
Renald berkali kali mencoba menghubungi Nayra namun nihil, entah mengapa ia ingin sekali mendengar penjelasan akan sesuatu padanya dari wanita itu.
Sejak hampir dua minggu yang lalu saat ia keluar dari rumah sakit ia bahkan tak pernah lagi melihatnya. Meeting terakhir membahas tentang peresmian proyek gabungan mereka yang hampir rampungpun, Nayra di wakili oleh sang assisten Bunga dan ajudannya Edo Laksya Prada. Renald melempar handphonenya ke sofa.
Jam dipergelangan tangannya masih menunjuk angaka tujuh ketika mobil yang di kendarai Renald memasuki pelataran gedung Yara.co. Dengan langkah lebar ia memasuki lobi dan segera menuju lift tanpa menghiraukan tatapan bingung para resepsionis di meja penerima tamu.
" friska...aku ingin bertemu nayra.." ucapnya pada sekeretaris Nayra yang hanya melongo melihatnya pagi pagi sudah datang apalagi langsung menuju ke ruangan sang bos.
Hal ini sungguh membuat Friska berfikir kalau berita yang beredar di dunia maya beberapa waktu terakhir belakangan ini tentang hubungan rahasia antara mereka berdua benar adanyakah...
" e e...e maaf tuan Renald, tapi nona.." kata kata Friska tak mampu menghentikan langkah Renalad yang masuk begitu saja keruangan Nayra.
" mana bos mu ?! " tanya Renald beberapa menit sekeluarnya ia dari ruangan Nayra
" maaf tuan Renald, hari ini nona tidak datang kesini. hari ini jadwal beliau di YFC " jawab Friska cepat membuat Renald mengerutkan keningnya.
" kenapa tidak bilang dari tadi.." omel Renald segera berlalu meninggalkan Friska yang sekali lagi melongo dengan membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dia dengar
" dia yang tidak mau mendengarkan aku, kenapa malah sekarang menyalahkan aku.." rutuk Friska sambil mencebikkan bibirnya.
Jarak antara Yara.Co dan Yara Fashion Colection lumayan jauh hampir satu jam perjalanan. Lampu merah menyala di perempatan, tanpa sengaja Renald menoleh kearah restauran disisi kiri jalan.
Matanya tiba tiba memerah melihat seorang wanita bercadar tengah duduk berhadapan dengan seorang pria menyantap makanan di salah satu meja di sana. Tangannya mencengkeram setir dengan sangat erat.
" bisa bisanya kau bersama pria lain sementara kau sama sekali tak berkirim kabar padaku, bahkan sekedar mengangkat telponku saja kau tidak lakukan.." desisnya menahan geram. Renald benar benar hilang akal melihat pemandangan itu. Ia sungguh tak sadar kenapa ia harus tak terima melihat wanita itu lebih memilih bersama pria lain ketimbang mengangkat telpon darinya.
Nayra baru saja nampak keluar dari lift hendak melangkah menuju ruangannya ketika Bunga menghentikan langkahnya.
" nayra.." panggil Bunga
" ya..."
" ada tuan Renald di ruanganmu.." kata Bunga
" hah..." Nayra terkejut tak percaya
" hemmm...sudah hampir satu jam dia menunggumu"
__ADS_1
" hah..." lagi lagi Nayra terkejut
" mau apa dia, kita tidak ada janjikan sama dia ? " Nayra sedikit mendekat dan berbisik pada Bunga.
" memangnya kalau ada janji mau kerjasama apa, aneh aneh saja kamu. He kamu denger ya..dia dateng dateng main nyelonong aja masuk ruangan kamu pakek wajah masam lagi, macam suami mau marah sama bininya aja.." terang Bunga
" hah..." sekali lagi Nayra melongo kebingungan.
" udah sana...selesain masalah kamu " dorong Bunga pada punduk Nayra.
" cklek " Nayra membuka pintu setelah sebelumnya ia mati matian menenangkan dirinya sendiri.
Renald yang duduk di sofa sembari memainkan hand phonenya segera mengangkat kepalanya dan menatap Nayra yang berada di ambang pintu dengan tajam.
Nayra sendiri nampak kebingungan dengan sikapnya sendiri yang sudah seperti istri yang hendak di sidang sang suami, Bunga yang melihat gelagat tak biasa dua orang itu menahan tawa.
" jadi tuan Renald, bisa anda sampaikan sekarang ada keperluan apa yang membuat anda pagi pagi sekali mencari bos saya.." sindir Bunga dengan tetap berdiri di belakang Nayra.
Sedang Nayra ia segera masuk kedalam ruangan dan menuju mejanya.
" saya minta di buatkan teh hangat tanpa gula " pinta Renald pada Bunga membuat Nayra seketika menoleh padanya
lama padanya sembari mengerutkan keningnya.
" tunggu...atas dasar apa anda meme.." Bunga tak sempat melanjutka kata katanya yang penuh emosi.
" nga...sudah, turuti kemauannya " potong Nayra dan membuat Bunga segera memutar tubuhnya sembilan puluh derajat meninggalkan ruangan itu dengan jengkel.
" jadi tuan Renald, boleh saya tahu...ada keperluan apa yang membawa anda kemari ?! " tanya Nayra sebaik mungkin
" maksud saya adalah, jika menyangkut kostum e...maksud saya pakaian untuk rencana pernikahan anda...anda tidak perlu repot repot menunggu saya, di bawah anda bisa melihat dan memilih semua koleksi kami..." Nayra mencoba memperbaiki kata katanya, karena Renald yang terus menatapnya tajam di hadapannya.
" keperluan bicara denganmu..." jawab Renald terdengar santai
" maksudnya...?! " Nayra menjadi bingung dibuatnya
" ok baiklah, kita langsung saja nona....nayra...." Renald terlihat mengambil nafas panjang
__ADS_1
" jadi begini...bagaimana mungkin kau tidak mengabarkan keadaanku sedikitpun setelah membawaku ke rumah sakit, apakah aku masih hidup apakah aku sudah mati. Kau bahkan tidak mengangkat telponku samasekali. Dan tadi apa....kau justru asyik berkencan di pagi hari " kata Renald akhirnya panjang lebar membuat Nayra membulatkan matanya.
Untuk beberapa detik matanya beberapa kali berkedip kedip, sungguh ia tak paham akan reaksi manusia dihadapannya itu.
" memang kenapa kalau dirina berkencan di pagi hari....apa urusannya dengan dia " pikir Nayra tak suka.
" jadi....bisa kau jelaskan padaku ?! " kembali Renald melontarkan pertanyaan
" ekhemmmm.." Nayra berdehem untuk menetralkan suasana yang terasa kaku.
" tuan Renald...bukan kapasitas saya memperhatikan keadaan anda, mohon maaf anda salah meminta pertanggung jawaban...seharusnya anda menanyakan ini pada nona Katania bukan saya" Nayra langsung bicara pada pokoknya, ia tak ingin berbelit belit dan lebih lama bersama orang ini, karena itu sungguh membuatnya tidak baik baik saja.
" lalu tadi pagi ?! " kali ini Renald bertanya dengan tatapannya yang tajam setajam belati
" itu hak saya..." jawab Nayra singkat membuat Renald mendengus menahan marah, sungguh ekspresi yang membuat Nayra bingung.
" aku yang sudah melihat wajahmu...seharusnya aku menikahimu...aku yang berhak atas dirimu " kata Renald kemudian terdengar seperti ultimatum bagi Nayra.
" hadee begini lagi...." pikir Nayra dalam hati.
" maaf tuan renald, anda sudah salah paham...itu hanya sebuah ketidak sengajaan " Nayra segera meluruskan keadaan karena tidak ingin ada William William selanjutnya yang mengklaim dirinya sebagai miliknya.
" apa maksudmu ?!" Renald kembali bertanya
" anda tidak perlu repot repot berpikir seperti itu, karena kenyataannya bisa saja orang lain tanpa sengaja melihat wajah saya " Nayra mencoba menjelaskan
" apa ada selain aku yang pernah melihat wajahmu ? Apa kau memang sengaja melakukannya ?! " Renald kembali bertanya dengan sedikit keras
" tentu saja..." Nayra sedikit tersulut emosi menjawab
" nayraaaaa kau...kau sadar dengan yang kau katakan ?! " kali ini Renald seakan tak mampu menahan amarah, ia bangkit dan mencengkeram dagu Nayra yang tertutup cadar.
" kau ingin seperti wanita murahan hah....dengarkan aku, jika kau berani sekali lagi menunjukkan wajahmu pada orang lain selain aku, aku bersumpah akan membunuhmu....kau camkan itu, hanya aku nayra....hanya aku " Renald berkata dengan suara yang bergetar menahan amarah, setelahnya ia berlalu meninggalkan ruangan itu dengan wajah merah padam.
Tak ia hiraukan Bunga yang berdiri di ambang pintu dengan membawa baki berisi minuman yang tadi dia minta.
" minta dia meminumnya...dan jangan lupa agar dia mencuci otaknya yang kotor itu, katakan padanya jangan sembarangan bergaul dengan sembarang orang, karena itu berdampak buruk pada kejiwaannya " ultimatumnya pada Bunga sebelum ia benar benar meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
Bunga beberapa kali nampak mengedip kedipkan matanya, sungguh ia di buat bingung dengan sikap pria itu yang tadi sempat dia lihat seakan ia mempunyai hak atas diri sahabatnya.. Nayra.
Apalagi Nayrapun nampak juga di buat syok akan sikapnya, terbukti saat ini sahabatnya itu yang nampak masih terdiam pada posisinya sejak tadi dan tak bergerak sedikitpun.