." kali ini Liam hendak maju merangsek kearah Edo jika saja Kenan tak cepat cepat menghalanginya.


Liam ingat beberapa kali Edo menatap Laura dengan tatapan seorang pria yang tentu saja juga ia pahami. Beberapa kali pula orang kesetiaan Yandi ini ikut campur akan urusannya dengan Laura.

__ADS_1


Edo yang tetap berdiri tegak di tempatnya sama sekali tak terlihat gentar sedikitpun bahkan ia seakan sengaja menunggu Liam datang padanya.


" Liam kendalikan emosimu....." Kris berusaha mengingatkan Liam yang terus berontak dalam cekalan Kenan,


" tidak akan...lepaskan aku, kali ini tidak akan aku lepaskan dia. Akan kuhajar dia...." teriaknya seakan mendapat pelampiasan akan kesemrawutan otaknya saat ini, hingga sebuah suara seketika menghentikan pergerakannya dan membuat atensi perhatiannya berpindah dari Edo kearah sumber suara.


" apakah aku mengganggu...?! " suara yang begitu indah ditelinga Liam juga Edo.


Dari balik pintu yang terbuka masuklah seorang wanita cantik dengan mengenakan rok pendek diatas lutut dipadukan dengan the shirt warna soft dan cukup melukiskan lekuk tubuhnya juga kaki jenjangnya yang memakai high hels membuat siapa saja pria yang melihatnya susah payah hanya karena ingin menelan ludah.


Liam seketika melotot sembari melompat kearah wanita itu kemudian ia nampak melepaskan jaznya dan menutupi tubuh laura. Ya wanita seksi itu adalah laura.


Nayra berhasil mengirim pesan pada sang kakak ipar akan keributan yang sulit di kendalikan di ruangannya. Namun tak ia sangka Laura akan datang dengan pakaian seperti itu.


Sontak penampilannya membuat Liam panas dingin karena bukan hanya ada dirinya disana.


Beberapa aaat kemudian Liam nampak menggiring sang istri keluar ruangan


" Liam aku mau bicara dengan Nayra...." rengek Laura yang di giring Liam keluar sembari mengedipkan satu matanya kearah Nayra yang masih kehilangan kesadarannya.


" nanti..ganti dulu pakaianmu, aku tidak mau mereka melihat milikku..." jawab Liam dengan keras,


ia menjadi pusing sendiri memikirkan sang istri memakai pakaian seminim itu dari rumah hingga ke ruangan ini. Ada berapa banyak pasang mata yang sudah menatap tubuh Laura. Pikiran itu sungguh membuat darahnya naik ke ubun ubun.


Apa yang sudah dia pikirkan, apa dia sudah gila dengan memakai pakaian seperti itu keluar rumah. Pasalnya yang Liam tahu laura tak pernah berpakaian tak sopan meski ia tak berhijab. decak Liam dalam hati.


" cihhhh....dasar possesif..." decih Edo membuat Nayra, Kenan juga Kris beralih menatapnya. Pasalnya mereka tak pernah mendengar kata kata yang lain dari konteks pekerjaan dari mulut seorang Edo Laksya Pradya.

__ADS_1


__ADS_2