
Maritha terus merangsek maju hendak memeluk Yandi yang juga terus memundurkan dirinya tiba-tiba terhenti karena Nayra yang tiba-tiba juga berdiri di hadapannya.
"Minggir lah… aku tidak ada urusannya denganmu," sentak Maritha.
"Bicaralah dengan biasa saja tanpa memeluknya. Tidakkah kau merasa dia risih kau perlakukan seperti itu?" tegur Nayra.
"Tahu apa kau. Kau baru mengenalnya. Kami sudah bersama bertahun-tahun. Hal seperti ini sudah biasa bagi kami…" jawab Maritha.
"Biasa bagimu, tapi tidak baginya," jawab Nayra tak kalah ketus, karena ia bisa melihat reaksi Yandi yang terkejut dan risih karena tindakan Maritha barusan.
Nayra bisa melihat Yandi termasuk pria yang cukup menjaga martabatnya sebagai seorang Muslim.
"Kau… kau tak punya hak melarang-larangku…"
"Aku punya hak. Aku calon istrinya," jawab Nayra dengan santai, membuat Yandi yang mendengarnya menyunggingkan senyum.
"Kau…!!" tuding Maritha.
"Jangan merendahkan harga dirimu begitu saja, Maritha. Kau wanita yang sangat cantik dan berpendidikan tinggi. Aku tahu kalian sudah bersahabat sangat lama. Aku mengerti keterikatan emosi pada diri kalian, tapi interaksi fisik tetap tidak dibenarkan dalam agama kita…" ujar Nayra dengan bijak.
__ADS_1
"Jaga mulutmu, wanita sok alim… kau tidak tahu apa-apa tentang kami. Kami sangat dekat, jauh sangat dekat, lebih dari yang kau bayangkan…" Maritha sungguh emosi.
"Kami bahkan telah berbagi semua yang kami miliki… "
"Apa maksudmu, Tha…?!" kali ini Yandi yang berucap dengan suara agak keras.
"Maafkan aku, Yan. Aku harus mengatakan semuanya pada wanita tidak tahu diri ini tentang kita…"
"Jangan omong kosong, tidak pernah ada tentang kita…"
"Teganya kau katakan ini padaku, Yan… Kau tahu aku sangat mencintaimu. Aku selalu ada untukmu, di manapun bahkan kapanpun… Lalu hanya karena wanita ini kau perlakukan aku seperti ini, Yan," kata Maritha dengan sedih.
"Tidak, Yan… Aku tidak mau hanya menjadi sahabatmu… Aku ingin menjadi kekasihmu…"
"Cukup, Tha.. Hentikan semua tingkah konyolmu itu. Jangan kau pikir aku tidak tahu dengan apa yang sudah kau lakukan padaku dan bunga di belakangku, hanya karena aku menganggap kau sahabat terbaikku, aku memaklumimu, tapi tidak dengan Nayra…"
"Aku tahu kau juga melakukan hal sama yang membuat ia semakin jauh dariku dan berpikir yang tidak-tidak tentangku. Sekali lagi aku diam karena kau adalah sahabatku, tapi tidak dengan sekarang… Dia hidupku. Aku akan lakukan apapun untuk membuatnya tetap di sisiku…"
"Meski kau harus kehilangan perusahaanmu…?!" ucap Maritha.
__ADS_1
"Apa maksudmu…?!" tanya Yandi dengan tatapan mata yang tajam.
"Jika kau tetap memilih dia, aku akan tarik sahamku di perusahaanmu di Australia…" ancam Maritha dengan percaya diri karena ia tahu bagaimana Yandi mati-matian mendirikan perusahaannya itu dahulu. Yandi menghela nafas sejenak.
"Sejak kapan kau memiliki saham di perusahaanku? Aku tak pernah mengajakmu dalam usahaku…?" tanyanya kemudian.
"Kau tidak perlu tahu dan seterkejut itu, Yan. Kau bahkan akan lebih terkejut lagi mengetahui seberapa besar kuasa ku atas perusahaanmu…" jelas Maritha dengan pongahnya.
"Jadi bagaimana… Tidakkah kau merasa sayang denganku yang jelas-jelas bisa mendukung cita-citamu… dibandingkan dia yang hanya akan menjadi rintangan masa depanmu…" tambah Maritha lagi.
"Lakukan yang ingin kau lakukan… Ayo, Nayra. Jangan perdulikan dia…" ajak Yandi kemudian pada Nayra dan masuk ke dalam mobilnya dan segera berlalu meninggalkan Maritha yang mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya terlihat nyata. Giginya bergemerutuk menahan amarah dan wajahnya nampak merah padam.
"Aku tidak akan berhenti sampai di sini, Yan…" kata Maritha sendirian sembari berjalan menuju kendaraannya dan meninggalkan tempat itu.
Kejadian itu tak luput dari seorang pria yang diam-diam mengawasi interaksi mereka dari dalam mobilnya, Rein yang duduk di dalam mobilnya menghela nafas berat sambil menyugarkan rambutnya.
Tak pernah ia duga ia akan bersaing dengan Yan Aditya Rackhman, satu-satunya orang paling berkharisma di klubnya dahulu.
Menurutnya, Yandi satu-satunya teman yang tak pernah ikut campur urusan orang lain atau bahkan tak pernah merendahkan orang lain. Ia cenderung care dan welcome pada teman-temannya. Tapi, benarkah mereka merebutkan wanita yang sama?
__ADS_1